Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 253 : Menunggu?


Karena kesal dengan Dewa Petir, Wu Kong mengikatnya ke sebuah pohon yang bersalju dalam keadaan tubuh yang terbalik. Dia diikat dengan tali berlapis kekuatan qi milik Wu Kong yang tak mudah dilepaskan oleh Kaisar Langit sedikitpun.


Hanya orang yang setara atau lebih kuat dari Wu Kong yang bisa lepas dari tali tersebut. Tak peduli seberapa kuat Dewa Petir memberontak, karena kesenjangan kekuatan dia tak bisa lepas dari ikatan tersebut.


Dia terpaksa menunggu Wu Kong memaafkannya, atau menunggu panglima Tian Feng datang membawa pasukannya.


Sayangnya orang yang dia tunggu tak kunjung datang, hingga mentari di dimensi es lenyap di telan kegelapan malam.


"Sampai kapan kita menunggu?" tanya Xiao Tian.


"Enam jam telah terlewati, tapi panglima Tian Feng beserta pasukannya tak kunjung datang. Anehnya tak ada iblis yang datang menyerang kemari, apakah karena kehadiran Dewa kera?" pikir Xiao Tian.


"Kak Xiao Tian aku mengantuk," ucap Kaibo yang telah kembali ke versi anak anak.


"Jingmi juga ngantuk, kapan kita akan berperang?" tanya Jingmi yang mengalami kondisi sama seperti Kaibo.


Xiao Tian melirik ke arah Dewa Kera, melalui telepati dia pun berkata, "Apa tak apa jika mereka tidur lebih dulu?"


"Biarkan saja mereka tidur. Aku sudah mengaktifkan array pembatas yang membuat musuh tak bisa melacak lokasi kita. Jika mereka menyerang ada aku yang tak akan pernah tidur. Kau pun boleh tidur jika merasa mengantuk," jawab Wu Kong melalui telepati.


"Begitu ya, baiklah," sambung Xiao Tian melalui telepati.


Setelah mendapat jawaban Wu Kong, Xiao Tian kembali menatap Kaibo dan Jingmi.


"Tidurlah, kalian sudah terlalu lama menahan teknik perubah rupa. Tentu saja kalian begitu lelah tak seperti biasanya. Akan ku bangunkan jika sudah saatnya nanti," ucap Xiao Tian sambil mengelus kepala Jingmi dan Kaibo.


"Baiklah kalau begitu," sambung Kaibo dengan mata yang terlihat mengantuk.


"Jingmi tidur dulu ya ... ," ucap Jingmi sambil berjalan sempoyongan.


"Ngomong ngomong dimana kami harus tidur?" tanya Kaibo sambil menatap Xiao Tian.


"Tidur saja di dekat kak Huang Li dan kak Jia Li. Meski raja iblis Lie Bao terlihat menakutkan, dia masih berada di dalam kendali kak Huang Li. Kalian bisa tidur di sekitar bulu bulunya untuk menghangatkan diri," jawab Xiao Tian sambil menatap Kaibo dan Jingmi.


"Baiklah, kami tidur duluan kak Xiao Tian," ucap Kaibo sambil berjalan sempoyongan.


"Selamat malam ayah Xiao Tian, Jingmi tidur duluan ya. Hoammmm," ucap Jigmi sambil menguap.


Setelah Kaibo dan Jingmi telah tertidur di dekat Huang Li dan putri Jia Li yang tertidur duluan di dekat raja iblis Lie Bao versi Cheetah raksasa, Xiao Tian menyuruh semua orang yang masih membuka mata untuk berkumpul.


"Apakah ada sesuatu yang penting, Pangeran?" tanya Taiwu sambil menatap Xiao Tian.


"Apakah perangnya akan dimulai, atau kita harus menunda peperangannya?" tanya jenderal Tailong sambil memberi hormat.


"Apakah kau tahu kenapa panglima Tian Feng tak kunjung datang, Pangeran?" tanya jenderal Huang Cheng sambil memberi hormat.


"Aku tak tahu alasan dibalik lamanya panglima Tian Feng datang kemari, mungkin dia sengaja datang lebih lambat agar kita bisa beristirahat terlebih dahulu," jelas Xiao Tian sambil menatap jenderal Huang Cheng.


"Kemungkinan besar perang akan ditunda hingga besok pagi, untuk sementara suruh semua beristirahat agar stamina kita tetap terjaga hingga bisa menyerang musuh dengan sekuat tenaga," sambung Xiao Tian sambil menatap jenderal Tailong.


"Waktu telah berganti malam, terlalu berbahaya jika kita pergi berperang tanpa beristirahat."


"Dewa Kera telah mengaktifkan array pembatas tanpa sepengetahuan kita. Alasan kenapa iblis tak menyerang kemari yaitu karena array tersebut dapat menyembunyikan hawa keberadaan kita."


"Selagi kita tak jauh dari tempat Dewa Kera berada, kita akan aman."


"Sampai panglima Tian Feng turun dari atas langit, kita semua sebaiknya tidur dulu. tidurlah dengan nyenyak, jangan hawatirkan serangan musuh. Dewa kera telah memberi tahuku melalui telepati bahwa dia tak memerlukan tidur di tingkat kultivasinya yang saat ini." ucap Xiao Tian sambil menatap semua orang.


"Begitu ya, baiklah terimakasih atas petunjuknya," jawab jenderal Taifeng sambil memberi hormat.


"Kalian dengar itu?"


"Tidurlah hingga fajar tiba!"


"Tak perlu memikirkan serangan musuh, kalian akam aman selagi Dewa Kera ada disini. Ingat, tak ada yang boleh mabuk sebelum berperang!"


"Istirahat yang cukup agar kita bisa meraih kemenangan!" ucap jenderal Taizong sambil menatap pasukannya.


"Baik jenderal!" ucap para prajurit sambil memberi hormat.


"Kalian juga tidurlah, lakukan seperti yang dikatakan jenderal Taizong," ucap jenderal Taifeng sambil menatap pasukannya.


"Baik jenderal!" ucap para prajurit sambil memberi hormat.


"Siap, mengerti!" ucap para prajurit sambil memberi hormat.


"Kalian juga tidurlah senyaman mungkin, tapi tak ada yang boleh tidur di dekat putriku. Kalian mengerti!" ucap jenderal Huang Cheng sambil menatap pasukannya.


"Siap mengerti!" jawab para prajurit.


Para jenderal beserta pasukannya langsung membubarkan diri untuk tidur. Tapi Huanran, Taiwu, si Gendut, Su Yan serta ketiga bangsa siluman masih membungkuk menghadap Xiao Tian.


"Kenapa kalian tak ikut tidur?" tanya Xiao Tian sambil menatap semua orang.


"Kami para bangsa siluman tak memerlukan tidur. Jadi kami memutuskan untuk berjaga di sekitar yang mulia agar dapat menjamin keamananmu," jawab raja siluman rubah merah sambil memberi hormat.


"Terserah kalian mau melakukan apa, kalau memang kalian tak memerlukan tidur. Lebih baik kalian berpencar untuk membantu Dewa Kera mengawasi semua orang sambil memastikan keamaan mereka," sambung Xiao Tian sambil menatap para siluman.


"Baiklah yang mulia maharaja Xiao Tian," ucap para siluman rubah dan siluman rusa sambil memberi hormat.


"Kalau begitu kami pamit undur diri, Dewa Obat Xiao Tian," ucap para siluman harimau sambil memberi hormat.


Setelah para siluman membubarkan diri, Su Yan dan yang lainnya masih tetap duduk dihadapan Xiao Tian. Karena masih bingung dengan apa yang dilakukan mereka, Xiao Tian Pun kembali bertanya kepada mereka.


"Aku mengerti alasan para siluman berdiam diri tadi, tapi apa alasan kalian tetap duduk disini?" tanya Xiao Tian sambil menatap semua orang.


"Aku hanya melakukan tugasku, pangeran. Sebagai seorang pengawal tak boleh terlalu jauh dari tuannya," jawab Taiwu sambil memberi hormat.


"Baiklah kuterima alasanmu, bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Xiao Tian sambil menatap si gendut dan Su Yan.


"Ehm begini, apakah raja iblis itu tak akan mengamuk disaat kita tertidur?" ucap Su Yan dan si Gendut sambil melirik ke arah raja iblis Lie Bao.


"Tenanglah, dia tak akan mengamuk. Dewa kwra bersikap biasa saja sejak tadi. Tak memberi peringatan soal raja iblis Lie Bao. Jadi bisa dipastikan kalau dia tak akan lepas kendali walau kalian tidur didekatnya," sambung Xiao Tian sambil menatap Su Yan dan si Gendut.


"Begitu ya, kalau begitu aku bisa tidur dengan damai," sambung si Gendut sambil menghela napas.


"Ya tidur saja dengan damai, tapi jangan terlalu damai hingga tak bisa bangun lagi," sambung Xiao Tian sambil tersenyum.


"Ah guru ini bisa saja, kalau tak bangun lagi berarti aku mati dong. Heheh," ucap si Gendut sambil tertawa pelan menatap Xiao Tian.


"Lalu apa alasanmu berada disini, Huanran?" tanya Xiao Tian sambil menatap Huanran.


"Ehmm, aku hanya ingin dekat dengan mas endut. Tak ada alasan lain. Aku disini karena dia tetap disini," ucap Huanran sambil memalingkan wajah dengan pipi yang memerah.


"Haih, enaknya si Gendut. Bisa memperoleh kehangatan serta perhatian dari wanita secantik Huanran. Andai Liang Su ada disini mungkin aku pun bisa bernasib seperti Su Yan. Atau mungkin juga tidak, lagi pula hubungan kami terlalu rumit."


"Liang Su sedang apa ya?"


"Dewa kera telah membantu menyembuhkannya, tapi dia malah semakin lupa akan jati dirinya. Semoga saja tak ada yang menyerang kerajaan petir disaat kami sedang disini," pikir Su Yan sambil menatap langit malam.


"Sekarang sudah malam, sudah saatnya kita tidur. Ayo kita tidur di pojok sebelah sana!" ucap si Gendut sambil menarik tangan Huanran.


###


"Dewa kera, tak bisakah kau lepaskan aku dari ikatanmu ini?"


"Aku mulai pusing dan mual karena terus menggantung dengan keadaan terbalik," ucap Dewa Petir sambil memasang wajah memelas.


"Kalau mau muntah, muntah saja. Masih untung aku menggantungmu dalam keadaan terbalik. Atau kau mau lehermu yang ku gantung?" tanya Dewa Kera sambil memasang tatapan kesal.


"Kalau leher yang digantung aku bisa mati dong ... ," ucap Dewa Petir sambil memasang wajah memelas.


"Makanya kau harus berterimakasih padaku karena hanya menggantung kakimu atas kejahilanmu yang tak tahu tempat," sambung Wu Kong sambil melirik ke arah lain.


"Sial, aku menyesal bertindak usil. Tolong lepaskan aku. Huhu," ucap Dewa petir sambil mencoba melepaskan ikatan tali di kakinya.


#Bulan


"Adik Chang e, kudengar kau sedang sakit. Aku datang kemari untuk menjengukmu. Ngomong ngomong bulan terasa lebih indah dengan adanya kehadiranmu di alam semesta ini," ucap panglima Tian Feng sambil memegang tangan Dewi Chang e.


"Panglima Tian Feng, kau ininbisa saja. Dimanapun aku berada, bulan tetaplah bulan. Tak pernah berubah meski aku tiada," ucap Dewi Chang E sambil memalingkan wajah.


"Ngomong ngomong kudengar kau akan ikut perang di alam semesta kedua, kudengar lokasi Dewa iblis yang pernah menghianati surga telah diketahui. Lalu kenapa kau malah datang kemari dan diam disini begitu lama?" tanya Dewi Chang E sambil mencoba melepas tangan panglima Tian Feng.


"Ah itu ya, ada alasan dibalik semua itu kok. Tenang saja, disana ada kak Wu Kong dan adik Wujing. Mereka bisa menahan musuh sampai aku datang nanti," jawab panglima Tian Feng sambil mengelus elus tangan Dewi Chang E.