
Xiao Tian berteriak di gerbang istana hingga Dian Zheng keluar dari istananya.
Setelah gerbang terbuka lebar mereka saling bertatap muka sambil memancarkan hawa membunuh untuk mengintimidasi satu sama lain.
"Apakah benar kalau kau adalah putra dari Dewa Petir?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
"Kau tak layak mendapat jawaban dariku," jawab Dian Zheng sambil menatap Xiao Tian sambil memancarkan hawa membunuh.
"Ho ... , jika aku saja tak layak mendapat jawaban darimu. Maka tak akan ada yang layak." Xiao Tian melapisi tubuhnya dengan aura emas berlapis elemen cahaya.
"Ingin menggunakan elemen cahaya untuk melawanku?"
"Itu percuma saja, karena aku bukanlah seorang iblis," ucap Dian Zheng sambil melesat maju.
Dian Zheng melesat dengan begitu cepat hingga bisa berada dihadapan Xiao Tian dalam hitungan detik. Tepat saat dia berada tepat didepannya, dia langsung mengayunkan pedang kuningnya untuk menebas leher Xiao Tian.
Saat Dian Zheng mengayunkan pedang kunijg di tangan kanannya, pedang berlapis petir hitam itu ditahan Xiao Tian hanya dengan menggunakan satu jari telunjuk saja.
Saking kerasnya telunjuk kanan Xiao Tian, pedang tersebut langsung retak secara merata kemudian hancur berkeping keping.
Tepat ketika pedang di tangan kanannya hancur, dengan reflek Dian Zheng langsung menebaskan pedang di tangan kirinya untuk menebas pinggang Xiao Tian.
Namun pedang tersebut bernasib sama seperti pedang yang satunya. Langsung hancur berkeping keping hingga hanya menyisakan gagang pedangnya saja.
"Apa!" ucap Dian Zheng dengan mata yang terbelalak.
Tepat ketika Dian Zheng masih merasa terkejut, Xiao Tian langsung memukul perutnya dengan keras.
Bukkk
Dian Zheng terpental mundur hingga melewati gerbang istana. Saking kerasnya pukulan yang dia lancarkan, Dian Zheng terpental begitu cepat hingga menciptakan lubang di pintu istana. Setelah menembus pintu tersebut, tubuh Fian Zheng terus terlempar hingga menghantam singgasananya.
Bruakkk
Disaat para Leviant masih disibukkan oleh golem es milik putri Jia Li, Xiao Tian melangkah maju melewati gerbang istana untuk mendekati Dian Zheng.
"Mustahil, kenapa tubuhmu disa lebih keras dari pada kultivasimu!"
"Aku yakin kau hanyalah seorang pendekar alam ilusi lapisan ke lima. Bagaimana mungkin kau bisa menahan seranganku yang sedang menggunakan kekuatan lima lapisan diatas kultivasimu itu. Sebenarnya teknik macam apa yang kau gunakan saat ini!" ucap Dian Zheng sambil mencoba berdiri.
"Apa kau yakin kultivasiku hanya pendekar alam ilusi lapisan ke lima?" tanya Xiao Tian sambil berjalan mendekat. Dia memancarkan tekanan qi yang terus meningkat sambil mengeluarkan hawa membunuh.
"Mu ... mustahil, bukankah dia masih dalam keadaan sadar?"
"Kenapa kekuatannya terus meningkat hingga menyamai kultivasinya saat diluar kendali?"
"Ini diluar kemampuanku, aku harus melapor kepada guru. Bocah ini jauh lebih mengerikan dari pada topeng bencana."
"Aku harus cepat mundur," pikir Dian Zheng dengan tangan yang gemetaran.
Dian Zheng menggigit ibu jarinya lalu meneteskan darahnya ke lantai istana. Tepat ketika darahnya menetes ke lantai, sebuah lingkaran sihir berwarna merah darah muncul di sekitar kaki Dian Zheng.
"Sampai jumpa manusia, teleport!" sebuah cahaya merah menyelimuti tubuh Dian Zheng, dia tersenyum tipis sambil menatap Xiao Tian saat sihirnya mulai aktif.
"Mau kemana kau?" Xiao Tian menatap Dian Zheng dengan tatapan yang tajam, tepat setelah mata mereka saling bertatapan sihir teleportasi yang baru saja aktif itu langsung dibatalkan secara paksa. Cahaya merah di atas lingkaran sihir tersebut perlahan meredup dan hanya menyisakan sebuah simbol sihir yang tak bisa diaktifkan.
"Apa yang!" Dian Zheng mengeluarkan keringat dingin karena sihirnya tak bisa dia aktifkan. Dengan wajah yang terlihat ketakutan dia terus mencoba mengaktifkan kembali lingkaran sihirnya, namun tak kunjung aktif sedikitpun.
Xiao Tian terus berjalan mendekati Dian Zheng hingga membuatnya semakin panik.
"Ja ... jangan mendekat!" Dian Zheng berjalan mundur hingga tersandung oleh kepingan kursi singgasana yang telah hancur berkeping keping.
"Aku menyerah, bawa saja semua temanmu yang sedang diluar kendali itu. Aku tak memiliki kendali atas mereka, aku berani bersumpah!"
"Tolong menjauhlah dariku!" ucap Dian Zheng
"Sejak awal, aku kemari bukan untuk mereka. Tapi untuk mengambil kembali roh Huang Li yang telah lama kau segel. Awalnya kupikir sekte iblis dan lima Dewa pendosa tidak bekerja sama dan berjalan masing masing."
"Jika Dewa Kera tak menceritakan semuanya ketika melatihku di alam kekosongan, mungkin aku akan terkejut melihat semua temanku berada di sini."
"Kaibo, Liang Su, jenderal Tailong bahkan tubuh Huanran yang kupikir telah tiada ternyata juga ada di dalam istanamu."
"Kami pasti akan membawa mereka juga."
"Tapi sebelum itu, kau harus mengembalikan kepingan roh putri Jia Li yang kau segel dengan teknik terlarang!" ucap Xiao Tian sambil berjalan mendekat.
"Hahahahahh," Dian Zheng tertawa jahat setelah mendengar jawaban Xiao Tian.
"Kenapa kau tertawa?"
"Apa kau sudah gila?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
Dian Zheng mengeluarkan sebuah bola kecil yamg bersinar kuning dari dalam jirah emasnya. Sambil tertawa jahat dia pun berkata,
"Terserah kau menganggapku seperti apa. Bola ini berisi jiwa Huang Li yang telah tersegel, jika kau menginginkan keselamatannya maka bawa semua orang pergi dari istanaku!" ancam Dian Zheng sambil menggenggam bola kuning berisi jiwa Huang Li.
Semakin dekat Xiao Tian melangkah semakin erat Dian Zheng menggenggam bola tersebut.
Melihat Dian Zheng melakukannya tanpa rasa ragu, Xiao Tian pun berhenti melangkah.
Melihat Xiao Tian terdiam, Dian Zheng pun tersenyum tipis.
Sambil menatap mata Xiao Tian dia pun berkata, "Mundurlah, jika tidak kuhancurkan roh Huang Li!"
"Ho ... , kau mengancamku?" ucap Xiao Tian sambil menatap mata Dian Zheng.
Xiao Tian menjentikkan jarinya bersamaan dengan itu, Dian Zheng langsung terdiam kaku.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku?" pikir Dian Zheng sambil menundukkan kepala.
Tap tap tap
Xiao Tian berjalan mendekat lalu merebut paksa bola kuning dari tangan Dian Zheng.
Tepat ketika tangan berlapis aura emas Xiao Tian menyentuh bola tersebut sebuah pola lingkaran sihir muncul menyelimuti bola itu.
"Pola sihir?" ucap Xiao Tian.
"Hahaha, meski kau merebut bola berisi jiwa Huang Li. Kau tak akan bisa membebaskannya tanpa mengetahui arti dari susunan pola sihir tersebut. Dan aku tak akan memberi tahumu meski kau memaksaku."
"Jika aku mati maka bola tersebut akan hancur bersama roh Huang Li, jika kau menghancurkan paksa bola tersebut maka hal yang sama akan menimpa roh Huang Li."
"Dengan kata lain, kau tak akan bisa menyelamatkannya tanpa mengetahui pola sihirnya dariku. Hahahaha," ucap Dian Zheng sambil tertawa jahat.
Ketika Dian Zheng selesai berbicara, pola sihir di bola kuning tersebut bersinar begitu terang lalu menghilang dari pandangan semua orang. Bersamaan dengan itu, roh Huang Li yang tersegel di dalam bola tersebut langsung terbang keluar dari bola dengan kecepatan tinggi menuju ke tubuh fisiknya.
"Mustahil!"
"Bagaimana caramu memahami pola sihir kuno!"
"Pola sihir tersebut telah lama menghilang, bahkan tak ada satupun Dewa Dewi yang memahami arti susunan pola sihir kuno milikku. Bagaimana caramu melakukan ini!"
"Meski dalam bimbingan ayahku, seharusnya kau tak bisa melakukan semua ini. Siapa yang mengajarimu sebenarnya?" ucap Dian Zheng dengan mata terbelalak.
"Dewa Kera Sun Wukong, dia mengajariku banyak hal. Termasuk teknik pelumpuh sihir dan tubuh yang telah melekat erat di perutmu," ucap Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
"Perut?" ketika Dian Zheng melihat bagian perut berlapis jirah emasnya, dia melihat dua pola sihir kuno yang telah aktif di bagian luar jirah tersebut.
"Sejak kapan kau ... ," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dian Zheng menyadari kejanggalan yang dia rasakan sejak Xiao Tian memukul tepat diperutnya. Dari sihir teleportasi yang tak bisa diaktifkan, hingga tubuh yang tak bisa dia gerakkan.
"Mengaktifkan pola sihir kuno bukanlah hal yang mudah, tapi kau bisa mengaktifkan dua buah pola sihir kuno tanpa mengorbankan apapun. Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, tadinya aku ingin pergi dan menyelamatkan diri. Tapi sepertinya sudah tak ada harapan lagi. Dari pada mati sendiri, lebih baik kita mati bersama," ucap Dian Zheng sambil tersenyum tipis.
Dian Zheng merapalkan sebuah mantra yang tak pernah Xiao Tian dengar, dia menggunakab bahasa kuno yang tak bisa dimengerti sembarang manusia. Ketika Dian Zheng merapalkan mantra tersebut, Dewa Petir langsung keluar dari cincin ruangnya dan berkata, "Tunggu putraku!"
"Apa yang kau lakukan!"
"Putraku?"
"Sudah lama kau tak memanggilku dengan sebutan itu. Kau bahkan mengabaikanku selama puluhan tahun lamanya, dan semua itu hanya karena aku memiliki hawa iblis yang bertentangan dengan alam Dewa.Kau membenciku sama seperti Dewa yang lainnya, semua kasih sayangmu itu hanyalah kepalsuan!"
"Karena kau dan ibu sama saja, kalian tak pernah ingin mengakuiku," ucap Dian Zheng dengan tampang kesal.
"Kami sangat menyayangimu, bagaimana mungkin kami tak ingin mengakuimu. Tolong tenangkan dirimu," ucap Dewa Petir sambil melayang mendekati Dian Zheng.
"Menjauhlah dariku!" teriak Dian Zheng.
Tepat ketika Dian Zheng berteriak, sebuah gelombang kekuatan yang cukup dahsyat mendorong mundur Dewa Petir dan Xiao Tian hingga beberapa langkah. Jika bukan karena aura emas di sekitar tubuhnya, Xiao Tian pasti sudah terpental jauh karena gelombang kekuatan itu.
Tak lama setelah itu sebuah petir hitam menyambar dari atas istana, menembus atap hingga mengenai tubuh Dian Zheng.
Setelah tersambar petir hitam, Mata Dian Zheng langsung menghitam tanpa menyisakan warna putih sedikitpun.
Kilatan petir hitam menyelimuti tubuhnya dan sebuah pedang hitam yang terbentuk dari kilatan petir muncul di tangan kanan dan kiri Dian Zheng. Kekuatannya melebihi batas dan terus meningkat hingga melewati lapisan puncak pendekar alam roh. Terus melonjak tinggi hingga mencapai puncak pemdekar alam beast.
"Rrrrrrrr," Dian Zheng menggeram layaknya hewan buas.
"Biarkan aku merasukimu, Dian Zheng sudah diluar kendali. Jika kau yang mengurusnya kau tak akan sanggup menahan serangannya! " ucap Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.
"Tenanglah, sihir kuno milikku tak sesederhana itu," ucap Xiao Tian dengan santai.
"Sihir penyegel di perutnya tak akan memudar meski kultivasinya terus meningkat, bahkan akan menjadi semakin kuat hingga menekan semua kemampuannya."
"Dalam hitungan lima detik dari sekarang, dia akan kehabisan seluruh energi qi miliknya."
"Lima, empat, tiga, dua satu." Tepat setelah Xiao Tian berhenti berhitung, Dian Zheng langsung kehilangan semua energi qi serta kultivasinya dalam sekejap mata."
Bersamaan dengan itu Dian Zheng langsung pingsan tak berdaya dengan warna mata yang kembali normal seperti sedia kala.
"Dian Zheng!"
"Kau tak apa?" ucap Dewa Petir sambil berlari mendekati Dian Zheng dengan wajah yang begitu panik.
Setelah memeriksa tubuhnya, dia langsung bernapas lega karena tahu putranya tak kehilangan nyawa meski telah mengaktifkN sihir terlarang yang bisa mengorbankan nyawanya.
"Terimakasih, jika bukan karenamu. Dian Zheng mungkin akan tiada lagi,"
"Terima kasih, Xiao Tian," ucap Dewa Petir sambil meneteskan air mata.
#Ingatan Dewa Petir
"Putraku, kenapa tubuhmu penuh luka?" tanya Dewa Petir sambil menepuk kedua pundang Dian Zheng.
"Teman teman memukuliku hanya karena aku memaksa untuk ikut bermain dengan mereka, mereka bilang aku adalah anak iblis yang tak pantas bermain dengan para Dewa.
"Mereka juga bilang kalau aku bukan anak kandung dari ayah dan ibu. Apakah itu semua benar, Ayah?" ucap Dian Zheng dengan mata berkaca kaca.
"Dian Zheng putraku, kau adalah anak kandung ayah dan ibu. Itu tak akan berubah, sejak dulu hingga sekarang. Semua yang kau dengar hanyalah omong kosong, siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Dewa Petir sambil mengelus kepala Dian Zheng.
"Semua orang termasuk Ning er," ucap Dian Zheng sambil mencoba menghapus air mata.
"Pergilah ke ibumu, biar ayah yang memberi pelajaran kepada teman temanmu!" ucap Dewa Petir sambil marah besar.
Setiap pulang sekolah Dian Zheng selalu dipenuhi oleh luka, tapi selalu berkata kalau dia terjatuh saat bermain atau alasan lainnya. Tak pernah bilang kalau dia selalu dipukuli oleh temannya setiap kali mencoba mendekat atau bermain bersama.
Dian Zheng tak bisa menahan diri lagi untuk menceritakan kemalangannya, setelah teman temannya menyinggung tentang anak iblis dan statusnya sebagai anak tiri Dewa Petir.
Tak hanya satu Dewa Dewi yang meragukan status Dian Zheng, bahkan Kaisar langitpun meragukan statusnya.
Karena itu, Dian Zheng kesulitan mencari teman bermain dan sering mendapatkan kecaman dari para Dewa Dewi setiap ingin mencoba mendekati putra putri mereka.
Demi menghormati Dewa Petir para Dewa Dewi berhenti menggunjing setiap kali Dewa dan Dewi petir menghadap mereka.
Oleh karena itu Dewa dan Dewi petir tak pernah tahu kalau putra mereka selalu dihindari oleh seluruh orang setiap kali berada di kelas para Dewa.
Demi mendapatkan pengakuan semua orang, Dian Zheng sering mencoba membantu teman temannya saat sedang kesulitan. Tapi yang dia terima hanyalah hinaan dan sebuah tamparan di pipi. Sejak mendengar pengakuan putranya, Dewa Petir langsung pergi melabrak putra Dewa Dewi dan mengancam akan menghajar mereka jika berani mengganggu Dian Zheng lagi.
Karena tak terima anak mereka dimarahi, para Dewa Dewi ikut campur dan memojokkan Dewa Petir dengan mengungkit hawa iblis yang keluar dari tubuh Dian Zheng.
Setelah mendengar sikap asli para Dewa Dewi, Dewa Petir kecewa bukan main dan langsung menghadap Kaisar Langit untuk meminta keadilan. Akan tetapi suaranya tak di dengar karena Kaisar Langit juga meragukan status Dian Zheng.
Tepat ketika dia masih memohon keadilan kepada Kaisar Langit, seorang prajurit surga berlari sambil membawa kabar bahwa Dian Zheng mengamuk di sekolah para Dewa. Dia melukai seluruh murid beserta Dewa Dewi yang mencoba menghentikannya.
#####
Saat Dewa Petir memeluk tubuhnya, Dian Zheng kembali tersadar.
Sambil memeluk putranya, dia pun berkata,
"Putraku apa yang terjadi padamu?"
"Kenapa kau bisa diluar kendali?"
"Dan bukankah ayah sudah melarangmu pergi ke sekolah?" tanya Dewa Petir.
"Ibu yang mengantarku kemari, hari ini adalah hari penting untuk membangkitkaj aura Dewa. Dan aku telah berhasil membangkitkan aura tersebut,"
"Ibu datang bersamaku untuk melihat ritualnya, jadi aku merasa tak akan apa apa. Aku tak tahu kalau kejadiannya malah akan seperti ini," jawab Dian Zheng sambil menundukkan kepalanya.
"Jika ibumu disini, lalu dimana dia sekarang?"
tanya Dewa Petir sambil memegang pundak Dian Zheng.
"Aku tak mengingat apapun ketika aku mengamuk, yang kuingat terakhir kali adalah hinaan yang dilontarkan Dewa Dewi. Mereka bilang aku merupakan putra ibu dan bangsa iblis. Ayah bukanlah ayah kandungku, dan ibuku adalah makhluk kotor yang telah bersekutu dengan iblis. Karena tak terima ibuku dipojokkan, aku jadi diluar kendali. Kekuatan yang begitu besar tiba tiba saja menguasaiku dan membuatku lupa akan segalanya. Satu hal yang ada dipikiranku saat itu adalah menghabisi semua orang," ucap Dian Zheng sambil menatap ke bawah.
###
Istana Langit
"Aku membiarkan Dian Zheng di alam para Dewa karena menghormatimu, tapi setelah kejadian hari ini dia tak punya tempat lagi di dalam istana Langit."
"Demi keselamatan seluruh penghuni langit, dengan ini aku menyatakan. Bahwa Dian Zheng sang putra petir akan dihukum di gua kesunyian yang berada di alam manusia selama ratusan tahun tanpa boleh makan dan minum. Aku akan menganugrahkan umur panjang padanya agar bisa menjalankan siksaan tanpa takut akan kematian," ucap Kaisar Langit sambil membuat segel kuno di tubuh Dian Zheng agar dia tak bisa mengeluarkan hawa iblis serta kekuatan qi nya lagi.
Keputusan Kaisar Langit tak bisa dibantah dan hanya bisa dijalankan. Meski Dewa dan Dewi petir memohon untuk meringankan hukumannya karena Dian Zheng masih anak anak, Kaisar Langit tak kunjung luluh tanpa memikirkan perasaan Dewa dan Dewi petir.
"Melukai ibunya sendiri, melukai seisi kelas serta guru yang mencoba menghentikannya. Dian Zheng tak bisa dianggap sebagai seorang bocah biasa, dia terlalu berbahaya dan tak bisa tinggal disini. Pergilah dan buatlah anak lagi, lupakan saja putra kalian yang sulit dikendalikan ini," ucap Kaisar Langit sambil menatap Dewa Petir.
Selama berhari hari Dewa Petir memohon tapi tak kunjung dapat belas kasihan, karena sudah muak dengan semuanya Dewa dan Dewi Petir menyiapkan jurus untuk mengancam Kaisar Langit.
"Putraku telah cukup menderita, kenapa kau memberinya hukuman yang begitu berat," ucap Dewi petir.
"Ini semua kulakukan demi kebaikan semua orang, kalau kalian tak terima temani saja putra kalian di dalam gua kesunyian," jawab Kaisar Langit.
"Teganya kau melakukan ini, Kaisar Langit!" bentak Dewa Petir sambil mengeluarkan jurusnya.
Tepat ketika Kaisar Langit ingin menundukkan Dewa Petir, Wukong datang mengacaukan istana Langit.
Dia muncul dan berkata, "Dewi Quan Im mengutusku untuk meluruskanmu lagi, Kaisar Langit. Apakah benar kau menghukum seorang bocah dengan berlebihan hanya karena dia memiliki hawa iblis?"
"Kau cukup menyegel kekuatanya, tak perlu mengurungnya hingga ratusan tahun. Apakah kau tak punya hati nurani?" ucap Wukong sambil memancarkan hawa membunuh.
Karena tak ingin berurusan dengan Wukong, Kaisar Langit mengijinkan Dewa dan Dewi petir mengunjungi gua kesunyian sambil membawa makanan dengan catatan tak boleh diketahui orang lain.
Setelah mendengar keputusan Kaisar Langit, Dewa Petir menghentikan jurusnya dan langsung memberi hormat kepada Wukong.
Itu merupakan pertemuan pertama Dewa Petir dengan Wukong yang membuat mereka menjadi akrab hingga sekarang.
Wukong mengawal Dewa dan Dewi petir ke gua kesunyian, lalu berjaga di luar agar tak ada yang mengetahui kedatangan mereka.
Sayangnya mereka datang terlambat. Karena saat mereka sampai, kepala Dian Zheng telah terputus dari lehernya. Dan tak mengeluarkan hawa kehidupan sedikitpun.
Setelah memakamkan putra mereka di gua kesunyian, Dewa dan Dewi petir pergi ke istana Langit demi mengecek buku takdir, anehnya tak ada nama Dian Zheng di dalam buku tersebut.
Tak hanya buku takdir, dalam catatan dewa kematian, bahkan buku penghuni surga dan neraka pun tak tertulis nama Dian Zheng.
Hal tersebut terjadi jika roh Dian Zheng telah dihancurkan atau ditelan oleh seseorang, setelah mengetahui itu Dewi petir menjadi begitu frustasi hingga nekad menghapus emosi serta semua ingatannya agar tak merasa sedih lagi.
.