Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 248 : Bersiap menyerang


Huang Li telah kembali ke hadapan semua orang, senyum manis yang selama ini hilang cukup lama kini telah kembali menghiasi alam nyata.


"Kenapa kau bisa berada disini?"


"Apakah kau pergi tanpa meminta ijin kepada ayahmu?" tanya Xiao Tian sambil menyipitkan mata.


"Begitukah caramu menyambut kedatanganku?" tanya Huang Li sambil menatap Xiao Tian.


"Bukan maksudku bersikap kasar padamu, hanya saja kau seharusnya istirahat di kerajaan ketika kami pergi. Tolong mengertilah," ucap Xiao Tian dengan tatapan serius.


"Tapi aku merindukan kalian semua," ucap Huang Li sambil menatap Xiao Tian.


Aku tak peduli kau mau berkata apa. Sebelum aku berubah pikiran hingga menyeretmu kembali ke kediamanmu. Pergilah dari tempat ini sekarang juga!" bentak Xiao Tian sambil memasang tampang kesal.


"Kau jahat!" Huang Li langsung berbalik arah lalu berlari menuju gerbang istana dengan wajah yang berlinang air mata.


"Maafkan aku Huang Li, aku tak ingin kau tahu mengenai musuh baruku saat ini. Jika kau ikut campur dengan kondisimu yang saat ini, kau hanya akan menjadi beban semua orang karena kultivasimu masih tertinggal begitu jauh," pikir Xiao Tian sambil menatap punggung Huang Li.


Ketika Huang Li berhenti berlari untuk menengok ke belakang, dia melihat Xiao Tian dan yang lainnya memalingkan wajah ke arah lain karena paham akan apa maksud Xiao Tian membentak Huang Li.


"Lily ... ," tanya Xiao Tian sambil menatap putri Jia Li.


"Kenapa?" tanya putri Jia Li.


"Katakan padaku yang sebenarnya,"


"Apa ucapanku tadi sudah terlalu kasar?" tanya Xiao Tian sambil menatap putri Jia Li.


"Jika aku jadi Huang Li mungkin aku akan menganggapmu sebagai orang lain, dan merasa seperti orang asing di antara semua teman teman. Bukan karena ucapan kasarmu saja, diamnya semua orang hingga memalingkan wajah ketika dia menatap kearah kami. Sudah cukup membuat Huang Li merasa asing dengan kita semua, dia juga akan merasa tak pantas lagi bergaul dengan kita setelah menyadari bahwa kultivasi kita telah melonjak tajam hingga jauh meninggalkan kultivasinya," jelas Putri Jia Li dengan tatapan serius.


"Sudahlah berhenti membahas semua yang telah terjadi, setidaknya Huang Li tak akan pernah menghadapi bahaya lagi karena menjauhi kita semua. Benarkan mas Endut?" tanya Huanran sambil memeluk si Gendut dengan erat.


"Yap, kita ambil hikmahnya saja. Setidaknya kita bisa bertarung tanpa memikirkan beban lahi, benarkan Huanran?" tanya si Gendut sambil menatap mata Huanran.


"Mas Endut ... ," ucap Huanran sambil menatap si Gendut.


"Huanran ... ," ucap si Gendut sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Huanran.


"Berhenti bermesra mesraan dihadapan semua orang!" ucap Kaibo sambil memisahkan si Gendut dan Huanran. Tangan kanannya mendorong si gendut tepat dibawah dadanya, sedangkan tangan kiri Kaibo tak sengaja menyentuh dada Huanran hingga membuatnya terlihat kesal.


"Le ... lembut, jangan jangan?" ucap Kaibo sambil meremas remas tangan kirinya.


Sadar akan sensasi aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, Kaibo langsung menoleh ke kiri untuk memastikan dimana tangan kirinya mendarat. Wajahnya seketika memerah setelah melihat apa yang dia pegang saat itu. Tanpa sadar tangan kirinya terus bergoyang goyang sambil memegang erat dada Huanran.


"Eh ... , ma ... maaf aku tak sengaja," ucap Kaibo versi dewasa dengan tangan kiri yang masih memegang erat dada Huanran.


"Kaibo mesum!" ucap Huanran sambil menampar wajah Kaibo sekuat tenaga.


Setelah menerima tamparan Huanran terdapat hawa membunuh yang terpancar begitu kuat dari belakang punggungnya. Ketika menoleh kebelakang, dia melihat Jingmi yang terlihat begitu marah sambil mengeluarkan hawa membunuh. Dia memegang sebuah ranting kecil yang entah dia dapatkan dari mana, lalu mematahkan ranting tersebut sambil berkata, "Kai ... Bo!"


"Tak sengaja tapi kau memegangnya begktu lama. Apa karena punyaku kecil makanya kau mulai mencari wanita lain dari bangsa manusia ... ," bentak Jingmi sambil memancarkan hawa membunuh.


"A ... ampun Jingmi, sungguh aku tak bermaksud melakukanya!" ucap Kaibo sambil berlari menuju keluar istana.


"Masa muda benar benar indah ya," ucap Dewa Petir sambil menatap Kaibo dan Jingmi yang sedang kejar kejaran.


"Kau sudah sadar ya, pak tua," ucap Wukong sambil melepas kerah pakaian Dewa Petir.


"Gantilah pakaianmu yang kotor itu agar pantas dipanggil sebagai Dewa. Ingat sekarang kau memiliki tubuh yang harus diurus. Bukan roh yang bisa merubah penampilan hanya dalam sekejap mata."


"Untung istrimu menitipkan cincin ruang ini padaku sebelum ku kembali kemari, ambil ini dan ganti pakaianmu. Semua barangmu ada di cincin itu, berterimakasihlah kepada istrimu yang masih mempedulikan Dewa Konyol sepertimu," ucap Wu Kong sambil melempar cincin ruang di tangan kanannya.


"Bagaimana dengan cincin emas yang bisa digunakan untuk mengakses alam kekosongan ini?" tanya Dewa Petir sambil memegang cincin milik Wukong yang melingkar di jari telunjuknya.


"Simpan saja, siapa tahu itu berguna. Gunakan saja untuk menangkap para Dewa Sesat jika mereka sedang lengah," ucap Wukong sambil menatap Dewa Petir.


"O iya, bicara tentang Dian Zheng. Apakah kau sudah membuatnya mengerti?"


"Atau dia masih mengabaikanmu?" tanya Wu Kong sambil menatap Dewa Petir.


"Dia terlalu sulit dibujuk. Aku tak tahu kapan dia bisa kembali luluh dan memanggilku dengam sebutan ayah lagi," ucap Dewa Petir sambil menundukkan kepalanya.


"Jika membujuknya terbilang sulit, hapus saja ingatannya, lalu berikan ingatan palsu agar dia melupakan kejadian pahit yang pernah dia alami sejak kecil," ucap Wu Kong sambil menatap Dewa Petir.


"Itu memang bisa dilakukan, tapi melakukan itu sama saja dengan membohongi diri sendiri. Aku akan mencobanya sekali lagi, semoga saja aku tak perlu menghapus semua ingatannya," ucap Dewa petir sambil menundukkan kepalanya.


Ketika Dewa Petir dan Wu Kong masih mengobrol, Xiao Tian telah berada di luar istana menghadap para bangsa siluman beserta seluruh prajurit kerajaan petir yang telah berkumpul di satu tempat.


"Apakah semuanya sudah siap?"


tanya Xiao Tian dengan tatapan serius.


"Lapor semua pasukan siluman rubah merah telah siap berperang," ucap para siluman rubah merah.


"Para pasukan siluman harimau pun siap berperang," ucap para siluman harimau.


"Kami sudah siap sejak awal, yang mulia," ucap para siluman rusa sambil memberi hormat.


"Semua pasukan telah siap dan menunggu perintah anda, putra mahkota," ucap ketiga jenderal utama sambil memberi hormat.


"Keluarga Huang pun telah siap bdrtempur atas nama kerajaan, putra mahkota," ucap jenderal Huang Cheng sambil memberi hormat.


"Putra mahkota?" ucap Xiao Tian sambil melirik kearah raja Xiao Zhaoye yang berdiri di samping kanannya.


Melihat Xiao Tian memandangnya dengan tatapan heran, raja Xiao Zhaoye mengedipkan matannya sambil menganggukkan kepala sebagai pertanda bahwa semua itu merupakan rencana ayahnya untuk mengangkat Xiao Tian sebagai putra mahkota.


"Mau bagaimana lagi, aku merupakan satu satunya pangeran di kerajaan ini. Panggilan ini mau tak mau harus kuterima saat ini," pikir Xiao Tian sambil menghela napas.