
Xiao Tian telah memasuki pintu kedua, Sunlong kembali keluar setelah merasa sudah jauh dari Dian Zheng. Tepat ketika baru keluar pintu, mereka langsung disambut oleh ribuan pedang yang melesat ke arah mereka.
Woooshh
Shut shut shut
Disaat pedang pedang tersebut hampir mengenai Xiao Tian, Kaibo menghentikan laju semua pedangnya sambil berkata, " Kak Xiao Tian, kau kah itu?"
Xiao Tian terkejut bukan main, karena saat itu Kaibo sudah bisa kembali mengakses tubuh dewasanya. Meskipun itu hanya untuk beberapa menit saja.
Prang prang prang
Semua pedang es berjatuhan mengelilingi Xiao Tian, lalu tubuh Kaibo pun kembali ke tubuh anak kecilnya.
"Bukankah pedang pedangmu telah hancur?" tanya Xiao Tian sambil menatap Kaibo.
"Meski bentuknya terlihat sama, pedang pedang yang hampir mengenaimu bukanlah pedang asliku. Melainkan sebuah replikanya saja," ucap Kaibo sambil menatap Xiao Tian.
"Oh benarkah?"
"Lalu siapa yang membuat replika ini?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tentu saja kak Jia Li, apakah kak Xiao Tian tak dapat merasakan hawa es di dalam pedangmya?" tanya Kaibo sambil mengerutkan dahi.
"Oh iya, kau lupa merubah wajahmu tuh. Kau masih terlihat seperti Tian Zong," ucap Sunlong sambil menatap Xiao Tian.
"Tunggu dulu, kenapa kau baru memberitahuku?"
"Jangan bilang kalau aku menggunakan wajah ini sejak bertemu ibu dan ayahku," ucap Xiao Tian dengan tampang kaget.
"Tidak, kau merubah wajahmu sebelum terjun ke bawah. Sehingga semua orang mengenalimu dalam sekali lihat," ucap Sunlong sambil menatap Xiao Tian.
"Kalau begitu sejak kapan aku menggunakan wajah Tian Zong?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Sejak kau muncul dj tempat Dian Zheng," jawab Sunlong sambil memasang eajah datar.
"Jadi itu alasan mengapa para roh langsung menyerangku ya," ucap Xiao Tian sambil menepuk dahinya.
"Baru sadar ya," ucap Sunlong sambil menghela napas.
"Lalu kenapa Kaibo dan Dian Zheng mengenaliku?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Memangnya pendekar mana lagi yang mau membiarkan kadal kecil yang lemah nangkring di pundaknya," ucap Dewa petir yang muncul tiba tiba sambil memasang wajah datar.
"Kecil dan lemah katamu!"
"Dasar Dewa kampret, rasakan pukulanku!" bentak Sunlong sambil mencoba memukul Dewa petir.
"Dewa kampret?"
"Kadalmu sedang bicara dengan siapa, kak Xiao Tian?"
"Kenapa dia bertingkah seolah ingin memukul seseorang?" tanya Kaibo sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Tak usah kau hiraukan, dia memang agak setres belakangan ini. Kau kan tahu kalau dia ini awalnya bukanlah iblis biasa. Penurunan kultivasi yang dia alami membuatnya begitu depresi hingga menjadi seperti ini," ucap Xiao Tian sambil menepuk kepala Sunlong.
"Kampret, aku disangka gila," pikir Sunlong dengan tampang kesal.
"Ah iya, maaf jangan hiraukan ucapanku. Aku memang suka bicara sendiri belakangan ini," ucap Sunpong sambil mencoba menahan emosi.
"Baru kali ini aku mendengar orang gila ngaku gila," ucap Dewa petir sambil memasang wajah menyebalkan.
"Awas saja kau ya, kalau kultivasiku telah kembali akan kuhajar kau lebih dulu," pikir Sunlong sambil menahan amarah.
"Ingin menghajarku?"
"Langkahi dulu kotoran hidungku," ucap Dewa petir sambil memasukkan jarinya ke dalam lubang hidung.
Duakk
"Bisakah kau berhenti mengganggu Sunlong?" ucap Xiao Tian melalui telepati. Sambil memukul kepala Dewa petir disaat Kaibo berkedip.
"Kenapa kau mengepalkan tanganmu kak?" tanya Kaibo sambil mengerutkan dahi.
"Lupakan soal diriku. Bisakah lebih baik kalau kau ceritakan tentang perkembangan latihanmu selama aku pergi?" tanya Xiao Tian sambil mengelus kepala Kaibo.
"Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil, aku ini sudah dewasa loh," ucap Kaibo dengan pipi yang memerah.
"Setidaknya pertahankan bentuk Dewasamu selama seharian penuh, maka aku akan menganggapmu sebagai pria dewasa," ucap Xiao Tian sambil mengelus dahi Kaibo.
"Janji ya?"
"Kalau aku bisa melemahkan segelnya, kak Xiao Tian akan berhenti memperlakukanku seperti anak kecil," ucap Kaibo sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya aku janji," ucap Xiao Tian sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Kaibo.
"Oh iya, selamat karena telah menjadi pendekar alam mortal lapisan ke dua," ucap Xiao Tian sambil tersenyum lebar.
"Da ... dari mana kau tahu?"
"Tolong ya kak ... ," ucap Kaibo sambil memasang wajah memelas.
"Aku kan sudah menganggapmu sebagai anakku, tapi kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan kak?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesal.
"Habis, kau mengangkat Jingmi juga. Kalau kami jadi saudara satu ayah kan tidak mungkin bisa bersatu," ucap Kaibo dengan wajah yang memerah.
"Oh, jadi itu alasanmu?"
"Aku mengerti sekarang. Meski tubuhmu kecil dan kadang agak ke kanak kanakkan seperti Jingmi, tak kusangka kau masih mempunyai perasaan orang Dewasa seperti itu ya. Kalau begitu mulai sekarang aku akan berhenti memperlakukanmu seperti aku memperlakukan Jingmi," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.
"Janji ya?" ucap Kaibo sambil menatap Xiao Tian.
"Iya, aku janji," ucap Xiao Tian sambil mengelus kepala Kaibo.
"Baru saja berjanji, kenapa kau mulai lagi!" bentak Kaibo dengan wajah imutnya.
"Ah, meski aku tahu dia sudah hampir memulihkan sifat dewasanya. Tetap saja menggoda bocah seimut dia memang memuaskan," pikir Xiao Tian sambil mengelus kepala Kaibo.
"Dasar pedofil," ucap Dewa petir sambil memasang tampang datar.
"Hei aku dengar gumamanmu ya!" bentak Xiao Tian melalui telepati.
"Sial aku lengah hingga lupa mengaktifkan teknik anti pembacaan pikiran," pikir Xiao Tian sambil memasang wajah kesal.
#####
Setelah berbincang cukup lama, Xiao Tian akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Kaibo agar dia bisa fokus dalam melanjutkan latihannya.
"Kau mau kemana lagi kak?" tanya Kaibo sambil mengerutkan dahi.
"Aku ingin berlatih di tempat yang tak terjamah banyak orang. Kau juga lanjutkan latihanmu ya," ucap Xiao Tian sambil mengaktifkan teknik teleportasi.
"Begitu ya ... , aku mengerti. Kalau begitu semoga sukses kak Xiao Tian," ucap Kaibo sambil tersenyum lepas.
"Kau juga, jangan mau kalah dengan yang lain ya," ucap Xiao Tian sebelum menghilang dari pandangan Kaibo.
"Kenapa kak Xiao Tian berkata begitu?"
"Apakah kultivasiku belum cukup tinggi?"
"Mungkinkah Jingmi lebih kuat dariku?"
"Ini tak boleh terjadi, aku harus menjadi lebih kuat lagi diatas kultivasi semua orang agar pantas menjadi pelindung Jingmi," pikir Kaibo dengam semangat yang menyala nyala.
#####
Xiao Tian berteleportasi ke suatu tempat di dalam ruang hampa.
Tempat dimana Dian Zheng melatih para roh iblis. Karena masih merasa takut dilatih oleh latihan penyiksaan diri Dian Zheng, Sunlong langsung masuk ke dalam cincin ruang dengan reflek. Namun anehnya Dewa petirpun ikut masuk ke dalam cincin tersebut.
"Yo, kau sudah menemukan ayahku?" tanya Dian Zheng sambil menatap Xiao Tian.
"Sudah, aku menemukannya di tempat Kaibo berlatih," ucap Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
"Benarkah?"
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Kenapa aku tak melihatnya sama sekali?" tanya Dian Zheng sambil mengerutkan dahi.
Setelah mendengar pertanyaan Dian Zheng Xiao Tian pun langsung merasa bingung. Karena seharusnya Dewa petir ada disampingnya beberapa detik yang lalu.
"Kau ini bagaimana, sejak tadi mereka kan ada di ... " ucap Xiao Tian sambil menoleh ke kanan dan kiri. Tampangnya berubah menjadi kebingungan karena tak melihat siapapun di samping kiri dan kanannya. Setelah menyadari bahwa dia saat itu hanya seorang diri, Xiao Tian pun langsung memasang wajah kesal.
"Kampret, apa mereka bersembunyi dari Dian Zheng?"
"Aku mengerti alasan Sunlong, tapi ada apa dengan Dewa petir?" tanya Xiao Tian di dalam hati.
#Sementara itu di dalam cincin ruang Xiao Tian.
Sunlong menyuruh Dewa petir keluar dari cincin ruang karena merasa terganggu dengan keberadaannya. Namun Dewa petir bersi keras menolak untuk keluar karena suatu hal yang tak dapat dia bicarakan.
Karena Sunlong tak peduli dengan alasannya itu, Dewa petir pun berinisiatif untuk menceritakan alasannya. Namun Sunlong tetap bersikap masa bodo dan terus mencoba mendorongnya keluar.
"Aku tak peduli denganmu!"
"Keluarlah dan temui putramu!" bentak Sunlong sambil mendorong Dewa petir.
"Aku tak bisa, kau kan tahu kalau dia masih dalam masa pemberontakan. Jika aku memaksa menemuinya sekarang, aku takut semua kenangan pahitnya kembali lagi. Segel ingatan di tubuhnya telah melemah sejak dia melatih kemampuan Dewa. Cepat atau lambat dia akan mengingat semuanya. Tapi hal itu tak akan terjadi jika dia tak bertemu denganku untuk sementara," ucap Dewa petir sambil memasang wajah depresi.
"Ternyata orang setres bisa depresi juga ya," ucap Sunlong sambil memasang wajah menyebalkan.
"Siapa yang kau panggil setres ha?" ucap Dewa petir sambil mengeluarkan sambaran petir dari telapak tangannya.
"Hei aku sedang bercanda tadi, bisakah kau batalkan jurusmu?" tanya Sunlong dengan keringat dingin yang bercucuran.