
Setelah Long Zheng menghilang dari pandangan, Dewa Petir keluar dari tubuh Xiao Tian. Nampak begitu jelas bahwa Xiao Tian terlihat begitu terpukul akan kejadian saat itu. Sedangkan Dewa Petir merasa bersalah karena pernah membiarkan Long Zheng ditangani oleh Topeng bencana.
"Maafkan aku Xiao Tian, aku tak tahu kalau ada yang bisa membangkitkannya. Bahkan dia menjadi lebih hebat dari yang waktu itu.
Andai saja aku membakarnya hingga menjadi abu, maka tak akan ada yang bisa membangkitkan mayatnya."
Dewa Petir memegang pundak Xiao Tian dan mencoba menghiburnya.
Akan tetapi Xiao Tian tak mendengar ucapannya sama sekali. Saat itu fokusnya sedang teralihkan oleh hal yang lain.
Dia begitu kesal akan kekuatannya yang sekarang. Ini bukan kali pertamanya dia kehilangan sosok orang yang sangat dia sayangi. Wajar bagi Xiao Tian untuk merasa terpukul, karena masalah selalu datang silih berganti. Disaat satu masalah belum selesai, selalu datang masalah lain yang membuatnya merasa semakin pusing.
Karena merasa kesal dengan diri sendiri yang tak mampu menjaga orang orang disekitarnya, dia hanya bisa menyiksa diri dengan melukai telapak tangannya karena merasa tak berguna.
"Payah, aku memang payah."
"Mereka telah berhasil kabur dariku," ucap Xiao Tian dengan kesal.
Dia terlihat semakin murung hingga telapak tangannya mengeluarkan darah karena mengepalkan kedua tangannya begitu keras.
Melihat Xiao Tian begitu frustasi, Dewa petir pun semakin khawatir. Karena jika Xiao Tian terus tenggelam dalam pikiran negatifnya, sisi gelap Xiao Tian mungkin akan bangkit kembali. Sedangkan dia tak bisa merasuki Xiao Tian karena telah merasuki tubuh Xiao Tian dua kali dalam sehari.
"Tolong bersabarlah," ucap Dewa Petir sambil memegang pundak Xiao Tian.
"Kenapa masalah terus datang menghampiriku?"
"Tak bisakah takdir memberiku kebahagiaan sebentar saja?" tanya Xiao Tian dengan wajah yang begitu frustasi. Tatapannya begitu kosong seperti sudah tak punya harapan lagi.
Air mata pun telah mengering karena dia sudah merasa lelah akan segalanya.
Melihat Xiao Tian terlihat begitu terpukul, membuat Dewa Petir merasa bersalah. Dia merasa gagal karena tak bisa membuat Xiao Tian menjadi sosok yang kuat. Meski begitu dia tak mau menyerah untuk menghibur Xiao Tian. Dengan tampang sedihnya Dewa Petir memegang pundak Xiao Tian sambil berkata,
"Sudahlah, kita akan pergi esok hari. Sementara itu pulihkan tenagamu terlebih dulu."
"Besok?"
"Apa maksudmu berkata besok?"
"Aku tahu kau begitu hawatir karena tak bisa merasukiku. Tapi menunggu hari esok terlalu lama, bagaimana jika Liang Su diperlakukan secara kasar?" tanya Xiao Tian.
"Apa kau hanya menghawatirkan dia?"
"Bagaimana dengan Kaibo yang selama ini pergi bersamamu?" tanya Dewa Petir.
"Dia telah kembali ke wujudnya yang semula, mengingat kembali jati dirinya sebagai seorang jenderal iblis. Melupakan semua kenangan bersamaku dan pergi ke pihak musuh. Aku merasa telah ditipu. Dia selalu berkata kalau dia seorang mantan raja iblis, tapi tak pernah bercerita kalau dia berkaitan langsung dengan sekte iblis. Bahkan sempat menjabat sebagai seorang jenderal di sekte iblis," ucap Xiao Tian dengan kesal.
"Tidak, ini pasti salah!"
"Ayah Xiao Tian pasti salah orang!" Jingmi telah sadar dari pingsannya dan menyusul Xiao Tian paling cepat. Dia mendengar semua ucapan Xiao Tian dari awal hingga akhir.
Setelah itu Su Yan dan putri Jia Li keluar dari semak semak menyusul Jingmi yang telah sampai lebih awal.
"Dimana Liang Su?" tanya Su Yan sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Astaga, apa yang terjadi dengan Taiwu!" putri Jia Li langsung berlari mendekati Taiwu. Setelah sampai di dekat Taiwu yang telah terluka, dia langsung mengeluarkan
pil suci miliknya untuk menyembuhkan Taiwu.
Namun belum sempat memasukkan pil tersebut ke mulut Taiwu, tangan Taiwu menepis tangan putri Jia Li.
"Tidak, jangan berikan pilmu kepadaku, pil suci adalah satu satunya cara bagimu memperpanjang umurmu. Jika kau kehabisan pil suci maka kesempatan hidupmu akan berkurang. Luka ini belum seberapa jika dibandingkan dengan luka yang pangeran alami."
"Benarkah?"
"Tapi Yanyan terlihat tak terluka sama sekali," smambung putri Jia Li sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Yanyan, apakah kau tak apa?"
"Kenapa kau diam saja?" tanya putri Jia Li sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Tolong jawab pertanyaanku, Ketua!"
"Dimana Liang Su!" tanya Su Yan sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Tidak, sebelum itu tolong katakan bahwa Kaibo bukanlah seorang jenderal iblis!" sambung Jingmi sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Liang Su telah dibawa pergi, sedangkan Kaibo telah bergabung dengan mereka. Kini dia telah kembali ke wujud dewasanya tanpa mengingat apapun tentang kita," jelas Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya. Dia tak berani menengok kebelakang karena merasa tidak berguna.
"Tidak, ayah Xiao Tian pasti salah dengar. Kaibo tidak mungkin menghianatiku!"
"Dia memang seorang mantan jenderal iblis, tapi sudah lama pensiun dan menetap di desaku!"
"Tolong jangan ragukan dia ayah Xiao Tian, Kaibo tidak mungkin menghianati kita," ucap Jingmi sambil berjalan mendekati Xiao Tian.
"Maafkan aku Jingmi, aku masih belum bisa menerima hal yang baru saja terjadi. Kembalilah ke kereta kuda dan tinggalkan aku sendiri," ucap Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.
"Aku tak percaya kalau ayah Xiao Tian bisa meragukan Kaibo sampai seperti ini, aku kecewa padamu. Aku benci ayah Xiao Tian!" Jingmi berbalik arah lalu berlari menuju kereta kuda.
"Tunggu, Jingmi!" teriak putri Jia Li sambil menoleh ke arah Jingmi yang baru saja melewatinya.
"Apakah kau tahu kemana mereka membawa Liang Su Pergi?" tanya Su Yan.
"Tidak, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku sedang tak ingin diganggu," ucap Xiao Tian dengan nada ketus.
"Baiklah, aku akan pergi jika itu memang bisa menenangkanmu. Tapi tolong berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini terjadi karena kesalahanku. Andai saja aku tak berkata kasar terhadap Liang Su, mungkin hal buruk ini tak akan pernah terjadi.
" Sebelum kau pergi, bawalah Taiwu bersamamu. Ambilah pil pemumil energi dan pil penambah darah ini, berikan itu kepada Taiwu dan si Gendut untuk meringankan luka mereka." Xiao Tian melemparkan kantong kecil berisi ratusan pil pemulih energi dan pil penambah darah dengan punggung yang masih menghadap Su Yan dan putri Jia Li.
"Gendong Taiwu dan bawa putri Jia Li bersamamu. Aku ingin sendiri sekarang, bahkan tak ingin ditemani oleh putri Jia Li sekalipun," ucap Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.
"Baik Ketua," Su Yan berjalan mendekati Taiwu lalu menggendong Taiwu di pundaknya. "Ayo kita pergi dari sini, Putri."
"Yanyan, apa yang terjadi padamu?"
"Kenapa kau bersikap tak seperti biasanya?"
"Kenapa kau tak ingin membagi isi hatimu kepada kami?"
"Aku tak percaya kalau kau serapuh ini, kau bahkan tak berani menatap wajah kami," tanya putri Jia Li.
"Pergilah dari sini, Lily!"
"Apa kau tak mendengar kalau aku ingin ditinggal sendiri!" bentak Xiao Tian dengan nada yang sangat tinggi.
"Aku tak percaya ini, kau bahkan berani membentakku. Yanyan yang ku kenal bukanlah orang yang ada dihadapanku saat ini. Kau telah berubah, aku membencimu Yanyan!" Putri Jia Li berlari menyusul Jingmi dengan wajah yang berlinang air mata.
Diikuti oleh Su Yan yang berjalan tepat di belakangnya. "Aku pamit undur diri, Ketua."
Setelah Su Yan dan yang lainnya sudah cukup jauh, Dewa Petir berkata, "Apa kau yakin tak ingin memberi tahu mereka mengenai pagoda iblis?"
"Aku tak ingin mereka terlibat dengan musuh yang berbahaya. Biarkan mereka berdiam diri di dalam kereta. Cukup aku saja yang pergi ke pagoda iblis," ucap Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kau yakin?" tanya Dewa Petir.
"Berhentilah bertanya, aku hanya butuh panduanmu untuk sampai ke pagoda iblis," sambung Xiao Tian dengan nada kesal.
"Hanya kaum iblis yang bisa melihat lokasi pagoda itu, kita memerlukan bantuan seorang iblis untuk sampai ke pagoda," jelas Dewa Petir.
"Tapi iblis mana yang mau menunjukkan lokasi pagoda itu?" tanya Dewa Petir.
"Tunggu, bukankah Sunlong juga termasuk bangsa iblis?" tanya Xiao Tian.
"Kenapa kau diam saja sejak tadi, katakanlah sesuatu!" bentak Xiao Tian dengan kesal.
"Jangan pernah dekati pagoda iblis, itu terlalu bahaya untuk ukuran manusia sepertimu. Seorang Dewa seperti Dewa Petir tak akan bisa mengeluarkan kekuatannya di dalam pagoda tersebut. Meski kau pergi sekarang esok atau nanti, kau tak bisa menggunakan bantuan Dewa Petir sama sekali. Jadi demi kebaikanmu sebaiknya jauhi pagoda itu!" sahut Sunlong dengan nada serius.
"Kau pikir aku peduli?" ucap Xiao Tian dengan kesal.
"Tunjukkan saja jalannya, dan biarkan Dewa Petir yang mekikirkan solusinya," ucap Xiao Tian dengan kesal.
"Baiklah, aku akan menunjukkan tempatnya. Tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu hal yang buruk."
"Aku sudah memperingatimu, jika kau sampai kehilangan nyawamu maka jangan pernah mencariku lagi," ucap Sunlong dengan nada serius.
"Kalau aku mati kan kau juga ikut mati," sambung Xiao Tian.
"Sial aku lupa mengenai hal itu, seharusnya aku tetap diam dan pura pura tidak tahu. Kalau sudah terlanjur begini mau tidak mau aku harus memandunya hingga ke pagoda iblis."
"Karena jika tidak, dia mungkin akan menyiksaku lagi seperti waktu itu," ucap Sunlong di dalam hati.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁