
Terhitung lima belas menit sejak tiba waktu Xiao Tian berjaga di atas atap untuk mengawasi wilayah sekitar. Sunlong telah tertidur disamping kiri tuannya tanpa merasakan bahaya sedikitpun.
"Malam yang cukup tenang, semoga saja semua terus seperti ini hingga aku sampai laut bagian barat," ucap Xiao Tian sambil memperhatikan sekitar. Dia bernapas lega sambil melirik ke kanan dan kekiri selama beberapa menit untuk mengawasi keadaan sekitar.
Setelah merasa cukup aman dia pun berhenti menengok ke kanan dan ke kiri, dimalam yang dia rasa cukup tenang Xiao Tian berniat untuk berkultivasi tanpa mengendorkan sedikitpun kewaspadaannya.
Ketika dia baru memejamkan matanya untuk melakukan proses kultivasi kenaikan tingkat, dia merasakan sebuah kekuatan jahat sedang mengawasi entah dari mana.
Demi memastikan hal tersebut, Xiao Tian membangunkan Sunlong yang tertidur lelap disampingnya. Sambil menggoyangkan tubuh Sunlong dia pun berkata, "Hei, apakah kau merasakan hawa jahat yang sedang mengawasi dari suatu tempat?"
"Jangan ganggu tidurku, aku tak merasakan apapun. Jika memang ada musuh, aku pasti terbangun karena tingkat kepekaanku terhadap hawa negatif sangatlah tinggi." Sunling begitu yakin dengan indra keenamnya, dia lupa kalau saat ini dia hanyalah kadal kecil yang tak bisa merasakan sesuatu yang tersembunyi. Karena merasa yakin dengan kemampuannya, Sunlong kembali tertidur di samping Xiao Tian.
Meski Sunlong terlihat tenang, Xiao Tian tak bisa tenang. Karena instingnya mengatakan kalau akan ada sesuatu yang mengincar kematiannya. Karena merasa risih dengan perasaan was was yang dia alami saat itu, akhirnya Xiao Tian kembali melirik kekanan dan kekiri sambil memutar tubuhnya agar bisa melihat keadaan di segala arah.
Setelah melirik ke kanan dia melihat sebuah tombak hitam yang melesat begitu cepat dari atas puncak tebing. Tombak hitam itu melesat tepat menuju ke arah punggung Xiao Tian. Tombak tersebut dilemparkan dari tebing yang berjarak delapan puluh kaki dari rumah buatan Xiao Tian dan dilemparkan di titik buta miliknya.
Namun karena Xiao Tian masih memiliki fokus yang cukup baik. Dia pun sanggup menghindari tombak hitam tersebut dengan mudah.
Dia menghindari tombak tersebut dengan melompat ke arah kanan dengan kekuatan penuhnya.
Ketika Xiao Tian sedang melompat ke kanan untuk menghindari tombak hitam, leher Sunlong tertarik oleh rantai perak yang menempel di tangan kanannya karena Xiao Tian melompat terlalu tinggi hingga melewati batas jarak yang telah ditentukan.
"uhuk!" Sunlong batuk karena lehernya tercekik rantai perak yang muncul kembali.
Mendengar suara batuk Sunlong, Xiao Tian pun langsung melirik ke arahnya.
Sadar bahwa tombak tersebut akan mengenai Sunlong, Xiao Tian pun terpaksa melakukan hal yang bisa menyakiti Sunlong. Dia langsung menarik rantai perak dengan sekuat tenaga sehingga membuat Sunlong tercekik kesakitan. Meski agak keterlaluan, berkat gerakan Xiao Tian yang cukup cekatan tersebut berhasil menolong Sunlong dari ancaman tusukan tombak hitam yang mengeluarkan hawa kematian.
Namun karena tak menyadari bahwa alasan Xiao Tian menariknya dengan begitu keras yaitu untuk menolongnya, Sunlong pun langsung menampar Xiao Tian saat telah berada di pelukkannya.
Plakkk
"Apa kau ingin membunuhku!" bentak Sunlong dengan tampang kesalnya.
"Kenapa kau menamparku tanpa pikir panjang!" bentak Xiao Tian dengan kesal.
"Kenapa kau bilang?"
"Apa aku tak boleh marah setelah kau menyiksaku ketika sedang tertidur!" tanya Sunlong sambil memegang kerah pakaian Xiao Tian.
"Ah maaf, aku terpaksa menarik rantai perak demi menyelamatkanmu," sambung Xiao Tian dengan nada rendah.
"Menyelamatkanku dari apa?" tanya Sunlong sambil menatap mata Xiao Tian.
Mereka bicara saat masih melompat ke atas udara, karena Xiao Tian melompat terlalu tinggi disaat mengetahui ada serangan kejutan.
Setelah mendengar pertanyaan Sunlong, Xiao Tian pun berkata, "lihatlah ke bawah!" Xiao Tian menjawab ucapan Sunlong sambil menatap ke arah tombak hitam ynag menancap ke tanah.
Setelah mendengar jawaban Xiao Tian, Sunlong pun langsung menoleh ke belakang. Akan tetapi yang dia lihat hanyalah daratan kosong yang terbentang luas.
"Apa kau mencoba mempermainkanku?"
"Aku tak melihat apapun selain rumah buatanmu dan darstan luas yang tak berpenghuni. Bisakah kau jelaskan alasau mencekik leherku?"
tanya Sunlong dengan kesal.
"Tadi ada tombak hitam berlapis hawa kematian yang hampir menusukmu, berkat pertolonganku tombak tersebut tak mendarat di perutmu. Tapi menancap, ke tanah di sekitar rumah buatanku.
"Kalau memang ceritamu benar, lalu dimana tombak hitam yang kau maksud?" tanya Sunlong dengan kesal.
"Tombaknya tenggelam ke dalam tanah," jawab Xiao Tian dengan nada serius.
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana mungkin tombak bisa tenggelam di dalam tanah tanpa menyisakan bekas sedikitpun. Berhenti berbohong padaku dan katakan yang sebenarnya!" bentak Sunlong sambil menarik kerah pakaian Xiao Tian.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat tombak itu tenggelam ke dalam tanah," tegas Xiao Tian mencoba meyakinkan Sunlong.
"Jangan bicara omong kosong!"
"Aku tak merasakan hawa kematian sama sekali. Bahkan tak ada bukti fisik bahwa tombak hitam karanganmu itu benar benar ada. Jadi jangan berbohong padaku, manusia!" ucap Sunlong dengan nada ketus.
"Tak kusangka ketidak percayaanmu terhadap manusia masih sebesar ini, kupikir kau sudah melupakan semua kekecewaanmu di masa lalu karena bisa tidur disampingku dengan begitu nyenyak," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Bukan maksudku tak mau mempercayaimu, tapi perbuatanmu yang tadi benar benar menyakitiku sedangkan alasau benar benar tak masuk akal," jelas Sunlong sambil melepaskan kerah baju Xiao Tian.
Setelah kaki Xiao Tian kembali mendarat ke atap rumah buatannya, lima belas buah tombak hitam melesat kembali dari puncak tebing.
"Tombak apa itu?" ucap Sunlong sambil melihat tombak hitam yang berjarak cukup jauh dari belakang punggung Xiao Tian.
"Tombak?" Xiao Tian membalikkan badannya karena mendengar ucapan Sunlong.
Jika Sunlong tak mengatakan ada tombak yang melesat ke arah mereka dari tempat yang cukup jauh, Xiao Tian pasti tak akan menyadarinya sampai tombak tersebut berjarak beberapa kaki dari tempatnya.
Berbeda dengan tombak yang pertama, lima belas tombak itu berlapis asap beracun yang sangatlah kuat. Meski tak tahu bahwa asap hitam yang menyelimuti tombak itu sangatlah beracun, Sunlong merasa tidak enak dan langsung memanjat memanjat ke pundak kanan Xiao Tian sambil memegang bajunya dengan begitu erat.
"Berhati hatilah, aku merasakan hal buruk akan terjadi jika kita membiarkan tombak tombak itu mengenai tubuh kita. Aku sudah memegang pakaianmu dengan erat, sekarang cepat menyingkir dari tempat ini!" ucap Sunlong dengan wajah panik.
Meski mengetahui maksud ucapan Sunlong, Xiao tian tak bisa menyingkir begitu saja.
Dia teringat dengan tombak hitam yang pernah membuat siluman rusa mengamuk.
Meski tak berselimut asap hitam seperti tombak yang ia lihat saat ini, Xiao Tian paham betul bahwa tombak tombak itu cukup berbahaya.
Dia menjadi semakin gelisah setelah menyadari bahwa tombak tombak hitam itu mengarah lurus ke tempat semua orang tertidur pulas.
Sadar bahwa tombak tombak tersebut di arahkan ke atap rumah, Xiao Tian pun berencana menahan tombak-tombak tersebut dengan membuat dinding tanah yang menjulang tinggi dari tempat yang agak jauh dari rumah buatannya.
Dengan nada keras Xiao Tian mengangkat telunjuknya sambil berkata,
"Teknik pengendali tanah, perisai tanah!"
Tepat setelah Xiao Tian mengucapkan mantranya, sebuah dinding tanah yang menjulang tinggi muncul menghalangi tombak tombak itu. Jarak dinding tanah itu sekitar tujuh puluh kaki dari rumah buatan Xiao Tian.
Akan tetapi tombak tombak hitam itu menembus dinding tanah dengan begitu mudah layaknya sebuah roh. Setelah melihat tombak tombak itu menembus perisai tanahnya, Xiao Tian pun membuat sepuluh lapisan perisai tanah untuk menahan tombak tombak tersebut.
Akan tetapi semua usahanya itu percuma. Tombak hitam bersifat seperti sebuah roh yaitu bisa menembus benda mati dan mampu merasuki makhluk hidup.
Karena sifatnya itu, tombak tombak hitam itu terus melewati perisai tanah buatan Xiao Tian seperti tak ada hambatan sama sekali.
Karena sadar perisai tanahnya tidak berguna, Xiao Tian pun mencoba menahan tombak-tombak tersebut dengan tekniknya yang lain. Dengan nada lantang dia pun berkata,
"Teknik pengendali angin, badai angin ribut!"
Seketika sebuah hembusan angin yang begitu kencang melesat dengan cepat mendekati semua tombak-tombak hitam. Namun semua tombak tersebut tak terhentikan. Tombak tombak itu menembus badai angin yang begitu kencang dengan begitu mudah. Karena tak ada pilihan lain Xiao Tian pun mencoba membangunkan sekua temannya melalui telepati,
"Semuanya bangunlah, ada serangan!"
"Jika kalian terus tertidur, mungkin tombak hitam akan mengenai kalian dan membuat kalian semua mengamuk!"
Karena merasa tak ada respon dari teman temannya, Xiao Tian terpaksa mencoba menahan tombak tombak tersebut dengan menggunakan tangan kosong.
Tepat saat tombak-tombak itu belum menyentuhnya, Dewa petir muncul secara tiba-tiba di hadapan Xiao Tian. Karena Dewa Petir menghadap ke arah tombak tombak tersebut, Xiao Tian hanya bisa melihat punggung Dewa Petir.
Dengan menggunakan petir putih, Dewa Petir menghanguskan lima belas tombak hitam dengan begitu mudah.
"Dasar payah, apa kau ingin menghabisi semua temanmu?"
"Jika kau menyentuh tombak tombak itu sedikit saja, maka kau akan kehilangan kendali atas dirimu. Keretakan pada gelang Dewa sudah cukup parah, jika kau mengamuk lagi maka tak ada yang bisa menolongmu."
"Jika kau mengamuk saat gelang Dewa telah hancur, maka satu-satunya takdir yang akan kau hadapi adalah mati di tanganku."
Setelah menghanguskan tombak tombak hitam, Dewa Petir menyambarkan petir putih bertegangan tinggi dari atas langit. Petir petir itu di arahkan kepada orang yang mengeluarkan tombak hitam di puncak tebing.
Jederrrrr
Saking ganasnya serangan yang Dewa petir lancarkan, tebing yang sebelumnya menjulang begitu tinggi lenyap dalam sekejap mata. Tak hanya menghilang dari pandangan semua orang, tebing tersebut juga berubah menjadi jurang tak berdasar.
Dari dalam jurang tersebut keluar asap putih yang begitu tebal, menandakan bahwa jurang itu sabgatlah panas hingga mengeluarkan asap putih.
Melihat keganasan kekuatan Dewa Petir, Xiao Tian pun hampir kehabisan kata kata.
"Tak kusangka, ternyata Dewa Kampret ini memiliki kekuatan sedahsyat ini," Pikir Sunlong sambil menatap punggung Dewa petir.
"Aku yakin orang misterius itu tak akan bisa bertahan hidup setelah terkena petir sedahsyat itu," ucap Xiao Tian dengan jantung yang berdegup kencang.
Setelah mendengar ucapan Xiao Tian, Dewa Petir pun langsung berkata,
"Benar sekali, jika dia terkena langsung sambaran petirku yang tadi seharusnya dia telah tiada."
"Tapi sayangnya dia berhasil lolos dengan mengaktifkan gulungan teleportasi tepat sebelum petir putih menyambarnya," jawab Dewa Petir dengan nada serius.
Setelah mendengar ucapan Dewa Petir, Xiao Tian pun berkata, " Begitu ya, sayang sekali."
"Ngomong-ngomong kenapa kau ada disini?"
"Bukankah kau sedang menemui istrimu di kerajaan petir?" tanya Xiao Tian sambil menatap punggung Dewa Petir.
"Ya benar, aku pun memiliki pertanyaan yang sama seperti Xiao Tian. Kenapa kau kembali kemari dengan begitu cepat, Dewa Konyol?" tanya Sunlong sambil menatap Dewa Petir.
"Ehm, jika kalian ingin tahu alasannya. Maka berjanjilah agar tidak tertawa. Karena kalian akan mengetahui jawabannya setelah aku membalikkan badanku," ucap Dewa Petir dengan nada serius.
"Baiklah, kami berjanji tak akan menertawakanmu. Cepat katakan apa alasanmu kembali kemari!" sambung Sunlong dengan nada kesal.
Setelah mendengar ucapan Sunlong, Dewa Petir langsung membalikkan badannya. Saat itu pula Xiao Tian dan Sunlong dapat melihat jelas wajah Dewa Petir. Kedua matanya membiru seperti habis dipukuli. kedua pipinya terlihat bekas tamparan yang berwarna merah gelap. Tanpa perlu dijelaskan, Xiao Tian mengerti bahwa Dewa Petir pasti telah dimarahi habis habisan oleh istrinya. Sejak melihat wajah babak belur dari Dewa Petir kekaguman Sunlong dan Xiao Tian seketika menghilang. Mereka langsung tak bisa menahan tawa mereka.
Sambil menunjuk ke arah Dewa petir Sunlong berkata,
"Pft, apa yang terjadi denganmu Dewa Konyol?" Mata Sunlong sedikit berair karena mencoba menahan tawa.
Xiao Tian tak sanggup berkata apapun karena mencoba menahan tawanya.
Ketika Dewa Petir ingin menjawab pertanyaan Sunlong, mereka berdua tertawa begitu lepas karena tak bisa menahannya lagi.
Karena kesal menjadi bahan tertawaan mereka, Dewa Petir pun memukul kepala mereka. Dengan nada kesal dia berkata,
"Bisakah kalian berhenti tertawa!"
"Ma ... maaf," ucap Sunlong dan Xiao Tian sambil memegang kepala mereka yang telah benjol.
"Seperti yang kalian ketahui, aku telah pergi menemui istriku. Aku juga telah menjelaskan alasan dibalik kepergianku. Namun aku berakhir begini dan harus melanjutkan kewajibanku sebagai pembimbingmu," jelas Dewa Petir.
#Beberapa jam yang lalu
Dewa Petir telah sampai di kerajaan Petir, dia pergi ke sana untuk menemui istrinya. Keadaan kerajaan petir saat itu telah membaik. Semua bangunan telah diperbaiki oleh Dewi Petir setelah terbangun dari pingsannya.
Ketika Dewi petir sedang sendirian di sebuah gang sepi, Dewa Petir mendekati istrinya tersebut. Namun bukan sambutan yang dia dapatkan, melainkan sebuah tamparan di kedua pipinya, dan dua buah kepalan tangan yang di lancarkan ke arah matanya.
Plakk plakk bukk bukk
"Kemana saja kau selama ini!" bentak Dewi Petir sambil menampar pipi kiri dan kanan Dewa Petir.
Setelah puas menamparnya, dia langsung mendorongnya hingga tergeletak di tanah.
Setelah Dewi petir berhenti menampar wajahnya, Dewa petir langsung menatap istrinya dengan muka memelas sambil berkata, "A ... ampun istriku, semua ini ada alasannya."
"Alasan?"
"Alasan apalagi ha?"
"Jangan bilang kau sudah menikah dengan wanita lain ketika menghilang begitu lama," ucap Dewi petir sambil menyiapkan jurus di kedua tangannya.
"Gawat, kalau begini terus aku akan habis."
"Aku harus membongkar misi rahasiaku agar tak mendapat penyiksaan yang berlanjut," pikir Dewa Petir dengan jantung yang berdegup kencang.
"Kenapa kau diam saja?"
"Kau benar benar ingin merasakan siksaan dariku?" tanya Dewi Petir.
"A ... ampun istriku."
"Sebenarnya ada alasan dibalik kepergianku, dan Kaisar langit terlibat dalam semua itu," belum sempat Dewa Petir menyelesaikan kalimatnya, Dewi petir berkata, "Kaisar langit?"
"Ya, ini ada hubungannya dengan tugas yang dia berikan," sambung Dewa Petir dengan nada serius.
Setelah istrinya mulai tenang, Dewa Petir menjelaskan semua alasan kepergiannya. Dia juga menjelaskan mengenai tugas dari kaisar langit untuk membimbing Xiao Tian menjadi seorang Dewa Obat. Namun bukannya sebuah pengertian yang dia dapatkan, Dewi petir malah menamparnya kembali dengan begitu keras sambil berkata,
"Kau ini bagaimana!"
"Dapat tugas untuk melindungi seorang calon Dewa, malah ditinggal begitu saja!"
"Bagaimana kalau dia dalam bahaya dan tewas ketika kau pergi!"
"Ta ... tapi, aku merindukanmu!" ucap Dewa Petir dengan mata berkaca-kaca.
"Tak ada kata tapi, cepat pergilah temui calon Dewa obat itu!" bentak Dewi Petir dengan tatapan dingin.
"Setidaknya peluk aku terlebih dulu," ucap Dewa Petir dengan wajah memelas. Dewa Petir mengharapkan pelukan hangat dari istrinya dengan memasang tampang memelas, sayangnya Dewi Petir tak kunjung luluh. Dia malah terus memasang tatapan dingin sambil menatapnya dengan kesal.
"Berhenti bermimpi, walau aku istrimu. Aku tak akan mau memelukmu lagi, aku masih marah padamu," ucap Dewi Petir dengan tatapan dingin.
"Tapi ... " belum sempat menyelesaikan ucapannya, Dewi petir mengancam Dewa petir dengan berkata, "Tak ada kata tapi, jika kau tak pergi juga dari sini, maka aku akan menendang burung peliharaanmu."
"Ba ... baiklah!" Dewa Petir pergi meninggalkan istrinya untuk menemui Xiao Tian, karena tak ingin burung kesayangannya jadi bulan bulanan istrinya.
#Sekarang
Xiao Tian dan Sunlong telah mendengar semua penjelasan Dewa Petir. Dari awal hingga akhir mereka berusaha menahan tawa agar Dewa Petir menceritakan pengalamannya secara tuntas, namun semua usaha mereka gagal total setelah mendengar kata yang menurut mereka memilili makna lain yang cukup mengocok perut.
"Burung kesayangan?" ucap Sunlong dan Xiao Tian sambil menatap mata mereka satu sama lain. Setelah bertatapan satu sama lain, kemudian mereka berdua menatap perit Dewa petir lalu menurunkan pandangan mereka hingga terfokus ke area bawah perutnya.
"Jangan bilang maksudmu burungmu yang ... " Xiao Tian melihat kearah bawah perut Dewa Petir.
Melihat Sunlong dan Xiao Tian terfokus pada pusaka rahaisannya, dia pun langsung memetong pembicaraan.
"Apa lagi kalau bukan burung yang menjamin masa depanku," jelas Dewa Petir.
Xiao Tian dan Sunlong pun tertawa terbahak bahak setelah mengerti maksud Dewa Petir.
Mereka tak bisa menahan tawa mereka lagi karena yang mereka dengar terkahir kali merupakan hal yang terlalu lucu bagi mereka.
Dewa Petir merasa kesal karena menjadi bahan tertawaan Sunlong dan Xiao Tian. Meski bisa menghentikan tawa mereka dengan menggunakan ancaman, dia tak melakukan hal tersebut karena tahu bahwa sejak awal mereka sudah berusaha keras menahan tawa sambil mendengar penjelasannya.
Malam itu pun menjadi malam yang menjengkelkan bagi Dewa Petir karena menjadi bahan tertawaan Sunlong dan Xiao Tian.
"Kalian ini ... ,"
"Bukankah kalian berjanji untuk tidak tertawa!" bentak Dewa Petir dengan keras.
Setelah mendengar bentakan Dewa Petir, Xiao Tian dan Sunlong berhenti tertawa.
"Maaf kami tak bisa menahannya lebih lama lagi," ucap Xiao Tian dengan tangan yang menutupi mulutnya sendiri. Dia sedang mencoba menahan tawa agar tak membuat Dewa Petir marah.
Sunlong pun menutup mulutnya sama persis seperti yang Xiao Tian lakukan. Mereka memang berhenti tertawa terbahak bahak, tapi di dalam hati mereka masih menertawakan kejadian konyol yang dialami Dewa Petir.
Karena Dewa Petir bisa membaca pikiran Xiao Tian, Dia pun menjadi semakin kesal. Tapi karena tak bisa mengontrol pikiran Xiao Tian, akhirnya dia pasrah dan hanya bisa mengomeli mereka sepanjang malam.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁