Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 454 : Kembali menemui sang aura pedang


Setelah berlatih mati matian selama sebulan penuh di dalam dimensi merah, Xiao Tian pun mulai terbiasa dengan semua pola serangan roh B_bi suci.


Hingga akhirnya dia sanggup membuat kedua pisau daging lawan tandingnya itu terlepas.


Wooshh cleb, pisau tersebut melayang ke atas udara dan tertancap ke tanah merah begitu saja. Dan posisi akhir pedang aura milik Xiao Tian berada tepat di bawah dagu roh suci itu.


"Sepertinya kali ini kemenangan telqh berpihak kepadaku," ucap Xiao Tian sambil menghunuskan pedangnya.


"Padahal aku menggunakan begitu banyak metode berpedang, tapi dia dapat membaca bahkan meniru semua pola seranganku hanya dalam waktu satu bulan. Seperti yang diharapkan dari orang terpilih," pikir roh B_abi suci sambil tersenyum.


"Baiklah, aku mengaku kalah. Kau bisa mendapat simbolku sekarang," roh B_bi suci menyentuh dahi Xiao Tian setelah pedang aura dijauhkan dari lehernya.


Tepat ketika simbol tersebut telah terwariskan, roh B_bi suci menatap Xiao Tian dan berkata, "Akhir akhir ini kau berfokus dalam ilmu pedang sesuai anjuranku. Kau sudah siap menantang aura iblismu untuk sekarang. Dan perwujudan aura pedangmu pasti sudah mulai menguat saat ini. Sebelum menantang perwujudan aura iblis kau tqhu harus apa kan?"


"Tentu saja," ucap Xiao Tian sambil tersenyum. Bersamaan dengan itu roh B_bi suci perlahan lenyap dari pandangan Xiao Tian karena telah mewariskan simbolnya.


Saat itu yang tersisa tinggal Roh ayam suci, roh kera suci, roh kelinci suci dan roh kambing suci. Mereka bertahan disana karena masih harus mengajari Xiao Tian tentang cara mengontrol simbol suci dan mengajari batasan batasannya. Tentunya mereka tak langsung mengajari kedua hal itu, karena saat itu fokus Xiao Tian adalah memperlemah perwujudan aura iblisnya.


Saat roh B_bi suci menghilang dengan sempurna. Xiao Tian kembali mengosongkan pikiran untuk kembali ke dalam alam bawah sadarnya.


Tak perlu waktu lama setelah itu, dia pun kembali berhadapan dengan perwujudan aura pedang yang beraura kuning keemasan menyerupai aura Dewa. Dia berdiri sambil memegang pedang auranya. Wujud pedangnya benar benar mirip dengan pedang di tangan Xiao Tian. Bingung akan apa yang dia lihat, Xiao Tian pun berkata,


"Bukankah pedang aura ada padaku?"


"Kenapa kau masih memegang pedangnya?"


"Pedang ditanganmu terbuat dari esensi auraku, tentu saja aku bisa menciptakan sebanyak yang aku mau," jawab aura pedang.


"Lalu kenapa kau tak memberikannya saja waktu itu?" tanya Xiao Tian dengan kesal.


"Pedangku itu bukanlah mainan atau permen yang bisa dibagikan sembarangan. Kalau bukan karena keberuntungan, bagaimana mungkin kau bisa mendapatkan pedang itu," jawab aura pedang dengan tampang kesal.


"Maaf saja, aku tak punya cara lain selain melakukan itu. Toh aku juga dirugikan karena harus membunuh diriku sendiri kan?"


"Hehehe," ucap Xiao Tian sambil menggaruk garuk kepalanya.


"Cih, apa maksud sikap ramahmu ini?"


"Kenapa kau tak searogan sebelumnya?"


"Kau tak berniat menantangku lagi?"


"Padahal aku sudah sangat siap loh," sambung aura pedang sambil memasang kuda kuda.


"Ayolah, jangan begitu. Aku tak ada niatan untuk bermusuhan denganmu terus. Lagi pula, tak ada gunanya kita bertarung, bukankah disini aku tak akan bisa mati?"


"Dan jika aku bisa mengalahkanmu lagi pun, tak ada untungnya bagiku. Karena setiap orang hanya bisa memiliki satu pedang aura saja, bukan?" tanya Xiao Tian dengan serius.


"Kalau bukan menantangku, apa dong tujuanmu?"


"Bukan bertanya tentang kabarku kan?"


tanya aura pedang dengan kesal.


Setelah terdiam beberapa detik, aura pedang semakin murka karena menyadari sesuatu, "Tunggu dulu, apa maksudmu berkata kalau kau bisa mengalahkan lagi!"


"Cara yang sama tak akan bekerja sekarang. Levelku dan level aura Dewa sudah setara. Kami tak akan saling menghisap saat temboknya terbuka!"


"Benarkah?" tanya Xiao Tian dengan simbol roh B_bi suci di atas dahinya.