
Xiao Tian berlari begitu kencang menuju kearah barat untuk mengejar si Gendut yang telah berlari jauh meninggalkannya. Dengan bantuan kekuatan qi yang ditransfer Dewa Petir, Xiao Tian berhasil mengejar ketertinggalannya.
Ketika dia berhasil menyalip si Gendut, dia langsung menarik kerah baju bagian belakang si Gendut dengan sekuat tenaga.
Si Gendut terlempar begitu jauh kearah timur karena ditarik Xiao Tian. Ketika masih melayang diatas udara, 10 buah rantai emas keluar dari punggungnya. Rantai tersebut terus memanjang hingga menancap kedalam tanah.
Tubuh si Gendut yang telah dirasuki Huanran kini melayang tanpa menyentuh tanah berkat sepuluh rantai emas yang keluar dari punggungnya menancap ketanah.
"Kenapa kau menghalangi jalanku!" bentak si Gendut.
"Harusnya aku yang marah kepadamu, kenapa malah kau yang marah?"
"Jelaskan padaku kenapa kau terlihat terburu-buru!" teriak Xiao Tian.
"Aku tak punya banyak waktu menyingkirlah dari jalanku, atau rantai-rantaiku akan melukaimu."
"Dan berhenti memanggilku Gendut, karena aku bukanlah mas Endut." sambung si Gendut.
"Maaf aku lupa, kau bukanlah si gendut yang kukenal."
"Kau hanyalah sebuah roh jahat yang selama ini mengikuti si Gendut, kalau tak salah namamu Huanran bukan?"
"Aku tak punya waktu meladenimu, menyingkirlah!" bentak Huanran.
"Jika aku tak mau?" tanya Xiao Tian.
"Maka aku akan menghabisimu!" bentak Huanran.
Ketika si Gendut menunjuk kearah Xiao Tian, empat buah rantai emas yang telah menancap kedalam tanah tercabut keluar lalu melesat kearah Xiao Tian dengan kecepatan tinggi.
Xiao Tian menghindari semua serangan rantai emas yang terus menuju ke arahnya.
"Apa hanya itu kemampuanmu?" ledek Xiao Tian.
Mendengar ledekan Xiao Tian, Huanran masih bisa tersenyum lebar.
"Berhati-hatilah, aku memiliki firasat buruk tentang senyum diwajahnya." ucap Dewa Petir yang berdiri disamping kanan Xiao Tian.
"Tenang saja, sekuat dan secepat apapun rantai emas miliknya, aku jamin dia tak akan bisa melukaiku." sambung Xiao Tian.
Empat rantai emas terus memanjang dan mencoba menyerang Xiao Tian dengan bertubi-tubi. Seperti biasa, Xiao Tian menghindari semua rantai itu dengan begitu mudah. Ketika sibuk menghindari empat rantai emas yang terus mencoba mengenainya, empat buah rantai emas yang lain muncul dari dalam tanah secara tiba-tiba.
Rantai-rantai tersebut berhasil mengikat semua kaki serta tangan Xiao Tian dalam sekejap mata.
Rantai emas tersebut terus memanjang hingga melingkari seluruh tubuh Xiao Tian.
Xiao Tian mencoba melawan dengan sekuat tenaga untuk melepaskan rantai tersebut.
Akan tetapi bukannya lepas atau hancur, rantai-rantai emas tersebut malah terus memanjang dan terus melingkari tubuhnya.
Bukan hanya semakin memanjang.
Ikatan rantai-rantai emas tersebut juga terus bertambah kencang. Dengan kata lain semakin keras dia mencoba memberontak dan berusaha melepaskan ikatan rantai emas tersebut, semakin kencang pula ikatan rantai emas tersebut.
"Percuma saja kau memberontak, rantai-rantai emasku tak selemah waktu itu. Semua ini berkat mas Endut yang telah menyatu denganku secara sempurna." Ucap Huanran.
"Kalau kau memiliki kemampuan seperti ini, kenapa tak menggunakannya sejak dulu!" tanya Xiao Tian.
"Bukankah sudah kubilang, syarat menggunakan rantai ini adalah tubuh mas Endut dan rohku harus menyatu secara sempurna."
"Selama ini mas Endut tak pernah mempercayakan tubuhnya secara penuh karena memiliki sedikit keraguan terhadap diriku."
"Ini pertama kalinya mas Endut mempercayaiku secara penuh, demi mewujudkan permintaannya akan kulakukan apapun meski itu harus menghabisimu." Jelas Huanran.
Ketika Huanran sibuk bercerita, Xiao Tian menutup matanya dan berhenti memberontak.
Huanran tertawa keras, karena mengira Xiao Tian telah pasrah akan kekalahannya.
"Hahahaha."
"Matilah!"
Ketika ingin mengerahkan seluruh kekuatannya, Huanran tiba-tiba saja sakit kepala. Xiao Tian membuka matanya, sebuah listrik tegangan tinggi keluar dari seluruh tubuh Xiao Tian. Listrik tersebut merambat melalui rantai-rantai emas yang telah mengikatnya hingga mencapai tubuh si Gendut yang merupakan sumber dari rantai-rantai emas itu.
Kreattt
"Huaaaaaa." Huanran berteriak kesakitan karena terkena sengatan listrik tegangan tinggi.
Duar ...
Semua rantai-rantai emas hancur berantakan bersamaan dengan tubuh si Gendut yang terluka karena telah terkena setruman listrik tingkat tinggi.
Karena rantai-rantai emas dipunggungnya telah hancur, tubuh si Gendut yang awalnya melayang diudara jatuh menghantam tanah.
Brukk
Xiao Tian mendekati tubuh si Gendut yang telah terluka. Si Gendut yang telah terbaring lemas perlahan berdiri dan mengeluarkan pil penyembuh dari cincin ruangnya.
Dia memakan pil tersebut dengan kesadaran yang masih dikontrol penuh oleh Huanran.
Setelah menelan pil tersebut, tubuh si Gendut pulih kembali seperti tak pernah terluka sama sekali.
"Seperti yang diharapkan dari gurunya mas Endut."
"Bahkan dengan bantuan rantai-rantai emas yang telah sempurna, aku tak bisa mengalahkanmu dengan mudah." ucap Huanran.
Xiao Tian melangkah semakin dekat kearah si Gendut.
"Baiklah." sambung Huanran.
Huanran keluar dari tubuh si Gendut dan masuk kembali kedalam cincin ruang milik si Gendut. Setelah kesadaran si Gendut telah kembali, hal pertama yang dia lakukan adalah meminta maaf.
"Maafkan aku bos, aku tak bermaksud melukaimu atau melawanmu, semua itu dilakukan Huanran tanpa persetujuanku."
"Aku mencoba melawannya sejak kau berhasil mengejar, namun Huanran terlalu kuat bagiku, sehingga dia mengendalikanku secara penuh." ucap si Gendut sambil bersujud meminta maaf.
"Bagaimanapun juga Huanran adalah roh jahat dari gunung iblis, jadi jangan pernah memberi dia kepercayaan penuh agar kejadian tadi tak terulang lagi." jelas Xiao Tian.
"Tapi Huanran bukanlah roh jahat!" si Gendut tak menerima ucapan Xiao Tian.
"Kalau begitu, bisakah kau menjelaskan kelakuannya yang tadi?"
"Dia berusaha membunuhku, meski tahu bahwa aku orang terdekatmu."
sambung Xiao Tian.
"Aku tak tahu kenapa sikapnya mendadak berubah dan menjadi semakin liar hingga berani menyerangmu, tapi Huanran bukanlah orang seperti itu, semua itu pasti ada alasannya." jelas si Gendut.
"Jika hal seperti tadi terjadi lagi, aku akan melenyapkan roh Huanran saat itu juga." sambung Xiao Tian.
"Aku jamin dia tak akan mengamuk lagi." ucap si Gendut sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sudahlah lupakan tentang Huanran, aku lebih penasaran dengan sikapmu yang mendadak berubah panik dan berlarian tanpa tujuan yang jelas." sambung Xiao Tian.
"Sebenarnya aku sedang mencari Kaibo, dia dalam bahaya, jika kita tak cepat-cepat menyusulnya mungkin nyawanya akan terancam." jelas si Gendut.
"Memangnya apa yang membuat nyawanya terancam?" tanya Xiao Tian.
"Dia sedang menuju kerajaan Es seorang diri, untuk mencari bunga Kristal es." jelas si Gendut.
"Bunga kristal es?"
"Untuk apa?" tanya Xiao Tian.
"Dia mencari bunga tersebut untuk menyembuhkan semua luka-luka ditubuhmu dan mengembalikan kesadaranmu." jawab si Gendut.
Si Gendut menjelaskan Bahwa bunga kristal es merupakan bunga ajaib yang konon katanya bisa membangkitkan orang mati. Bunga yang muncul seribu tahun sekali dilembah kristal es.
Letak lembah kristal es berada di tengah-tengah kerajaan Es. Tempat itu dijaga ketat oleh naga raksasa bersisik putih yang keganasannya sanggup menghabisi ratusan Dewa Petarung dalam sekali serang.
Tak ada yang berani mengusik naga tersebut sehingga kerajaan Es membangun tembok yang melingkari lembah tersebut untuk memisahkan lembah kristal es dengan dunia luar.
Siapapun yang berani mendekati tembok tersebut akan dianggap sebagai penghianat kerajaan dan terancam hukuman mati. Baik orang luar atau pun penduduk asli kerajaan Es tak ada satupun yang boleh mendekati tembok tersebut.
Tak hanya kerajaan Es yang melarang semua orang mendekati lembah kristal Es, bahkan ketiga kerajaan besar yang lainnyapun mematuhi aturan itu.
Kaibo pergi kesana karena tak sengaja mendengar tabib istana menyinggung tentang bunga tersebut saat sang tabib sedang berbicara dengan si Gendut dan Taiwu.
Tabib istana mengatakan hal itu dengan maksud bercanda, akan tetapi Kaibo menganggapnya dengan serius. Awalnya si Gendut tak mengetahui kalau Kaibo telah menguping pembicaraan mereka. Dia baru sadar setelah Kaibo menanyakan tentang bunga tersebut tepat sebelum dia menghilang.
#Pagi hari dikamar si Gendut sebelum si Gendut mengunjungi kamar Xiao Tian
"Hei Gendut, apa kau tahu tentang bunga kristal Es?" tanya Kaibo.
"Tentu saja aku tahu, kenapa kau mendadak menanyakan hal itu?" sambung si Gendut.
"Tak apa, aku hanya ingin tahu apakah bunga itu bisa dipakai untuk membangkitkan orang mati?" tanya Kaibo.
"Entahlah, kalau menurut rumor sih begitu, tapi itu hanyalah rumor." jawab si Gendut.
"Menurut rumor letak bunga tersebut dimana?" tanya Kaibo.
"Semua orang tahu kalau bunga tersebut ada di lembah kristal es, tepatnya ditengah wilayah kerajaan Es." jawab si Gendut.
"Begitu ya." sambung Kaibo.
"Kudengar tempat itu sangat berbahaya, dan tak ada yang boleh mendekati tempat tersebut."
"Ngomong-ngomong kenapa kau menanyakan hal tersebut?" tanya si Gendut.
"Aku hanya berpikir, jika aku punya bunga tersebut mungkin aku bisa membangkitkan kak Xiao Tian dari tidur panjangnya." sambung Kaibo.
"Bunga tersebut hanya keluar 1000 tahun sekali, dan dijaga ketat oleh kerajaan Es."
"Lebih baik kau mengurungkan niatmu itu, lagipula bos Xiao Tian tak memerlukan bunga itu untuk bangun dari tidur panjangnya."
"Menurut tabib istana dia bisa bangun sebentar lagi." jelas si Gendut.
"Aku hanya berandai-andai, jika bisa membangkitkan orang mati bunga tersebut juga bisa dipakai untuk kak Huang Li bukan?"
Sambung Kaibo.
"Itu hanyalah rumor, bunga itu tak bisa membangkitkan orang mati."
"Lupakan bunga itu dan pergilah bersamaku menuju kamar Xiao Tian, kita tunggu dia sampai sadar." ucap si Gendut sambil menarik tangan Kaibo.
"Iya-iya aku akan ikut ke kamar kak Xiao Tian, tapi jangan menggandeng tanganku, aku bukanlah anak kecil!" bentak Kaibo.
"Haih, baiklah." sambung si Gendut.
Setelah itu si Gendut berjalan menuju kamar Xiao Tian bersama Kaibo yang berdiri disamping kanannya.
Si Gendut terus berjalan sampai menuju kamar Xiao Tian tanpa memperhatikan sekitar, dia tak sadar kalau Kaibo diam-diam meninggalkannya tepat sebelum si Gendut berpapasan dengan Su Yan dan yang Lainnya.