Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 146 : Labirin es


Xiao Tian memasuki portal menuju labirin es seorang diri tanpa rasa ragu. Portal tersebut menghilang secara otomatis, setelah Xiao Tian memasuki portal tersebut. Dewa Petir terpaksa menunggu di tempat para siluman kera karena labirin es tak menerima kehadiran para Dewa.


Setelah memasuki portal, Xiao Tian berada di sebuah ruangan sempit berbentuk persegi yang tak berisi apapun. Di dalam ruangan sempit itu Xiao Tian mendengar suara misterius.


"Selamat datang di labirin es, kau adalah manusia pertama yang masuk ke labirin ini."


"Perkenalkan dirimu, dan katakan apa tujuanmu kemari."


"Namaku Xiao Tian, tujuanku kemari adalah untuk membawa pulang temanku yang telah masuk ke dalam labirin es ini." jawab Xiao Tian.


"Temanmu?"


"Setahuku tak ada manusia yang pernah melewati labirin es." sambung suara misterius.


"Temanku adalah seorang iblis, bukan seorang manusia, dia berbadan seperti anak-anak dan merupakan keturunan dari iblis naga." sambung Xiao Tian.


"Manusia yang berteman dengan iblis, menarik sekali."


"Apa kau yakin, hanya ingin membawa pulang temanmu itu?"


"Labirin es bisa mengabulkan apapun, seperti kehidupan abadi, harta yang melimpah, atau bahkan membangkitkan orang mati." ucap suara misterius.


"Aku hanya ingin membawa teman-temanku pulang bersamaku, selain itu tak ada yang aku inginkan lagi." tegas Xiao Tian.


"Kita lihat saja nanti, apakah tekadmu itu akan berubah atau tidak."


"Semoga berhasil." sambung suara misterius.


Setelah suara itu berhenti berbunyi, sebuah lubang tercipta di salah satu dinding ruangan.


Tanpa pikir panjang, Xiao Tian memasuki lubang tersebut.


Ketika dia melangkah maju dia melihat sebuah jurang yg dibawahnya dihiasi kristal es yang begitu runcing. Sedangkan jalan lainnya berada jauh di seberang jurang itu.


Di tepi jurang itu terdapat sebuah papan yang bertuliskan ' Teruslah melangkah maju meski dihadang oleh sebuah jurang yang penuh dengan duri, selagi hati bersih menyertaimu jalan kebaikan akan melindungi dirimu sendiri.'


"Apa maksud papan ini?"


"Terserahlah, aku cukup menggunakan kekuatan teknik meringankan tubuh agar bisa menyebrang." pikir Xiao Tian.


Xiao Tian mencoba untuk memusatkan kekuatan qi ke telapak kakinya, sayangnya dia tak bisa merasakan kekuatan qi sama sekali.


"Ada yang aneh, sebelum memasuki lubang tadi aku masih bisa merasakan kekuatan qi, tak hanya kekuatan qi, aku bahkan tak bisa menggunakan kekuatan rohku." pikir Xiao Tian.


Setelah mengetahui kekuatan qi dan kekuatan roh tak bisa dia gunakan, Xiao mencoba cara lain. Dia berjalan lurus melewati jurang tanpa rasa ragu sedikitpun. Sebuah pijakan tercipta setiap kakinya melangkah maju.


Setiap langkah yang dia jalani terasa semakin berat karena dihantui oleh pikiran-pikiran buruk. Setiap dia mencoba melangkah dia selalu terbayang tentang hal-hal yang paling dia takuti.


Kehancuran kerajaan petir, tewasnya ayah dan ibunya, kematian putri Jia Li, dan kematian semua teman-teman yang dia sayangi, semua itu terus terbayang dipikirannya tanpa henti.


"Semua ini hanya ilusi, aku harus terus melangkah."


"Harus terus melangkah." ucap Xiao Tian.


Meski dihantui banyak rasa takut, Xiao Tian terus melanjutkan langkahnya hingga sampai ke seberang jurang. Di seberang jurang terdapat sebuah pintu berwarna biru yang tertutup rapat.


Sebelum Xiao Tian membuka pintu itu, suara misterius terdengar kembali.


"Luar biasa, kau berhasil melewati rintangan pertama dengan sempurna."


"Apakah kau siap untuk melanjutkan rintangan berikutnya?" ucap suara misterius.


"Tentu saja aku siap." ucap Xiao Tian dengan nafas terengah-engah.


"Baiklah, sebelum memasuki rintangan kedua, aku beri kau sebuah petunjuk. Di depan sana terdapat tiga buah pintu, setiap pintu mengarah ke jalan yang sama yaitu jalan keluar. Masuki salah satu pintu dan keluarlah dari pintu yang pertama kau masuki." ucap suara misterius.


Seperti biasa, setelah menjelaskan beberapa hal, suara misterius menghilang begitu saja.


Xiao Tian melanjutkan perjalanannya memasuki pintu berwarna biru itu.


Seperti yang dikatakan oleh suara misterius, Setelah memasuki pintu berwarna biru Xiao Tian berada di sebuah ruangan kecil dengan tiga buah pintu dengan warna berbeda. Merah, kuning dan hijau.


"Jadi ini yang dia maksud?"


"Aku harus memilih salah satu dari tiga buah pintu ini ya?" pikir Xiao Tian.


Xiao Tian memilih pintu berwarna hijau karena berdasarkan ingatan dari kehidupan sebelumnya warna hijau merupqkan warna kesukaannya.


Setelah membuka pintu tersebut, pintu yang lainnya menghilang begitu saja. Xiao Tian memasuki pintu tersebut tanpa ragu. Setelah memasuki pintu itu, dia berada di sebuah gua dengan jalan setapak yang begitu sempit dan hanya mengarah ke satu arah. Dia menelusuri jalan itu tanpa rasa ragu, hingga sampai ke titik dimana jalannya tertutup oleh dinding es yang transparan.


Xiao Tian mencoba kembali ke tempat awal dia masuk, tetapi pintu hijau telah tertutup rapat dan tak bisa dibuka.


Karena tak ada jalan lain, Xiao Tian kembali ke ujung jalan dimana dinding es berada.


Di balik dinding es tersebut terlihat bayangan sebuah pintu berwarna biru karena dinding es tersebut sangatlah transparan.


Xiao Tian memukul dinding tersebut sekuat tenaga. Sedikit demi sedikit dinding es tersebut mulai retak, meski terlihat begitu tipis kekerasan dinding es itu tidaklah main-main. Xiao Tian perlu menguras banyak tenaganya hanya untuk memecahkan dinding es itu.


Prakk


Setelah dinding es itu hancur, dia melangkah maju dan memasuki pintu biru itu dengan nafas terengah-engah. Setelah memasuki pintu tersebut, pintu itu otomatis tertutup dan dia kembali ketempat awal dimana tiga buah pintu berada. " apa-apaan ini, aku kembali ke tempat asal?"


Xiao Tian mencoba memasuki pintu berwarna kuning. Di dalam pintu tersebut dia melihat sebuah hutan yang begitu luas, hutan tersebut dipenuhi oleh harimau buas yang haus darah.


Tak ada jalan kembali, karena pintu kuning yang dia masuki, menghilang setelah dia lewati.


"Sialan, ternyata pintu yang kuning juga pintu yang salah." ucap Xiao Tian.


Xiao Tian berlari memanjat keatas pohon untuk mencari jalan keluar sekaligus menyelamatkan diri dari serangan harimau.


"Hahahaha."


"Sepertinya kau memasuki pintu yang salah lagi."


"Ingatlah petunjuknya baik-baik." ucap kera itu sambil menatap Xiao Tian.


Xiao Tian mencubit pipinya karena mengira telah berhalusinasi.


"Apa kera itu baru saja berbicara denganku?" pikir Xiao Tian.


"Tentu saja aku bicara denganmu." sambung kera itu.


"Apa kau baru saja membaca pikiranku!"


"Sepertinya aku sudah gila karena berbicara dengan seekor kera." ucap Xiao Tian .


"Jangan khawatir, kau belum gila." sambung kera itu.


"Belum?"


"Maksudmu aku akan gila?" tanya Xiao Tian.


"Begitulah, kau lihat ribuan harimau buas itu?" tanya kera.


"Tentu saja aku lihat mereka." jawab Xiao Tian.


"Kalau begitu kenapa kau memanjat ke atas pohon?"


"Turunlah." sambung kera itu.


"Kau gila ya!"


"Kalau aku turun sekarang, aku pasti menjadi santapan mereka.


" Andai saja aku bisa menggunakan kekuatan qi dan kekuatan roh milikku, aku pasti sudah menghabisi mereka sejak tadi." ucap Xiao Tian.


"Hei hei, aku tidaklah gila, aku hanya ingin memberimu petunjuk."


"Satu-satunya jalan keluar dari hutan ini adalah, membunuh dua ribu ekor harimau itu."


"Oh iya, ada satu hal lagi yang harus kusampaikan padamu."


"Setelah keluar dari hutan ini, kau akan kembali ke ruang utama, dan kau hanya memiliki satu kesempatan lagi untuk mencoba memasuki pintu-pintu itu. Jika kau memilih pintu yang salah lagi, maka aku jamin kau akan kehilangan nyawamu seperti para iblis yang sebelumnya." sambung kera itu.


"Membunuh dua ribu harimau buas?"


"Dasar kera gila, tanpa kekuatan qi dan kekuatan roh, mana mungkin aku akan ... " sebelum menyelesaikan ucapannya kera itu telah menghilang dalam sekejap mata.


"Kera sialan, kemana dia pergi?" ucap Xiao Tian.


"Membunuh dua ribu harimau ya?"


"Cih, merepotkan." ucap Xiao Tian.


Srakk


Tiga ekor harimau yang haus darah, mencakar pohon yang dinaiki Xiao Tian. Cakar mereka tak seperti harimau biasa, ketajaman cakar itu bahkan bisa membelah kapas menjadi dua saat masih di udara.


Setelah dicakar terus menerus, pohon yang dinaiki Xiao Tian akhirnya tumbang.


Brukk


Xiao Tian berpegangan pada batang pohon tersebut sehingga tak terluka parah ketika pohon itu tumbang.


Ketika pohon itu tumbang, ribuan harimau berjalan mendekati Xiao Tian yang masih berpegangan erat pada batang pohon yang tumbang.


Disaat semua harimau mulai mendekat, Xiao Tian melemparkan jarum-jarum runcing yang dia ambil dari dalam cincin ruangnya.


Shut shut shut


Dalam sekejap ribuan harimau dia kalahkan dengan mudah.


"Syukurlah, kemampuan akupunturku tak menghilang juga."


setelah mengalahkan para harimau, pintu berwarna biru muncul di hadapannya.


Xiao Tian memasuki pintu tersebut dan seperti yang dia duga pintu itu mengarah ke titik awal dimana ketiga pintu berwarna berada tepat dihadapannya.


"Merah, kuning, hijau aku sudah muak dengan semua pintu ini!"


"Karena hanya tersisa satu pintu maka merah pasti pintu yang benar." ucap Xiao Tian.


"Tapi kenapa kera itu bilang kalau ini merupakan kesempatan terakhirku?"


"Bukankah memang hanya ada tiga buah pintu?"


"Merah, kuning dan hijau."


"Aku sudah mencoba kuning dan hijau, bukankah sudah jelas kalau merah merupakan pintu yang tepat?" pikir Xiao Tian.


Setelah memikirkan kembali ucapan si kera, Xiao Tian tak memilih pintu merah, dia berbalik arah lalu membuka pintu biru yang baru saja dia lewati.


Apakah pintu biru merupakan pintu yang tepat?


Atau itu merupakan pintu yang salah?


bersambung....