Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 544 : Diganggu oleh para berandal


Demi untuk mencari informasi, setelah menyusuri pasar sembari berpura pura layaknya ibu dan anak, Black Dragon menuntun Dewa Petir menuju ke gang gang sepi yang mungkin saja memiliki informasi mengenai apa yang mereka cari selama ini. Sayangnya, baru saja mereka melangkah ke gang sepi, sekelompok berandal yang diam diam mengikuti sejak dari pasar, perlahan muncul dan mengepung keduanya. Meskipun keberadaan mereka tak mengancam, Dewa petir memanfaatkan momen itu untuk mencuri peluk dari Black Dragon yang kecantikannya tak kalah dari seorang Dewi. Daya pikatnya yang kuat tak dapat ditahan secara utuh oleh topeng penyembunyi yang dia pakai saat ini.


Alih alih membuat wajah samarannya menjadi terlihat biasa saja, Black Dragon malah tetap memancarkan daya pikatnya. Kecantikannya sudah tak tertolong dan tidak dapat ditutupi. Topeng penyembunyi hanya dapat menekan sedikt daya pikat, serta aura makhluk suci yang jelas jelas sudah melemah karena ulah dari God Yin Yang. Aura makhluk alam suci adalah aura yang selama ini Black Dragon kenakan untuk menekan daya pikatnya agar tak menarik perhatian banyak orang. Akan merepotkan jika orang orang menjadi gila karena kecantikannya, maka dari itu Black Dragon selalu menekan daya pikatnya. Namun karena melemahnya aura tersebut, Black Dragon malah menjadi pusat perhatian di mana pun dia melangkah.


"Ibu! orang itu menakutiku! Huaaa!!" Dewa Petir pura pura menangis sembari mencari kesempatan untuk memeluk Black Dragon. Saat itu keduanya nampak sedng dikerumuni oleh para berandal yang terpikat oleh kecantikan Black Dragon.


Black Dragon yang sudah tak tahan lagi bermain ibu ibuan sembari membiarkan Dewa Petir bertingkah seenaknya, perlahan menekan keras kepala Dewa petir. Dari pandangan mata semua orang, Black Dragon nampak sedang menepuk pelan kepala anaknya dengan maksud untuk menenangannya.


'Sekali lagi kau mencuri kesempatan untuk memeluk dan menenggelamkan wajah bodohmu ke dadaku, akan kulupakan rencana menyamar ini. Apa kau paham!?' Black Dragon mengancam melalui telepati, sembari mengekspos senyum palsu yang cukup menyeramkan di sudut pandang Dewa petir. Sementara semua berandal malah terpesona oleh senyum tersebut.


"Cantik, kau bukan dari kerajaan Api ya?"


"Dimana ayah bocah itu hingga membuatmu berkeliaran ke jalanan sepi?"


"Ini adalah wilayah kami kau tahu, kebanyakan orang yang masuk ke wilayah kami, tak dapat keluar dari sini secara utuh. Tapi ... melihat tubuhmu yang rapuh, aku jadi tak tega untuk menyakitimu. Bagaimana kalau kita bermain saja?"


"Kebetulan kami sudah lama tak merasakan tubuh seorang wanita." Pemimpin para berandalan itu nampak melangkah maju sembari menatap Black Dragon dengan penuh napsu. Hidungnya mimisan sementara lidahnya terus bermain di sekitar bibirnya sendiri.


"Padahal lebih dari separuh makhluk di dunia ini baru saja dilenyapkan oleh makhluk yang sempat lepas dari gerbang alam bawah. Bisa bisanya sampah seperti kalian masih hidup. Para Dewa itu benar benar tak pilih pilih ya saat menyelamatkan orang, bikin kesal saja." Black Dragon tersenyum sinis sembari mengancam Dewa petir untuk melepaskan pelukannya.


"Kau ini sedang bicara apa nona manis?"


"Dewa mana yang sedang kau bicarakan?"


"Tak ada hal seperti itu di dunia ini." Pemimpin para berandal terus menatap mesum ke arah Black Dragon, dan tak lama setelah dia menyelesaikan kalimat terakhirnya, Black Dragon segera meluncurkan tinjunya hingga kepalanya terlempar jauh ke belakang, meninggalkan leher serta tubuh yang jatuh menghantam tanah tak lama setelah Black Dragon melesat.


'Ce ... cepat sekali!' semua orang mendadak panik dan berlarian ke segala arah.


"Hei Dewa tengik!"


"Cepat hentikan mereka! Aku tak mau mengotori tanganku dengan darah makhluk kotor seperti mereka lagi! Ah ... dan pastikan kalau kau hanya melumpuhkan mereka dulu. Karena aku ingin menanyakan beberapa hal kepada mereka. Siapa tahu, dia mengetahui informasi tentang orang yang sedang kita cari." Black Dragon menghela napas dengan kesal, dia terus mencoba menahan emosi sembari membayangkan hal hal yang sampai sekarang masih mengganggu emosinya. Cantik, manis dan imut, adalah kata yang paling Black Dragon benci. Dia teringat semua kata kata itu dan terus menahan diri untuk tidak mengamuk, bagaimanapun juga saat ini dia sedang menyamar dan mengatakan satu dari ketiga kata itu bukanlah hal yang pantas menerima hukuman mati. Hanya saja Black Dragon yang selama ini menganggap dirinya seorang pria tak dapat menutupi kekesalannya. Kekesalan yang sudah lama timbul akibat perwujudan fisik manusia yang berada di luar ekspektasinya.


Naga suci yang telah memiliki perubahan pertama menjadi manusia wanita atau pria untuk pertama kali, tak dapat merubah jenis mereka lagi. Jadi mustahil bagi Black Dragon untuk merubah diri menjadi seorang pria sejati. wujud manusianya terjebak dalam wujud seorang wanita. Dan tak akan bisa dirubah meski apapun yang terjadi. Berbeda dengan naga suci pria yang memancarkan daya pikat melalui aura yang mendominasi. Daya pikat naga wanita justrul ada pada kecantikannya yang melebihi kecantikan seorang Dewi. Jika Black Dragon melepaskan topengnya saat ini dan mengekspos daya pikat sejatinya, kebanyakan manusia yang tak memiliki aura suci atau aura Dewa pasti akan lupa diri dan bahkan tewas saat itu juga jika jantung mereka sudah cukup tua atau menderita penyakit jantung yang tak sanggup menahan sebuah kejutan.


"Imut ... , Cantik ... , Manis ... , kenapa tak ada yang mau memanggilku dengan gagah dan perkasa!" Black Dragon mengepal erat kedua tangannya sembari mencoba menahan amarah yang kini terasa cukup meluap luap hingga membuat beberapa aura penindasan bocor di sekitar tubuhnya.


'Dengan wajah seperti itu? jelas jelas itu mustahil' Dewa petir menghela napas dalam lamunannya. Dan segera melaksanakan perintah Black Dragon saat mata mereka saling bertatapan.


"Apa kau juga berpikir aku cantik?" Black Dragon mengancam.


"Ti ... tidak ... , kau sangatlah gagah dan perkasa. Karena itu aku akan melakukan permintaanmu sekarang juga." Dewa petir yang baru pertama kali melihat Back Dragon semarah itu, hanya bisa menarik paksa semua berandal dengan memunculkan tali aura berwarna biru dari kedua telapak tangannya untuk mengikat dan menarik para berandal yang lari bertebaran ke mana mana. Tali itu berlapis sengatan listrik sehingga sanggup melumpuhkan semua orang tak lama setelah tali tali itu menyentuh targetnya.


"Hahaha, benar! Ingat itu baik baik, jangan pernah memanggilku cantik, manis atau imut saat tak ada orang lain. Aku maafkan kau karenatelah memanggilku demikian, hahahaha!" Black Dragon tertawa senang, sementara Dewa Petir bernapas lega karena dimaafkan.


'Huft, ternyata membujuk Black Dragon semudah ini. Asalkan aku terus memanggilnya gagah dan perkasa, bukankah dia akan membiarkanku mendekatinya?' pikir Dewa petir sembari mengontrol tali tali aura berwarna biru dan berlapis petirnya. Dia tersenyum senang sembari membayangkan kesenangan yang mungkin akan terjadi di masa depan, namun Black Dragon yang menyadari niatan buruk Dewa petir segera menyela dengan berkata, "Meski aku memaafkanmu, aku tetap tak menyukai caramu memelukku. Jika kau mencuri kesempatan lagi, akan kupotong jamurmu!" Black Dragon mengancam dengan tatapan jahatnya.


"A ... aku mengerti!" Dewa petir merespon dengan panik. 'Sial, ternyata gadis naga itu tidak benar benar bodoh!'


'Kau pikir aku tak memahami niatmu, Dewa tengik! Meski aku menolak kondisi fisikku, tubuhku ini tetaplah tubuh seorang gadis, aku tak akan membiarkanmu mengambil keuntungan dari tubuhku!' Black Dragon menatap kesal.


Ketika semua sudah dilumpuhkan dan ditarik paksa untuk mendekat, Black Dragon meminta Dewa petir melepaskan mereka sembari mengeluarkan tali aura berwarna emas yang dia keluarkan dari telapak tangannya untuk mengikat semua berandal yang masih dalam keadaan setengah sadar.


"Apakah di antara kalian ada yang tahu tentang segel jiwa!?" Black Dragon mengancam sembari mengambil pedang salah seorang berandalan yang terjatuh di tanah saat para berandalan itu berlarian dengan penuh ketakutan. Rasa kagum mereka terhadap kecantikan Black Dragon tertutupi oleh rasa takut akan kematian. Semua karena bos yang selama ini mereka takuti dan kagumi, dihabisi tepat dihadapan mereka hanya dalam hitungan detik dan hanya menggunakan tangan kosong.


"Segel jiwa?"


"Apakah itu segel kuno yang telah lama hilang?"


"Jika Nona mencari catatan tentang itu, cari saja karavan keluarga Shen!"


"Selain berdagang barang, mereka juga menjual beberapa informasi yang bahkan tidak diketahui oleh para bangsawan!" Salah seorang berandalan menjawab dengan gemetar.


"Jadi akhirnya kau menerima kalau kau seorang gadis cantik?" Dewa Petir melirik ke arah lain saat menyindir Black Dragon.


"Apa kau bilang!" Black Dragon mengamuk dan hendak memukuli Dewa petir. Tentunya Dewa petir yang sadar menjadi incaran,segera melarikan diri hingga berakhir di kejar kejar oleh Black Dragon yang mengamuk.


"Kurangi kecepatanmu! bagaimana jika ada yang melihatmu berlari sekencang itu!" Black Dragon mengamuk sembari mengejar Dewa petir yang berlarian dari satu atap rumah ke atap rumah serta bangunan lain.


"Kau saja yang kurangi kecepatanmu, aku tak mau dipukuli hanya karena hal sepele!" Dewa petir berlari sekencang yang dia bisa, namun perlahan melambat karena cadangan energi yang dia miliki sudah benar benar habis.


'Sial ... , kenapa aku harus kehabisan energi di saat saat seperti ini!' Dewa Petir nampak panik.


"Kena kau! Beraninya kau lari dariku, dan mengabaikan peringatanku. Akan kubuat kau menyesal karena mengatakan sebuah kata terlarang!" Black Dragon hendak memukul Dewa petir dengan sekuat tenaga, tapi White Dragon tiba tiba saja muncul dan menahan tangannya. Menyelamatkan Dewa Petir dari rasa takut akan amukan Black Dragon.


"Berhenti membuang buang energi kalian!"


"Tubuh kita mungkin masih bisa menyimpan qi dengan berkultivasi, tapi perlu waktu untuk mengumpulkan semua itu!"


"Apa kau ingin membuang semua hari yang terbuang untuk menstabilkan kultivasi kita saat ini?" White Dragon memperingatkan. Sementara Black Dragon segera menghentikan niatnya.


"Cih, kenapa leluhur malah turun tangan untuk menghentikan Black Dragon! Padahal aku kan bisa juga!" gumam Sunlong dengan wajah kesal.


"Bilang saja kau cemburu," Su Yan menggoda Sunlong sembari menepuk bahunya.


"Si ... siapa bilang aku cemburu! Aku sama sekali tak tertarik pada Black Dragon kok!" Sunlong mengelak, namun Evil Su Yan segera memotong dengan berkata, "Padahal menatap mata dan berdekatan dengannya saja tak sanggup, berhenti membohongi dirimu sendiri, naga bodoh!"


"Beraninya kau memanggilku bodoh, apa kau lupa kalau aku adalah seorang makhluk agung dari alam suci!" Sunlong nampak kesal. Sementara Evil Su Yan membalas dengan tatapan sinis. "Ras serigala suci juga berasal dari alam suci, jadi secara tak langsung posisi kita sama. Lagi pula, aku adalah keturunan langsung dari pemimpin ras itu!"


"Maksudmu keturunan terakhir?" tanya Sunlong sinis.


"Ho ... , kau ingin mencari ribut denganku ya?"


"Jangan lupa kalau kultivasi kita sama saat ini!" Evil Su Yan mengelurkan bola emas di sekitar lengannya.


"Jangan lupa kalau kami kemari untuk membantumu!" Sunlong mengelak.


"Aku tak pernah meminta bantuanmu, kadal tengik!" Evil Su Yan memperbesar bola emasnya.


"Be ... berhenti berdebat! Tolong hemat energi kalian!" Su Yan mencoba melerai keduanya namun tak berhasil, hingga akhirnya Black Dragon turun tangan dan membuat Sunlong segera menarik diri untuk menjaga jarak darinya.


"Cih! Kenapa kau selalu pergi saat aku mendekat!" Black Dragon nampak kesal.


Sementara itu di alam neraka. Xiao Tian nampak sedang ditanyai oleh raja neraka pertama. Sembari dilihat oleh semua orang yang nampak heran terhadap apa yang dikatakan oleh sang raja neraka.


"Apa yang pewaris simbol roh suci lakukan disini!" Raja neraka bangkit dari singgasananya dengan tersentak.


"Apakah ada hal aneh dari semua itu?" Xiao Tian menjawab bingung.


"Itu memang tak aneh, tapi ... kau adalah orang pertama yang masuk ke alam ini dengan berkah dari salah satu simbol roh suci. Hanya saja ... ," Raja Neraka segera menghentikan ucapannya dan memberi perintah kepada Hei Bai Wuchang.


"Berikan perintah kepada Hakim neraka, aku menerima anak ini menjadi peserta turnamen kematian. Mulai sekarang jiwanya adalah milik neraka dan tak diijinkan untuk bereinkarnasi sebelum mengalahkan semua makhluk yang ada di alam ini!"


"Baik, yang mulia," Hei Bai Wuchang segera pamit undur diri.


"Kau ... , tuntun dia ke tempat makhluk mati!"


"Dia adalah jiwa dengan warisan simbol roh naga suci, pastikan untuk mengurusnya dengan baik!" Raja Neraka menunjuka seorang makhluk bertangan empat dengan empat sabit di belakang punggungnya. Kepalanya bertanduk dua, sementara kulitnya berwarna merah semerah matanya.


"Baik rajaku!" Makhluk itu memberi salam, lalu menuntun Xiao Tian menuju sebuah pintu raksasa yang diselimuti oleh asap merah berlapis aura kematian. "Ikuti aku!" Makhluk itu membuka pintunya sembari menyembunyikan seringaian jahatnya. 'Hanya karena rohmu dilindungi salah satu roh suci, bukan berarti kau akan menang. Roh naga suci hanya dapat melindungi mentalmu, kita lihat apakah tubuh dengan kultivasi roh tingkat dasar sepertimu apakah bisa berhadapan dengan para makhluk tingkat Bencana.'