
#Gedung patriach
Xiao Tian menceritakan kepada Tian Bai, bahwa pil yang telah dia telan berfungsi untuk menekan racun ditubuhnya. Xiao Tian juga menyuruh Tian Bai untuk menelan pil pil yang dia terima secara rutin untuk menghilangkan semua racun yang tersisa.
Setelah mendengar arahan Xiao Tian, Tian Bai pun tersenyum tenang. Dia bisa bernapas sangat lega karena akhirnya bisa mengetahui bahwa racun ditubhnya itu ternyata bisa ditekan, dan dimusnahkan secara berkala.
"Terimakasih atas segala bantuanmu ini kak, kalau tak memberi tahuku sekarang. Mungkin aku tak bisa bernapas dengan lega karena terus memikirkan sesakit apa tubuhku di tengah malam nanti," ucap Tian Bai sambil memeluk Xiao Tian dengan rupa Tian Zhong.
"Oh iya, ngomong ngomong ... ,"
"Karena kau sudah kembali, maka jabatan patriach akan kembali kuserahkan padamu lagi ya?" tanya Tian Bai sambil melepas pelukannya.
"Tak perlu, jabatan itu biar kau saja yang pegang," ucap Xiao Tian sambil menepuk pundak Tian Bai.
"Mana bisa begitu?"
"Sejak awal kan jabatan patriach ini adalah milikmu," sambung Tian Bai dengan tampang kesal.
"Ya sudah, kalau begitu kita berdua adalah patriachnya," jawab Xiao Tian sambil tersenyum.
"Aih, sejak kapan dalam satu sekte terdapat dua orang patriach?" ucap Tian Bai sambil menepuk dahinya.
"Dunia kan tak tahu bahwa aku masih hidup, jadi tak masalah kan kalau kita berdua sama sama dipanghil dengan sebutan patriach?" tanya Xiao Tian sambil menatap Tian Bai.
"Iya sih ...,"
"Oh iya, ngomong ngomong, bisakah kau jelaskan alasan kepergianmu?" tanya Tian Bai sambil menatap mata Xiao Tian.
Mendengar pertanyaan yang tak terpikirkan olehnya dari mulut Tian Bai membuat Xiao Tian bingung. Dengan jantung yang berdegup kencang, dia pun berkata, "I ... itu .... ,"
"Sial, aku lupa memikirkan alasan untuk mengelabui Tian Bai. Kalau alasanku tak masuk akal, bisa bisa dia menyadari bahwa aku bukan kakaknya," pikir Xiao Tian dengan jantung yang berdegup begitu kencang.
Melihat Xiao Tian terlihat begitu gugup, Dewa petir pun memutuskan untuk menggodanya.
"Oi, jantungmu berdegup begitu kencang. Apakah kau sedang jatuh cinta?" tanya Dewa petir sambil mencubit pinggang Xiao Tian dengan tampang menyebalkan.
"Jatuh cinta katamu!"
"Aku ini sedang gugup tahu!" ucap Xiao Tian melalui telepati sambil mencoba menahan emosi.
"Kenapa kau diam kak?" tanya Tian Bai dengan tampang cemas.
"Kau terlalu gugup, biar aku yang ambil alih!" ucap Sunlong sambil merasuk ketubuh Xiao Tian.
"Aku belum bisa menceritakan alasannya, tapi percayalah adikku. Semua yang kulakukan adalah untuk kejayaan sekte ini," ucap Sunlong yang sedang merasuki tubuh Xiao Tian.
"Baiklah, aku akan berhenti membahas ini hingga kakak memberitahukannya nanti," ucap Tian Bai sambil menghela napas begitu dalam.
"Sebelum kau pergi, bisakah kau panggilkan para murid dari cabang petarung?" tanya Xiao Tian sambil menatap punggung Tian Bai.
"Apakah kakak ingin melatih mereka juga?" tanya Tian Bai sambil menghentikan langkahnya.
"Ya, aku sangat ingin melatih mereka," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Tian Bai.
Setelah beberapa menit berlalu, para murid berdatangan satu persatu. Xian Juan, Tian Fengji dan Long Hu pun ikut hadir untuk menghadap.
Melihat wajah lemas trio wakil turnamen sebelumnya itu, Xiao Tian terlihat kesal hingga berkata, "Kenapa kalian terlihat lemas?"
"Belum makan?"
"Atau kalian benar benar menjadi seorang oecundang?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Apakah kalian ingin menyerah begitu saja?"
"Bagaimana dengan orang orang yang terlah berkorban demi kalian?"
"Inikah balasan kalian atas pengorbanan mereka?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesal.
Long Hu, Xian Juan dan Tian Fengji menundukkan kepala mereka karena merasa bersalah dan tak berdaya.
Karena kesal melihat mereka bertiga, Xiao Tian memilih salah satu pendekar terlemah yang tak memiliki pomdasi kultivasi sama sekali. Dan berniat mengajarinya hingga bisa mengejutkan semua orang.
"Hei kamu!" ucap Xiao Tian sambil menunjuk ke arahnya.
"Aku?" tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.
"Ya, kamu!"
"Kemarilah!" ucao Xiao Tian sambil menyuruh murid itu mendekat.
"Perkenalkan namamu, dan apa tingkat kultivasimu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xia Hu.
"Aku adalah mantan pendekar alam roh lapisan keempat. Namun karena aku mengalami gangguan saat mencoba menerobos ke tahap berikutnya, meridianku hancur hingga harus mengulang pondasi kultivasi dari awal lagi," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
"Sudah kuputuskan, malam ini aku akan melatihmu, dan besok pagi kau akan melawan mereka bertiga. Apakah kau mau?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xia Hu.
"A ... aku tak berani, kultivasi mereka terlampau jauh diatasku. Sedangkan meridianku telah lama rusak. Aku tak akan bisa mengejar mereka hanya dalam waktu satu malam," ucap Xia Hu sambil mencoba menolak tawaran Xiao Tian.
"Aku berani jamin, jika kau menurutiku. Mengalahkan mereka bukanlah masalah sulit lagi. Keputusan ada ditanganmu, apakah kau mau menjadi kuat atau terus menjadi seorang pecundang seperti mereka?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam mata Xia Hu.
"Jika kau mau menurutiku, maka berlatihlah bersamaku malam ini. Dan panggil aku dengan sebutan master, tapi jika kau tak mau maka akan kupilih murid yang lain secara acak," ucap Xiao Tian dengan tatapan serius.
"Kalau begitu jawabanku sudah ditentukan, tolong bimbing aku, Master," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
"Kenapa hanya dia yang diperlakukan secara khusus?"
"Tolong latih kami juga, master!" ucap para murid sambil memberi hormat.
"Anda hanya melatih yang mau kan, Patriach?"
"Karena kami menolak untuk dilatih, bisakah kamk pergi?" ucap Long Hu sambil mengepalkan tangannya.
"Pergilah, tapi kembalilah sebelum matahari terbit. Karena salah satu dari muridku akan bertanding melawan kalian," ucap Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Baik, Patriach!" ucap Long Hu dan yang lainnya sambil memberi hormat.
"Jadi apa latihan pertamaku?" tanya Xia Hu sambil menatap mata Xiao Tian.
"Buka pakaianmu!"
"Jangan sisakan satu helai kainpun di bagian perutmu," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Xia Hu.
"Eh ... , apa hubungannya latihan dengan membuka pakaian?" tanya Xia Hu sambil berjalan mundur.
"Kau pikir kau mau kemana?"
"Aku menyuruhmu membuka bajumu saja, kenapa malah berjalan mundur?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesal.
"Tenanglah, aku hanya ingin memperbaiki meridianmu lagi," ucap Xiao Tian sambil mengeluarkan jarum di sela sela jarinya.