
"Apa kalian melupakan keberadaanku?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xian Juan dan yang lainnya.
"Bukankah anda juga melupakan kami lebih dari puluhan tahun lamanya?" tanya Xian Juan sambil membalas tatapan Xiao Tian.
"Xian Juan!"
"Beraninya kau lancang kepada patriach!" bentak Xia Hu sambil menatap tajam mata Xian Juan.
"Apakah ucapan Xian Juan salah?"
"Bukankah kehancuran sekte kita memang berawal dari menghilangnya patriach?" tanya Long Hu sambil menatap tajam mata Xia Hu.
"Jika bukan karena patriach menghilang begitu lama, Patriach Bai tak akan terpuruk begitu lama hingga mengerahkan semua ahli untuk mencarinya. Apakah kau ingat masa kelam dimana para ahli terbunuh satu persatu karena berpencar di luar lingkungan sekte?"
"Semua itu terjadi karena dia menghilang terlalu lama!" tunjuk Long Hu sambil memasang wajah kesal.
"Dan hal yang paling membuat kami sedih adalah kematian Kong Ming Chun , dan kepergian Xia Feng Ying," ucap Long Hu sambil mengepalkan kedua tangannya hingga mengeluarkan darah.
Semua murid menundukkan kepala mereka karena termakan ucapan Long Hu, tangan mereka terkepal begitu kencang karena berusaha menahan diri. Ketika para murid mulai terpengaruh, hanya Xia Hu yang masih menegakkan kepalanya.
Dengan nada tinggi dia berkata,
"Apakah kau sudah selesai?"
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Long Hu sambil menatap tajam mata Xia Hu.
"Memangnya kau tahu apa soal patriach *** Zhong. Dia menghilang bukan karena alasan, tapi demi melindungi kita juga. Percaya atau tidak, jika dia terus bersama kita, sekte kita pasti akan hancur jauh lebih cepat," ucap Xia Hu sambil menatap mata Long Hu.
"Apa dasarmu berbicara seperti itu?" tanya Tian Fengji sambil menyela pembicaraan.
"Relik," ucap Xia Hu sambil menatap mata Tian Fengji.
"Relik?"
"Apa maksudmu?" tanya Long Hu sambil mengerutkan dahi.
"Relik?"
"Tunggu, benar juga alam ilusi itu pasti salah satu kekuatan relik. Patriach pasti menghindari publik demi menutupi kenyataan itu," pikir Bai Hu sambil mengerutkan dahi.
Satu ucapan dari Xia Hu membuat para murid mulai mengerti, kecuali ketiga murid yang tak tahu apa apa seperti Xian Juan, dan kedua temannya.
"Bukankah kau berjanji tak akan membocorkannya?" tanya Xiao Tian sambil menyela pembicaraan.
"Maaf patriach, aku tak bisa menahan diri saat seseora g menjelekkanmu. Selain itu, para murid juga hampir terpengaruh dengan ucapannya. Aku terpaksa mengatakan ini, tapi jika anda menyuruhku diam .... ," ucap Xia Hu sambil menoleh ke arah Xiao Tian.
"Tak apa, lanjutkan saja. Tapi setelah ini rahasiakanlah dengan baik," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Xia Hu.
"Terimakasih karena telah mengijinkanku, patriach," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
"Tunggu, aku berubah pikiran. Kau tak perlu memberi tahu mereka, toh para murid yang kulatih sudah mengerti maksudmu," ucap Xiao Tian sambil menatap Xia Hu.
"Baiklah, aku mengerti," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
"Aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan, yah tak peduli apapun rahasianya aku tak peduli. Toh tujuanku kemari yaitu memberimu pelajaran, betapa kejamnya dunia pendekar itu," ucap Long Hu sambil berjalan mendekati Xia Hu.
"Hanya kau yang maju?"
"Kupikir Tian Fengji dan Xian Juan akan datang juga," ucap Xia Hu sambil menatap Long Hu.
"Untuk menyadarkan seorang petarung emas sepertimu, aku saja sudah cukup," ucap Long Hu sambil memasang kuda kuda.
"Kuda kuda sempurna, seperti yang kuharapkan dari seorang Long Hu. Meski ucapanmu seolah meremehkanku, kau tetap bertarung serius seperti biasa. Kalau begitu akupun tak akan menahan diri," ucap Xia Hu sambil memasang kuda kuda.
Long Hu muncul seketika di hadapan Xia Hu dan langsung menendang dengan sekuat tenaga. Namun tendangan tersebut ditahan Xia Hu hanya dengan salah satu punggung tangannya.
"Sepertinya kau benar benar berniat menghabisiku ya, Long Hu!" ucap Xia Hu sambil mengeluarkan tolakan gelombang dari punggung tangannya hingga membuat Long Hu terpental mundur.
Wooshh
Tap tap
Xia Hu mendarat dengan kedua kaki setelah berputar putar di atas udara.
"Mustahil, kenapa kau bisa sekuat i ... ," belum sempat Xia Hu menyelesaikan kalimatnya, Xia Hu melanjutkan serangan balik dengan pukulan tiba tiba di arah perut yang terasa cukup kencang hingga membuat Long Hu menghantam tembok.
Duakkkk
Wooshshh
Duarr
"Apa hanya itu kemampuanmu?"
"Tuan jenius?" ucap Xia Hu sambil menatap ke arah Long Hu.
"Kalau tak salah, patriach juga berkata kalau semua murid akan melampaui kami. Jangan bilang kalau murid lain juga sekuat Xia Hu," pikir Tian Fengji sambil menelan ludah.
"Kenapa kalian diam?"
"Majulah, dan tunjukan kejinya dunia pendekar kepadaku!" ucap Xia Hu sambil mengeluarkan aura yang mendominasi.
Brukkk
brukk
"Kami mengaku kalah," ucap Tian Fengji dan Xian Juan sambil menundukkan kepala setelah terjatuh karena syok.
Long Hu tersenyum lebar ketika kedua temannya menyerah, bukan karena semakin setres atau semacamnya. Dia malah senang karena melihat perkembangan Xia Hu.
"Sepertinya sekte kami tak akan hancur kali ini, dendammu pasti akan terbalaskan kali ini Kong Ming Chun," pikir Long Hu sambil meneteskan air mata.
"Sepertinya urusan kalian sudah selesai disini. Kembalilah ke gedung kalian masing masing!"
"Para tetua mungkin mencari kalian saat ini, sedangkan aku akan pergi ke tempat para alkemis untuk melihat perkembangan mereka," ucap Xiao Tian sambil membuka portal menuju ruang hampa.
"Hei, kenapa kau terang terangan membuka portal saat ini?" ucap Sunlong melalui telepati sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Tenanglah, kesetiaan mereka sudah tak diragukan lagi. Aku sudah mengkonfirmasinya melalui pembacaan pikiran milik Dewa petir," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Aku mengerti sekarang, jadi itu maksud dari ucapan Xia Hu," pikir Xian Juan sambil melihat Xiao Tian memasuki portal ruang hampa.
"Jadi patriach menghindari perselisihan dengan para pemburu relik. Dia sengaja menguatkan kultivasinya selama puluhan tahun demi menutupi hawa keberadaan relik miliknya. Bodohnya aku karena meragukan pamanku sendiri," pikir Tian Fengji sambil memukul lantai ruangan.
"Jika dia tahu kalau yang dia anggap paman seumuran dengannya, apa reaksinya ya?" ucap Dewa petir sambil menatap ke arah Tian Fengji.
"Hei apa yang kau gumamkan, ayo ikut denganku," ucap Xiao Tian melalui telepati sambil menarik pakaian Dewa petir.
#####
Ruang hampa.
Array pembatas naga langit.
"Salam patriach," ucap para tetua dan murid alkemis sambil memberi hormat.
"Apakah latihan kalian berjalan lancar?" tanya Xiao Tian sambil menatap para tetua.
"Semuanya berjalan lancar patriach, saat ini muridku bisa meracik pil level lima tanpa tungku. Meski kualitasnya baru mencapai angka 180% ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
" Bagaimana dengan dirimu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xia Ning.
"Tentu saja aku sudah bisa mencapai efektifitas 200%," ucap Xia Ning sambil memasang wajah bangga.
"Begitu ya?"
"Baguslah, lalu bagaimana dengan kalian?"
tanya Xiao Tian sambil menatap Xianlun dan Xiang Ying.
"Kami berdua juga berhasil seperti Xia Ning, hanya saja murid kami belum sehebat murid Xia Ning," ucap Xiang Ying sambil memberi hormat.
"Begitu ya?"
"Sayang sekali. Karena ada murid yang belum bisa mencapai angka 200% maka sesuai aturan latihannya harus dilanjutkan," ucap Xiao Tian sambil menatap para tetua.
"Tapi turnamennya?" tanya Xiang Ying sambil mengerutkan dahi.
"Sudahlah, fokus saja terhadap latihan. Soal turnamen tak perlu dipikirkan. Toh kemampuan kalian sekarang sudah bisa disandingkan dengan peringkat pertama," ucap Xiao Tian sambil menatap para tetua alkemis.
"Lalu untuk apa latihan ini, jika kami sudah pasti menang?"
"Bukankah latihan terlalu keras tidaklah baik?"
"Seharusnya kami menyimpan tenaga agar tak lelah saat turnamen nanti," ucap para tetua sambil menatap Xiao Tian.
"Ucapanmu masuk akal, Baiklah lima murid yang akan ikut dalam turnamen boleh istirahat. Sedangkan sisanya tetap disini dan lanjutkan latihan. kalian berlima ikut denganku, kita pergi dari sini," ucap Xiao Tian sambil menunjuk Tian Ling dan keempat peserta lain satu persatu.
Xiao Tian berjalan ke area ilusi pembatas ruangan dan berjalan melewatinya bagaikan tak ada penghalang sama sekali. Ketika Xiao Tian dan kelima murid pilihan telah melewati garis pembatas ruangan, para tetua ikut berjalan mendekati garis tersebut namun tiba tiba saja tubuh mereka terbakar api yang entah datang dari mana.
Woooshhh
"Panas panas," ucap para tetua sambil berusaha memadamkan api di pakaian mereka.
"Rasakan itu, siapa juga yang membolehkan mereka pergi," ucap para siluman rubah merah yang tak bisa dilihat oleh mata para alkemis karena efek ilusi.
"Penghalang ruangan mungkin hanya ilusi dan tak akan bisa menjadi menyakiti orang orang, makanya yang mulia maharaja Xiao Tian bisa lewat tanpa terluka sambil membawa para murid alkemis."
"Tapi dibalik ilusi tersebut masih ada kami yang bertindak sebagai penjaga, jika ada yang ingin melewati penghalang kami pasti akan membakar mereka dan membuatnya seolah penghalang tersebut berfungsi," pikir Raja siluman rubah merah sambil tersenyum.