Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 426 : Keluar dari portal ruang hampa


Setelah menghabisi Kaisar iblis Hei An, Xiao Tian telah memiliki dua api tingkat tinggi dilengannya.


"Api hitam dan putih benar benar berada di bawah kendaliku, ini benar benar luar biasa. Meracik pil penyambung nyawa dan segala jenis pil tingkat sembilan bukanlah sebuah mimpi lagi sekarang," pikir Xiao Tian sambil menatap kedua kobaran api yang muncul di atas telapak tangannya.


"Bicara soal api, aku jadi teringat dengan api emas. Mumpung Dewa kera masih disini lebih baik aku menanyakan padanya," pikir Xiao Tian sambil melesat maju mendekati Wu Kong.


Ketika baru sampai dihadapan Wu Kong, Xiao Tian tak sempat mengatakan apapun karena Dewa kera Sun Wu Kong mendahului ucapannya dengan berkata, "Aku tahu tentang apa yang ingin kau tanyakan itu, tapi aku tak akan menjawabnya sekarang. Karena untuk mendengar informasi tentang api emas kau harus menjadi seorang Dewa terlebih dulu,"


"Ah, begitu ya," Xiao Tian memasang tampang kecewa karena gagal mendapat apa yang ia inginkan.


"Jangan murung, tidurlah beberapa menit untuk memulihkan staminamu," ucap Wu Kong sambil menghela napas.


"Saat ini aku tidak terluka, jadi aku tak memerlukan tidur. Kau kan tahu kalau seorang pendekar alam immortal tak memerlukan tidur jika tidak sedang terluka," sambung Xiao Tian sambil menghela napas.


"Kalau begitu bukalah portalnya, kita harus keluar sekarang," ucap Wu Kong sambil menatap mata Xiao Tian.


"Untuk apa?"


"Bukankah lebih baik kalau kita manfaatkan staminaku saat ini untuk berlatih?" tanya Xiao Tian dengan heran.


Mendengar jawaban Xiao Tian, Wu Kong hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berkata, "Pertama kau harus mandi, dan kedua kau harus mengganti pakaian yang telah rusak itu,"


"Aku tak bisa fokus melatih seseorang yang belum membersihkan diri,"


"Ah," Xiao Tian menyadari bahwa pakaian serta tubuhnya memang agak bau, dan terdapat noda darah serta banyak sobekan di pakaian tersebut. Tanpa menanyakan berbagai hal lagi, Xiao Tian pun membuka portal ruang hampa dengan berkata, "Open Port!"


Sebuah portal yang menghubungkan ruang hampa dan alam nyata kembali terbuka. Wu Kong mendahului Xiao Tian dengan melompat keluar portal lebih dulu. Sedangkan Xiao Tian melompat mengikutinya dan langsung menutup portal tersebut ketika sudah menyentuh lantai ruangan.


"Kita sudah kembali di luar kamarmu sekarang. Pergilah mandi dan jangan cari aku hingga pagi hari," ucap Wu Kong sambil menatap kesal.


"Baiklah,"


"Kalau begitu, aku mandi dulu. Heheh," ucap Xiao Tian sambil tersenyum malu.


"Aku heran kenapa wanita itu bisa tahan dengan bau badannya. Padahal kan dia belum mandi sendirian," gumam Wu Kong dengan tampang kesal.


Setelah Xiao Tian pergi meninggalkannya, Wu Kong pun menghilang pergi dengan menggunakan teknik teleportasi.


#####


Tap tap tap


Xiao Tian berjalan tanpa arah kesana kemari untuk mencari letak kamar mandi. Dia kebingungan karena sebelumnya tak pernah mandi di tempat tersebut.


Xiao Tian terus berjalan tanpa arah, hingga berpapasan dengan Patriach Bai yang sedang berkeliling gedung.


Melihat Xiao Tian berjalan menghampirinya, Patriach Bai pun langsung menundukkan kepala sambil memberi hormat.


"Selamat malam tuan Xiao Tian," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.


"Ah, selamat malam juga patriach Bai," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.


"Kenapa anda berkeliaran di tengah malam?"


"Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Patriach Bai dengan tampang heran.


"Ah, sebenarnya saya mencari kamar mandi. Bisakah anda antarkan aku kesana?" tanya Xiao Tian sambil tersenyum.


"Oh, kamar mandi. Itu ada di sebelah kiri," ucap Patriach Bai sambil menunjuk ke arah kamar mandi.


Xiao Tian menoleh ke arah yang ditunjuk dan berkata, "Oh ... , ternyata disana,"


"Terima kasih atas bantuannya, patriach Bai," sambung Xiao Tian sambil memberi hormat.


"Sama sama tuan," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.


"Ya sudah, aku pergi mandi dulu ya," ucap Xiao Tian sambil bejalan meninggalkan Patriach Bai.


"Mandi di tengah malam tidak baikloh, lebih baik mandinya besok pagi saja," ucap Patriach Bai sambil menatap punggung Xiao Tian.


"Aku tak bisa tidur dikamar dengan bau badanku saat ini. Jadi aku pinjam kamar mandinya ya," ucap Xiao Tian sambil melanjutkan langkahnya.


"Oh ya sudahlah, lagi pula anda memiliki tubuh yang kuat," ucap patriach Bai sambil menghela napas.


"Eh ... ," ucap patriach Bai yang baru mengingat sesuatu.


#Kamar mandi gedung pusat sekte badai berduri


"Kya!" Liang Su dan Huanran berteriak ketika Xiao Tian melompat masuk ke dalam kolam.


"Ah, maaf!" Xiao Tian keluar dari ruangan pemandian dengan wajah yang memerah karena tak sengaja melihat hal yang tak boleh dia lihat.


Ketika terdengar suara teriakan Liang Su dan Huanran, patriach Bai langsung berlari kencang menuju sumber suara.


Dan tepat di luar kamar mandi, dia melihat Xiao Tian keluar dengan napas terengah engah.


"Mati aku, sepertinya aku terlambat!" pikir patriach Bai sambil menatap wajah Xiao Tian yang memerah.


"Kenapa kau tak bilang kalau ada orang yang memakai kamar mandinya!" bentak Xiao Tian dengan kesal.


"Ah maaf, aku lupa,"


"Heheheh," ucap Patriach Bai sambil tersenyum bodoh.


"Aku pergi dulu," ucap Xiao Tian sambil mengaktifkan teleportasi.


"Kemana?" belum sempat mendapat jawaban, Xiao Tian malah menghilang dari pandangannya.


Karena di dalam kamar mandi ada orang, Xiao Tian memutuskan untuk menumpang mandi di gedung Xianlun namun kejadian yang sama terulang kembali. Ternyata di kamar mandi tersebut ada Xianlun dan muridnya sedang mandi bersama.


"Kya!" teriak mereka sambil menatap wajah Xiao Tian.


"Ma ... maaf!"


"Aku tak tahu kalau kalian sedang mandi!" teriak Xiao Tian sambil bergegas keluar ruangan.


Ketika Xiao Tian keluar para murid Xianlun pun berkata, "Bagaimana bisa dia masuk kesini?"


"Bukankah guru sudah mengaktifkan arraynya?"


"Array hanya memblokir orang melangkah masuk dari luar, karena dia memakai teknik teleportasi jadi hal ini terjadi," jelas penatua Xianlun sambil menghela napas.


"Bagaimana bisa dia menandai tempat ini?"


"Bukankah guru pernah bilang bahwa tak ada pria yang pernah memasuki pemandian di gedung kita?" tanya para murid.


Xianlun dibuat bingung akan hal tersebut, semua karena dia tak mengingat kejadian saat Xiao Tian menyusup menjadi muridnya dulu. Ingatannya menghilang dan diganti yang baru karena efek relik Tian Zhong.


Meski begitu, dia sangat ingat jelas wajah dan pakaian Xiao Tian tadi. Dan bersumpah akan menghampirinya esok hari.


#Diluar pemandian Xianlun


"Sial, kenapa banyak wanita mandi di tengah malam sih," gumam Xiao Tian sambil menepuk dahinya.


Karena belum menandai gedung lain sebagai titik teleportasi, Xiao Tian pun terpaksa kembali ke gedung pusat.


"Selamat malam kembali, tuan Xiao Tian," Tian Bai menyambut kedatangan Xiao Tian di tempat yang sama sebelum dia menghilang.


"Kau masih disini?" tanya Xiao Tian dengan heran.


"Aku diminta oleh mereka untuk berjaga diluar, makanya aku tetap disini," jawab Patriach Bai sambil tersenyum.


"Ah, kira kira kapan mereka akan selesai mandi ya?" tanya Xiao Tian sambil menatap patriach Bai.


"Aku juga tak tahu tuan," jawab patriach Bai sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau pergilah, biar aku yang berjaga disini," ucap Xiao Tian sambil melambaikan tangannya.


"Tapi aku sedang disuruh mereka. Kalau aku pergi maka ... ," belum swmpat patriach Bai menyelesaikan kalimatnya, Xiao Tian memotong ucapan dengan berkata, "Pergilah, biar aku yang menanggungnya,"


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.


"Ehm," angguk Xiao Tian.


Sambil menunggu Liang Su dan Huanran keluar dari kamar mandi, Xiao Tian memanfaatkanya untuk lanjut berkultivasi.