Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 328 : Terpojok


"Berdasarkan ucapan kakak, para murid pasti sudah kau seleksi tanpa sepengetahuan kami kan?" tanya Tian Bai sambil menatap Xiao Tian.


"Tentu saja," ucap Xiao Tian dengan rupa Tian Zhong.


Ketika Xiao Tian dan para tetua sedang berbincang bincang, seorang pria yang bertugas menjaga pintu masuk perguruan badai berduri memasuki ruangan dengan napas terengah engah.


"Pakaian putih, rambut hitam dan terlihat bekas luka di wajah. Tak salah lagi, bocah ini bernama Hua Yuan. Berdasarkan ingatanku, seharusnya dia kemari untuk memperingatkab kami bahwa ketiga sekte besar meminta untuk memajukan waktu turnamen."


"Sekarang keputusan ada di tanganku, haruskah kumenyuruhnya melakukannya seperti yang waktu itu?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Hua Yuan?"


"Kenapa kau terlihat tergesa gesa?"


"Apa yang membuatmu berani mengganggu pertemuan para tetua?" tanya Tian Bai sambil menatap Hua Yuan.


"Ampun patriach, hamba tak bermaksud mengganggu pertemuan kalian. Tapi surat ini sangatlah penting karena ini berasal dari sekte singa perak," jelas Hua Yuan sambil menundukkan kepala.


"Surat?"


"Kenapa hanya surat yang datang?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Kenapa kau terlihat bingung kak?"


"Kau lupa dengan aturan turnamen?" tanya Tian Bai sambil memasang wajah heran.


"Itu ... ," ucap Xiao Tian sambil menggaruk garuk kepalanya karena bingung harus menjawab apa.


"Tak apa, aku mengerti. Mungkin kau lupa dengan aturan tersebut karena terlalu lama mengasingkan diri. Baiklah, akan kujelaskan padamu agar kau tak bingung lagi."


"Turnamen dilakukan empat tahun sekali, dan keempat sekte bebas meminta apapun dari sekte yang berada di peringkat terbawah. Termasuk nama sekte dan nyawa murid muridnya. Selain itu, pemenang juga punya hak untuk mengubah aturan baru turnamen berikutnya dengan catatan kerajaan menyetujui aturan tersebut."


"Jika sekte singa perak mengirim surat beberapa jam sebelum turnamen, itu artinya mereka menggunakan hak mereka sebagai pemenang turnamen empat tahun yang lalu."


"Hak merubah aturan main turnamen," jelas Tian Bai sambil memasang wajah serius.


"Aku ingat sekarang. Terimakasih karena telah memberi tahuku," ucap Xiao Tian dengan rupa Tian Zhong.


Setelah memahami maksud Tian Bai, Xiao Tian beranjak pergi mendekati Hua Yuan lalu meminta surat perubahan aturan tersebut.


"Sepertinya ada yang membuat alurnya berubah. Seharusnua bukan surat saja yang sampai, mungkinkah ini ulah Tian Zhong?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


Hua Yuan memberikan surat itu ke Xiao Tian tanpa rasa ragu, karena dia memiliki rupa Tian Zhong.


Setelah mengambil surat tersebut dari tangan Hua Yuan, Xiao Tian langsung membacanya di dalam hati.


Surat tersebut bertuliskan, bahwa sekte singa perak ingin menyatukan ujian dari kedua cabang turnamen. Jumlah peserta yang menjadi wakil sekte pun ikut diubah, yang tadinya hanya lima menjadi tak terbatas. Salah satu utusan kerajaan juga akan mengawasi jalannya aturan tersebut.


Kalau murid murid dari kedua cabang belum dilatih oleh Xiao Tian sudah jelas bahwa peraturan tersebut begitu memberatkan sekte badai berduri.


Bagaimana tidak, dalam aturan baru itu juga tertulis jelas bahwa sekte badai berduri diwajibkan agar menjadi nomor satu dalam dua cabang turnamen. Jika tidak maka sekte tersebut akan dihapuskan secara besar besaran. Bahkan para tetua serta murid murid berpotensi dari semua sekte pun diwajibkan hadir, demi memojokkan sekte badai berduri.


"Sepertinya turnamen kali ini akan seru," pikir Xiao Tian sambil tersenyum.


"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Xiao Tian sambil menatap Hua Yuan.


"Baik, patriach," ucap Hua Yuan sambil memberi hormat.


"Bolehkan aku melihat isi suratnya?" tanya Tian Bai sambil menatap Xiao Tian.


"Nih, baca saja," ucap Xiao Tian sambil menyodorkan gulungan surat dari sekte singa perak.


Tian Bai dan ketiga tetua cabang petarung membaca surat tersebut secara bersamaaan. Lalu terdiam kaku dengan mata terbelalak dan tubuh yang gemetar ketakutan seakan berada di ujung maut.


"Ada apa dengan reaksi kalian itu?"


"Kenapa kalian malah terlihat seperti sedang melihat hantu?" tanya Xiao Tian dengan tampang bingung.


"Bagaimana mungkin kau bisa sesantai itu setelah membaca surat seperti ini kak?"


"Disini tertulis jelas bahwa kedua cabang turnamen akan disatukan. Selain itu mereka juga menulis bahwa semua tetua dan murid murid berpotensi wajib menghadiri turnamen untuk melihat langsung dua turnamen tersebut hingga selesai."


"Dan yang paling membuat kami takut adalah, kehadiran utusan kerajaan yang biasa memihak kepada sekte singa perak karena selalu berada di puncak rangking," ucap Tian Bai dengan tampang Syok ketakutan.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini?"


"Bagaimana caraku membalas kematian putraku kalau begini jadinya?" ucap Penatua Kong dengan tampang frustasi.


"Cih, apakah wanita itu tahu kalau aku berniat membunuhnya setelah turnamen selesai," ucap Penatua Zhao sambil memukul tembok dengan tampang kesal.


"Aih, sepertinya kalian benar benar menyerah ya?" ucap Xiao Tian sambil menepuk dahinya.


"Penatua Zhao, penatua Kong, dan penatua Xia Meng. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan bukan?" tanya Tian Bai sambil mengepal erat tangannya.


"Kami mengerti," ucap para penatua sambil berjalan menuju pintu keluar dengan tampang frustasi.


"Tunggu dulu kalian mau kemana?" tanya Xiao Tian dengan nada tegas.


"Menyuruh seluruh murid pergi sejauh mungkin," jawab penatua Xia Meng.


"Itu tak perlu, kau hanya akan membunuh mereka dengan keputusan seperti itu," ucap Xiao Tian dengan nada serius.


"Apa maksudmu, patriach?"


"Bukankah, menyuruh mereka kabur sekarang adalah hal yang tepat?" tanya penatua Zhao sambil memasang tampang bingung.


"Apakah kalian tak merasakannya?" tanya Xiao Tian sambil memasang tampang serius.


"Merasakan apa?" tanya penatua Xia Meng sambil menghentikan langkahnya.


"Ini buruk, sekte ini sudah diawasi," ucap Tian Bai dengan tampang syok. Dia terjatuh begitu saja karena kehilangan keseimbangan. Syok yang berlebihan membuat kepalanya begitu sakit hingga hampir pingsan.


"Entah apa yang membuat sekte singa perak begitu was was terhadap kita, apakah mereka tahu bahwa kau telah kembali?" ucap Tian Bai dengan tampang frustasi.


Xiao Tian berjalan mendekati Tian Bai lalu berkata, "Tian Bai, apakah kau masih mempercayaiku?"


"Atau kini kau malah meragukanku?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Tian Bai.


"Bukannya aku tak percaya padamu, hanya saja situasi ini ... ," sambung Tian Bai dengan tampang frustasi.


"Percayalah padaku, aku tak akan meninggalkan kalian lagi. Semuanya akan baik baik saja, jangan khawatirkan para murid karena mereka bukan anak kecil lagi. Mereka sudah bisa menjaga diri mereka sendiri. Percayalah, semuanya akan baik baik saja," ucap Xiao Tian sambil menepuk pundak Tian Bai.


"Kondisi ini terlalu sulit untuk dilewati, tapi entah mengapa aku bisa melihat harapan hanya dengan menatap matanya. Apakah mungkin keajaiban akan terjadi pada sekte kecil ini?" pikir Tian Bai sambil meneteskan air mata.


"Terimakasih karena telah memberiku harapan, aku percaya padamu kak Gian Zhong," ucap Tian Bai sambil meneteskan air mata.


"Aku tahu ini mustahil. Tapi karena patriach Bai mempercayai anda, maka kami juga akan mencoba untuk percaya kepadamu lagi," ucap penatua Zhao sambil membalikkan badannya hingga menghadap punggung Xiao Tian.


"Meski aku belum bisa memaafkan kepergianmu beberapa tahun lalu, aku akan mencoba untuk mempercayai anda kembali," ucap penatua Kong sambil membalikkan badannya.


"Kabur dari turnamen saat diawasi hanyalah mencari kematian saja. Karena tak ada jalan untuk memperpanjang umur murid muridku, maka tak ada pilihan lain lagi selain percaya padamu," ucap Xia Meng sambil berbalik badan.


Para penatua memberi hormat sambil memandang punggung Xiao Tian. Dengan tampamg frustasi mereka pun berkata, "Tolong jangan kecewakan kami lagi, patriach Tian Zhong,"


"Turnamennya akan mulai beberapa jam lagi, sebaiknya kalian temui para murid agar mempersiapkan diri mereka untuk aturan baru tadi," ucap Xiao Tian sambil memasang tampang serius.


"Aku akan menyusul, setelah menyelesaikan beberapa urusan," ucap Xiao Tian sambil mengaktifkan teknik teleportasi.


####Wilayah terlarang


Sekte badai berduri


"Untuk apa kau kemari?" tanya Dewa petir yang sejak tadi hanya menyimak di samping kanannya.


"Meminta pertanggung jawaban Tian Zhong," ucap Xiao Tian dengan tampang kesal.


"Apakah dia menghamilimu?" tanya Dewa petir dengan tampang terkejut.


Pletakk


"Dasar kampret, bukan itu maksud arah pembicaraanku!"


"Lagipula aku seorang pria, mana mungkin bisa hamil!" bentak Xiao Tian dengan tampang kesal.


"Hehe, maaf. Aku kan cuma bercanda," ucap Dewa petir dengan tampang konyol.