Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 151 : Menghadap naga putih


Setelah berpikir cukup panjang, Sebuah portal merah muncul dihadapannya pertanda bahwa 10 menit telah berlalu. Waktu bagi Xiao Tian menghadap sang naga putih telah tiba, dimana dia harus mengatakan sebuah permintaan yang harus dikabulkan oleh sang naga putih.


Xiao Tian memasuki portal merah itu tanpa rasa ragu sedikitpun, dia telah memantapkan hatinya dan sudah memutuskan permintaan apa yang ingin dia katakan.


Setelah memasuki portal tersebut, dia melihat seekor naga putih raksasa, yang ukurannya sepuluh kali lipat dari naga hitam raksasa, Xiao Tian merasa seperti sebutir debu dihadapan naga itu.


Xiao Tian sangat terkejut melihat naga sebesar itu, meski begitu dia tak terlihat takut karena tahu bahwa naga dihadapannya tak akan melukainya sedikitpun.


"Apa kau terkejut dengan penampilanku kali ini?"


"Ini adalah wujud asliku, tak pernah ada yang melihat ukuran tubuhku yang sebenarnya. Banggalah wahai manusia, kau adalah satu-satunya makhluk selain para Dewa yang berhasil melihat wujud serta ukuran asliku." ucap naga putih itu.


"Begitu ya." ucap Xiao Tian.


"Baiklah sudah cukup basa-basinya!"


"Katakan permintaanmu, ingatlah ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidupmu.


Tak akan ada lain kali, setiap orang hanya memiliki satu kesempatan untuk mencoba masuk kedalam labirin es agar bisa berhadapan denganku."


"Pikirkanlah permintaanmu baik-baik manusia." ucap naga putih.


Xiao Tian menarik napasnya dalam dalam, mengepalkan kedua tangannya pertanda bahwa dia sebenarnya telah memutuskan keputusan yang cukup sulit dia terima.


"Aku ingin Kaibo pulang bersamaku." ucap Xiao Tian.


"Sudah kuduga kau pasti menginginkan keabadian sama seperti yang lainnya."


"Eh ... , tunggu apa kau baru saja bilang kalau kau hanya ingin menyelamatkan iblis kecil bernama Kaibo?" naga putih terkejut mendengar permintaan Xiao Tian.


"Ya, apa aku masih kurang jelas mengatakannya?"


"Aku bilang, aku ingin Kaibo pulang bersamaku!"


"Bebaskan dia, lepaskan dia dari kurungan labirin es!" jelas Xiao Tian.


"Kenapa kau mementingkan anak iblis itu?"


"Bukankah yang lain juga tak kalah penting bagimu?"


"Bagaimana dengan Huang Li yang kehilangan kesadarannya karena ikut berperang bersamamu, bagaimana dengan putri Jia Li yang sangat kau cintai? bukankah dia juga dalam kesulitan?" naga putih melontarkan banyak pertanyaan karena bingung dengan keputusan Xiao Tian.


"Semua itu memang penting bagiku, tapi ... Kaibo lebih berhak untuk dibebaskan."


"Dia mengorbankan kebebasannya demi mendapatkan bunga kristal es, dia melakukan hal itu untuk menolongku dan membantu menyadarkan Huang Li. Dengan kata lain dia telah berkorban demi diriku, kau juga bilang kalau aku tak bisa kembali lagi ke labirin es karena setiap makhluk hanya memiliki satu kesempatan untuk memasuki labirin es."


"Apa kau sudah yakin dengan permintaanmu itu?" tanya naga putih.


"Aku sangat yakin!" jawab Xiao Tian.


Setelah mendengar ucapan Xiao Tian dejgan penuh keyakunan, akhirnya sang naga putih mengabulkan permintaanya.


Xiao Tian mundur beberapa langkah karena diperintahkan untuk mundur oleh naga putih itu. Setelah Xiao Tian mundur cukup jauh, sebuah balok es berisikan tubuh Kaibo yang telah terikat rantai, muncul perlahan dari dalam daratan es.


Xiao Tian mencairkan es tersebut lalu menghangatkan tubuh Kaibo dengan elemen api yang dia miliki. Sambil menghangatkan tubuh Kaibo dia juga melepaskan rantai yang mengikat seluruh tubuh Kaibo.


"Terima kasih karena sudah berusaha menolongku, Kaibo." ucap Xiao Tian sambil memeluk Kaibo yang masih tak sadarkan diri.


"Kau benar-benar manusia yang aneh, merelakan keabadian hanya untuk menolong seorang anak iblis. Ini pertama kalinya aku melihat seorang manusia begitu menyayangi seorang suku iblis melebihi keselamatan dirinya sendiri." ucap naga itu.


"Maaf karena telah merepitkanmu lagi, kak Xiao Tian." ucap Kaibo sambil menggigil kedinginan.


"Dasar bodoh, untuk apa kau meminta maaf?" "Lain kali jangan membuatku khawatir lagi." ucap Xiao Tian.


Setelah permintaanya terkabul sebuah portal hitam muncul dihadapan mereka. Naga putih menyuruh Xiao Tian beserta Kaibo meninggalkan lembah kristal es dan merahasiakan semua hal yang telah dia alami di dalam labirin es.


Karena Kaibo masih agak lemas, Xiao Tian menggendongnya pergi untuk memasuki portal itu. Setelah memasuki portal hitam itu, Xiao Tian dan Kaibo kembali ke kediaman para siluman kera. Keberhasilannya disambut hangat oleh Dewa Petir dan Wukong yang telah lama menunggunya keluar.


"Aku tak menyangka kalau ada manusia yang bisa berhasil melewati labirin es, hanya dalam sekali coba." ucap Wukong.


"Apa maksud ucapanmu?"


" Menurut ucapan naga putih setiap makhluk hanya diberikan satu kali kesempatan, jika gagal tentu saja tak akan bisa keluar."


"Lagipula rintangan di dalam labirin es tidaklah sulit bagiku." ucap Xiao Tian.


"Benarkah?"


"Lalu siapa yang mengalami kejadian hampir mati karena memilih pintu sembarangan, siapa yang menggunakan bantuan roh beladirinya untuk lepas dari kekalahan." ucap Wukong.


"Ba ... bagaimana kau tahu?" tanya Xiao Tian.


"Aku adalah seorang Dewa tentu saja aku tahu semuanya." jawab Wukong.


"Sebenarnya dia adalah kera kecil yang membantumu untuk meringankan rintangan yang kau hadapi selama ini, jika bukan karena dia mungkin rintangan yang kau hadapi lebih sulit dari yang tadi." sambung Dewa Petir.


"Hei, kenapa kau membocorkan rahasiaku!" bentak Wukong.


"Ma ... maaf." sambung Dewa Petir.


"Begitu ya, jadi semua itu berkat bantuanmu."


"Terima kasih Dewa Kera." ucap Xiao Tian sambil menggendong Kaibo di punggungnya.


"Ehm, sama-sama."


"Sebenarnya aku melakukan ini bukan untuk menyelamatkanmu, tapi untuk menyelamatkan dunia." ucap Wukong.


"Apa hubungannya menyelamatkan dunia dengan menyelamatkan nyawaku?" tanya Xiao Tian.


"Para Dewa sekarang tak bisa ikut campur secara langsung seperti jaman dulu. Dunia Dewa dan dunia manusia telah terpisah selama ribuan tahun. Kami para Dewa hanya bisa bertahan di tempat tertentu dan tak ikut campur secara langsung karena aturan langit."


"Kaisar langit membatasi gerakan para Dewa, bukan karena tanpa sebab. Jika para Dewa turun ke alam manusia tanpa kepentingan yang jelas, dunia akan mengalami kekacauan."


"Untuk saat ini hanya aku dan istri Dewa petir yang diberikan kewenangan untuk turun ke alam manusia dengan tubuh fisik, sisanya hanya pergi bertugas dengan roh yang tak bisa dilihat makhluk selain dewa." jelas Wukong.


"Tunggu, kau juga tahu tentang istriku?"


"Apa kau tahu dimana dia sekarang?" tanya Dewa Petir.


"Saat ini dia berada di kerajaan petir, masih dalam keadaan tak sadarkan diri karena mengalami sakit kepala yang teramat dahsyat." jawab Wukong.


"Apa yang membuatnya menjadi seperti itu?"


"Sang petir hitam pembawa bencana, raja iblis Dianzeng. Putra pertamamu bersama Dewi petir yang telah lama menghilang karena dibawa kabur oleh Dewa Iblis." jawab Wukong.


"Putraku masih hidup?"


"Syukurlah, tapi kenapa dia menyerang ibunya sendiri?" tanya Dewa Petir.


"Sepertinya Dewa Iblis telah mencuci otaknya, sejak awal bocah itu memang memiliki hawa iblis di dalam tubuhnya, dia berbeda dengan keturunan Dewa pada umumnya."


"Entah apa yang membuat seorang keturunan Dewa Dewi yang berada di jalan kebaikan terlahir dengan hawa iblis yang begitu kuat." jawab Wukong.


"Cukup, kau tak perlu membahasnya, bagaimanapun dia tetap putraku."


"Aku pasti akan mengembalikannya ke jalan kebenaran." sambung Dewa Petir.


"Kau memang tak pernah berubah, apa kau telah melupakan penghianatan Dewa iblis?"


"Meski dia merupakan anakmu, dia memiliki bau yang sama seperti iblis."


"Ini juga berlaku untukmu manusia, kau menjadikan iblis sebagai roh beladirimu, kau juga menjadikan seorang iblis sebagai temanmu, bahkan kau rela mati demi menyelamatkan seorang keturunan iblis."


"Jangan sampai kau menyesali semua keputusanmu itu, ingatlah iblis adalah makhluk hina yang tak akan pernah menepati janjinya. Jika kau terus bergaul dengan mereka, mungkin mereka akan meninggalkanmu saat sudah tak memerlukanmu lagi."


"O iya satu lagi, teruslah berjuang bersama Dewa Petir, dan jadilah seorang Dewa Obat yang baru."


"Hanya kau harapan terakhir dunia ini, karena para Dewa tak akan ikut campur secara langsung terhadap keselamatan alam semesta kedua ini." ucap Wukong sambil melangkah pergi.


"Apa salahnya menjadi seorang iblis, kenapa semua orang mendiskriminasi bangsa iblis?. Hanya karena sebagian besar bangsa iblis melakukan perbuatan tercela, bukan berarti semua bangsa iblis berperilaku seperti itu!"


"Bukankah manusia juga demikian?"


"Ada yang baik dan ada yang jahat?"


"Kenapa hanya bangsa iblis yang diragukan kebaikannya?"


"Kenapa?" ucap Kaibo yang masih berada di gendongan Xiao Tian.


"Maaf saja, aku tak mendengar ucapan manis dari seorang iblis. Jika kau ingin iblis berhenti di diskriminasi, bawalah mayat Dewa iblis kehadapan para Dewa." tegas Wukong.


Wukong bersiul memanggil sebuah awan putih, dia melompat menaiki awan tersebut, lalu terbang keatas langit dengan kecepatan tinggi meninggalkan semua orang.


"Cih." Kaibo terlihat begitu kesal, marah sekaligus sedih karena bangsanya selalu dianggap hina oleh bangsa lain.


"Tenanglah, aku tak akan meninggalkanmu."


"Aku percaya kalau tidak semua iblis berperilaku buruk, aku juga percaya kalau diluar sana masih banyak bangsa iblis yang memiliki hati bersih seperti kau dan jingmi." sambung Xiao Tian.


"Terimakasih, tolong turunkan aku, aku sudah bisa berdiri sendiri." ucap Kaibo.


"Tapi kau masih belum pulih sepenuhnya." sambung Xiao Tian.


"Aku bukanlah anak kecil. Meski tubuhku seperti seorang anak kecil, umurku jauh lebih tua darimu." tegas Kaibo.


"Iya iya, aku turunkan kau." Xiao Tian menurunkan Kaibo dari punggungnya.


Dewa petir terlihat begitu banyak pikiran, karena dia terus melamun sejak Dewa kera pergi. Karena hal itu Xiao Tian mendekati Dewa Petir dan bertanya.


"Apa kau masih memikirkan putra serta istrimu?"


"Jika itu penting untukmu pergilah cari istri dan putramu itu, aku dan Kaibo bisa pergi sendiri." ucap Xiao Tian.


"Tidak aku tak akan meninggalkanmu, lagipula istriku bisa menjaga diri, begitu pula putraku." sambung Dewa Petir.


"Begitu ya."


"Apakah kau tahu dimana sarang siluman harimau?" Tanya Xiao Tian.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Dewa Petir.


"Aku hanya bertanya, apa kau tahu dimana itu?" tanya Xiao Tian.


"Letaknya berada di sebelah selatan wilayah kerajaan es, mereka membangun sebuah istana es di puncak gunung yang dibangun di atas lautan yang telah membeku menjadi es."


"Wilayah itu sangat berbahaya bagi manusia karena suhu disana terlalu dingin dan sering terjadi badai salju yang tiada henti."


"Selain siluman es, tak ada satupun makhluk hidup yang pernah melewati tempat itu." jelas Dewa Petir.


"Kalau begitu sudah kuputuskan, tujuan kita kali ini adalah menuju istana es, dan menghabisi para siluman harimau." ucap Xiao Tian.


"Kau ini sudah gila ya?"


"Kau baru saja keluar dari labirin es, setidaknya istirahat terlebih dulu." bentak Dewa Petir.


"Putri Feng Yin dan putri Jia Li ada di tempat itu, aku harus segera menyelamatkan mereka." jelas Xiao Tian.


"Kak Xiao Tian, bisa kau jelaskan padaku kenapa kau sejak tadi berbicara sendiri?"


"Tak hanya kau, Dewa kera juga sempat bicara menghadap ke tempat yang tak ada orangnya, apa kau sedang berbicara dengan roh Dewa Petir seperti yang Dewa kera itu katakan?" Kaibo tak bisa menahan diri untuk bertanya, karena sejak tadi Xiao Tian mengabaikannya.


"Ah maaf karena terlalu asik sendiri sejak tadi.


Aku memang sedang bicara dengan roh seorang Dewa."


"Hanya aku dan para Dewa yang lain yang bisa melihat roh Dewa yang berada disampingku ini." jelas Xiao Tian.


"Jadi kak Xiao Tian mempunyai kemampuan melihat Dewa?" tanya Kaibo.


"Anggap saja begitu." jawab Xiao Tian.


"Wah hebat sekali." Kaibo sangat mengagumi ucapan Xiao Tian.


"Sudahlah kita cukupi pembicaraan ini."


"Ayo ikut bersamaku menuju ke arah selatan." ucap Xiao Tian.


"Selatan?"


"Untuk apa kita kesana?" tanya Kaibo.


"Menyelamatkan putri Feng Yin dan putri Jia Li dari terkaman siluman harimau." jawab Xiao Tian.


bersambung...