
Setelah menelan habis ingatan iblis kera hitam, tiba tiba saja Dewa petir kehilangan kendali atas dirinya. Karena hal tersebut, Xiao Tian dan Jingmi pun hampir kehilangan nyawa mereka.
Jika Wu Kong tak datang di waktu yang tepat, Xiao Tian dan Jingmi pasti akan tiada.
"Apa yang kau lakukan disini, Dewa kera?" tanya Dewa petir sambil menatap tajam mata Wu Kong.
"Aku kemari, untuk menyadarkanmu!" Wu Kong memperbanyak diri dengan melempar beberapa helai bulunya.
"Aku seratus persen sadar kok, Dewa kera!" Dewa petir membuat puluhan klon untuk mengimbangi jumlah kloning Wu Kong.
Wooshhh
kloning kloning Wu Kong melesat maju mendekati Dewa petir.
"Maju!" Dewa petir menyuruh kloningnya untuk menahan serangan kloning Wu Kong.
"Teknik tingkat legenda, pukulan cahaya!" ucap para kloning Wu Kong sambil mencoba mendaratkan pukulan mereka.
"Teknik tingkat legenda, pukulan petir hitam!" para kloning Dewa petir menahan pukulan Wu Kong dengan memukul balik pukulan tersebut.
Benturan antara dua pukulan kloning seorang Dewa, membuat cuaca begitu tak stabil. Angin kencang disertai suara guntur menghiasi pertarungan mereka.
Baik kloning Wu Kong maupun kloning Dewa petir, keduanya terlihat benar benar seimbang saat itu. Keduanya saling melontarkan pukulan dan berakhir seri dengan kedua pihak yang terpental mundur.
"Kenapa bukan kau saja yang maju, Dewa kera?" ledek Dewa petir sambil menatap ke arah Wu Kong yang asli berdiri.
"Eh ..., kemana dia?" Dewa petir tak dapat melihat Wu Kong saat menoleh ke arah Xiao Tian.
"Mencariku?" Wu Kong muncul seketika di belakang punggung Dewa petir.
"Se ... sejak kapan kau ada di belakangku?" Dewa petir membalikkan badan lalu melangkah mundur untuk menjauhi Dewa kera.
Brukk
"Mau pergi kemana kau?" tanya Wu Kong yang muncul seketika di belakang punggung Dewa petir.
"Sial, bukankah tadi dia ada didepanku?" pikir Dewa petir dengan tampang panik.
"Cepatlah sadar, dasar Dewa tak berguna!" Wu Kong memegang kepala Dewa petir lalu menariknya ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Duarrrr
Kepala Dewa petir menghantam tanah dengan cukup keras hingga dia kehilangan kesadarannya.
Melihat Wu Kong menghajar Dewa petir dengan sekuat tenaga, Xiao Tian dan Jingmi hanya bisa melihat betapa mengerikannya dia ketika sedang marah.
"Bukankah itu terlalu berlebihan?" pikir Jingmi dengan tampang datar mereka.
"Mulai sekarang, catat dalam pikiranmu Jingmi. Kau tak boleh membuat Dewa kera marah," ucap Xiao Tian sambil memegang pundak Jingmi.
####
Ketika Dewa petir berhasil ditangani, Wu Kong mengambil pisau emas yang tertancap di permukaan tanah. Lalu berjalan ke arah Xiao Tian untuk menanyakan beberapa hal.
"Bisakah kau jelaskan apa maksudnya semua ini?" tanya Wu Kong sambil menunjukkan relik pisau emas.
"A ... aku sungguh tak mengetahui hal ini Dewa kera. Aku pun terkejut bukan main setelah mengetahui bahwa di daratan ini ada Kaisar iblis yang lain," Xiao Tian menundukkan kepalanya dengan tampang menyesal.
"Biasanya kau bertindak setelah mendapat informasi yang cukup matang. Aku dengar kau bahkan belum mengetahui lokasi musuh, apakah itu benar?" tanya Wu Kong sambil menatap tajam mata Xiao Tian.
Terlihat jelas bahwa Wu Kong sangat kesal kepadanya. Namun Xiao Tian tak tahu bagaimana cara untuk membujuk Dewa kera, sehingga hanya bisa menunduk saat dimarahi oleh Wu Kong. Dia sangat sadar akan bahayanya situasi tadi, sehingga menyesali keputusannya yang belum cukup matang.
"Berdasarkan laporan dari Dewa bumi, di daratan ini terdapat lebih dari dua puluh Kaisar iblis yang terlepas dari relik mereka. Dan mereka semua berada dibawah perintah kaisar iblis Haifeng,"
"Selain itu, Dewa bumi juga berkata bahwa lima diantara mereka sedang bersembunyi di hutan ini,"
"Dan yang mempengaruhi Dewa petir hingga mengamuk tadi adalah salah satunya,"
"Dengan kemampuanmu sekarang, kau pikir bisa mengalahkan mereka semua?" tanya Wu Kong sambil menatap tajam mata Xiao Tian.
Ketika mendengar penjelasan Wu Kong, Xiao Tian menjadi semakin merasa bersalah. Dan sangat amat panik. Dia menjadi begitu khawatir tentang keadaan teman temannya saat itu.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?"
"Berdasarkan informasi yang didapatkan Sunlong, seharusnya para kaisar iblis tidak berjaga di hutan ini," Xiao Tian terlihat syok setelah mendengar berita dari Wu Kong.
Ketika Xiao Tian sedang dimarahi, Dewa petir menengahi Wu Kong untuk meredakan amarahnya. Untuk meredakan amarah Wu Kong Dewa petir mengakui bahwa semua kesalahan terjadi karena kelalaiannya sebagai seorang Dewa.
Melihat Dewa petir berusaha keras untuk membelanya, Xiao Tian menjadi merasa bersalah sekaligus begitu berterimakasih terhadapnya.
"Dewa petir, kau ... ," ucap Xiao Tian dengan haru.
Karena tak sanggup melihat Dewa petir dan Xiao Tian berusaha untuk saling membela, Dewa kera pun berusah untuk memaafkan mereka.
"Haih, sudahlah. Yang terjadi biarlah terjadi. Yang penting saat ini adalah memastikan keamanan semuanya," ucap Wu Kong sambil menghela napas.
"Tolong jaga mereka," ucap Wu Kong sambil menatap para kloningnya.
"Baiklah," para Kloning Wu Kong berpencar ke segala arah untuk mencari teman teman Xiao Tian.
"Terima kasih atas bantuanmu, Dewa kera," Xiao Tian memberi hormat sambil membungkukkan badannya.
"Sudah menjadi tugasku untuk melindungi seorang pewaris roh beladiri ular Yin dan Yang," jawab Wu Kong sambil memberikan relik pisau emas yang ada ditangannya.
"Dengan begini, aku hanya memerlukan 98 relik kaisar iblis lagi," pikir Xiao Tian sambil menempelkan relik pisau emas ke gelang Dewanya.
####
Disuatu tempat di hutan bersiul.
Para iblis ular merah mengakui Su Yan dan Liang Su sebagai sekutu mereka setelah melihat wujud ular raksasa dari Liang Su.
"Karena kalian bukan dari golongan manusia, maka kami menyambut kedatangan kalian," para iblis ular merah berubah ke wujud manusia mereka.
Melihat tak ada niatan membunuh dari mereka, Liang Su pun kembali ke wujud manusianya.
"Terimakasih atas sambutannya," sambung Liang Su dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong apa tujuan kalian kemari?" tanya para iblis ular sambil menatap mata Su Yan.
"Biar aku yang ambil alih," ucap sisi lain Su Yan melalui telepati.
"Baiklah, kuserahkan sisanya padamu," sambung Su Yan sambil menutup matanya.
"Kami berniat untuk bergabung dengan sekte pelindung iblis," jawab sisi lain Su Yan dengan senyum diwajahnya.
"Ternyata kau seorang siluman?" tanya ratu ular merah dengan tatapan sinisnya.
"Apakah itu masalah?" tanya Su Yan sambil membalas tatapan ratu ular merah.
"Di sekte kami juga ada beberapa bangsa siluman, kurasa itu tidaklah masalah. Hanya saja pernikahan antara siluman dan iblis sangat ditentang disini, apakah kalian tak masalah?" tanya ratu iblis ular merah.
"Aku tak masalah dengan itu," jawab Su Yan dengan tampang tenang.
"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang kalian berdua harus bersikap seolah kalian adalah orang asing. Mengerti?" tanya ratu iblis ular merah sambil mengeluarkan aura yang mendominasi.
"Tentu," jawab Su Yan dan Liang Su dengan kompak.
"Kalau begitu ikuti kami," para iblis ular merah pergi ke utara memimpin perjalanan.
"Kemarin kemarin kau sangat mendambakan pengakuanku, kenapa tiba tiba saja kau berubah seperti ini?" tanya Liang Su sambil menatap mata Su Yan.
"Bukankah sejak kau mengingat semuanya, kau sangat ingin mengakhiri hubungan tanpa cinta ini?" tanya Su Yan melalui telepati.
"Cih," Liang Su melangkah maju dengan tampang kesal.
Melihat Liang Su terlihat kesal, Su Yan langsung memarahi sisi lainnya.
"Hei, kau pikir apa yang kau lakukan!"
"Berikan kembali kesadaran tubuh ini padaku!" bentak Su Yan dengan tampang kesal.
"Tenanglah, musuh kita merupakan seorang pendekar alam peri. Liang Su dan aku hanya berpura pura bergabung dengan mereka demi menyelamatkan diri. Lagipula ini akan mempercepat pencarian kita juga kan?" tanya sisi lain Su Yan melalui telepati.
Setelah mendengar penjelasan sisi lainnya, Su Yan pun berhenti protes terhadap apa yang telah dilakukan sisi lainnya itu.
"Begitu ya?"
"Aku mengerti," jawab Su Yan melalui telepati.
"Haih, kenapa sisi lainku begitu bodoh dan sangat mudah dibutakan oleh cinta terhadap wanita. Ini benar benar menyebalkan. Aku harus segera mencari cara untuk menyatukan jiwa kami kembali agar diriku tak terlihat bidih dan konyol," pikir sisi lain Su Yan sambil menghela napas.