Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 349 : Menyembuhkan korban yang berhasil selamat


Xiao Tian menyuruh medusa dan para iblis termasuk Sunlong pergi untuk berpatroli. Sedangkan Xiao Tian tetap di ruangan untuk mengobati para korban sekte singa perak yang telah diselamatkan oleh para siluman harimau.


"Apakah kau yakin tak ingin aku temani?" tanya Sunlong sambil menatap mata Xiao Tian.


"Tak perlu, aku bisa mengurus mereka sendiri. Toh kultivasi mereka tak setinggi itu hingga aku memerlukan perlindunganmu," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Sunlong.


"Iya iya, aku tahu kalau kau cukup hebat dan mampu mengurusi mereka," ucap Sunlong sambil menghela napas.


"Syukurlah kalau kau mengerti, sekarang pergilah dan temani medusa untuk mengontrol keamanan sekte. Oh iya jangan lupa kumpulkan makanan sebanyak mungkin untuk putri Jia Li dan yang Lainnya nanti," ucap Xiao Tian sambil memasang tampang serius.


"Iya aku mengerti, kalau begitu aku pamit dulu ya. Jaga dirimu, teman," ucap Sunlong sambil berjalan meninggalkan ruangan.


"Aku juga pamit undur diri, tuan," ucap Medusa sambil memberi hormat.


"Ya, pergilah," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.


"Teman ya?"


"Senang rasanya mendengar Sunlong memanggilku dengan sebutan itu," pikir Xiao Tian sambil bernapas lega.


Setelah berpamitan dengan Xiao Tian, Sunlong, Medusa beserta yang lainnya pergi meninggalkan ruangan untuk mengontrol apakah paman Lian Ting sudah benar benar pergi menjauh dari lingkungan sekte.


Ketika Sunlong dan rombongan bawahan Xiao Tian pergi, Xiao Tian pun mengeluarkan berbagai macam pil dari cincin ruangnya untuk menyadarkan para korban.


Setelah memberikan beberapa pil tingkat tinggi serta menyalurkan sebagian kecil kekuatan jiwa kepada mereka, akhirnya Xiao Tian berhasil membuat salah satu dari mereka tersadar kembali.


Karena sudah cukup banyak mengeluarkan kekuatan jiwa, Xiao Tian memutuskan untuk kembali duduk di sebuah kursi patriach yang biasa di duduki oleh Lian Ting sebelumnya.


Sambil menunggu simbol roh tikus suci mengembalikan seluruh kekuatan jiwanya, Xiao Tian duduk sambil memperhatikan ketiga korban sekte singa perak yang telah dia obati.


Ketiga korban tersebut memiliki paras yang cukup cantik. Pakaian mereka pun terlihat mewah dan mahal. Dari penampilan mereka Xiao Tian bisa menilai bahwa mereka bukanlah seorang rakyat jelata.


Selain berparas cantik dan berpakaian mewah, rambut mereka juga panjang terurai melewati bahu. Dengan warna rambut yang berbeda satu sama lainnya. Merah, kuning dan biru.


Saat itu Xiao Tian menutup rupanya ke dengan sebuah topeng dewa agar tak menakuti mereka.


"Dimana ini?"


"Apakah aku sudah mati?" ucap gadis berambut merah yang baru saja sadarkan diri dari pingsannya. Dia memegangi kepalanya sambil mencoba memahami apa yang sedang terjadi.


Kondisi matanya belum bisa melihat dengan jelas karena baru tersadar dari pingsan.


Dia jyga belum bisa bangkit dari tempatnya berbaring hingga hanya bisa menoleh ke kanan dan kekiri. Kebetulan sebelum dia tersadar dia sedang menghadap ke arah kanan. Saat pandangan buram sudah menghilang, alhasil orang pertama yang dia lihat adalah gadis berambut biru.


"Bukankah itu Meng Yi?"


"Kenapa dia terbaring lemas di sampingku?" pikir gadis berambut merah itu sambil menatap gadis berambut biru di sebelah kanannya.


"Hei, bangunlah!" Bai Qian berusaha memanggil temannya, namun dia tak berhasil mengeluarkan suara sedikitpun.


"Ba ... Bai Qian, apakah kau baik baik saja?" tanya gadis berambut kuning dengan nada lemas.


"Bukankah itu suara Bao Si?" pikir Bai Qian dengan mata terbelalak.


Sadar bahwa para korban belum pulih totol, Xiao Tian pun memberikan mereka beberapa persen kekuatan jiwa serta kekuatan qi miliknya lagi untuk mengembalikan stamina mereka.


Setelah mereka mendapatkan kekuatan qi dan kekuatan jiwa yang cukup, gadis berambut biru yang baru saja tersadar langsung bangkit dari tempatnya terbaring. Lalu memegang kepalanya sambil duduk dengan kaki yang diluruskan.


"Apa yang terjadi padaku?"


"Kenapa rasanya pusing sekali?" pikir Meng Yi sambil memegang dahinya.


"Bukankah itu Meng Yi?" pikir Bao Si sambil melihat Meng Yi yang baru saja duduk.


"Berdasarkan ingatanku, kami sedang dikurung di tungku pengorbanan tadi. Kenapa tiba tiba kami berada disini?" pikir Bai Qian sambil mencoba menggerakkan tubuhnya.


"Bai Qian?"


"Kau baik baik saja?" ucap Meng Yi yang baru saja menyadari bahwa Bai Qian ada di samping kirinya. Dengan tubuh yang masih gemetaran, dia pun langsung mencoba membantu Bai Qian bangkit dari tempatnya terbaring.Setelah itu membantu Bao Si yang juga masih kesulitan untuk duduk dengan kekuatan sendiri.


Setelah mendengar suara Xiao Tian mereka bertiga pun menengok ke arah yang sama. Lalu langsung menghindari tatapan Xiao Tian dengan begitu kompak.


"Apa kalian melihat seorang pria bertopeng kucing?" tanya Bao Si sambil menatap teman temannya.


"Ya, aku juga melihatnya. Mungkinkah dia orang yang menyelamatkan kita?" sambung Meng Yi sambil mengerutkan dahi.


"Tidak mungkin!"


"Apakah kalian tak lihat bahwa pakaiannya sama persis seperti pakaian seorang penatua sekte singa perak?" bisik Bai Qian dengan tampang panik.


"Kau benar, ini sangat sangat membingungkan," bisik Meng Yi sambil menepuk dahinya.


"Sial, aku benar benar diabaikan. Mereka malah asik mengobrol satu sama lain, bukannya berterimakasih padaku karena telah mengobati luka luka mereka," pikir Xiao Tian sambil menepuk dahinya.


"Meski tak terlihat jelas, aku sempat melihat orang orang yang menolong kita saat itu. Kalau tak salah mereka memang memakai pakaian sekte singa perak," bisik Bai Qian sambil menatap Bao Si.


"Kau benar, aku juga sekpat melihatnya sedikit. Mungkinkah di dalam sekte busuk ini terdapat orang orang yang memiliki hati baik juga?"


"Atau jangan jangan pakaian mereka hanyalah sebuah sarana pendukung untuk menyamarkan identitas mereka saja?" bisik Meng Yi sambil menatap kedua temannya.


"Sudahlah, pikirkan itu lain kali!"


"Yang penting saat ini, kita harus berterimakasih kepadanya. Walau bagaimanapun dia sudah menolong kita," ucap Bai Qian sambil menatap kedua temannya.


"Kau benar," ucap Meng Yi sambil menganggukkan kepala.


Setelah berbincang bincang cukup lama, akhirnya mereka pun menoleh lagi ke arah Xiao Tian.


"Apakah kalian sudah selesai bergosipnya?" tanya Xiao Tian sambil menghela napas.


"Hehehe, maaf kami tak bermaksud untuk mengabaikanmu. Soalnya kau terlihat mencurigakan di mata kami,"


"Jadi kami ... ," sebelum Bao Si sambil menggaruk garuk kepalanya.


Pletakk


"Kenapa kau mengatakannya secara terang terangan!" bentak Bai Qian sambil memukul kepala Bao Si.


"Maaf atas ketidak sopanan teman temanku. Aku sangat berterimakasih atas bantuan senior," ucap Meng Yi sambil memberi hormat.


"Tak apa, aku mengerti kok. Pakaian dan topeng di wajahku memang sangat mencurigakan," ucap Xiao Tian sambil


"Syukurlah kalau kau mengerti," ucap Bao Si sambil tersenyum.


"Bao .. Si ... ," ucap Meng Yi dan Bai Qian sambil memasang wajah kesal akan tatakrama Bao Si.


"Kenapa kalian menatapku dengan tatapan seperti itu?"


"Aku kan hanya mengungkapkan pendapatku saja, kalian juga berpikiran begitu kan?" tanya Bao Si dengan tampang tak bersalah.


"Bisakah kau diam sebentar saja?" pikir Bai Qian sambil menutup mulut Bao Si.


"Maaf atas gangguannya. Sekali lagi ku ucapkan terimakasih karena telah menolong kami. Jika senior berkenan, bisakah senior tunjukkan wajah dibalik itu?" Tanya Meng Yi sambil memberi hormat.


"Untuk apa kau melihat wajah dibalik topeng ini?" tanya Xiao Tian sambil menatap Meng Yi.


"Senior adalah penyelamat kami, tentu saja agar kami bisa membalasmu suatu hari nanti. Bagaimana bisa kami membalaskan kebaikan senior, tanpa mengetahui siapa senior sebenarnya," jelas Meng Yi sambilemberi hormat.


"Wajahku tersebar luas di daratan Xian Yun. Tersebar dalam poster buronan sekte pembasmi iblis. Namaku juga tertera dalam daftar buronan paling dicari di daratan ini. Apakah kau tetap ingin melihat wajah dibalik topeng ini?" tanya Xiao Tian sambil menatap Meng Yi.


"Tolong tunjukkan wajah asli senior, kami berjanji tak akan melupakan budi baik senior meski senior seorang penjahat sekalipun," ucap Meng Yi sambil memberi hormat.


"Ya, tunjukkan saja. Didunia ini tak ada yang bisa membuatku takut dan terkejut selain mendengar bahwa aku menjadi tumbal dari tungku pengorbanan sekte ini," sambung Bao Si sambil memasang tampang serius.


"Ya, tunjukkan saja. Meskipun kau merupakan seorang buronan sekalipun, kami pasti akan tetap berusaha untuk membalas budi baikmu," ucap Bai Qian sambil memberi hormat.


"Baiklah kalau begitu," ucap Xiao Tian sambil membuka topeng Dewanya.