Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 397 : Memasuki hutan bersiul


Xiao Tian, Dewa Petir, Dian Zheng, Huanran, Su Yan, si Gendut, Liang Su, Kaibo dan Jingmi terbang memimpin menaiki naga hitam.


Sedangkan Taiwu, Sunlong, jenderal Tailong, serta para siluman rubah merah terbang mengejar dengan menaiki pemimpin naga biru raksasa.


Saat posisi pemimpin naga biru sudah sejajar dengan naga hitam yang ditunggangi Xiao Tian. Sunlong memperingatkan semua orang melalui telepati. "Sebentar lagi kita akan sampai di hutan bersiul. Tolong tutupi lubang telinga kalian dengan sobekan kain untuk menghindari ilusi hutan,"


Semua orang menutupi telinga mereka mengikuti anjuran Sunlong. Dan sepakat untuk berkomunikasi menggunakan telepati.


"Hembusan angin di atas hutan bersiul sangatlah kencang, selain itu udara di atasnya juga begitu beracun. Kusarankan agar kita mendarat sekarang," ucap Sunlong melalui telepati.


"Kenapa kau baru bilang sekarang?" tanya Xiao Tian melalui telepati.


"Maaf, aku benar benar tak mengingat hal ini saat memberi laporan sebelumnya," sambung Sunlong melalui telepati


"Haih, ya sudahlah," ucap Xiao Tian melalui telepati sambil menghela napas.


Setelah mendengar penjelasan Sunlong, Xiao Tian pun menyuruh para naga mendarat.


"Naga hitam, mendaratlah," ucap Xiao Tian melalui telepati dengan menggunakan bahasa naga.


"Baiklah, tuanku," jawab naga hitam melalui telepati.


Seletelah Xiao Tian selesai mendaratkan naganya, Sunlong meminta Taiwu menurunkan pemimpin naga biru yang dia naiki.


"Perintahkan nagamu untuk mendarat juga," ucap Sunlong melalui telepati sambil menatap Taiwu.


"Aku mengerti," angguk Taiwu.


"Naga biru, mendaratlah," ucap Taiwu di. dalamhati sambil menempelkan telapak tangannya ke kepala sang naga.


"Rrrr," naga biru mendarat mengikuti perintah Taiwu.


Semua orang melompat turun dari punggung para naga disaat sudah mendarat tepat di hadapan hutan bersiul.


Setelah para naga merubah ukuran tubuh ke versi mini merek, Xiao Tian mengajak memimpin langkah untuk memasuki hutan tersebut.


"Kita akan berpencar disini,"


"Aku mengerti," jawab Xiao Tian melalui telepati.


"Kalau begitu, kami pamit undur diri," Jenderal Tailong dan para siluman rubah merah memberi hormat lalu melesat pergi menuju perbatasan hutan.


"Semoga kau bisa menemukan petunjuk tentang ibumu, Taiwu," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Terimakasih atas doanya, yang mulia," Taiwu melesat pergi menyusul ayahnya untuk mencari informasi tentang keberadaan ibunya.


Setelah Taiwu pergi, Xiao Tian menghentikan langkah semua orang dan berkata,


"Berdasarkan informasi yang Sunlong dapatkan, lokasi rahasia sang siluman rubah putih ada di dalam hutan bersiul ini. Kita tak perlu menerobis keluar seperti Sunlong dan yang lain karena memang tujuan kita saat ini masih berada di dalam hutan."


"Namun karena hutan ini cukup luas, mencarinya secara bersamaan hanya akan memakan waktu saja. Karena itu aku menyarankan agar kita berpencar juga,"


"Kalau begitu, aku akan pergi bersama mas endut ke arah barat," sambung Huanran sambil memegang tangan si gendut.


"Aku akan ke utara bersama Liang Su," sambung Su Yan sambil menatap Xiao Tian.


"Aku akan pergi ke arah selatan bersama Kaibo," sambung Dian Zheng sambil memegang kepala Kaibo.


"Tapi aku mau pergi dengan Jing ... ," Dian Zheng menutup mulut Kaibo yang mencoba menolak ajakannya dengan menotok titik suaranya.


"Kalau begitu aku ... ," disaat Dewa petir ingin mengikuti Dian Zheng, terdengar suara Wu Kong di dalam pikirannya.


"Kusarankan agar kau tetap bersama Xiao Tian, karena melindunginya adalah tugasmu,"


"Tapi Dian Zheng kan perlu di awasi, aku takut dia adalah ... ," belum sempat Dewa petir menyelesaikan pemikirannya, Wu Kong memotong pembicaraan dengan berkata, "Jangan khawatirkan masalah putramu, aku sudah menyuruh Dewa bumi untuk mengawasinya. Jika dia terbukti melakukan hal yang mencurigakan, maka Dewa bumi akan melaporkannya kepadaku. Satu satunya yang belum bisa kita awasi saat ini adalah Dian Peng putra terkecilmu,"


"Aku akan mengirim kloningku menuju ke alam Dewa untuk mengawasinya," jelas Wu Kong melalui telepati.


"Aku mengerti. Terimakasih karena mau membantuku, Dewa kera," ucap Dewa petir di dalam hati.