
Ronde kedua akan dimulai, tapi sebelum aturannya diumumkan seperti biasa jenderal Chen Li menyuruh semua sekte memilih wakil mereka.
Setelah melihat kondisi pertarungan sebelumnya, Xiao Tian bertanya kepada para tetua alkemis mengenai keahlian murid yang menjadi wakil sekte singa perak untuk mengetahui jenis aturan di ronde kedua.
Tak hanya itu dia juga bertanya mengenai keahlian tiga murid lainnya yang belum di turunkan ke dalam turnamen.
Berdasarkan data yang dia dapatkan, murid yang menjadi wakil sekte singa perak kali ini merupakan spesialis pemurnian pil. Mendengar kabar tersebut membuat Xiao Tian tersenyum lepas. Karena dihadapan seluruh murid alkemis yang telah dia latih, keahlian tersebut bukanlah hal yang bisa dibanggakan.
Saat itu Tian Ling yang terkenal buruk dalam memurnikan pil menjadi wakil sekte badai berduri. Seketika para tetua cabang alkemis terdiam kaku karena berdasarkan ingatan mereka Tian Ling bukanlah orang yang bisa diandalkan dalam perlombaan memurnikan pil. Elemen racunnya selalu memberi dampak buruk terhadap efektifitas dan tingkat kemurnian pilnya.
Ketika semua tetua alkemis bingung mendengar keputusan Xiao Tian yang mereka anggap sebagai Tian Zhong, Chen Li mulai mengumumkan aturan main ronde kedua karena semua kandidat telah menempati posisi mereka.
"Bing Xue dari sekte harimau emas, Ling Ying dari sekte singa perak, Tian Ling dari sekte badai berduri, dan Ning Sun dari sekte naga bersayap."
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Chen Li sambil menatap para peserta.
"Kami sangat siap," ucap para peserta secara serentak.
"Bagus, aturan mainnya sangatlah sederhana. Kalian harus memurnikan pil level empat yang belum sempurna. Siapapun yang berhasil memurnikan tanpa mengurangi efektifitas pil akan menjadi pemenangnya. Waktu kalian hanya lima menit, dan itu dimulai dari ... , sekarang!" ucap Chen Li sambil memberi aba aba.
Semua peserta langsung menyalurkan kekuatan jiwa ke arah pil yang ada di hadapan mereka. Pil pil berwarna hitam tersebut melayang ke atas udara berkat dorongan kekuatan jiwa mereka.
Sementara itu Tian Ling yang sengaja memulai agak lambat dari lawan lawannya, mengambil pil hitam hanya dengan tangan kosong belaka. Setelah itu dia memasukkan pil tersebut ke genggaman tangan kanannya dan wooshhh dalam hitungan detik pil tersebut dimurnikan hingga membuat semua peserta terkejut.
"Mu ... mustahil!"
"Aku yakin kalau kau tak mengeluarkan kekuatan jiwa sedikitpun, bagaimana bisa pilnya tiba tiba berhasil dimurnikan dalam hitungan detik. Kau pasti curang!" teriak Bing Xue sambil menunjuk ke arah Tian Ling.
"Momentum pemurnian terasa jelas dari pil itu, sudah jelas kalau dia tidaklah curang. Menuduh seseorang tanpa dasar adalah tipe seorang pecundang, aku mengaku kalah," ucap Ning Sun sambil menarik kembali kekuatan jiwanya.
"Aku juga menyerah," ucap Ling Ying yang menyadari bahwa dia tak bisa melebihi bakat Tian Ling.
"Sepertinya ronde kali ini berjalan cukup singkat. Dan pemenang kita kali ini adalah ... Tian Ling dari sekte badai berduri," ucap jenderal Chen Li dengan tampang kesal.
"Apa apaan ini?"
"Ada apa dengan sekte singa perak?"
"Padahal aku sudah terang terangan memihak mereka, tapi mereka malah kalah dalam dua buah ronde secara berurutan," pikir Chen Li dengan tampang kesal.
"Karena saat ini sekte badai berduri telah mendapat dua buah poin kemenangan, maka jika mereka menang lagi ronde ketiga bisa mengakhiri turnamen cabang alkemis. Khusus untuk ronde kali ini, aku akan memberi tahu aturannya lebih dulu," ucap Chen Li sambil mengeluarkan cincin perak raksasa yang biasa digunakan untuk mengukur kekuatam jiwa seseorang.
Melihat cermin tersebut di keluarkan, semua orang langsung memahami tentang aturan main di ronde ketiga. Yaitu mengukur kekuatan Jiwa.
Bing yue dari sekte harimau emas, langsung d menembakkan kekuatan jiwanya ke arah cermin. Dab hasil yang dia dapatkan adalah sepuluh ribu kekuatan jiwa.
Ming Ying dari sekte naga bersayap juga memukul kaca tersebut dengan kekuatan jiwanya. Dan hasilnya mencapai angka sembilan ribu kekuatan jiwa saja.
Ling Ning yang merupakan andalan terakhir dari sekte singa perak melemparkan seluruh kekuatan jiwanya untuk mendaptkan angka yang tinggi. Dan akhirnya dia berhasil memnunculkan angka 1
tiga luluh ribu kekuatan jiwa, melebihi ekspektasi semua orang.
Namun kejayaannya itu tak berlangsung lama. Karena tepat di saat Yun Yun memulai gilirannya, cermin tersebut mengeluarkan angka empat puluh ribu yang sanggup membungkam mulut semua orang.
"Tidak, aku tak terima ini!" teriak Lian Ting dengan tampang kesal.
"Sekte badai berduri benar benar gila kali ini, kupikir mereka akan runtuh. Tapi siapa sangka mereka malah berhasil bangkit di saat saat terakhir. Mungkinkah inj karena tetua baru dengan topeng disana?" gumam para tetua dari perguruan harimau emas.
"Persetan dengan turnamennya, jika turnamennya berakhir sekarang aku tak bisa menerimanya!"
"Turnamen alkemis tanpa meracik pil bukanlah sebuah turnamen!"
"Aku tak menerima kemenangan mereka yang terlalu mendadak!" bentak patriach Sun Yu dari sekte naga bersayap.
"Aku juga tak mau menerima hasil ronde ini, lagi pula dua alkemis terbaik kami belum sempat memulai aksi mereka," ucap patriach Jian Su dari sekte harimau emas.
"Karena ketiga sekte tak mau menerima hasil di ronde ini, maka kita akan lanjut di ronde berikutnya," ucap Jenderal Chen Li sambil menghela napas.
"Seorang pria tak menarik kembali kata katanya, bukankah itu yang kau ucapkan di ronde ronde sebelumnya, Jenderal?" tanya Yun Yun sambil menatap mata Jenderal Chen Li.
"Beraninya kau menatapku begitu, apa kau ingin mati?" ucap jenderal Chen Li sambil mengeluarkan hawa membunuh.
"Teman teman, apakah kalian masih disini?" ucap Jenderan Chen Li melalui telepati.
"Ya, kami semua masih disini jenderal." ucap para siluman rubah merah yang menyadap telepati Chen Li dengan memakai suara yang menyerupai pasukan bayangan.
"Aneh sekali, kenapa aku merasa tak aman ketika banyak bala bantuan yang sedang mengawasi?" pikir Chen Li sambil mengerutkan dahi.
"Kenapa kau diam saja jenderal?"
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Siapa kau?"
"Kenapa kau merasuk ke dalam pikiranku?" ucap Jenderal Chen Li sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
"Kau tak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku sedang mengawasimu. Jika kau berperilaku tak adil lagi maka jangan salahkan aku jika kepalamu terpotong," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Sialan, sepertinya aku tak bisa bertindak sembarangan. Terdapat master yang bersembunyi di sekitar sini," pikir Chen Li sambil menelan ludahnya begitu dalam.
"Kenapa kau terlihat takut?"
"Bukankah kau seorang jenderal dari kerajaan besar penguasa daratan Xian Yun?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Turnamen alkemis dimenangkan oleh sekte badai berduri. Untuk turnamen petarung akan diadakan tiga puluh menit dari sekarang," ucap Chen Li dengan napas yang terengah engah.
Semua sekte besar kecewa, namun terpalsa menerima hasil tersebut karena tak ingin berurusan dengan kerajaan Ning. Kerajaan besar yang menguasai daratan Xian Yun.
"Memang sangat disayangkan jika turnamen alkemis dilakukan tanpa meracik sebuah pil, oleh karena itu untuk menghilangkan rasa penasaran kita akan kemampuan meracik pil. Aku menantang ketiga sekte untuk beradu cepat meracik pil dengan bahan yang telah disediakan untuk ronde kelima!" ucap Ning Ying yang melompat ke bawah arena karena merasa kesal tak bisa menunjukkan keahliannya.
"Apa untungnya bagi kami jika menerima tantangan darimu?" tanya Lian Ting sambil menatap tajam mata Ning Ying.
"Aku mempertaruhkan kemenangan sekte badai berduri dari turnamen alkemis. Bukankah itu menarik minatmu?" tanya Ning Ying sambil tersenyum.
"Ya ampun, apa yang barusaja dilakukan oleh muridku!" ucap Xiang Ying dengan tampang syok.
Mata para tetua tertuju pada Xiang Ying karena walau bagaimanapun dia merupakan guru pembimbingnya. Dalam benak Xiang Ying berpikir bahwa para tetua akan menghabisinya jika Ning Ying kalah dalam taruhannya.
"Dasar murid yang tak sabaran, yah tak apa sih toh dia tak akan kalah," ucap Xiao Tian di dalam hati.
Ning Ying membuat kesepakatan dengan ketiga sekte, bahwa jika dia menang, dia boleh meminta apapun dari mereka. Dan kesepakatan tersebut disetujui oleh semua orang tanpa pikir panjang.
Singkat cerita taruhan pun dilaksanakan, dan sesuai prediksi Ning Ying berhasil memenangkan taruhannya karena bisa meracik pil level enam hingga membuat semua tetua alkemis terkejut bukan main.
"Karena aku telah memenangkan taruhannya, maka aku akan mengatakan permintaanku. Yang aku inginkan saat ini adalah agar sekte singa perak mau mengembalikan temanku dari cabang petarung yang telah dia bawa pergi di turnamen sebelumnya," ucap Ning Ying sambil menatap ke arah Lian Ting.
"Sayangnya aku tak bisa mebgabulkan permintaanmu, karena orang yang kau inginkan telah tiada sejak empat tahun yang lalu. Aku telah mengorbankannya dalam altar suci demi meningkatkan kultivasi murid murid di sekteku," ucap Lian Ting dengan tatapan dingin.
"Wanita sialan!"
"Teganya kau membunuh keponakan kesayanganku!" teriak Penatua Xia Meng dengan tampang kesal.
"Semuanya sudah terjadi, dan dia sudah menjadi milik sekteku. Kau tak punya hak untuk melarangku," ucap Lian Ting sanbil menatap mata Xia Meng.
"Keparat, akan ku habisi kau!" teriak Xia Meng sambil berniat untuk melesat maju. Namun Xiao Tian menghentikan langkahnya dengan memukul tengkuknya hingga pingsan.
"Maaf Xia Meng, tapi membuat keributan sekarang bukanlah hal yang baik bagi kita. Musuh masih terlalu banyak," ucap Xiao Tian di dalam hati.
"Maaf karena telah membuat keributan, tapi bisakah kita istirahat sekarang?"
"Turnamennya sudah selesai bukan?" tanya Xiao Tian dengan topeng yang masih melekat di wajahnya.
"Aku tak tahu siapa kau, tapi aku mengagumimu karena tahu dimana posisi sektemu berada," ucap Lian Ting sambil menatap tajam ke arah Xiao Tian.
"Aku biarkan kau menghinaku saat ini, tapi setelah jam istirahat selesai akan kubuat kau membayarnya ribuan kali lipat," pikir Xiao Tian sambil membalas tatapan Lian Ting.
"Hei kenapa malah bubar?"
"Aku kan belum mengungkapkan permintaanku!" teriak Ning Ying dengan kesal.
"Sudahlah, berhenti mencari keributan," ucap Xiang Ying sambil menjewer telinga Ning Ying.