
Langkah demi langkah Xiao Tian lewati dengan cukup sulit. Setiap kali menaiki anak tangga, teriakan orang mati terus menggema di telinganya.
Akan tetapi Su Yan tak merasakan apapun. karena melihat Xiao Tian berjalan begitu lambat, dia pun memegang punggungnya sambil berkata, "Apa yang terjadi padamu, ketua?"
"Tak apa, aku tidak apa-apa." Xiao Tian dan Sunlong memiliki tatapan kosong seperti orang yang kerasukan sesuatu. Mereka sedang mencoba menahan suara teriakan orang mati yang terus terngiang di telinga mereka.
Krakkk
Retakan di gelang Dewa mulai bertambah, setiap Xiao Tian melangkah menaiki tangga. Retakan di gelang Dewa menjadi semakin parah. Sejak keretakan pada gelang Dewa mulai bertambah parah, pandangan Xiao Tian semakin kabur. Dia menghentikan langkahnya dan terjebak di dalam ilusi. Saat itu yang dapat dia lihat adalah dia terjebak dalam lumpur hitam yang dipenuhi mayat hidup. Para mayat itu terus berteriak sambil mencoba menggenggam kaki Xiao Tian, "Bebaskan kami, tolonglah kami."
"Ah jauhi aku mayat busuk!" bentak Sunlong yang sedang duduk di pundak kanan Xiao Tian.
Sunlong membentak para mayat hidup karena ekornya di tarik-tarik oleh para mayat itu.
Sedangkan Xiao Tian tak bisa bergerak karena sedang mencoba mempertahankan kewarasannya. Sisi lainnya terus mencoba memberontak sejak dia berada di dalam ilusi lautan lumpur yang berisikan mayat hidup.
"Sial apa yang harus kulakukan!"
"Oi bangunlah, bergeraklah untuk melawan!"
"Saat ini aku hanyalah kadal biasa, jika kau terjebak dalam ilusi maka aku pun demikian.
Tolong sadarlah!" teriak Sunlong dengan ekor yang terus ditarik-tarik oleh para mayat hidup.
Sayangnya teriakannya tak didengar oleh Xiao Tian. Meski berteriak terus menerus, semuanya terasa percuma. Setelah melihat ke arah gelang Dewa, Sunlong mulai mengerti dengan yang telah terjadi. Keretakan gelang Dewa yang terus bertambah sedikit demi sedikit pasti mempengaruhi kewarasan Xiao Tian. Saat itu pula, dia menyadari bahwa Xiao Tian pasti sedang mencoba melawan sisi gelapnya yang sangat sulit untuk di kendalikan.
"Apa yang harus kulakukan."
"Sialan, kenapa kau selalu menyulitkanku!" Sunlong berteriak sambil memegangi pundak kanan Xiao Tian. Saat itu dia mencoba berpegangan pada pakaian Xiao Tian untuk menahan tarikan para mayat hidup yang terus menarik ekor kecilnya.
Ketika sedang terjebak dalam rasa frustasi, Tiba-tiba saja gelang Dewa bersinar begitu terang. Gelang tersebut mengeluarkan sinar kuning keemasan yang sanggup membuat para mayat hidup kepanasan.
Perlahan tapi pasti, sinar kuning keemasa di gelang Dewa mulai menyebar hingga menyelimuti tubuh Xiao Tian dan Sunlong.
Ilusi mulai menghilang, dan pandangan mereka saat itu kembali seperti semula.
Setelah pandangan mereka telah kembali seperti semula, Xiao Tian baru menyadari bahwa Su Yan sedang menggenggam tangan kirinya tepat dimana gelang Dewa berada.
"Apa yang sedang kau coba lakukan?" tanya Xiao Tian dengan tatapan bingungnya.
"Tenanglah ketua, aku hanya melakukan hal yang harus ku lakukan," jawab Su Yan sambil menatap Xiao Tian.
Setelah memperhatikan dengan seksama, Xiao Tian dan Sunlong mulai mengerti apa maksud ucapan Su Yan. Aura kuning keemasan yang menyelimuti tubuh mereka ternyata berasal dari telapak tangan Su Yan.
Sadar bahwa Su Yan benar-benar menolongnya, Xiao Tian pun tersenyum.
"Teruslah seperti ini," ucap Xiao Tian sambil menatap Su Yan.
"Ha?"
"Apa maksudmu, ketua?" tanya Su Yan.
"Maksudku, teruslah pegang tanganku hingga sampai di puncak anak tangga," jawab Xiao Tian sambil menatap Su Yan.
"Baiklah, ketua." Sesuai permintaan Xiao Tian, Su Yan pun terus menggenggam gelang Dewa salmbil mengalirkan aura emas miliknya untuk memperbaiki gelang Dewa.
#Puncak pagoda iblis
Dewa Petir telah terkena jebakan Zhang Wei.
Dia terkirim ke sebuah sel kecil seperti kandang hewan. Pemandangan di luar jeruji besi adalah tumpukan tengkorak manusia yang tergeletak berdempetan dibawah lantai. Sedangkan langit langitnya dipenuhi dengan sarang laba-laba dan asap hitam yang beterbangan.
Di ruangan tersebut hanya memakai penerangan empat buah obor yang menempel di setiap dinding ruangan.
Tepat di hadapan Dewa Petir terlihat sebuah kursi berwarna hitam dengan pegangan kursi yang berbentuk tengkorak manusia. Namun di atas kursi tersebut tak ada siapun yang bisa di lihat.
Di belakang kursi tersebut terlihat sebuah sekat yang menjadi pembatas ruangan. Karena minimnya alat penerangan, pemandangan di sisi lain sekat tersebut terlihat begitu gelap dan tidak jelas.
Selagi belum ada iblis yang muncul, Dewa Petir mencoba menembus sel tersebut. akan tetapi ketika menyentuh jeruji besi dia tersengat listrik yang sanggup melukainya.
Dia juga mencoba berteleportasi ke alam Dewa, akan tetapi tak bisa juga.
"Sial, kenapa jadi begini."
"Aku telah berjanji agar terus berada di samping Xiao Tian. Tapi malah terjebak di sebuah kurungan seperti seorang tahanan."
Ketika Dewa Petir masih mengeluh, terdengar suara langkah kaki yang berasal dari luar sekat. Memakai sebuah jubah bertuliskan nomor 5.
"Ya, ini adalah aku. Orang yang telah kau serang kemarin malam," ucap pria itu sambil tersenyum sinis.
"Suaramu begitu berbeda dengan Zhang Wei, siapa kau?" tanya Dewa Petir.
"Zhang Wei?"
"Maksudmu nomor empat?"
"Dia tak ingin bertemu dengan dewa lemah sepertimu, Dian Feng ... ," jawab nomor 5.
"Nomor empat?"
"Sejak kapan dia naik pangkat?"
"Bukankah dulu dia nomor 5?"
"Ah aku tahu, kalau dia menjadi nomor empat maka kau adalah Huai Zhong Sang Dewa pemalas," ucap Dewa Petir.
"Hebat juga caramu menebak namaku, benar sekali akulah Huai Zhong sang Dewa pemalas," ucap Huai Zhong sambil membuka penutup kepala yang tersambung dengan jubahnya.
"Pertama Zhang Wei, sekarang Huai Zhong."
"Bagaimana cara kalian lolos dari alam neraka?" tanya Dewa Petir.
"Itu bukan urusanmu."
"Kau tak perlu memikirkan itu, hawatirkan saja mengenai nyawamu. Karena setelah Xiao Tian kecilmu itu kehilangan kewarasannya. Maka anggota kami akan lengkap kembali," jawab Huai Zhong.
#Pagoda iblis tingkat pertama
Xiao Tian dan Su Yan memasuki pagoda iblis secara bersamaan. Ketika telah masuk ke dalam pagoda, pintu pagoda otomatis tertutup rapat.
"Selamat datang di pagoda iblis, pangeran Xiao Tian."
"Senang melihatmu datang menemuiku," ucap pendekar bertopi jerami dengan pakaian serba hitam.
"Long Zheng, akhirnya kau muncul juga!"
"Kembalikan Kaibo dan Liang Su pada kami!"
Xiao Tian melesat maju sambil mendaratkan pukulannya.
Akan tetapi, para pendekar bertopi jerami dengan pakaian serba hitam muncul secara tiba-tiba lalu langsung menangkis serangan Xiao Tian hingga membuatnya terpental mundur.
"Terlalu cepat bagimu untuk melawan senior Long Zheng!" ucap salah satu pendekar bertopi jerami dengan berpakaian serba merah.
"Kalian ... ," ucap Long Zheng.
"Kembalilah ke posmu senior, pertarungan kali ini bukan untuk bersenang-senang. Kita harus menuruti perintah tuan Zhang Wei," ucap salah satu pendekar berpakaian serba merah.
"Cih, baiklah kalau begitu aku pamit undur diri."
"Sampai jumpa di pagoda tingkat tiga pangeran," ucap Long Zheng sambil membuka gulungan teleportasi. Setelah gulungan terbuka, dia pun menghilang dari pandangan sekua orang.
"Jangan pergi kau, Pengecut!" teriak Xiao Tian.
"Sebenarnya siapa yang menculik istriku?"
Long Zheng, atau Zhang Wei?" tanya Su Yan dengan tampang bingungnya.
"Mereka berdua bersekongkol, tak perlu dipikirkan. Saat ini fokus saja untuk menyerang semua musuh yang muncul di hadapan kita," jelas Xiao Tian.
"Baiklah, Ketua." Su Yan menyiapkan kuda kuda untuk bersiap menyerang para pendekar di hadapannya.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁