Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chqpter 171 : Sampai di istana es


Dewa Petir membawa tubuh Dewa Obat pergi ke alam para Dewa. Dia membawanya menuju istana Langit untuk dihadapkan kepada Kaisar langit. Sedangkan Xiao Tian pergi menuju istana Es sambil menaiki naga hitam raksasa dengan kecepatan tinggi.


Singkat cerita Xiao Tian sampai di menara es tanpa hambatan sedikitpun. Hingga akhirnya, terjadi sesuatu di luar dugaan. Kunci dimensi es yang telah Xiao Tian rampas dari siluman harimau perak, ternyata tak bisa Xiao Tian gunakan saat dimasukkan ke atas lubang kunci di puncak menara es.


Kunci dimensi es hanya bisa terikat dengan satu orang, jika orang tersebut sudah mempunyai ikatan dengan kunci dimensi es yang satunya. Maka tak akan bisa menjalin ikatan dengan kunci yang satunya lagi.


Karena kunci rampasan yang dia punya tak bisa dipakai, akhirnya Xiao Tian mencoba kunci dimensi es yang telah terikat dengannya.


Tak perlu menunggu lama, portal menuju dimensi es pun terbuka. Dengan sigap Xiao Tian langsung memasuki portal, kemudian terbang bersama naga hitam raksasa menuju istana es dengan kecepatan tinggi. Terhitung dua jam sejak kepergian Xiao Tian, akhirnya dia sampai ke istana Es satu jam sebelum putri Jia Li kehilangan nyawanya.


Ketika sampai di istana es, Xiao Tian langsung memasuki kamar dimana tubuh putri Jia Li dan Putri Feng Yin berada.


Ketika memasuki kamar tersebut, dia melihat keadaan putri Jia Li terlihat semakin parah. Hidungnya ters mimisan dan wajah serta tubuhnya menjadi semakin pucat dan bersuhu dingin, sudah seperti tubuh seorang mayat.


Xiao Tian langsung berlari mendekati pujaan hatinya itu sembari mengeluarkan beberapa pil suci yang telah dia dapatkan. kemudian dia memasukkan pil-pil tersebut ke dalam mulut putri Jia Li dengan bantuan air minum untuk mempermudah proses penelanan.


Karena tidak mungkin menelankan empat ribu pil suci sekaligus, dia hanya memberi putri Jia Li sepuluh buah pil suci.


Setelah menelankan sepuluh buah pil suci, akhirnya tubuh sang putri berangsur membaik. Pendarahan di hidungnya mulai berhenti, wajahnya sudah mulai terlihat segar dan tidak pucat lagi. Untuk menggantikan darah yang hilang, Xiao Tian juga memberi putri Jia Li beberapa pil penambah darah.


Setelah keadaan tubuhnya berangsur membaik, perlahan putri Jia Li membuka matanya. Dengan penglihatan yang masih agak buram karena baru terbangun dari tidur panjangnya, dia melihat Xiao Tian seperti melihat Yan yan teman masa kecilnya. Tanpa pikir panjang putri Jia Li langsung memeluk Xiao Tian sambil berkata,


"Yan yan, akhirnya aku bisa menemukanmu. Kemana saja kau selama ini. Padahal aku sering ke daerah kumuh untuk menemuimu, tapi kau tak pernah muncul lagi sejak kepergianku 13 tahun yang lalu.aku sangat merindukanmu Yanyan."


Putri Jia Li memeluk tubuh Xiao Tian begitu erat dengan pipi yang dibanjiri oleh air mata. Xiao Tian ikut memeluk putri Jia Li untuk menenangkannya. Setelah hatinya sudah cukup tenang, putri Jia Li langsung melepaskan pelukannya lalu mendorong mundur Xiao Tian.


"Kenapa kau mendorongku?". Kau baik-baik saja?" Xiao Tian menatap kearah putri Jia Li.


"Maafkan aku pangeran, aku tak bermaksud mendorongmu. Ketika aku tak sadar apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh?" Putri Jia Li menatap ke arah Xiao Tian.


"Aneh?"


"Kau tak mengatakan hal aneh sedikitpun," jawab Xiao Tian.


Putri Jia Li terdiam membisu, kemudian menundukkan kepalanya.


"Apa pangeran Xiao Tian tidak mendengar kalau aku memanggilnya Yanyan tadi?" pikir putri Jia Li.


"Yanyan hanyalah masa laluku, sedangkan Xiao Tian adalah masa depanku. Aku tak boleh mengingatnya lagi, dia hanyalah sekedar teman kecil yang pernah menemaniku disaat-saat yang sulit."


"Ada apa dengan diriku, kenapa aku mengingat Yanyan lagi." Putri Jia Li terdiam membisu, terus mencoba melupakan masa lalunya yang telah lama dia kubur dalam-dalam sejak mulai menyukai Xiao Tian.


Melihat putri Jia Li terus terdiam sambil melamun, Xiao Tian pun mulai hawatir. Daking hawatirnya dia pun lupa hingga memanggilnya dengan sebutan Lily.


"Apa kau tak apa-apa Lily?"


"Kenapa kau diam saja?" tanya Xiao Tian.


"Lily?"


"Apa pangeran baru saja memanggilku Lily?"


"Sepertinya telinga dan pikiranku sedang bermasalah, mana mungkin dia mengetahui nama itu. Hanya Yanyan saja yang tahu tentang namaku itu." Putri Jia Li menepuk wajahnya, kemudian meremas kepalanya sendiri. Dia berpikir kalau pikirannya sedang kacau hingga membayangkan sesuatu yang mustahil.


"Lily, apa kau baik-baik saja?"


"Kenapa kau meremas kepalamu begitu keras?" tanya Xiao Tian sambil mencoba memegang kepala putri Jia Li.


"Dari mana kau mengetahui nama itu!" Putri Jia Li menepis tangan Xiao Tian. Dia menatap keatah Xiao Tian lalu berkata, "Hanya Yanyan yang mengetahui nama samaranku itu. Siapa kau sebenarnya?"


"Siapa aku?"


"Aku adalah Yanyan kecilmu, awalnya aku ingin merahasiakan ini sampai kau sembuh nanti. Tapi tanpa sengaja aku malah membocorkannya karena terlalu khawatir padamu."


"Tidak, Yanyan bukanlah seorang pangeran. Wajahnya juga jauh berbeda dengan wajahmu. Berhenti menipuku, tolong jawab pertanyaanku dengan benar. Katakan padaku, dari mana kau mengetahui nama samaranku itu. kumohon katakanlah," Putri Jia Li bertanya dengan mata yang berkaca-kaca. Menjelaskan kalau dia sangat ingin mengetahui kebenarannya.


"Sebenarnya ... " Belum sempat Xiao Tian menjawab semua pertanyaan, Putri Jia Li momotong ucapan Xiao Tian dengan pertanyaan yang lain.


"Apakah Yanyan yang memberi tahumu?


"Kalau memang itu kebenarannya, bisakah kau bawa aku menemui Yanyan?"


Xiao Tian berjalan mendekati putri Jia Li. Kemudian menyentil dahinya dengan jari telunjuk.


"Gadis cerewet, kupikir kau bisa mengubah cara bicaramu ketika sudah dewasa."


"Kau tak pernah berubah, selalu bicara tanpa pernah berhenti."


"Kemana saja kau selama ini?"


"Sejak kapan kau mengetahui identitasku?"


"Jauh sebelum kau memberitahukan nama Lily kepadaku." jawab Xiao Tian.


"Lalu kenapa kau tetap menanyakan namaku?" tanya putri Jia Li.


"Aku hanya ingin mendengar langsung dari mulutmu, tapi kau malah menyembunyikan identitasmu." Xiao Tian melepaskan pelukan putri Jia Li, dia menatap wajahnya lalu berkata,


"Waktu itu bukan hanya kau yang sedang menyembunyikan identitasmu, aku juga sedang menyembunyikan identitasku."


"Akan tidak adil jika aku membongkar identitasmu saat kau tak mau memberitahukannya kepadaku."


Putri Jia Li memalingkan wajahnya sambil berkata. "Kau curang, meski aku menyembunyikan identitasku waktu itu. Kau mengetahui semuanya, sedangkan aku bahkan tak mengetahui wajah aslimu."


"Apa kau marah padaku?" tanya Xiao Tian sambil memegang punggung putri Jia Li.


"Tidak, aku cuma sedikit kesal saja," jawab putri Jia Li sambil melirik ke arah lain.


"Ayolah jangan kesal terus, kita sudah lama tidak bertemu sejak aku ke sekte gunung api. Setidaknya tatap mataku saat bicara denganku." Xiao Tian mencoba merayu putri Jia Li.


"Tak mau, pokoknya aku masih kesal karena kau menyembunyikan identitasmu."


Belum sempat Xiao Tian bermesraan dengan putri Jia Li, terdengar suara Putri Feng Yin dari belakang punggung Xiao Tian.


"Ehmm."


"Bisakah kalian berhenti bermesraan?"


"Apa kau melupakan kehadiranku, pangeran Xiao Tian?" ucap putri Feng Yin yang sedang duduk di atas kasur yanh terletak dibelakang tubuh Xiao Tian.


"Putri Feng Yin?"


"Kenapa kau ada disini?" putri Jia Li menatap ke arah putri Jia Li.


"Tanyakan pada Yanyan kecilmu itu, dia yang telah membuatku berada disini."


"Akau tak mengingat apapun sejak dia menusukkan jarum aneh ke tubuhku hingga aku terbaring tak sadarkan diri."


"Entah hal mesum apa yang telah dia lakukan pada tubuhku saat aku pingsan tak berdaya," jawab putri Feng Yin dengan kesal.


"Yanyan?"


"Bisa kau jelaskan padaku?" Putri Jia Li melirik ke arah Xiao Tian dengan wajah kesal.


"Aku tak melakukan apapun pada putri Feng Yin, aku berani bersumpah."


Putri Jia Li mencoba berjalan keluar kamar, namun Xiao Tian memegang tangan kanannya lalu berkata. "Lily, jangan pergi lagi. Kumohon ... ,"


"Sekecil itu kah batas kepercayaanmu padaku, hingga membuatmu tak mau mendengarkan penjelasanku?"


"Prett, sudah cukup mesra-mesraanya. cepat bawa aku kembali ke kerajaanku. Aku tak boleh berlama-lama di luar kerajaan agar tak membuat khawatir semua rakyatku," sambung putri Feng Yin dengan kesal.


"Baiklah, aku akan mengantarmu kembali ke kerajaan Angin. Tapi sebelum itu, kita makan terlebih dahulu. Sudah sangat lama kalian tidak memakan apapun karena mengalami tidur panjang." Xiao Tian mengeluarkan kantong makanan dari cincin ruangnya.


"Aku tak lapar, kita langsung pergi saja sekarang," sambung putri Feng Yin.


Belum sempat Xiao Tian membalas ucapan putri Feng Yin, terdengar suara perut keroncongan dari perut putri Feng Yin.


Dengan wajah yang memerah karena merasa malu, putri Feng Yin merebut kantong makanan Xiao Tian lalu memakannya dengan lahap. Melihat putri Feng Yin makan dengan lahap, putri Jia Li pun ikut merasa lapar. Xiao Tian mengeluarkan kantong makanan yang lain untuk putri Jia Li. Mereka pun memakan kantong makanan Xiao Tian dengan begitu lahap.


Ketika sedang makan dengan lahap, terdengar suara ledakan dari luar istana es.


Duarrrrr ..


"Suara apa itu?" putri Jia Li menatap ke arah sumner suara.


Terdengar suara langkah kaki dari luar kamar. Diikuti oleh suara teriakan siluman harimau putih.


"Tuan Xiao Tian, Siluman kelinci dan keempat bangsa siluman yang lain datang menyerang!"


bersambung...