Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 225 : Keributan


"Pulanglah ke kerajaanmu pangeran, raja telah menunggumu. Kudengar dia mencarimu kemana mana sejak kabur dari sekte gunung api," ucap Huo Luan dengan nada sinis.


"Aku tak akan pulang, aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Lagi pula aku hanyalah pangeran yang tak diinginkan.


Pangeran yang tak bisa belajar berbagai macam teknik beladiri meskipun dilatih oleh seorang ahli, bahkan memerlukan banyak pil penguat tubuh untuk memperlancar kultivasi.


Karena aku memerlukan banyak pil untuk meningkatkan kekuatan, akhirnya aku dibuang di sekte gunung api.


Tak hanya itu, ayah dan ibu berhenti mengirimkan pil sejak mengirimkan aku ke sekte itu."


"Lalu untuk apa mereka mencariku?"


"Saat kekacauan terjadi di kerajaan Angin aku melihat mereka dari balik puing puing bangunan. Meski melihat mereka ada di sana, aku tak ingin menemui mereka karena masih menginginkan kebebasan."


"Aku hanya memperhatikan mereka dari jauh, dari mulai datang, membangun kembali kerajaan angin hingga kembali pulang ke kerajaan api. Mereka datang cukup lambat hingga tak sempat bertarung dengan para iblis, begitu pula sekte gunung api dan yang lainnya. Aku memang merindukan kasih sayang mereka, tapi kini aku telah menyadari sesuatu. Aku bisa menjadi lebih kuat tanpa bantuan pil ketika berada di dunia luar," jelas Su Yan sambil menatap mata Huo Luan.


"Ngomong ngomong, apa yang terjadi dengan matamu, Kakek?"


"Kau menghilang cukup lama, dan muncul sebagai jenderal utama dari pasukan elit pembasmi iblis. Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini?"


"Aku mungkin tak mengenalimu jika lukisanmu tak terpajang di aula istana," ucap Su Yan sambil menatap Huo Luan.


"Pertanyaan yang sama kutanyakan padamu. Menurut kabar yang kudengar kau tak mengalami cidera pada mata kirimu.


Matamu masih baik baik saja ketika kabur dari sekte gunung api," ucap Huo Luan sambil tersenyum tipis.


"Bagaimana bisa kau mengetahui hal itu?" tanya Su Yan sambil mengerutkan dahinya.


"Mudah saja, itu bisa dilihat dari postermu yang disebar luaskan ke segala penjuru. Jadi, dari mana kau mendapatkan luka di mata kirimu itu hingga menutupinya dengan penutup mata bagai seorang perompak lautan?" tanya Huo luan sambil menghentakkan tongkatnya ke pasir putih.


"Bukan urusanmu," jawab Su Yan sambil menghela napas.


"Begitu ya, kalau begitu jawaban yang sama aku lontarkan padamu. Soal luka di mata kiri dan kananku juga bukan urusanmu. Meski dunia mengakuimu sebagi cucuku, aku tak akan pernah mengakuinya sampai kapanpun. Jadi pergilah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran, tempat ini akan menjadi medan perang antara pasukan elit pembasmi iblis, dengan para iblis penguasa lautan." Huo Luan mengeluarkan hawa membunuh yang luar biasa yang dia khususkan kepada Su Yan. Meski begitu Su Yan sanggup menahan hawa membunuh tersebut berkat bantuan sisi lainnya.


Ketika Su Yan berniat membuat keributan dengan melawan ucapan Huo Luan, Xiao Tian menepuk punggungnya lalu berbicara melalui telepati, "Biarkan mereka mengurus bangsa leviant terlebih dulu. Kita akan turun tangan setelah jumlah iblis penguasa lautan itu sudah berkurang dan para pasukan elit sudah kehabisan tenaga."


Setelah mendengar ucapan Xiao Tian, Su Yan mengurungkan niatnya hingga menghapus hawa membunuh yang baru saja dia pancarkan.


"Kenapa kau berhenti melawan?" tanya Huo Luan.


"Aku tak punya waktu untuk meladenimu, Kakek. Kami akan pergi dari sini, silahkan lanjutkan urusanmu dengan bangsa leviant." Su Yan berjalan memutari para pasukan elit, diikuti oleh Xiao Tian dan teman temannya yang berjalan sambil melirik kearah para pasukan elit pembasmi iblis.


Ketika baru satu langkah di belakang punggung para pasukan elit, Huo Luan menghentikan langkah Xiao Tian dan teman temannya karena curiga dengan Jingmi yang terlihat seperti anak kecil.


"Tunggu, bisakah kalian lepaskan topeng bocah kecil itu sebeluk pergi?" ucap Huo Luan dengan hawa membunuh yang dia pancarkan ke Xiao Tian dan teman temannya.


Mendengar ucapan Huo Luan, Jingmi langsung memegang erat tangan putri Jia Li karena merasa takut identitasnya terungkap.


Naga biru yang berada di punggung jingmi langsung menatap Huo Luan dengan mulut yang mengeluarkan raungan. Giginya dirapatkan seperti seekor hewan liar yang sedang merasa terancam.


Rrrrrr


Naga hitam pun melakukan hal yang sama, saat itu dia berada di pundak kanan putri Jia Li.


"Apa maksudmu memancarkan hawa membunuh kepada kami?"


"Di sisi kami ada anak kecil, bisakah kau kontrol hawa membunuhmu itu?" tanya Xiao Tian sambil menghentikan langkah kakinya.


"Jika aku menolak?" tanya Xiao Tian dengan kepala yang agak menunduk. Matanya melirik ke bawah tanah sehingga hanya bisa menatap pasir putih di sekitar kakinya. Kedua tangannya terkepal karena sedang mencoba menahan emosi.


"Maka kalian tak diijinkan pergi," ucap Huo Luan sambil tersenyum tipis.


Bersamaan dengan ucapan terakhir Huo Luan, para pasukan elit mengeluarkan pedang mereka secara bersamaan.


Sring sring sring


"Sepertinya tak ada pilihan lain, kita lakukan rencana B. Bantai seluruh pasukan elit yang menghalagi kita!" ucap Xiao Tian dengan nada tinggi.


"Harusnya kau ucapkan sejak tadi, Ketua," ucap Su Yan dengan mata kuningnya.


Su Yan dan sisi lainnya telah sepakat untuk menyatukan kekuatan karena saat ini mereka memiliki musuh yang sama.


Sisi lainnya memberikan Su Yan kekuatan penuh karena memiliki dendam tersembunyi kepada Huo Luan yang merupakan mantan raja dari kerajaan api.


"Akhirnya tiba saat dimana aku bisa beraksi," ucap si gendut sambil mengeluarkan pedangnya.


"Apa aku boleh membantu mas endut?" tanya Huanran melalui telepati.


"Tak boleh, musuh merupakan spesialis roh jahat dan iblis. Terlalu berbahaya bagi kau dan Jingmi untuk turun ke medan pertarungan," jelas si gendut melalui telepati.


Untuk berjaga jaga, Xiao Tian membuka portal ruang hampa untuk dimasuki Jingmi.


Ketika portal terbuka putri Jia Li langsung mendorongnya masuk sebelum Huo Luan menyadari portal tersebut. Naga biru yang saat itu berada di punggung Jingmi pun tak sempat mengelak saat Jingmi didorong ke dalam portal ruang hampa sehingga terbawa masuk ke portal itu dan terjebak di dalam portal karena Xiao Tian menutup portalnya ketika mereka telah masuk.


Melihat Jingmi menghilang dalam sekejap mata, membuat kecurigaan Huo Luan semakin tinggi. Kemarahannya semakin memuncak hingga mengeluarkan sebagian besar kekuatannya. Api merah yang panas tiada tara menyala nyala menyelimuti tubuhnya, dia langsung melesat maju ke arah putri Jia Li dengan tampang yang begitu kesal.


"Beraninya kalian melindungi kaum iblis dihadapan mataku!"


Ketika tongkatnya hampir mengenai putri Jia Li, Xiao Tian menahan tongkat tersebut dengan pedang hitam yang dia dapatkan dari pagoda iblis.


Melihat Xiao Tian menahan tongkatnya hanya dengan satu tangan membuat semua orang kaget bukan main. Hanya Su Yan dan Dewa Petir yang tahu asal usul pedang itu. Sedangkan yang lainnya tak tahu sama sekali karena selama ini Xiao Tian menyimpan pedang hitam yang dia rampas dari sekte iblis di dalam cincin ruangnya.


"Darimana kau mendapatkan pedang bangsa iblis!"


"Sudah kuduga kau pasti berkomplot dengan mereka!" ucap Huo Luan sambil memancarkan hawa membunuh.


"Kau bahkan tak mengenali wajahku yang ikut tersebar di poster buronan sekte gunung api. Sepertinya matamu benar benar rusak, tapi bagaimana caramu mengetahui kalau ada anak kecil disekitar kami?" tanya Xiao Tian sambil menahan tongkat Huo Luan.


Belum sempat Huo Luan menjawab pertanyaan Xiao Tian, salah satu pasukan elit memotong pembicaraan dengan berkata,


"Aku ingat sekarang, hati hatilah jenderal!"


"Dia adalah pangeran Xiao Tian dari kerajaan petir. Menurut informasi sekte gunung api hampir dimusnahkan oleh topeng bencana karena posternya yang tersebar luas."


"Begitu ya, tak kusangka seorang pangeran bisa terlibat dengan bangsa iblis. Pantas saja sekte iblis tak pernah bisa dikalahkan. Ternyata salah satu kerajaan besar seperti kerajaan petir memiliki koneksi dengan sekte sesat itu," ucap Huo Luan sambil mendorong tongkat berlapis api merah di tangan kanannya.


"Informanmu cukup terampil, tapi yang kau kesimpulanku itu benar benar salah. Aku tak ada kaitannya dengan sekte iblis, dan kerajaan petir tak ada hubungannya dengan pedang hitam ini. Soal dari mana dan kenapa aku bisa memakai pedang ini bukan urusanmu. Jenderal api, Huo Luan!"


Xiao Tian melapisi pedangnya dengan api biru sehingga membuat Huo Luan terpental mundur.


"A ... api biru?" para pasukan elit terkejut bukan main melihat Xiao Tian mengeluarkan api biru.


"Kalau kau suka bermain api, akan kutunjukkan api yang sebenarnya." Xiao Tian menghunuskan pedangnya ke arah Huo Luan yang terdorong mundur beberapa langkah.