Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 232 : Dibawa kabur


"Terimakasih karena telah membantuku selama ini. Terimakasih juga karena telah merawat tubuh guruku dan mencari cara untuk membangkitkannya kembali."


"Meski belum berhasil, aku tetap ingin berterimakasih," ucap Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.


Kaisar Langit yang saat itu berada di samping kanan Dewa Petir langsung menoleh ke arah Xiao Tian dan berkata, "Kenapa tiba tiba saja kau berterimakasih?"


"Kami bahkan belum mengembalikanmu ke alam nyata."


"Aku bahkan belum membuka kedua Dantianmu yang telah ditotok oleh Dewa Petir."


"Sebenarnya aku ada permintaan lain, aku ingin ... ," belum sempat Xiao Tian menyelesaikan ucapannya, Kaisar Langit memotong pembicaraan dengan berkata,


"Cukup, aku mengerti. Urusan menyembuhkan Taiwu bukanlah hal yang mudah. Roh beladirinya telah terluka parah, Satu satunya cara menyembuhkannya yaitu membuatnya menelan intisari bunga kristal es yang dicampur dengan intisari kristal duri naga."


"Sedangkan kedua bahan itu tak mudah didapatkan, kau perlu ... ," belum sempat Kaisar Langit menyelesaikan ucapannya, tiba tiba saja Wukong muncul di belakang punggung Xiao Tian sambil membawa dua buah bahan langka yang sedang dibahas.


"Maksudmu benda ini?" tanya Wukong sambil menatap Kaisar Langit.


"Ruangan ini tersegel rapat loh, tak ada cara masuk lain selain melewati pintu. Kenapa kau bisa tiba tiba ada di dalam ruangan ini?" tanya Kaisar Langit sambil menatap Wukong.


"Terkejut ya, jawabannya cukup sederhana. Aku telah menandai punggung bocah ini sehingga bisa mengunjunginya semauku. Dimanapun dia berada, aku bisa muncul di sekitar tubuhnya hanya dengan sekali jentikan jari," jelas Wukong sambil tersenyum tipis.


"Ngomong ngomong bagaimana dengan tugasmu di lembah kristal es?" tanya Kaisar Langit sambil menatap Wukong.


"Dewi Quan Im menyuruhku meninggalkan lembah demi melindungi roh legendaris dari para Dewa. Jadi aku akan ikut bersamanya," jelas Wukong sambil menatap Kaisar Langit.


"Yang benar saja, Dewi Quan Im tak mungkin melanggar aturan langit. Para Dewa Seharusnya tak boleh turun tangan secara langsung terhadap urusan manusia," ucap Kaisar Langit dengan tampang kesalnya.


"Aturan langit katamu?"


"Bukankah kau yang membuat aturan itu?"


"Dan kau pula yang melanggarnya pertama kali?" tanya Wukong sambil menatap Kaisar Langit.


"Kapan aku melanggar aturan langit?" tanya Kaisar langit dengan penuh percaya diri.


"Apa kau melupakan kejadian hancurnya kerajaan es?"


"Dalam buku takdir seharusnya kerajaan tersebut dihancurkan oleh Xiao Tian. Tapi kau menurunkan Dewi Petir ke alam manusia sehingga mengubah takdir yang telah digariskan."


"Seharusnya Dewa hanya boleh berurusan dengan iblis dan bangsa selain manusia. Tapi berkat pelanggaranmu itu, para dewa kematian di dunia bawah kewalahan mengurus roh roh yang seharusnya belum boleh mati," jelas Wukong sambil menatap Kaisar Langit.


"Itu ... ," Kaisar Langit kehabisan kata kata karena ucapan Wukong memanglah benar.


"Sepertinya kau telah mengerti, kalau begitu aku pinjam Xiao Tian dulu ya. Sampai jumpa," ucap Wukong sambil menepuk pundak Xiao Tian. Belum sempat Dewa Petir dan Kaisar Langit bereaksi, Wukong telah menghilang dari pandangan mereka dan membawa Xiao Tian pergi menggunakan teleportasi.


"Kera sialan!"


"Dia selalu bertindak sesukanya!" ucap Kaisar Langit dengan kesal.


"Bagaimana ini?"


"Bukankah tugas untuk melindungi Xiao Tian adalah tugasku?"


"Kenapa sekarang Wukong mulai ikut campur?" ucap Dewa Petir sambil menepuk dahinya.


"Kita harus menanyakan kejelasannya kepada Dewi Quan Im," ucap Kaisar Langit dengan tatapan serius. Mereka berdua saling bertatapan dan menganggukkan kepala sebagai pertanda kalau mereka telah sepakat.


######


Wukong berteleportasi ke sebuah dimensi kosong yang hampir mirip dengan ruang hampa, hanya saja tempat itu berlantai awan lembut dan dihiasi oleh langit malam bertabur bintang.


"Dimana ini?"


"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Xiao Tian sambil menatap WuKong.


"Aku dan teman temanku?"


"Tapi aku tak melihat mereka dimanapun?"


"Jika kau ingin melatih mereka juga, kenapa mereka tak ada disini?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Mereka juga ada di dimensi ini, hanya saja jaraknya agak jauh dan kau tak mungkin bisa menemukan mereka karena aku membatasi ruang latihan kalian agar bisa fokus berlatih."


"Sebelum memulai latihanmu, keluarkanlah Taiwu dan Jingmi dari ruang hampa agar mereka tak mati kelaparan disana," sambung Wukong sambil menatap Xiao Tian.


"Benar juga, hampir saja aku melupakan mereka," ucap Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.


Setelah mendengar ucapan terakhir Dewa Kera Sun Wukong, Xiao Tian langsung membuka portal ruang hampa tepat dihadapannya.


Tak perlu waktu lama, Jingmi langsung keluar dari dalam ruang hampa dengan wajah yang dibasahi oleh air mata. Hal pertama yang dia lakukan saat kwluar dari portal ruang hampa yaitu berlari menuju ke pelukan Xiao Tian.


Sambil berlari dengan penuh air mata di wajahnya, dia pun berkata, "Ayah Xiao Tian ... !"


"Huaaaa!"


Melihat Jingmi menangos dipelukannya, Xiao Tian mengelus kepalanya sambil mencoba menghiburnya.


"Hei berhenti menangis, gadis kecil ayah tak boleh cengeng. Maaf karena telah mengurungmu di ruang hampa begitu lama," ucap Xiao Tian sambil mengelus kepala Jingmi.


"Benar benar mirip ayah dan anak, kalau dilihat sekilas dia benar benar mirip dengan anak seusianya. Kalau pangeran tak menjelaskan asal usul Jingmi kepadaku, mungkin aku juga akan menganggapnya sebagai anak kecil," pikir Taiwu sambil melangkah keluar dari dalam portal ruang hampa. Sambil melangkah mendekat, dia didampingi oleh naga hitam yang duduk di atas pundak kirinya dan naga biru yang duduk diatas pundak kanannya. Kedua naga itu menggunakan mode mini karena ingin menghemat energi.


Tepat ketika Taiwu telah melangkah keluar, portal ruang hampa langsung tertutup dan Menghilang dari pandangan semua orang.


Bersamaan dengan hilangnya portal tersebut, Taiwu mulai menyadari kehadiran Dewa Kera Sun Wukong ketika melihat ke sebelah kanan Xiao Tian. Tubuhnya gemetar tak karuan sejak merasakan kekuatan Dahsyat yang terpancar dari tubuh Wukong.


"Si ... siapa kau?"


"Perkenalkan, namaku Dewa Kera Sun Wukong."


"Selamat datang di dimensi kekosongan."


"Dimensi khusus yang terbuat dari relik para Dewa," jelas Wukong sambil menatap Taiwu.


"Jangan khawatir. Meski tampangnya terlihat seperti seekor iblis kera, dia tak termasuk dalam ras iblis. Dewa Kera berasal dari ras siluman, dan kini dia telah menjadi seorang Dewa. Dia berada disini untuk membantu kita, jadi tenangkan dirimu, Taiwu."


Taiwu menarik napasnya begitu dalam lalu berkata, "Membantu kita?"


"Ya, Dewa Kera akan membantu kita memyembuhkan luka dalammu," sambung Xiao Tian sambil menatap Taiwu.


"Bukankah aku memang tak bisa disembuhkan?" tanya Taiwu sambil menatap Xiao Tian.


"Bahan untuk menyembuhkanmu memang terlalu langka dan sulit dicari, tapi bukan berarti bahwa kau tak mungkin untuk disembuhkan. Dan hari ini merupakan saatnya untukmu kembali bersinar, karena Dewa Kera memiliki bahan bahan itu dan bersedia untuk mengobati luka dalammu," jelas Xiao Tian sambil menatap Taiwu.


"Pangeran kau ... ,"


"Sejak kapan kau melebihi tingkat dewa petarung lapisan puncak?"


"Kau benar benar sudah melampaui raja dan ratu," ucap Taiwu sambil menatap Xiao Tian.


"Apakah ini ada hubungannya dengan ... ," Taiwu berhenti berbicara setelah melirik ke arah Wukong.


"Tidak, ini tak ada hubungannya dengan Dewa Kera. Ada Dewa laij yang telah membimbingku hingga menjadi seperti sekarang. Namun kultivasiku saat ini belum stabil, jadi aku perlu berlatih untukemguatkan pondasi sebeluk mencoba naik ke tingkat berikutnya," jelas Xiao Tian sambil menatap Taiwu.


"Begitu ya," Jawab Taiwu sambil menundukkan kepala, dia merasa gagal sebagai sorang pengawal.


"Kenapa kau terlihat sedih?"


"Sudahlah jangan dipikirkan, jarak kekuatan kita mungkin memang sedikit jauh. Tapi asalkan roh beladirimu telah kembali pulih. Kau mungkin akan berhasil mengejarku, jadi jangan putus asa ya," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.