Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 196 : Musuh lama


Xiao Tian pergi menyusul Taiwu dan Kaibo menuju suara teriakan Liang Su. Sedangkan Su Yan masih belum pulih dari lukanya akibat kehabisan energi qi murni tipe cahaya.


Setelah menyusuri hutan lebat serta semak-semak, Xiao Tian pun akhirnya sampai di sumber suara.


Dia melihat Taiwu berada di bawah kaki seorang pendekar bertopi petani yang terbuat dari sayatan bambu atau biasa di sebut dengan caping. Pakaian serba hitam dan sayap hitam di belakang punggung pendekar itu mengingatkan Xiao Tian dengan seseorang. Namun dia masih menghiraukan sayap hitam tersebut karena suatu alasan.


Di samping kanan dan kiri pendekar tersebut terdapat sekelompok pendekar bertopi jerami dengan pakaian serba merah. Di bagian punggung pakaian mereka terdapat lambang taring naga yang sama seperti para kelompok bandit yang telah mereka habisi sebelumnya.


"Senang berjumpa denganmu lagi, pangeran Xiao Tian," pendekar berpakaian hitam itu menatap mata Xiao Tian dengan senyum sinisnya.


Setelah melihat wajah dari pendekar berpakaian hitam itu, dia semakin yakin bahwa orang yang berada di hadapannya saat ini merupakan orang yang pernah menyerangnya dulu.


"Ba ... bagaimana kau bisa bertahan hidup?" ucap Xiao Tian dengan mata yang terbuka lebar karena merasa begitu terkejut.


"Pergilah dari sini, pangeran!"


"Mereka bukanlah lawan yang bisa kau hadapi seorang diri, tolong pergilah!" ucap Taiwu sambil menatap Xiao Tian.


Mendengar Taiwu mencoba menyuruh Xiao Tian pergi, pendekar berpakaian hitam itu menghentakkan kaki kanannya yang menempel di punggung Taiwu dengan begitu keras.


Duakkk


"Diamlah manusia!" bentak pendekar berpakaian hitam itu sambil menghentakkan kakinya ke punggung Taisu dengan begitu keras.


"Bisa jelaskan ini, Dewa Petir?" Xiao Tian bertanya melalui telepati untuk mempertanyakan ucapan Dewa Petir yang pernah berkata bahwa pendekar berpakaian hitam itu tak akan kembali.


"Aku pun tidak tahu, seharusnya dia telah dihabisi oleh ibumu," jelas Dewa Petir sambil mengerutkan dahinya.


"Kenapa kau diam saja?"


"Tenanglah, aku bukanlah hantu."


"Kau masih bisa memukuliku, meskipun aku tak akan bisa mati seperti dulu lagi. Hahahahah!" ucap pendekar berpakaian hitam itu.


"Pergilah dari sini, pangeran!"


"Uhuk uhuk," ucap Taiwu sambil terbatuk-batuk mengeluarkan darah.


"Sudah kubilang aku tak bisa pergi begitu saja!" bentak Xiao Tian.


"Berisik sekali, bisakah kau diam!" Pendekar berpakaian serba hitam itu memusatkan kekuatan qi di kaki kanannya. Lalu menghentakkan kakinya begitu keras sehingga menciptakan sebuah kawah kecil di sekitar tubuh Taiwu. Tak hanya itu, hentakan kakinya juga sanggup membuat Taiwu tak sadarkan diri.


"Sialan!"


"Beraninya kalian melukai Taiwu tepat di hadapanku!" ucap Xiao Tian sambil melompat dengan kekuatan penuh.


Ketika Xiao Tian ingin melesat menebas pendekar berpakaian hitam, seseorang berpakaian serba putih dengan topi jerami di kepalanya muncul secara tiba-tiba. Dia memiliki hawa iblis yang cukup familiar untuk Xiao Tian. Namun karena wajahnya belum terlihat begitu jelas, dia pun masih merasa sedikit ragu.


Ketika pedang mereka saling beradu dalam waktu yang cukup lama, Xiao Tian pun akhirnya bisa melihat wajah dari pendekar berpakaian putih itu dengan sangat jelas.


Wajahnya begitu mirip dengan Kaibo, hanya saja dalam versi dewasa. Dia memakai pedang hitam yang memancarkan aura kematian setiap kali bersentuhan dengan pedang milik Xiao Tian.


Sadar bahwa sejak tadi dia tak melihat Kaibo dan Liang Su, akhirnya Xiao Tian menyimpulkan bahwa iblis muda di hadapannya saat ini merupakan jelmaan Kaibo yang telah berubah ke ukuran dewasa.


"Apa kau Kaibo?" tanya Xiao Tian sambil menangkis serangan balasan Kaibo.


"Panggil aku, jenderal iblis Kaibo!" balas Kaibo dengan tatapan dinginnya.


"Jenderal iblis?"


"Sejak kapan kau ... " belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Xiao Tian diserang terus oleh Kaibo secara bertubi-tubi.


"Sial ini terlalu sulit," ucap Xiao Tian di dalam hati.


"Tolong sadarlah, Kaibo ... ,"


"Ini aku," ucap Xiao Tian sambil menangkis serangan Kaibo.


Kaibo terus menyerang Xiao Tian tanpa ampun, menghiraukan semua ucapan Xiao Tian. Meski tak mengingat Xiao Tian, Kaibo merasakan sedikit rasa pusing setiap kali Xiao Tian memanggilnya dengan sebutan Kaibo. Karena kesal dan tak mau ambil pusing, Kaibo pun mulai menggila dengan menyerang Xiao Tian dengan menaikkan kecepatan serangnya sehingga membuat Xiao Tian agak kewalahan.


"Berhentilah membuatku bingung, aku tak mengenalimu sama sekali," ucap Kaibo sambil menyerang Xiao Tian secara bertubi-tubi.


"Ini terlalu rumit, bukalah portal ruang hampa dan atur kembali strategi kita!" ucap Dewa petir dengan wajah paniknya. Sebenarnya dia bisa merasuki tubuh Xiao Tian, namun hanya tersisa satu kesempatan untuk hari ini. Sedangkan saat ini masih terlalu pagi untuk menghabiskan semua bantuan Dewa Petir.


"Baiklah," balas Xiao Tian melalui telepati.


Akan tetapi saat Xiao Tian baru ingin membuka portal ruang hampa, sebuah lingkaran sihir muncul tepat di bawahnya.


Akibat yang ditimbulkan oleh lingkaran sihir tersebut adalah menghentikan segala macam kekuatan relik dimensi atau relik yang mengirimkan seseorang ke sebuah tempat.


Sadar bahwa Xiao Tian tak bisa membuka portal ruang hampa, Dewa Petir pun akhirnya merasuki tubuh Xiao Tian tanpa permisi.


"Dewa petir, kau .. ?" tanya Xiao Tian dengan heran.


"Lingkaran sihir di bawah kakimu bukanlah teknik tingkat rendah, biarkan aku menguasai tubuhmu. Jadi jangan melawan," jelas Dewa Petir.


Setelah mendengar alasan Dewa petir merasukinya, Xiao Tian pun merelakan tubuhnya dikendalikan oleh Dewa Petir.


Semenjak Dewa Petir merasuki tubuh Xiao Tian, para pendekar bertopi jerami begitu terkejut. Alasan mengapa para pendekar merasa terkejut yaitu melesatnya kekuatan Xiao Tian. Bahkan aura Dewa yang begitu kuat terpancar dari dalam tubuhnya.


Setelah merasakan kekuatan Xiao Tian yang berada jauh diatas mereka, pendekar bertopi petani yang memakai pakaian serba hitam mengepalkan tangannya.


"Apa yang harus kita lakukan tuan Long Zheng?" tanya para pendekar bertopi jerami yang memakai pakaian serba merah.


"Kita kembali ke markas!" ucap Long Zheng.


Para pendekar berpakaian serba merah menghilang dari pandangan Xiao Tian dengan menggunakan gulungan teleportasi.


Setelah para pendekar topi jerami menghilang, Kaibo pun ikut pergi melarikan diri dengan cara yang sama.


Sedangkan Long Zheng pergi paling terakhir setelah semua komplotanya menghilang.


Tepat sebelum dia menggunakan gulungan teleportasinya, Long Zeng berkata dengan nada sinis, "Kutunggu kau di pagoda iblis,"


Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, Long Zheng pun menghilang dari hadapan Xiao Tian.


"Sial!"


"Mereka berhasil melarikan diri!" ucap Xiao Tian dengan kesal.


#####


Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.


Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.


Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.


Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.


Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁