Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 56 : Dendam masa lalu


Jauh di dalam hutan yang sunyi, Xiao Tian mengajari si Gendut teknik berpedang, sambil mengasah teknik yang baru saja di wariskan Dewa petir, Xiao Tian melakukan latih tanding dengan si Gendut.


"Untuk mencari teknik yang cocok denganmu, kita harus melakukan latih tanding dulu, ambil pedangmu dan serang aku sekuat tenaga, aku tak akan melawan dan hanya menghindar, aku ingin lihat seburuk apa kemampuan berpedangmu." ucap Xiao Tian


Sret(Suara pedang ditarik dari sarung pedang)


Si Gendut melangkah maju, mengayunkan pedangnya kearah kanan dan kiri mencoba mengenai Xiao Tian, Xiao Tian menghindari serangannya dengan mudah, karena tak kunjung kena, si Gendut mencoba melakukan tusukan kearah depan, Xiao Tian menghindarinya kearah kanan, si Gendut melanjutkan serangannya dengan menebas Xiao Tian yang berada di sebelah kanan pedangnya, Xiao Tian menghindarinya dengan berjongkok, melihat Xiao Tian berjongkok si Gendut mengarahkan pedangnya kebawah mencoba menebas Xiao Tian, Tapi Xiao Tian menghindarinya dengan melompati tebasan pedang si Gendut.


si Gendut mencoba berbagai macam serangan, tapi tak ada satu pun yang bisa mengenainya, dia tak berhenti menyerang meski sudah terlihat lelah.


Melihat keseriusan si Gendut, Xiao Tian tersenyum, saat si Gendut mengarahkan pedangnya ke arah kiri, Xiao Tian menahan ujung pedang itu dengan dua buah jari.


"Haha, apakah boss sudah lelah sehingga berhenti menghindar?" tanya si Gendut dengan wajah pucat dan keringat yang mengalir deras


"Ya kau memang hebat bisa membuatku menyerah"ucap Xiao Tian


Setelah puas berlatih dengan si Gendut Xiao Tian berjalan kearah pohon besar yang memiliki banyak cabang, dia memukul sebuah cabang pohon hingga membuatnya patah, sebelum cabang pohon itu terjatuh dia mengendalikan cabang yang patah dengan kekuatan jiwanya, dia membungkus cabang yang patah itu dengan energi ki, dengan bantuan elemen kayu dan kekuatan jiwanya dia membentuk cabang - cabang patah itu menjadi tumpukan kertas.


Setelah memiliki banyak tumpukan kertas, dia menyatukan sebagian kecil tumpukan kertas itu hingga menjadi buku, dengan bantuan teknik yang telah dia warisi, Xiao Tian menciptakan sebuah buku teknik berpedang, dia menulis dengan menggunakan kekuatan jiwanya.


Setelah melihat pemandangan luar biasa di depannya, si Gendut semakin mengagumi Xiao Tian, karena yang dia tahu, untuk menciptakan sebuah buku teknik beladiri tanpa bantuan alat tulis, seorang ahli memerlukan banyak kekuatan jiwa, dan harus bisa mengontrol kekuatan ki nya agar tak terjadi kesalahan, dengan menciptakan sebuah buku teknik beladiri tanpa alat tulis si Gendut yakin kalau orang di depannya, merupakan seorang ahli.


Xiao Tian menyimpan sisa tumpukan kertas ke dalam cincin ruangnya, dia tak bisa menciptakan banyak buku, karena kekuatan jiwanya belum memenuhi syarat, setelah dia menyerap iblis dimensi waktu itu, kini kekuatan jiwa Xiao Tian ada di angka 2000, dan roh bela dirinya berada di tingkat 9.


"Pelajarilah teknik ini hingga kau menguasainya jangan pernah minta teknik yang baru." ucap Xiao Tian sambil memberikan buku teknik berpedang


"I ... ini teknik pedang surgawi?"


"Bo ... boss ini terlalu berlebihan, ini merupakan teknik legendaris yang sudah lama hilang."


"Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa memiliki teknik ini, tapi ini terlalu berlebihan, aku tak bisa mewarisi teknik sekuat ini."


ucap si Gendut dengan wajah yang terkejut


"Apa dia bilang?"


"Padahal itu adalah teknik paling lemah yang Dewa petir berikan padaku, kalau aku memberikan teknik yang lain dia pasti terkejut sampai pingsan, aku harus mencari alasan, agar dia mau mempelajari teknik itu." pikir Xiao Tian


"Kau adalah muridku sekarang, aku tak ingin muridku menjadi lemah, kalau kau tak ingin mempelajari teknik itu, maka aku tak akan mau mengajarimu lagi." ucap Xiao Tian dengan wajah serius


Mendengar ucapan Xiao Tian, si Gendut tak berani menolak, dia langsung bersujud dan berkata. " Terima kasih guru, aku tak akan pernah melupakan ini, aku tak menyesal telah mengikutimu selama ini, mulai sekarang aku akan memanggilmu guru , aku tak akan melupakan kemurahan hatimu ini, setelah urusanku selesai aku akan berjanji terus mengikutimu, murid memberi hormat kepada guru."


Mendengar ucapan si Gendut dia pun bertanya. " Urusan macam apa yang kau miliki, sehingga kau berkata seperti itu?"


"Ini hanyalah urusan pribadiku, untuk sekarang tujuan kita sama, jika nanti guru berhasil menyelamatkan putri Jia Li sebelum dia sampai di kerajaan es, maka tujuan kita akan berbeda." jawab si Gendut


"Apa maksudmu?" tanya Xiao Tian yang masih bingung


"Begitu ya, apa kau bodoh, kau ingin menanggung masalahmu sendiri?"


"Jika kita berhasil menyelamatkan putri Jia Li sebelum sampai ke kerajaan es, maka aku akan membantumu meratakan kerajaan es." ucap Xiao Tian


"Kau tak perlu mengikutiku, ini hanyalah masalah pribadiku." ucap si Gendut


"Apa kau ingin ditampar juga?"


"Apa kau lupa dengan ucapan Huang Li waktu itu?"


"Tamparan waktu itu, masih terasa sampai kedalam hatiku, seorang teman tak boleh mengabaikan bantuan dari temannya, atau kau memang tak menganggap kami sebagai teman?"


"Karena kita teman, katakan saja jika kau punya masalah, kalau kau belum siap menceritakan masalahmu kau tak perlu cerita, aku tahu kau memiliki dendam dengan kerajaan es bukan karena hal yang sepele, karena kau sudah tahu kalau kerajaan es adalah salah satu dari empat kerajaan terkuat di dataran elemen."


ucap Xiao Tian sambil berdiri dihadapan si Gendut yang masih bersujud.


Si Gendut tersentuh dengan ucapan Xiao Tian, sambil bersujud kedua matanya tak bisa berkedip, dengan mata yang terbuka lebar si Gendut perlahan meneteskan air matanya, selama ini dia menanggung semua bebannya seorang diri, dia tak pernah menceritakan masa lalunya yang begitu kelam, karena meski dulu dia memiliki banyak anak buah, tak ada satu pun yang bisa dia anggap teman.


Saat itu juga dia mengatakan semua beban yang dia miliki, dengan air mata yang mengalir dia berkata.


"Sebenarnya hantu yang selama ini bersamaku adalah istriku."


"Namanya adalah Huanran, dulu dia adalah gadis desa yang sangat periang, awalnya kupikir dia seorang yatim piatu karena dibesarkan di panti asuhan."


"Aku menikahinya setelah lama berkenalan, kami saling mencintai dan tak pernah bertengkar.


" Suatu hari ada Jenderal dari kerajaan es yang mengaku sebagai orang tuanya, istriku pun bertanya kepada pengurus panti asuhan, dan semua orang membenarkan fakta itu, aku ikut senang dengan kejadian itu."


"Untuk suatu alasan dia bilang harus pergi ke tempat orang tuanya, dia bilang dia ingin berlatih beladiri agar menjadi orang yang kuat, aku pun mengijinkannya meninggalkanku."


"setelah 3 bulan tak bertemu, aku pun pergi ke sana untuk melihatnya."


"Akan tetapi.., saat aku sampai di tempat Jenderal, aku tak diterima dengan baik."


"Mereka mengusirku, dan yang paling membuatku sakit Huanran mengatakan, kalau dia ingin menikah dengan pangeran kerajaan es, dia ingin agar aku tak pernah membahas hubungan kami lagi."


"Meski aku masih berstatus sebagai suaminya, dia menikah lagi, aku masih tak percaya dengan yang aku dengar, aku terus bertanya kepadanya, datang ke rumah Jenderal untuk menemuinya, tapi yang dia katakan terakhir kali adalah...'Aku tak menyukai sampah sepertimu, pergilah dariku dan jangan ungkit masa lalu, atau kau dan keluargamu akan menderita'.


"Mendengar ucapanya aku menyerah, aku tak tahu kalau harta bisa merubah Huanran sampai seperti itu, saat ku pulang, tempat tinggalku sudah dihancurkan, dan aku mendengar semua saudaraku juga dibantai, mereka bahkan menyebarkan posterku, aku semakin hancur, karena aku hanya orang awam, aku memilih kabur dan akhirnya mengasingkan diri di sekte Gunung Api."


"Awalnya aku menyerah akan hidupku, karena mencari masalah dengan kerajaan es tak akan merubah masa lalu, tapi setelah melihat Huanran menjadi roh dan mendengar kisah dari raja Jia Xin, aku jadi ragu dengan keputusanku selama ini, meski kecil kemungkinannya aku ingin percaya, kalau Huanran menikahi pangeran kerajaan es bukan untuk menghianatiku." ucap si Gendut


Mendengar curhatan si Gendut, Xiao Tian mengepalkan tangannya, wajahnya penuh amarah, dengan wajah yang serius dia berkata


"Jangan khawatir, aku berjanji, aku akan membantumu meratakan kerajaan yang berani membuatmu menderita, dan mencari tahu alasan dibalik kematian Huanran."