Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 57 : Curhatan si Gendut


Si Gendut pikir dia hanya menceritakan semua masalahnya kepada Xiao Tian, tapi dia lupa kalau Huanran bisa mendengar semua curhatannya, karena mendengar curhatan dari si Gendut, Huanran merasa terpukul, dia berusaha mengingat alasan dia menjadi roh, dan alasan kenapa dia tak mengingat apapun.


"Berhentilah bersujud, ayo akan kembali ke tempat api unggun, semua orang pasti sudah selesai mencari makanan." ucap Xiao Tian sambil berjalan meninggalkan si Gendut


Ketika Xiao Tian pergi untuk menemui semua orang, Huanran keluar dari dalam cincin ruang, dia muncul dihadapan si Gendut yang masih menundukkan kepalanya


Dengan wujudnya yang begitu cantik seperti seorang dewi, dia melihat si Gendut dengan tatapan rasa bersalah, karena kalau menurut cerita yang baru saja dia dengar, ketika hidup dia pernah mengatakan hal kasar kepada suaminya itu, dia juga pernah meninggalkannya, bahkan alasan di balik pembantaian keluarganya mungkin berhubungan dengannya.


Perlahan wajah cantiknya di penuhi air mata, dengan air mata diwajahnya yang tak bisa dia tahan lagi, dia berkata.


" Kenapa?"


"Kenapa mas Endut menyembunyikan semua ini dariku?"


"Kenapa kau menceritakan semuanya, ketika Xiao Tian bertanya?"


"Aku tahu, jauh di lubuk hati mas Endut, pasti sangat membenciku kan?"


"Itulah alasanmu terlihat kesal waktu wajahku pertama kali berubah."


Si Gendut perlahan bangkit dari posisinya, dia duduk sambil menundukkan kepala karena tak tahu harus menjawab apa.


Melihat si Gendut menundukkan kepala dan tak mengatakan apapun, Huanran semakin sedih, dia semakin yakin kalau sebenarnya si Gendut sangat membencinya, dengan wajah penuh air mata dia berkata.


"Kau bahkan tak ingin menatapku, sebenci itukah kau padaku?"


"Aku jadi heran, Kalau kau sangat membenciku, kenapa kau mengijinkanku ikut denganmu!"


"Aku akui setelah mendengar ceritamu, aku hanyalah istri yang tak berbakti, aku tak layak berada di sisimu, maafkan aku karena merepotkanmu selama ini, kalau begitu sampai jumpa." ucap Huanran sambil pergi meninggalkan si Gendut


"Berhenti!"


"Kau pikir kau mau kemana!" teriak si Gendut yang masih menundukkan kepalannya


"Kenapa kau menghentikanku!"


"Menatap wajahku saja kau tak mau!"


"Aku ingat waktu di kerajaan awan, Raja Jia Xin pernah berkata, kalau semua istri pangeran kerajaan es pasti akan mati, mendengar ceritanya saja sudah jelas, aku menjadi roh karena aku menjadi istrinya."


"Ah aku juga ingat, pangeran kerajaan es juga mempunyai hobi aneh, kalau dia sudah bosan dengan istrinya, dia akan mengirim istrinya ke rumah bordir, atau menjadikan istrinya pemuas nafsu para prajuritnya."


"Setelah mengingat itu kau pasti berpikir, kalau aku ini sudah kotor, kau semakin membenciku sehingga tak ingin menatapku, iyakan?" ucap Huanran sambil melanjutkan melangkah pergi


"Sudah kubilang berhenti!" ucap si Gendut sambil mengeluarkan banyak air mata, dia masih belum siap menceritakan semua ini kepada Huanran, dia bingung harus mulai dari mana, makanya dia hanya bisa berkata berhenti.


Karena melihat si Gendut masih bersi keras menundukkan kepalannya, Huanran melanjutkan langkahnya.


"Sudah kubilang berhenti!"


"Kenapa kau tak mau mendengarkanku!"


"Aku masih belum siap menceritakan semua ini padamu!"


"Kenapa kau begitu keras kepala!"


teriak si Gendut dengan air mata di wajahnya.


"Aku hanya wanita kotor yang tak berbakti kepada suami, kau tak perlu menghentikanku." ucap Huanran dengan air mata di wajahnya.


"Dasar gadis bodoh, kau pikir dengan kau pergi meninggalkanku, aku akan memaafkanmu?"


"Kau pikir dengan meninggalkanku akan menghilangkan dendam dihatiku?"


"Jujur saja aku memang sempat membencimu dulu, tapi aku juga sangat mencintaimu, aku sangat bingung dengan perasaanku."


"Harusnya aku membencimu setelah terjadi pembantaian terhadap keluargaku, tapi lihatlah aku yang sekarang.. "


"Hanya karena perkataan raja itu, aku mencoba percaya kalau kau meninggalkanku hanya untuk melindungiku."


"Aku ingin percaya kalau kau melakukannya, karena tak ingin pangeran biadab itu membunuhku, tapi sepertinya dia tak menepati janjinya."


"Aku sedikit menyesal berpikiran buruk kepadamu waktu itu"


"Untuk sekarang tolong jangan tinggalkan aku, temani aku hingga kebenarannya terungkap"


"kalau kau sudah mengingat semuanya, ceritakanlah padaku, apa alasan dibalik kepergianmu." ucap si Gendut.


Mendengar ucapan si Gendut, Huanran menghentikan langkahnya, dengan keraguan di dalam benaknya dia berkata.


" Jika aku menghianatimu bukan untuk melindungimu, apakah kau tetap akan mencintaiku?"


"Jika itu kenyataanya, maka aku akan berusaha melupakanmu!" jawab si Gendut


"Kalau itu memang benar, aku akan mencintaimu melebihi nyawaku, aku akan melakukan apapun agar kau tetap di sisiku" jawab si Gendut.


"Tapi, ada kemungkinan kalau aku adalah wanita yang kotor, aku pasti mati setelah di permainkan pangeran bejad itu." ucap Huanran.


"Aku tak perduli meski kau telah dinodai, dimataku kau tetaplah wanita yang suci, tak perduli apapun kata orang, aku akan tetap mencintaimu dengan setulus hati." ucap si Gendut.


"Tapi kini dunia kita berbeda, aku hanyalah sebuah roh, apakah mas Endut masih mau menerimaku?" jawab Huanran.


"Tak perduli apapun kondisimu, aku akan tetap mencintaimu."


"Meski aku tak bisa memiliki anak darimu."


"Meski aku tak bisa menyentuhmu, asalkan kau berada disisiku, itu cukup untukku."


"Karena melihat senyummu saja merupakan kebahagiaan untukku" jawab si Gendut


Mendengar jawaban si Gendut, Huanran merasa bahagia, dia sangat tesentuh hingga mengeluarkan air mata bahagia.


" Kenapa kau malah menangis?"


"Apakah aku salah berkata?" tanya si Gendut dengan wajah khawatir.


"Mas Endut bodoh, ini namanya air mata kebahagiaan, aku tak pernah merasa sebahagia ini."


"Andai saja aku di beri kehidupan kedua, aku ingin terlahir kembali menjadi manusia dan mempunyai pendamping sepertimu." jawab Huanran sambil menghapus air matanya.


"Ehm apa kalian sudah mesra-mesraanya?" tanya Xiao Tian yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.


"Bos.. eh guru.. sejak kapan kau berada disini?" tanya si Gendut.


" Sejak kau bilang Berhenti... kau pikir kau mau kemana!"


"Kenapa kau menghentikanku.." ucap Xiao Tian sambil mempraktekkan apa yang telah dia lihat.


"Kenapa kau malah menangis..?" ucap Xiao Tian sambil mempraktekkan apa yang telah dia lihat.


Melihat Xiao Tian mempraktekkan semuanya, si Gendut merasa malu dan berteriak.


"Hentikan, kalau sampai ada yang lihat aku bisa-bisa malu!"


"Jangan khawatir kami semua melihatnya kok, meski kami tak bisa melihat hantu itu, kami melihat jelas ekspresi menyedihkanmu." ucap Kaibo.


"Ka ... kalian melihat semuanya?" tanya si Gendut dengan wajah memerah


Semua orang menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja, tak ada satu gerakanpun yang terlewat." ucap Jingmi


"Tak ada satupun ucapanmu yang tak kami dengar." ucap Huang Li


"Gendut aku tak tahu nasibmu sangat menyedihkan, huhuhu." ucap Su Yan dan para prajurit yang saling berpelukan


Mendengar jawaban semua orang, si Gendut menundukkan kepalanya karena malu.


"Begitu ya." ucap si Gendut sambil menundukkan kepala


Kaibo berjalan mendekati si Gendut, dia memegang pundaknya dan berkata.


"Jangan murung, kami tak akan mentertawakanmu."


"Meski kau menangis seperti anak kecil, kami tahu beban yang kau rasakan, kami malah ingin marah karena kau menanggung semuanya sendirian."


"Lain kali kalau ada masalah katakan saja, kami akan berusaha membantumu, karena kita adalah teman." ucap Kaibo dengan wajah serius


Si Gendut memasang wajah sedih, karena terharu, air mata bahagia tak bisa dia sembunyikan, dengan wajah penuh air mata dia berkata. " Terimakasih.. teman -teman" ucap si Gendut sambil tersenyum


"Hei kenapa kau tidak menghiburku waktu itu!" teriak Su Yan


"Bukankah aku sudah menghiburmu waktu itu?" ucap Kaibo


"Kapan?" tanya Su Yan


"Saat aku berkata.. Sabarlah wahai pria tak berguna." ucap Kaibo


Jleb hati Su Yan terasa sakit mendengar ucapan itu


Su Yan berjongkok sambil merenung dan menutup kedua telinganya karena di kepalanya kini terngiang ucapan Kaibo dan Huang Li


"Tak berguna tak berguna tak berguna" gumam Su Yan