Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 226 : Bantai habis


Xiao Tian telah mengejutkan semua orang dengan mengeluarkan api biru yang cukup langka. Hanya orang orang tertentu yang bisa menguasai api tersebut.


Huo Luan semakin tertarik melawan Xiao Tian hingga melupakan niatnya untuk menyimpan tenaga agar bisa bertahan saat menyerang bangsa leviant.


Sedikit demi sedikit tenaganya terus meningkat. Sambil menatap Xiao Tian dengan serius, dia pun berkata.


"Hahahahahahaha, tak kusangka aku bisa di pojokkan oleh seorang bocah. Bocah ini milikku, sisanya kuserahkan pada kalian."


Huo Luan tersenyum lebar setelah melihat kemampuan berpedang Xiao Tian.


Sedangkan para pasukan elit langsung melesat ke arah Taiwu dan yang lainnya dengan pedang emas di tangan mereka.


Taiwu yang saat itu berada di barisan paling belakang langsung melesat maju melewati yang lainnya sambil mengeluarkan dua buah pedang di belakang punggungnya.


Naga hitam langsung melompat dari punggung Taiwu lalu berubah ke wujud raksasa untuk menakuti para pasukan elit.


Saat naga hitam berubah tepat di hadapannya, Taiwu langsung menaiki ekor naga hitam dan berlari terus hingga mencapai kepala naga hitam. Dengan mengkombinasikan semburan api naga hitam dan tarian pedang milik Taiwu para pasukan elit dapat dihabisi dalam sekejap mata.


Ketika Taiwu dan naga hitam menyatukan kekuatan mereka, Putri Jia Li menebas membekukan para pembasmi iblis di sekelilingnya dengan jurus es pembeku yang telah dia kuasai. Sedangkan si gendut menebas para pasukan pembasmi iblis dalam hitungan detik dengan teknik pedang surgawinya.


Melihat para pasukan elitnya dihabisi dalam sekejap mata, membuat Huo Luan naik pitam. Emosinya semakin melonjak tajam setelah Su Yan mengeluarkan bola cahaya yang merupakan jurus andalan bangsa siluman serigala suci.


"Sepertinya tak ada pilihan lain selain menghabisi kalian sekarang juga. Tak hanya bekerja sama dengan sekte iblis, kalian juga bekerja sama dengan siluman serigala suci. Benar benar tak bisa dimaafkan." Huo Luan menancapkan tombaknya ke tanah, hingga membuat bumi berguncang. Tekanan qi yang terpancar dari tubuhnya terus meningkat tajam hingga melewati tingkatan Dewa Petarung.


"Akan kutunjukkan arti dari kekuatan sejati!"


"Matilah para manusia sesat!"


"Teknik penghancur alam, meteorit raksasa!"


ucap Huo Luan sambil menancapkan tombaknya ke dalam pasir putih.


Tak lama setelah tombaknya tertancap di dalam pasir, sebuah meteor berukuran raksasa terlihat dari atas langit hingga menutupi sinar matahari karena ukurannya yang luar biasa besarnya.


"Apa apaan ini?" ucap Taiwu dengan mata yang terbelalak.


"Yang benar saja, bagaimana bisa ada batu sebesar itu terjatuh dari atas langit?" ucap si Gendut sambil menatap ke atas langit.


"Sejak kapan langit bisa mengeluarkan batu?" pikir putri Jia Li sambil menatap ke atas langit.


"Ahahhahaha. Ayo kita mati sama sama, Pangeran," ucap Huo Luan dengan senyum jahatnya.


"Tekanan roh dari meteor itu sangatlah tinggi. Jika naga hitam dan Taiwu terbentur meteor secara langsung, mereka mungkin tak akan bisa bangun lagi," ucap Dewa Petir sambil menepuk punggung Xiao Tian.


"Terimakasih atas informasinya, akan kupaksa Taiwu dan naga hitam mundur ke dalam portal ruang hampa," jawab Xiao Tian melalui telepati.


Xiao Tian membuka portal ruang hampa dan menyuruh naga hitam membawa Taiwu memasukinya dengan kecepatan tinggi. Tepat ketika meteor raksasa semakin mendekati daratan, Su Yan mengeluarkan bola bola cahaya untuk menghancurkan meteor itu diikuti si gendut dan putri Jia Li yang juga mengeluarkan jurus mereka untuk menghancurkan meteor tersebut.


Meteor itu malah semakin melaju kencang menujundaratan setiap kali diserang.


"Ukurannya terlalu besar, aku tak bisa menelannya secara utuh ke dalam ruang hampa, lagipula Taiwu dan naga hitam sudah berada di dalam portal tersebut. Tak ada cara lain selain membawa pergi semuanya ke dalam ruang hampa," pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.


Ketika Xiao Tian ingin menyentuh tangan kirinya untuk membuka portal yang lain, Huo Luan mencegahnya dengan menyerangnya secara bertubi tubi. Dia tak memberi Xiao Tian kesempatan untuk beristirahat sedetikpun.


Terus pengayunkan tongkat berlapis apinya ke kanan dan kekiri untuk menyerang Xiao Tian. Melihat Xiao Tian agak kesulitan, Su Yan dan yang lainnya langsung melesat maju untuk mengeroyok Huo Luan.


Tapi semua usaha mereka sia sia karena Huo Luan sanggup meladeni semua orang.


Dia mengeluarkan sebuah gelombang tekanan qi tingkat tinggi yang sanggup membuat semua orang terpental begitu jauh.


"Sial orang tua ini benar benar merepotkan," ucap si Gendut dengan napas yang terengah engah. Pedangnya tertancap ke tanah karena habis digunakan sebagai pegangan agar tak terlempar terlalu jauh.


Putri Jia Li memanggil golem es raksasa di hadapannya untuk dijadikan bantalan agar tak terlempar terlalu terlalu jauh.


Su Yan mengeluarkan tiga ekor emas di belakang punggungnya dan menggunakan ekor tersebut untuk melilit tangan golem es yang putri Jia Li panggil agar tak terlempar terlalu jauh.


"Hahahaha, tak peduli apapun yang kalian lakukan. Kalian tak akan bisa menandingiku!"


"Karena kemampuan kalian masih jauh dibawah kekuatanku!" ucap Huo Luan dengan tawa jahatnya.


"Apakah kau memerlukan bantuanku?" ucap Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.


"Tidak, kekuatanmu diperlukan untuk melawan bangsa leviant nanti. Untuk sekarang biarkan aku mencoba menghabisi musuhku seorang diri." Xiao Tian memasukkan kembali pedang hitam ditangannya ke dalam cincin ruangnya.


Setelah pedang hitam pagoda iblis menghilang, dia mengeluarkan dua pedang hitam bergerigi yang dia ambil dari Kaibo waktu itu. Kedua pedang itu berputar putar di hadapan Xiao Tian lalu jatuh tepat di masing masing telapak tangan Xiao Tian yang terbuka lebar.


"Percuma saja kau mengganti pedang, keadaanmu tak akan berubah hanya dengan mengganti pedangmu!" Huo Luan melesat maju ke arah Xiao Tian.


Namun Xiao Tian menghilang dari pandangannya dan muncul tepat di belakang punggung Huo Luan. Bersamaan dengan munculnya Xiao Tian, salah satu pedang bergerigi telah tertancap di punggung Huo Luan karena kelengahannya.


"Teknik seribu langkah cahaya, bagaimana kau bisa menguasai teknik yang telah lama menghilang itu?" tanya Huo Luan dengan mata yang terbelalak.


"Aku tak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu itu," ucap Xiao Tian sambil menarik pedangnya keluar.


Setelah pedang bergerigi ditarik keluar dari punggungnya, Huo Luan terjatuh hingga tergeletak dalam posisi tengkurap di atas pasir. Dengan punggung yang berlumuran darah dia berkata, "Aku tewas oleh seorang bocah karena terlalu meremehkan lawanku, tak kusangka kau bisa berlari lebih cepat dari yang kuduga. Andai ku perkuat pertahananku kau tak mungkin bisa melukaiku. Tapi meski begitu aku tetap merasa puas, karena kalian semua akan tetap mati bersamaku!"


"Hahahahahaha!" Huo Luan tertawa begitu keras hingga akhir hayatnya.


Setelah Huo Luan menghembuskan napas terakhirnya, Xiao Tian mencoba mengaktifkan portal ruang hampa. Akan tetapi portal tersebut tak kunjung muncul meski mencoba berkali kali.


"Sial apa yang terjadi?" ucap Xiao Tian dengan tangan yang gemetar.