
ketiga naga agung merasa bingung karena kata Dewa Petir terasa cukup akrab di telinga mereka, kebingungan mereka pun semakin memuncak tepat ketika Dewa Petir mengucapkan kata mantan Dewa.
"Seorang Dewa yang tersingkir dari jabatannya, tak mungkin memiliki ingatan bahwa dia pernah menjadi Dewa." White Dragon menegaskan.
"Apakah kau benar benar seorang mantan Dewa!?" Black Dragon dan Sunlong meneruskan.
"Aku berani menjamin identitasnya!" Xiao Tian menyela tanpa ragu.
Ketiga naga agung dalam wujud manusia mereka itu pun bertatapan satu sama lain, dan mengangguk seakan memahami sesuatu.
"Hanya ada dua kemungkinan yang bisa menjelaskan semua hal ini," White Dragon nampak begitu serius.
"Apa itu?" Xiao Tian dan Dewa Petir nampak penasaran.
"Turut campurnya para perwujudan hukum, atau transenden tingkat tinggi dari alam suci teratas!" tegas White Dragon dengan sangat serius.
"..." Xiao Tian dan Dewa Petir terdiam sejenak karena mengetahui hal tersebut. Namun itu hanya menjelaskan hilangnya ingatan semua orang saja. Lantas siapa yang merubah tubuh Dewa Petir yang jelas jelas berubah drastis sebelum turunnya perwujudan hukum alam langit!? Keduanya nampak bingung, terutama Dewa petir yang menderita kondisi fisik aneh.
'Mungkinkah ada transenden yang ikut campur dalam perubahan tubuhku!?'
'Jika benar, maka itu menjelaskan alasan mengapa hukum alam langit tak memiliki otoritas terhadap ingatanku. Seperti halnya istriku yang terbebas dari pengaruh hukum Langit dan bisa tetap di alam manusia karena campur tangan seorang budha yang jelas merupakan salah satu transenden tingkat tinggi.' Dewa petir termenung, dan ketiga naga leluhur mendengar apa yang dipikirkannya.
"Itu mungkin saja!" White Dragon memperjelas.
"Memblokir manipulasi ingatan dari seorang perwujudan hukum, tak kusangka para transenden bisa memiliki anugrah sehebat itu. Pantas saja guru Dewa Kera, bersi keras mencoba menjalani ujian sembilan kehidupan. Sayangnya dia malah gagal di ujian puncak kehidupan kesembilan." Dewa Petir bergumam pelan.
"Guruku tak memikirkan hal itu. Dia memilih jalan menuju nirwana, bukan karena ingin menentang otoritas hukum langit, ataupun perwujudan hukum yang lainnya. Dia hanya enggan menerima jabatan sebagai Dewa alam Langit, dan ingin menguji seberapa bersih jiwanya jikalau direinkarnasikan."
"Dia selalu berkata, bahwa dia tidaklah layak menerima tanggung jawab sebagai seorang Dewa yang mengatur berbagai kehidupan. Dia hanya ingin menjadi pertapa dan mengabdikan diri menuju jalan nirwana." Wu Kong muncul seketika melalui cincin ruang yang melingkar di jari Xiao Tian. Tubuhnya nampak agak transparan, namun berhasil mengejutkan semua orang.
"Bukankah akses komunikasi antara alam Langit dan alam Fana sudah terputus!?"
"Jangan lupa nak, aku pernah menandaimu, dan dapat muncul kapanpun aku mau. Hanya saja karena larangan hukum Langit, gerakanku jadi sangatlah terbatas. Jika bukan karena cincinku yang ada di jarimu, maka hanya aku yang bisa mendengar dan melihat kalian dalam wujud roh seorang Dewa." Wu Kong meneruskan.
Roh Dewa tak bisa dilihat, didengar, maupun diusik oleh makhluk lain selain Dewa, kecuali dalam kondisi tertentu. Fakta bahwa roh Dewa Kera dapat dilihat dan didengar semua orang menandakan bahwa saat ini dia dapat mewujudkan roh nyata. Dan keuntungan lain dari wujud roh nyata yaitu dapat merasuki tubuh makhluk fana. Dewa Petir dan Xiao Tian menyadari keuntungan tersebut.
"Bagaiman dengan tubuh asli dan jabatanmu sebagai seorang Dewa?"
"Jika kau disini perwujudan hukum akan ... ," belum sempat Xiao Tian menyelesaikan kalimatnya, Wu Kong segera menyela dan berkata, "Jangan khawatir, Klonku ada disana dan bisa mengurus semuanya. Selagi aku tak mengumbar kekuatan besarku terlalu lama di alam fana, maka tak akan ada yang menyadari keberadaanku!"
"Karena itu, ijinkan aku menetap di dalam tubuhmu," Wu Kong melesat masuk ke tubuh Xiao Tian dan kembali menyembunyikan hawa keberadaannya.
Alam pikiran Xiao Tian saat ini nampak begitu terang tak seperti dimasa lalu. Luas dan begitu menyilaukan. Dan sumber cahaya tersebut berasal dari bola energi raksasa berwarna hitam putih yang nampak terus mengkonsumsi qi alam yang nampak berwarna biru, beserta aura Dewa yang nampak kuning emas menyilaukan.
Mata merah menyala, dan tatapan tajam yang sangat mencekam menusuk ke jiwa Wu Kong. Rasanya tak kalah mengerikan dari tekanan seorang perwujudan hukum, dan bahkan hampir melewati tekanan seorang Budha. Roh Wu Kong gemetar teramat kencang, dan terpental seketika dari tubuh Xiao Tian.
"Khughhh!"
"Benda apa itu!?" Wu Kong keluar dengan penuh trauma. Namun hal yang paling membuatnya terkejut ialah fakta bahwa dia melupakan apa yang dia lihat sejak keluar dari tubuh Xiao Tian.
"Apakah kau baik baik saja!?"
"Apa yang terjadi padamu?"
"Kenapa kau bisa terluka begitu banyak!?" Semuag yang melihat sosok Wu Kong dengan penuh luka, sontak terkejut bukan main. Namun Wu Kong yang mulai melemah hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata, "Entahlah, akupun tak begitu mengerti. Yang jelas aku tak bisa merasuki tubuh Xiao Tian untuk sekarang." Wu Kong hanya menjawab singkat dan melesat masuk ke dalam cincin ruangnya.
"Apakah kau baik baik saja, Dewa Kera!?" Xiao Tian memanggil Wu Kong berulang kali ke cincin ruang di jari manisnya. Namun tak ada respon sedikitpun, seakan Wu Kong tak ada disana.
#Note
Maaf author menghilang lama, nenek author lg sakit parah kena Liver dan perlu perawatan khusus sampe sekarang. jd gk konsen dan gk ada waktu buat nulis. Terimakasih bagi yang masih setia sama novel ini. T_T