Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 435 : Keributan di alam Dewa


"Selamat datang di alam para Dewa, immortal Xiao Tian," ucap Kaisar langit sambil menatap mata Xiao Tian.


Ketika Kaisar langit selesai berbicara, para Dewa Dewi mengatakan hal yang sama seperti Kaisar langit sebagai tanda penyambutan atas kedatangannya.


"Selamat datang di alam para Dewa, Immortal Xiao Tian."


Disaat Semua orang sedang memberi sambutan kepada Xiao Tian, Wu Kong dan Dewa Bumi berjalan menyusul Xiao Tian dan memberi hormat ketika mereka sudah begitu dekat dengan Kaisar langit.


"Salam kaisar Langit," ucap Wu Kong dan Dewa Bumi sambil menundukkan kepala mereka.


Tak lama kemudian, Dewa petir yang sedang menggendong Tainam Chun berjalan mendekati Kaisar langit sambil memasang tampang kesal.


"Bukankah itu manusia yang saat itu tak terkena efek momentum Dewa?"


"Kenapa dia bisa ada disini?" gumam para Dewa sambil mengerutkan dahi mereka.


Disaat semua orang masih terkejut akan kedatangannya, Dewa petir meletakkan Tainam Chun yang pingsan ke lantai ruangan di dekat Kaisar langit duduk.


Dengan tampang kesal dia pun berkata, "Apakah bocah ini adalah putramu dan istriku?"


Setelah mendengar pertanyaan Dewa petir, seketika para Dewa Dewi langsung terfokus padanya. Sementara itu, istri Kaisar langit menatap suaminya dengan tatapan yang begitu kesal.


"Dewa sialan, kenapa harus bertanya hal aneh dihadapan istriku!" pikir Kaisar langit dengan tampang kesal.


"Semangat ya, Kaisar langit," ucap Dewi petir melalui telepati sambil mengedipkan mata ke arah Kaisar langit. Saat itu posisinya berada di baris terdepan yang paling dekat dengan kursi Kaisar langit.


"Suami istri gak ada akhlak, kenapa kalian melakukan hal tabu ketika istriku ada di sampingku," pikir Kaisar langit sambil menangis di hatinya.


"Bisakah kau jelaskan apa maksud dari Dewa petir, suamiku?" tanya istri Kaisar langit dengan emosi yang meluap luap.


Berbeda dengan Dewi petir, Kaisar langit tak terikat dengan perjanjian jiwa. Sehingga dia bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Awalnya dia berniat untuk menutupi kebenaran itu selamanya, namun karena nasib pernikahannya sedang dipertaruhkan dia pun menyerah.


Dengan berat hati dia pun berkata,


"Bocah itu bukan anakku, dan itu juga bukan anakmu. Sebenarnya dia adalah reinkarnasi dari biksu Tang Sanzhang. Dia terlahir dengan ibu tapi tanpa seorang ayah. Dan ibu kandungnya adalah Dewi petir. Ada cerita tersendiri mengapa hal tersebut terjadi, namun tak akan kuceritakan sekarang karena proses kedewaan Xiao Tian jauh lebih penting sekarang,"


Setelah mendengar penjelasan Kaisar langit, Wu Kong pun menatap tajam matanya dan berkata, "Kau mengetahui dimana reinkarnasi guruku begitu lama, tapi tak mau memberitahuku?"


"Tadinya kupikir hanya para budah yang mengetahuinya, ternuata kau juga tahu toh?"


"Kau harusnya punya penjelasan masuk akal akan hal ini. Jika tidak ... ," Wu Kong mencabut sehelai bulunya lalu merubahnya menjadi kayu. Dan memotongnya menjadi dua untuk mengancam Kaisar langit.


Krakkk


"Ahhh , berakhir sudah. Setelah Xiao Tian berhasil menjadi Dewa, aku akan segera tiada," pikir Kaisar langit sambil menangis di dalam hatinya.


#Istana Langit


Dian Peng yang dikendalikan oleh kaisar iblis Jian berjalan memasuki istana langit ketika para Dewa Dewi berada di gerbang langit untuk menyambut Xiao Tian.


Dia berjalan memasuki ruang pusaka dan teknik beladiri untuk membawa kabur sebanyak yang dia bisa.


"Memiliki badan kecil memang berguna untuk menyusup ya, hahahahahahahaha!" Dian Peng memasukkan segala harta ke penyimpanan portal dimensi miliknya agar tak terlacak oleh para Dewa Dewi.


#######


Tainam Chun pergi meninggalkan ruangan untuk memanggil ayahnya.


Dewa petir menunggunya di aula pertemuan dengan tampang frustasi.


Di aula pertemuan terdapat tiga buah kursi yang terletak menghadap ke pintu ruangan. Sedangkan dihadapan kursi kursi tersebut terdapat ruang kosong yang terbagi oleh dua kursi yang berbaris kesamping secara bersebrangan.


Saat itu, Dewa petir duduk di sebelah kiri dan Xiao Tian duduk ditengah seperti biasa. Dan Dewa petir disebelah kanannya. Sedang Wu Kong duduk tenang di sebelah kirinya. Sementara itu, Dewa Bumi yang dalam wujud roh berdiri di samping kanan Dewa petir.


"Hancur sudah, istriku menikungku tanpa sepengetahuanku," gumam Dewa petir dengan tangis di wajahnya.


"Tenanglah Dewa petir, aku yakin Dewi petir bukan tipe wanita yang seperti itu," Dewa Bumi mencoba menenangkan emosi Dewa petir.


"Haih, padahal beberapa jam lagi aku harus berangkat ke alam dewa Kenapa malah jadi seperti ini?" gumam Wu Kong sambil menepuk dahinya.


Ketika Xiao Tian dan Dewa Bumi sedang mencoba menghibur Dewa petir, Taizheng datang memasuki ruangan.


Sementara itu, Tainam Chun menunggu di luar ruangan karena merasa bahwa hanya ayahnya lah yang disuruh datang menghadap.


"Taizheng memberi hormat, kepada yang mulia dan para Dewa," ucap Taizheng sambil menundukkan kepalanya.


"Bangunlah," ucap Xiao Tian dan para Dewa sambil mengangkat tangan mereka.


"Ampun yang mulia, maafkan hamba jika agak sedikit lancang. Tapi ... , bisakah anda beri tahu apa tujuan hamba dipanggil kemari?" tanya Taizheng sambil menundukkan kepalanya.


"Kau ambil alih pertanyaannya disini, Dewa petir," ucap Xiao Tian dengan serius.


Setelah mendengar ucapan Xiao Tian, Dewa petir pun menganggukkan kepalanya. Lalu berkata, "Apakah Tainam Chun itu putramu?"


"Benar Dewa petir," ucap Taizheng tanpa ragu.


Ketika Taizheng menjawab pertanyaan Dewa petir, Wu Kong mencoba membaca pikirannya dan tiba tiba saja dia merasa sakit kepala karena terdapat sebuah kekuatan besar yang menghalangi tekniknya.


"Ada apa dengan pikirannya itu?"


"Tak hanya memblokir pembaca pikiran serta ingatan layaknya teknik kaisar iblis Jian, teknik pemblokirnya bahkan sanggup melukai diriku,"


"Satu satunya yang bisa melakukan hal ini hanyalah para budha. Apa hubungan orang ini dengan para budha," pikir Wu Kong sambil terbatuk batuk hingga mengeluarkan darah.


"Kau tak apa apa, Dewa kera?" tanya Xiao Tian sambil menoleh ke kiri karena mendengar suara batuknya.


Setelah mendengar Xiao Tian menghawatirkan Wu Kong, Dewa Bumi dan Dewa petir pun langsung menoleh ke arahnya karena penasaran.


"Kenapa tiba tiba kau muntah darah, Dewa kera?"


"Apakah kondisi fisikmu sedang memburuk?" tanya Dewa Bumi sambil menatap ke arah Wu Kong.


"Te ... teknik seorang budha?" Dewa petir, Dewa Bumi dan Xiao Tian terkejut mendengar pernyataan Wu Kong.


Setelah mengetahui bahwa Taizheng tak dapat dibaca pikirannya, Dewa petir pun mengganti topik pembicaraan dengan berkata, "Siapakah istrimu,"


"Tidak ada," jawab Taizheng dengan sekejap.


"Lalu siapa ibu Tainam Chun?" tanya Dewa petir dengan serius.


"Wanita cantik dengan nama Qing Xu," jawab Taizheng dengan lancar.


"Apakah kau punya gambar dirinya?" tanya Dewa petir dengan serius.


Ketika mendengar pertanyaan Dewa petir, Taizheng seketika menyipitkan matanya dan berkata, "Maafkan aku Dewa petir, aku tak memiliki lukisan wajahnya,"


Setelah mendengar jawaban Taizheng, dewa petir menjentikkan jarinya. Lalu seketika sebuah ilusi yang membentuk wajah Dewi petir muncul di atas kepalanya.


Sambil menunjukkan ilusi tersebut, dia pun berkata, "Apakah Qing Xu yang kau maksud, adalah dia?"


Ketika melihat wajah Dewi petir, Taizheng langsung mengepalkan kedua tangannya seakan marah akan sesuatu. Dia menatap tajam mata Dewa petir seakan ingin menghabisinya. Entah mengapa Dewa petir pun gemetar dibuatnya.


Dengan aura membunuh yang cukup kuat, Taizheng pun berkata, "Bagaimana kau bisa mengenal masterku?"


"Master?" ucap para Dewa dengan tampang terkejut.


"Jadi benar kata Tainam Chun, kalau ayahnya memanggil Dewi petir dengan sebutan master?" pikir Xiao Tian dengan serius.


"Aku bahkan tak tahu kalau istriku telah memiliki seorang murid. Tekanan kekuatan yang kau pancarkan juga cukup menarik. Tapi, aku tak tertarik akan hal tersebut. Kita kembali saja ke topik utamanya. Apakah, wanita yang di atas kepalaku ini adalah ibu dari Tainam Chun?"


"Jika hanya itu yang kau tanyakan, maka aku akan menjawab iya," jawab Taizheng sambil memberi hormat.


"Lalu, apakah kau ayah dari Tainam Chun?" tanya Dewa petir dengan tampang serius.


"Iya," jawab Taizheng tanpa rasa ragu.


Setelah mendengar jawaban Taizheng, seketika emosi Dewa petir meluap luap hingga keluar niatan membunuh yang cukup tajam. Dia bangun dari kursinya, lalu berkata,


"Jika itu adalah jawabannya ... ,"


"Maka, kau harus mati disini!"


Wooshhh


Dewa petir melesat cepat ke arah Taizheng dengan kilatan biru di tangannya. Dia berniat untuk meninju wajah Taizheng hingga tewas karena rasa cemburu. Namun sebelum pukulan itu sempat mengenainya, Dewi oetir tiba tiba saja muncul dan memblokir serangan tersebut.


Tap, Dewi petir menahan serangan Dewa petir dan langsung menyerap petir yang keluar dari lengannya.


Kreattt kreattt, percikan petir.


"Seorang Dewa tak boleh melukai seorang mortal. Apakah kau lupa akan aturan ini, Suamiku?" tanya Dewi petir dengan senyum di wajahnya.


"Terimakasih karena telah melindungiku guru ... ," Taizheng memberi hormat seperti biasa sebelum sadar akan kata suami.


Ketika baru sadar dengan apa yang dikatakan Dewi petir, dia pun berkata,


"Su ... suami!" teriak Taizheng dengan tampang terkejut.


Setelah mendengar ucapan Dewi petir, Dewa petir yang masih dalam keadaan cemburu berat pun berkata, "Aku hanya ingin membunuh orang dibelakangmu saja. Bukankah kau yang biasanya tidak tahu aturan hingga membunuh banyak manusia, Qing Xu?" Dewa petir begitu marah hingga tak mau memanggilnya dengan sebutan gelar ataupun dengan sebutan istri.


Mendengar kata Qing Xu, Tainam Chun pun terkejut bukan main. Sejak awal dia menguping pembicaraan ayahnya, namun dia tak dapat melihat ilusi yang dibuat oleh Dewa petir karena ilusi tersebut hanya ditunjukkan kepada Taizheng seorang. Karena itu dia belum sadar kalau wanita yang Dewa oetir bahas adalah Dewi petir.


Setelah tahu bahwa Dewi petir adalah ibunya, Tainam Chun pun berjalan masuk dan berkata, "Apakah benar, kalau kau adalah ibuku?"


Dengan santainya Dewi petir pun berkata, "Iya,"


"Lalu, apakah ayahku adalah simpananmu?" tanya Tainam Chun dengan tampang frustasi.


"Tidak, kau sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan Taizheng. Kau adalah putra kandungku, dan Taizheng hanyalah pengasuhmu saja," jawab Dewi petir dengan tampang serius.


"Ayah, ini ... ," Tainam Chun melihat Taizheng dengan tampang bingung.


"Itu benar putraku," angguk Taizheng sambil mengedipkan matanya.


Setelah mendengar bahwa Taizheng bukanlah ayah kandung dari Tainam Chun, Dewa petir pun terdiam. Amarahnya melesat turun dan berkata, "Kalau dia bukan ayah kandungnya, lalu siapa?"


"Yang pasti bukan kau," jawab Dewi petir dengan santainya.


"Qing Xu, ini tidaklah lucu lagi. Tolong katakan dengan sejujurnya, putra siapa dia itu?" tanya Dewa petir dengan tampang frustasi.


"Haih, aku tak punya wewenang akan hal itu. Jiwaku telah ditandai, kalau aku jawab sekarang maka aku akan tiada," jawab Dewi petir sambil tersenyum.


"Siapa yang telah menandaimu?" tanya Dewa petir dengan tamoang serius.


"Tanyakan saja pada Kaisar langit," ucap Dewi petir sambil melepaskan pegangannya dari kepalan tangan Dewa petir.


"Ka ... kaisar langit?"


"Jangan bilang kalau dia adalah ayah dari ... ," ucap Dewa petir dengan tampang frustasi.


"Siapa yang tahu, tanyakan saja jika masih penasaran," tubuh Dewi petir mulai memudar karena telah mengaktifkan teknik teleportasi.


"Tunggu dulu kau mau kemana?" ucqp Dewa petir sambil memegang tangan Dewi petir.


Ketika Dewa petir mau memegang tangannya, Dewi petir menangkisnya lalu berkata, "Kutunggu kau di istana langit nanti. Sampai jumpa, suamiku,"


Ketika hampir menghilang, Taizheng memegang pundak Dewi petir karena diajak olehnya melalui telepati.


Tepat ketika dia mengucapkan kata terakhirnya, Dewi petir dan Taizheng pun lenyap dari pandangan.