
Xiao Tian pergi bersama rombongannya menuju ke arah barat. Di tengah perjalanan, tepatnya tak jauh dari wilayah perbatasan kerajaan Angin. Si Gendut melihat pangeran Bing Xuan Ho sedang berjalan dengan pincang. Badannya penuh bekas luka, dan pakaiannya agak compang camping bagai pengemis.
Karena terluka cukup parah dan tak ada tabib yang bisa dia temui, pangeran Bing Xuan Ho berjalan pincang dan memerlukan tongkat untuk membantunya berjalan.
Meski waktu sudah malam, si Gendut bisa melihat dengan jelas wajah pangeran Bing Xuan Ho berkat cahaya rembulan. Dia tak bisa melupakan wajah dari musuh masa lalunya itu. Tanpa pikir panjang dia langsung melompat dari atas punggung naga hitam raksasa tanpa diketahui teman-temannya.
Dia duduk di tempat paling belakang dan memang jarang bicara saat berada di atas punggung naga, alhasil ketika dia melompat dari punggung naga hitam raksasa, tak ada satupun temannya yang menyadarinya.
Woosshhh
Si Gendut melompat tepat menghadap ke arah pangeran kerajaan Es itu.
"Bing Xuan Ho!"
Dengan penuh nafsu yang memuncak, si Gendut berlari mendekatinya lalu menghajarnya tanpa ampun. Sedangkan pangeran Bing Xuan Ho tak bisa mengelak serangan si Gendut karena luka di tubuhnya belum pulih.
Duakk duakk duakk
"Siapa kau?"
"Kenapa kau tiba-tiba memukulku?" tanya Bing Xuan Ho.
"Kau mungkin sudah lupa dengan wajahku, tapi aku tak akan pernah melupakanmu."
"Katakan padaku apa saja yang telah kau lakukan terhadap Huanran!"
"Beri tahu aku dimana kau sembunyikan tubuh Huanran!" ucap si gendut sambil menarik kerah baju pangeran Bing Xuan Ho.
"Huanran?"
" Siapa kau sebenarnya?"
"Dari mana kau mengetahui nama istriku?" tanya pangeran Bing Xuan Ho.
"Istri katamu?"
"Asal kau tahu saja, akulah suami pertamanya!" bentak si gendut sambil mendorong tubuh Bing Xuan Ho hingga terbentur tanah.
"Suami pertama?"
"Mustahil, jangan bilang kalau kau adalah Xun He?"
"Kupikir kau telah tiada, bagaimana bisa kau selamat dari jurang kematian?" tanya pangeran Bing Xuan Ho.
"Itu bukan urusanmu, katakan padaku apa yang kau lakukan terhadap Huanran?"
"Apa yang kau perbuat hingga membuatnya menjadi roh jahat?" tanya si Gendut.
"Tunggu, apa maksudmu Huanran telah tiada?"
"Lalu kenapa kau menyalahkanku?"
"Aku tak membunuhnya, dia kabur sejak mengetahui kabar seluruh klanmu dibantai habis oleh prajurit kerajaan."
"Aku berani bersumpah, kalau aku tak ada hubungannya mengenai kematian Huanran."
"aku bahkan belum menyentuh wanita itu sedikitpun." Pangeran Bing Xuan Ho berbicara sambil merayap, dia mencoba meraih tongkat yang membantunya berjalan selama ini.
Si Gendut menendangnya terus menerus untuk mendapat jawaban yang sebenarnya. Di dalam benak pangeran Bing Xuan Ho saat ini adalah rasa amarah yang dia pendam begitu dalam.
"Beraninya dia menendangku, lihat saja nanti. Saat kekuatanku telah pulih, aku akan menghabisimu." Pangeran Bing Xuan Ho mengepalkan kedua tangannya, dia menatap si Gendut dengan tatapan kesal.
"Beraninya kau memandangku dengan tatapan seperti itu, akulah yang seharusnya kesal melihat wajah busukmu. Ceritakan padaku dimana kau sembunyikan tubuh Huanran!" si Gendut terus memukuli pangeran Bing Xuan Ho karena tak percaya kalau dia tak mengetahui dimana tubuh Huanran berada.
"Pukul terus, tendang terus, Bunuh aku jika perlu!"
"Aku sudah menceritakan semuanya padamu. Huanran telah kabur sejak kehancuran klanmu. Aku tak tahu apa yang membuatnya mati. Dan tak tahu dimana tubuhnya sekarang. Jika masih tak percaya juga, bunuh saja aku!" bentak pangeran Bing Xuan Ho.
Ketika si gendut ingin menghajar pangeran Bing Xuan Ho lagi, Huanran bertelepati kepada si Gendut,
"Apa kau yakin, Huanran?" tanya si Gendut sambil menghentikan pukulannya.
"Sangat yakin," jawab Huanran.
"Apa kau baru saja bicara sendiri?"
"Sepertinya kau mulai gila." Pangeran Bing Xuan Ho menatap ke arah si Gendut lalu berusaha berdiri menggunakan tongkatnya.
Setelah pangeran Bing Xuan Ho berjalan melewatinya, si Gendut berkata,
"Menyedihkan, aku tak menyangka seorang pangeran dari salah satu kerajaan besar bisa terlihat semenyedihkan dirimu."
"Aku sampai kehilangan nfsu untuk membunuhmu."
"Lihat saja nanti, aku pasti akan membunuhmu," pikir pangeran Bing Xuan Ho.
Belum jauh pangeran Bing Xuan Ho melangkah, Huanran keluar dari cincin ruang si Gendut lalu mencakarnya menggunakan mode iblis. Kuku kuku hitamnya membuat punggung pangeran kerajaan es tersebut mulai menghitam karena mengandung racun yang mematikan.
Ketika membalikkan badannya pangeran Bing Xuan Ho melihat Huanran dalam versi normalnya. "Huanran?"
"Kau ... ?" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pangeran Bing Xuan Ho tewas karena keracunan.
Brukkk
Tubuh pangeran Bing Xuan Ho perlahan menghitam lalu lenyap menjadi asap.
"Apa yang kau lakukan, Huanran?"
tanya si Gendut.
"Terlalu berbahaya membiarkannya hidup, dia menyimpan dendam yang besar terhadapmu. Jika kita membiarkannya memulihkan tenaga, dia akan menjadi musuh yang merepotkan." Huanran menatap si Gendut dengan senyum manisnya.
"Ada apa?"
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya si gendut.
"Tidak ada apa-apa." Huanran tersenyum karena mengetahui kebenaran bahwa dirinya belum di sentuh oleh pangeran kerajaan es.
Xiao Tian, Putri Jia Li, dan Su Yan terus terbang tanpa mengetahui kalau si gendut telah melompat dari atas punggung naga hitam raksasa. Sedangkan Taiwu, Kaibo dan Jingmi terbang menaiki naga biru di samping kiri naga hitam raksasa milik Xiao Tian.
Si gendut baru sadar bahwa dia telah tertinggal jauh, dia pun menyuruh Huanran merasukinya demi memperpendek jarak.
Setelah Huanran merasuki si Gendut, dia pun langsung membawa lari tubuh si gendut menuju wilayah Laut barat.
#####
Ketika mencapai lembah naga, Xiao Tian beserta rombongannya di hadang oleh ribuan naga hijau yang datang entah dari mana. Seharusnya lembah naga telah kosong karena naga hitam dan naga biru sudah tidak menghuni lembah tersebut.
Ukuran naga hijau sebesar naga biru yang dinaiki oleh Taiwu, yaitu setengah dari ukuran naga hitam raksasa milik Xiao Tian. Mata mereka berwarna kuning tajam dan pola serangan mereka begitu teratur.
Mereka menyemburkan ludah asam, yang sanggup melelehkan logam sekeras apapun.
Xiao Tian beserta rombongannya menghindari ludah asam yang keluar dari mulut naga-naga itu.
"Apa-apaan ini?"
"Dari mana datangnya naga naga ini?" ucap Xiao Tian dengan heran.
Setelah memperhatikan naga-naga hijau dengan baik, akhirnya Xiao Tian melihat bahwa di atas punggung dari salah satu naga tersebut, ada sesosok makhluk seram yang menyerupai seekor rubah.
Matanya berwarna merah dengan warna dominan hitam di luar lingkar matanya. Sedangkan bulunya berwarna putih. Dia memiliki sembilan buah ekor yang sangat panjang dan berdiri layaknya seorang manusia. Setelah diperhatikan dengan baik, makhluk itu juga memancarkan hawa siluman yang sama persis dengan raja siluman rubah putih.
"Bunuh mereka!" teriak raja siluman rubah putih.
Bersambung .....