
Setelah Xiao Tian menyebut mereka sebagai pengecut, ratusan siluman menunjukkan wujud asli mereka. Mereka berbentuk seperti kera, bereajah manusia namun semua tubuhnya berbulu layaknya seekor kera.
"Jadi ini yang disebut dengan siluman?"
"Kalian tak terlihat berbeda dengan para iblis." ucap Xiao Tian.
"Jangan samakan kami dengan kaum hina itu, kami disini atas perintah raja kera. Siapapun yang berani memasuki wilayah ini harus dihabisi." ucap salah satu siluman kera.
"Raja kera?"
"Apakah raja kalian yang menyembunyikan teman-temanku?" tanya Xiao Tian.
"Teman-temanmu?"
"Sudah lama kami tak menangkap manusia, dan yang ku tahu hanya iblis kecil yang berani datang kemari."
"Apakah kau berteman dengan seorang iblis?"
sambung siluman kera.
"Aku memang berteman dengan seorang iblis, apa kau punya masalah?" jawab Xiao Tian.
"Awanya kami ingin membiarkanmu pergi karena kau seorang manusia. Tapi karena kau berteman dengan iblis, maka kau tak diijinkan untuk pergi dari sini."
"Semua yang berteman dengan kaum iblis harus dihapuskan!"
"Serang!" teriak salah satu siluman kera.
Setelah kata serang diucapkan oleh salah satu siluman kera, ratusan siluman kera yang lain langsung menyerang Xiao Tian secara bergantian.
Xiao Tian menghindari semua serangan para siluman kera dengan begitu mudah, semua serangan mereka tak ada yang mengenainya.
Setiap pukulan dan tendangan yang di arahkan para siluman kera, berhasil dia tangkis hanya dengan menggunakan tangan kanannya.
Setiap siluman kera hanya bisa melancarkan satu serangan, baik berupa pukulan maupun tendangan. Setiap sati serangan para siluman kera dilancarkan Xiao Tian pasti mengkis serangan mereka lalu membalasnya dengan sekali pukul.
Para siluman kera terpental jauh karena pukulan Xiao Tian, medki begitu mereka tak menyerah dan terus mencoba menyerang Xiao Tian secara bergantian.
"Kalian terlalu lemah bagiku, menyerang dengan tangan kosong bukanlah ide yang bagus, karena aku sangat ahli dalam menggunakan perkelahian tangan kosong." jelas Xiao Tian.
Para Siluman kera tak mudah menyerah. Meski serangan mereka tak ada yang efektif, para siluman kera terus menyerang Xiao Tian dengan tangan kosong hingga mereka kehabisan energi.
Setelah terbaring lemas karena kehabisan energi, para siluman kera berteriak sambil merintih kesakitan.
"Raja kera, tolong kami ... , ada manusia yang mengganggu kedamaian kami. Raja kera tolong kami, kami sudah tak sanggup melindungi wilayah kami!" ucap para siluman kera.
"Bagus, teruslah panggil raja kalian itu!"
"Aku ingin menghajarnya habis-habisan." ucap Xiao Tian.
Tak lama kemudian sebuah tongkat emas raksasa yang begitu panjang jatuh dari atas langit, tongkat tersebut mengarah menuju Xiao Tian yang berada di tengah-tengah gerombolan siluman kera yang telah terbaring tak berdaya.
Atas peringatan Dewa Petir, Xiao Tian berhasil menghindari serangan tongkat itu.
Dari atas langit terlihat seorang siluman kera dengan jirah emas yang begitu mengkilap, memakai sebuah perhiasan seperti mahkota yang melingkar di kepalanya. Para siluman kera memanggilnya raja kera Sun Wukong.
Dia berdiri di ujung tongkat emas raksasa yang telah menancap ke tanah.
"Siapa yang berani mengganggu ketenangan semua anggota keluargaku!" bentak Wukong.
"Raja kera, tolong kami!" ucap para Siluman kera.
"Bukankah sudah aku bilang pada kalian, panggil aku Dewa Kera, aku sudah menjadi Dewa sejak lama, panggilan kalian sudah ketinggalan jaman." ucap WuKong.
"Dewa kera?"
"Hahahahaha."
"Lucu sekali, mana ada seekor kera yang menjadi Dewa." tawa Xiao Tian.
"Kau tidak bercanda kan?"
"Bukankah seharusnya seorang Dewa tak boleh ikut campur secara langsung dengan urusan dunia?" bisik Xiao Tian.
"Hei Dewa petir, apa yang kau lakukan disini?" tanya Wukong sambil menatap ke sebelah kanan Xiao Tian.
"Dewa petir?" para siluman kera kebingungan karena mereka pikir Wukong memanggil Xiao Tian dengan sebutan Dewa Petir.
"Apa kau bisa melihatnya?" tanya Xiao Tian.
"Tentu saja, aku kan seorang Dewa juga." sambung Wukong.
"Senior Wukong, maafkan kami."
"Kami tak bermaksud untuk mengacaukan tempatmu, kami hanya ingin menolong teman kami yang telah mereka tahan." jelas Dewa Petir.
Mendengar penjelasan Dewa Petir, Wukong berbalik bertanya kapada para pengikutnya.
"Kalian semua, apa itu benar?" tanya Wukong.
"Apa yang benar?" para siluman kera tak tahu tentang apa yang Wukong katakan karena mereka tak dapat melihat serta mendengar ucapan Dewa Petir.
"Tanyakan dengan benar, aku tak bisa dilihat maupun di dengar dalam bentuk roh, apa kau lupa?" tanya Dewa Petir.
"Ehm, maksudku ... , apakah benar kalau kalian telah menyembunyikan tubuh dari teman-teman manusia ini?" tanya Wukong.
"Benar, kami memang menyembunyikan temannya, tapi itu semua karena temannya merupakan seoramg iblis." sambung siluman kera.
Mendengar jawaban pengikutnya, Wukong melompat dari atas tongkat emas raksasa miliknya. seketika tongkat tersebut berubah menjadi kecil lalau terbang menuju ke genggaman tangannya.
Dia melompat tepat di hadapan salah satu pengikutnya. "Apa kau bisa menjelaskan dimana kau menyembunyikan iblis itu?" tanya Wukong.
"Itu ... ," salah satu pengikut Wukong mengalihkan pandangannya seakan dia tak mau memberi jawaban kepada Dewa mereka.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Wukong bertanya kepada siluman kera yang lain. Namun tak ada yang mau menjawab. Karena hal itu dia menjadi sangat kesal hingga berkata.
"Apa kalian sudah tak mempercayaiku lagi?"
"Aku memang memberi perintah kepada kalian, agar menangkap semua iblis yang melanggar perbatasan dan mengusir semua manusia yang berani menginjakkan kaki ke tempat ini. Kenapa kalian semua menutup mulut kalian?"
"Apa kalian membunuh iblis itu?" tanya Wukong.
"Tidak, bukan itu masalahnya!"
"Kami mengirim dia ke dalam labirin es." jawab salah satu siluman kera.
"Apa kau bilang!" bentak Wukong.
Wukong terlihat begitu murka karena mendengar kata Labirin es. Melihat kemurkaan Dewa mereka, para siluman kera berusaha bersujud sambil memohon ampun sambil menahan sakit karena luka parah yang mereka derita.
"Ampuni kami Dewa kera!" ucap para siluman kera.
Xiao berdiam diri karena tak ingin menjadi sasaran Wukong yang sedang terlihat begitu emosi. Meski memiliki banyak pertanyaan di dalam hatinya, dia kubur pertanyaan tersebut dalam-dalam sambil menunggu Wukong kembali tenang.
"Sebenarnya apa itu labirin es?" pikir Xiao Tian.
Xiao Tian menatap ke arah Dewa Petir untuk menghilangkan rasa penasarannya tentang labirin es. Dewa Petir memahami maksud Xiao Tian ketika mereka saling bertatap muka.
Melalui telepati, mereka pun saling berdiskusi.
"Dewa Petir, apakah kau tahu apa itu labirin es?" tanya Xiao Tian.
"Aku tak tahu, tanyakan saja kepada Dewa Kera." Dewa Petir menggelengkan kepalanya karena tak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan labirin es.
Karena tak mendapat jawaban yang jelas, mau tidak mau Xiao Tian menunggu Wukong sampai terlihat agak tenang.