Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 246 : Teknik tingkat tinggi?


"Untuk menciptakan sebuah upil tingkat tinggi kalian harus meluruskan telunjuk kalian hingga lurus sempurna. Ingatlah gunakan telunjuk tangan kalian jangan gunakan jari kelingking apalagi ibu jari!" jelas Dewa Petir dengan tampang serius.


"Tu ... tunggu apakah kau benar benar mengajarkan kebiasaan jorokmu ini kepada kami semua?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesalnya.


"Gu ... guru, apa benar dia yang menjadi gurumu selama ini?"


"Kenapa kau bisa tahan dengan guru sejorok ini?" bisik si Gendut sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Xiao Tian.


Apakah ini sudah cukup lurus?" tanya Jingmi dan Kaibo dengan antusias.


"Apa Dewa ini sedang mencoba bertingkah bodoh atau sedang mencoba mencairkan suasana ya?" pikir Taiwu dengan tampang bingungnya.


"Apa kita harus mempelajari teknik mengerikan itu?" pikir Huanran dan putri Jia Li sambil memandang Dewa Petir dengan pandangan jijik.


"Sepertinya tak ada yang menganggap latihanku dengan serius selain kalian berdua. Meski kalian terlihat lebih kecil, masa depan kalian sangatlah cerah karena menuruti ajaranku," ucap Dewa Petir dengan penuh semangat.


Semua orang kecuali Jingmi dan Kaibo memandang Dewa Petir dengan pandangan datar mereka. Tak ada sedikitpun rasa hormat yang terpancar dari cara mereka memandang Dewa petir saat itu. Melihat mayoritas orang tak menyukai latihan yang dia ajarkan, Dewa Petir mencoba membujuk mereka semua dengan berkata,


"Jangan remehkan teknik ajaranku ini, kalian pasti akan ketagihan setelah mempraktekkannya dengan serius. Bahkan gunung sekalipun bisa hancur berkeping keping setelah kulempar satu upil kecil tingkat tinggiku yang telah dibuat secara sempurna," jelas Dewa Petir dengan penuh semangat.


"Uwaaa, aku tak sabar meratakan sebuah gunung," ucap Kaibo dengan penuh semangat.


"Jingmi tak suka meratakan gunung, tapi kurasa jurus itu berguna untuk meratakan musuh. Jadi ajarkan Jingmi teknik itu, guru!" ucap Jingmi dengan penuh semangat.


"Baiklah, selanjutnya lapisi telunjuk kalian yang telah lurus sempurna dengan kekuatan qi kalian sebanyak mungkin. Pusatkan kekuatan qi tersebut ke ujung jari telunjuk kalian lalu hiruplah udara sebanyak mungkin sebelum meletakkan jari kalian ke dalam lubang hidung."


"Jika semuanya telah kalian lakukan secara sempurna, masukkan ujung jari telunjuk kalian hingga kuku kuku kalian tak terlihat lagi," jelas Dewa Petir dengan tampang seriusnya. Seperti biasa, Kaibo dan Jingmi mengikuti arahan Dewa Petir tanpa rasa ragu sedikitpun.


Karena tak tahan melihat hal tersebut, si Gendut berranya pada Su Yan tentang oendapatnya mengenai teknik yang diajarkan Dewa Petir kepada mereka.


"Aku tak percaya ini!"


"Jingmi dan Kaibo benar benar melakukannya. Bagaimana menurutmu tentang teknik upil tingkat Dewa milik Dewa petir ini, Su ... Yan?" ucap si Gendut yang kehabisan kata kata setelah melihat Su Yan memasukkan jari telunjuknya ke lubang hidung dengan tampang yang begitu serius.


Melihat Su Yan bertingkah sedemikian rupa, si Gendut kehabisan kata kata karena tak menyangka kalau orang seperti Su Yan memiliki kepribadian yang tak mengenal malu. Dia mengupil dengan santainya tanoa takut diledek oleh orang lain.


"Setelah mencapai ujung lubang, nikmatilah sensasi nikmat tiada tara sebelum menekukkan ujung jari kalian. Jika sudah mencapai nikmat tingkat Dewa, tarik keluar ujung jarimu yang tertekuk sambil membawa butiran butiran kenikmatan hingga keluar dari lubang kultivasi," jelas Dewa Petir sambil mempraktekkan ajarannya.


"Ketika butiran kenikmatan tersebut berhasil kalian keluarkan, tempelkan ibu jari kalian ke ujung telunjuk yang masih di tekukkan."


"Sambil menarik mundur telunjuk kalian hingga berhasil membentuk bulatan sempurna seperti orang ingin menyentil sesuatu, pusatkan kekuatan qi kalian ke ujung kuku kalian dan jadikan kuku tersebut sebagai pelontar butiran kenikmatan yang akan meledak ketika menabrak sesuatu.


Sambil melontarkan bulatan butiran tersebut, katakanlah jurus peledak, teknik upil Dewa!"


Secara bersamaan Su Yan, Jingmi dan Kaibo melontarkan kotoran hidung mereka ke arah Dewa Petir dengan tampang serius.


Benar saja bulatan bulatan kecil tersebut menciptakan sebuah ledakan yang luar biasa hingga membuat tubuh Dewa Petir gosong akibat terkena ledakan.


"Syukurlah tubuhku sudah berada di tingkat Dewa. Jika tidak aku mungkin sudah tewas terkena jurus sendiri. Kenapa kalian malah menyerangku secara bersamaan!"


"Kenapa tak mencari target lain!"


"Kalau mau menyerangku seharusnya bilang dari tadi biar aku aktifkan array pelindung!" bentak Dewa Petir dengan tampang kesal.


"Ma ... maaf, kami tak bermaksud menjadikanmu target uji coba. Hanya saja tak ada target lain disini, hehe" ucap Kaibo dengan tampang polosnya.


Ketika Dewa Petir menatap ke arah Jingmi, dia pun mengatakan hal yang sama seperti Kaibo. Dengan ekspresi yang sama pula.


Sedangkan Su Yan malah menatap balik Dewa Petir dengan pandangan penuh semangat. Dengan santainya dia berkata, "Bagaimana menurutmu teknik mengupilku?"


"Ibu jarimu terlalu menekuk, untuk menciptakan ledakan tingkat Dewa kau harus meluruskan ibu jarimu yang menjadi tumpuan saat membuat bulatan upil tingkat Dewa."


"Berlatihlah lagi. Setelah kalian menguasai teknik ini dengan sempurna, aku akan mengajari kalian teknik lanjutannya. Kalian bisa menggandakan jumlah kotoran hidung kalian sehingga bisa membuat amunisi sebanyak mungkin. Apa kalian tertarik?" tanya Dewa Petir dengan penuh semangat.


"Ya tentu saja!" ucap Jingmi Kaibo dan Su Yan dengan penuh semangat.


"Kenapa kalian diam saja?"


"Lakukan seperti Kaibo dan yang lainnya," ucap Dewa Petir dengan tampang seriusnya.


"Apa kau tak bisa mengajari kami teknik lain yang lebih normal?" tanya Huanran sambil tersenyum tipis.


"Akan kuajari teknik meremas gunung," ucap Dewa Petir dengan hidung yang mimisan.


Karena mata Dewa Petir terfokus pada dada Huanran, putri Jia Li dan Huanran langsung berpikiran negatif terhadap Dewa Petir hingga akhirnya berniat memukuli Dewa Petie tanpa memberi ampun.


"Hehe, begitu ya ... ," ucap putri Jia Li dan Huanran sambil mengepalkan tangan mereka.


"Tu ... tunggu, bukan itu yang aku maksud. Kalian salah mengira maksud ucapanku tadi. Semua yang ada dipikiran kalian saat ini merupakan kesalah pahaman belaka. Gunung yang kumaksud bukan dua gunung yang kalian miliki, tolong tahan emosi kalian," ucap Dewa Petir sambil berjalan mundur.


"Haih, sudahlah. Mau bicara apapun kalian tak akan percaya. Lebih baik aku melawan kalian saja. Toh kalian tak akan bisa memukulku karena terpaut perbedaan kekuatan yang cukup jauh," ucap Dewa Petir sambil menghela napas.


Dewa Petir berniat memperkuat tubuh dengan melapisinya dengan kekuatan qi, akan tetapi usahanya tersebut menjadi sia sia. Karena ketika Dewa Petir baru mengaktifkan teknik pelindung tubuh itu, teknik tersebut tiba tiba saja nonaktif hingga berakhir babak belur di tangan Huanran dan putri Jia Li yang terlihat kesal.


Bakk bukk bakk bukk


Dewa Petir menjadi bulan bulanan Huang Li dan Huanran yang mulai kesal dengan tingkah Dewa Petir.


"Si ... sial, jurus apa yang wukong ajarkan pada kedua wanita ini sehingga bisa menggagalkan teknikku yang telah kuaktifkan lebih dulu," pikir Dewa Petir dengan wajah yang babak belur.


Setelah memukuli Dewa Petir yang tak melawan, Huanran dan putri Jia Li memilih untuk pergi ke tempat yang agak jauh dari Dewa Petir dan melanjutkan latihan mereka sesuai dengan arahan Wukong sebelumnya.


Xiao Tian dan Taiwu pun pergi meninggalkan Dewa Petir dan fokus melatih teknik mereka masing masing sambil menunggu Wu Kong kembali.


Si Gendut pun ikut pergi menyusul Xiao Tian untuk melatih teknik berpedangnya meninggalkan Jingmi, Kaibo serta Su Yan yang masih berada di dekat Dewa Petir.


"Kau tidak apa apa?"


"Guru?" ucap Su Yan dengan hidung yang mimisan.


"Kenapa mereka memukulmu ya?" tanya Jingmi dengan hidung yang mimisan.


"Hei Jingmi hidungmu pun mimisan, lihatlah baik baik," ucap Kaibo dengan hidung yang mimisan.


"Kau sama Kaibo, lihatlah hidungmu," sambung Jingmi sambil menunjuk ke lubang hidung kanan Kaibo.


"Apakah ini efek samping dari teknik yang kau ajarkan, Dewa Petir?" tanya Kaibo sambil menatap Dewa Petir.


"Begitulah, semakin banyak kekuatan qi yang kalian kumpulkan di ujung jari, maka semakin banyak pula darah yang akan keluar dari lubang hidung kalian. Tapi jangan khawatir, karena darah yang keluar dari hidung kalian saat ini adalah darah kotor yang selama ini menumpuk di lubang hidung kalian."


"Jika kalian sering menggunakan teknik ini hingga darah kotor kalian habis, kalian tak akan mengeluarkan darah di lubang hidung lagi ketika menggunakan jurusnya," jelas Dewa Petir sambil menatap Kaibo.


"Begitu ya, jadi kau mimisan karena terdapat banyak darah kotor dihidungmu juga?" tanya Su Yan dengan tampang serius.


"Begitulah," ucap Dewa Petir dengan tampang seriusnya.


"Aku harus menyembunyikan kebenaran bahwa aku terbawa napsu saat melihat dada Huanran, atau mereka akan meninggalkanku juga," pikir Dewa Petir dengan hidung yang mimisan.