
Dewa petir nampak melamun bersamaan dengan ketiga naga suci dalam eujud manusia mereka. Sementara Su Yan hanya bisa mengeluhkan ketidak berdayaannya.
"Bisakah kalian berhenti merenung?"
"Kalau begini terus kita hanya akan mati disini!" Evil Su Yan berteriak kesal. Dia tak seperti yang lain karena tak memiliki hati yang lembut serta keterikatan dengan Xiao Tian. Bagaimanapun juga semua itu terjadi karena Evil Su Yan merupakan sosok yang tercipta dari sisi jahat Su Yan. Wajar baginya untuk tak bersimpati. Alih alih menghawatirkan Xiao Tian seperti yang lainnya, dia malah khawatir dengan rencana untuk mengembalikan vitalitas hidupnya.
"Tolong sabarlah sedikit, kami tak hanya merenung namun mencoba untuk mencari solusi dalam renungan kami," Dewa petir terdengar kesal dengan tubuh anak anaknya.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang bocah sepertimu ha!?" tanya Evil Su Yan kesal.
"Nak, asal kau tahu saja ya. Bocah kecil ini bisa membuat anak dengan ibumu!" Dewa Petir terdengar kesal. Dia meraih pakaian Evil Su Yan sembari mengepalkan tangan kanannya seakan hendak ingin memukul.
"Ho ... , sayangnya sekarang aku sudah tak punya ibu loh," jawab Evil Su Yan remeh. Tak ada ketakutan dalam wajahnya karena meski dia seorang mantan Dewa, kini baik Dewa petir maupun ketiga naga suci benar benar kehilangan kultivasi hingga layak disebut sebagai orang biasa.
"Oi, White Dragon!"
"Apa kau sudah punya solusi!?"
"Kita tak mungkin pulang dengan kondisi sekarang kan?"
"Bagaimanapun juga kerajaan petir masih jauh ke arah selatan!"
"Sementara sayap sayap kalian hanya bisa bertahan beberapa menit saja," Dewa petir menoleh ke arah White Dragon yang nampak termenung.
"Mau bagaimana lagi, kita hanya bisa tidur di alam bebas untuk sementara," sambung White Dragon dengan frustrasi.
"Cih, dari semua orang kenapa hanya aku yang tak bisa mempertahankan sayapku dalam waktu lama!" gumam Sunlong dengan tubuh manusia berambut dan bermata merah. Wajahnya berubah mengikuti penurunan kultivasinya, tak seperti kedua naga suci yang lain yang nampak masih memiliki kharisma naga mereka. Jika dibandingkan dengan ketampanan White Dragon yang berambut perak dan berwajah ramah, maka Sunlong terlihat seram dengan wajah garang dan mata merahnya.
"Dari semua hal yang terjadi, kau masih saja mengeluhkan hal konyol itu!"
"Setidaknya kau harus bersyukur karena masih memiliki tubuh nagamu!" sambung Black Dragon dengan kesal. Wajahnya semenarik biasanya. Rambut hitam yang panjang, serta mata indah berwarna emas membuat daya tariknya tak kalah dari seorang Dewi.
"Berhenti memandangku dengan wajah penggodamu itu sialan!" Sunlong memalingkan wajah dan mencoba menjaga jarak dari Black Dragon yang saat itu duduk di atas batu besar dimana dia dan White dragon duduk. Dengan Black Dragon yang duduk ditengah tengah mereka.
Sunlong terdengar kesal karena masih tak nyaman dengan perasaan aneh yang menyerang hatinya tiap kali menatap fisik manusia Black Dragon.
"Benar kata Black Dragon, meski kita tak memiliki kultivasi. Tubuh manusia kita memiliki garis keturunan naga. Kau harusnya bersyukur karena tubuhmu tak kembali ke tubuh manusia rendahan itu," White Dragon mengingatkan soal tubuh seorang penatua sekte Ning yang pernah Sunlong kendalikan.
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Tanpa Xiao Tian dan tanpa kultivasi kita, bisakah kita bertahan hidup di tanah tanpa makanan ini?" Black Dragon berkata demikian karena tahu betul bahwa tanah lapang yang menghubungkan antara kerajaan Petir dan kerajaan Api merupakan tanah gersang yang tak diisi oleh pepohonan sekalipun. Air dan hewan liar pun tak mungkin mereka temukan ditempat itu.
"Kita juga tak mungkin berjalan kaki menuju kerajaan petir," Sunlong menanggapi.
"Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?" tanya Dewa petir sembari menoleh ke arah Sunlong yang nampak duduk di atas batu seorang diri, menjauh dari kedua naga suci yang nampak duduk bersama.
"Hey bocah, lepaskan dulu pakaianku sebelum membahas hal lain," Evil Su Yan memotong kesal.
"Cih!"
"Berhenti memanggilku bocah sialan!" Dewa petir mencoba memukul Evil Su Yan, namun kepalanya ditahan sembari didorong mundur oleh targetnya hingga tangan kecilnya tak dapat meraih apapun lagi.
Ketika Evil Su Yan terus menghoda Dewa petir, Su Yan yang duduk di atas batu kecil yang berada di sebelah kanan tempat duduk White Dragon dan Black Dragon, mengangkat suaranya dengan pelan, "A ... aku tahu kalau rencanaku sedikit gila. Tapi ... bukankah lebih baik kalau kita menuju ke kerajaan Api saja?"
"Setidaknya disana kita bisa mencari pekerjaan dan makanan sekaligus mencari informasi. Kita hanya perlu bersikap seperti warga biasa dan berusaha untuk tak menarik perhatian."
"Itu ... ," Evil Su Yan dan Dewa petir menatap ke arah Su Yan yang baru saja mengucapkan kata kata brilian. Namun Sunlong yang sedikit tak suka dengan ide tersebut segera menyela dengan berkata, "Tak menarik perhatian dengan wajah seperti mereka!?" Sunlong bermaksud menyinggung wajah White Dragon dan Black Dragon yang terlalu menyilaukan.
"Se ... sepertinya begitu ... ," ucap Evil Su Yan dan Dewa Petir yang menyetujui pemikiran Sunlong.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Su Yan bingung.
"Tutupi saja dengan topeng topeng ini, aku menemukannya dari cincin ruang Xiao Tian yang terjatuh," sambung Sunlong sembari mengeluarkan topeng putih yang pernah Xiao Tian buat dimasa lalu. Dia juga mengeluarkan lima buah jubah hitam yang nampaknya berguna untuk menyamarkan diri.
"Kenapa hanya ada lima?" tanya Dewa petir penasaran.
"Aku tak perlu memakainya, lagi pula tak akan mencurigai diriku," jawab Sunlong dengan wajah garangnya.
"Justrul kau yang akan membuat orang orang curiga!" Evil Su Yan dan Dewa petir berteriak kesal.
Setelah bertukar pendapat, akhirnya hanya Dewa petir yang tak memakai topeng putih serta jubah hitam. Karena semua sepakat bahwa, tak akan ada yang curiga terhadap anak kecil.
Sementara itu di alam kematian, Xiao Tian diminta menunggu di sebuah kamar kosong yang berlapiskan tengkorak berbagai makhluk. Aura kematian terasa jelas di kamar tersebut. Namun Xiao Tian dengan roh sucinya tak terpengaruh sama sekali.
"Sampai kapan aku harus menunggu mereka?"
"Setelah berbaris menyamping aku malah ditempatkan sendiri disini, sebenarnya aku harus apa sih?" gumam Xiao Tian sembari duduk bersila di bawah rumpulan tulang berbagai jenis makhluk hidup yang dijadikan lantai ruangan.
"Baik dinding, lantai maupun atap, semuanya terdiri dari tulang makhluk makhluk mati, aku jadi teringat kejadian dimasa lalu. Hanya saja tulang tulang ini bukanlah tulang manusia seperti waktu itu," gumam Xiao Tian sembari mengamati ruangan dimana dia menunggu.