Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 236 : Terus terobos


Jenderal Tailong kembali bangkit setelah terdiam cukup lama. Dia berjalan melewati Liang Su dan Kaibo, lalu berhenti ke orang misterius berjubah serba merah.


Taiwu langsung berjalan maju melewati Xiao Tian setelah melihat ayahnya kembali berjalan.


Sambil menepuk pundak Taiwu yang baru satu langkah melewatinya, Xiao Tian pun berkata, "Apa kau yakin ingin melawan ayahmu sendiri?"


"Dia telah tiada, dan saat ini tubuhnya tak lebih dari sebuah cangkang kerang tanpa isi. Meski kultivasiku lebih lemah dari kalian semua, aku lebih mengenal kelemahan dari seluruh teknik milik ayahku," ucap Taiwu sambil melanjutkan langkahnya.


"Taiwu ... ," ucap Xiao Tian sambil menatap punggung Taiwu.


Melihat Xiao Tian tampak sedih, putri Jia Li dan yang lainnya menepuk punggungnya dengan tatapan serius.


"Percayalah padanya, Taiwu pasti bisa melewati semua ini. Lagipula sejak Dewa Kera menceritakan tentang semua musuh kita nanti, dia sudah bertekad untuk melawan ayahnya sendiri," ucap putri Jia Li sambil menepuk pundak Xiao Tian.


"Demi menjadi kuat, kita harus mengambil kembali semua orang yang kita sayangi dari kendali sekte iblis," ucap si Gendut sambil menepuk punggung Xiao Tian.


"Kita harus menunjukkan kepada sekte iblis, bahwa mereka tak boleh bertindak sesukanya!" ucap Jingmi sambil menarik pakaian Xiao Tian.


"Pertarungan kali ini bukan hanya tentang Taiwu atau Huang Li, tapi tentang kita semua. Jadi jangan mengambil semua bebannya seorang diri, lakukanlah sesuai rencana yang telah kita buat sebelum datang kemari," ucap Su Yan sambil menepuk pundak Xiao Tian.


"Anakku, bisakah kau jelaskan apa yang telah terjadi terhadap kalian semua?"


"Kenapa kultivasi kalian bisa melebihi kultivasiku dalam waktu yang cukup singkat?" tanya Xiao Hong sambil menatap punggung Xiao Tian.


Setelah mendengar suara ibunya, Xiao Tian menghela napas begitu panjang. Lalu menoleh ke belakang dengan senyum tipis di wajahnya.


Sambil menatap ibunya, Xiao Tian pun berkata, "Ceritanya panjang, tapi tak bisa ku ceritakan sekarang. Untuk sekarang serahkan sisanya kepada kami. Akan kami pastikan Dianzeng menerima ganjaran atas perbuatannya."


Setelah Xiao Tian dan teman temannya berjalan menjauhi Xiao Hong, di dalam hatinya dia pun berkata, "Kau benar benar telah membuat ibumu bangga, anakku,"


Jingmi merubah fisiknya ke bentuk dewasa. Pakaiannya ikut berubah bersamaan dengan fisiknya yang terus berkembang.


Rambutnya memanjang dan berubah warna dari hitam menjadi merah menyala. Pakaiannya terlihat cukup ketat sehingga bentuk tubuhnya terlihat begitu jelas.


Bersamaan dengan perubahan sempurna dari fisik Jingmi, aura iblis yang begitu kuat mulai menyelimuti tubuhnya.


Meski begitu matanya tak berubah merah seperti layaknya iblis pada umumnya, warna mata hitamnya malah berubah membiru hingga melengkapi keimutannya.


Meski terlihat imut, tak ada yang tertarik melihat Jingmi. Mereka malah cenderung takut karena merasakan hawa iblis yang cukup luar biasa.


"Iblis?"


"Kenapa iblis berada diantara mereka?" ucap para pemburu iblis dengan mata terbelalak.


"Tak kusangka, ternyata iblis bisa menyamarkan diri menjadi seorang anak kecil. Jika dia tak merubah wujudnya di hadapan kita saat ini, mungkin kita tak akan pernah mengetahui jati dirinya," ucap para murid sekte Gunung api.


"Lama tak bertemu, Kaibo," ucap Jingmi sambil berjalan mendekati Kaibo.


"Krrrrr( Kaibo menggeram layaknya hewan buas yang merasa terancam),"


Ketika Jingmi mulai semakin dekat, kedua tangan Kaibo berubah menjadi cakar naga merah yang terlihat tajam dan berlapis hawa iblis. Setelah menggeram cukup lama, sayap naga merah perlahan muncul dari belakang punggungnya menembus jirah hitam yang saat itu sedang dia gunakan.


"Jangan sombong hanya karena kau bisa merubah tanganmu menjadi cakar naga merah. Karena bukan kau saja yang merupakan keturunan murni dari iblis naga!"


bentak Jingmi sambil merubah kedua tangannya sambil mengeluarkan sayap naga merah di belakang punggungnya.


Setelah mengumpulkan banyak energi qi di telapak kaki mereka, Kaibo dan Jingmi melompat begitu tinggi ke atas udara.


Mereka terbang begitu cepat dan melanjutkan pertarungan yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang di atas udara.


"Yo, Liang Su. Lama tak bertemu, apa kau masih mengingatku?" tanya Su Yan sambil menatap Liang Su yang menghalangi langkahnya.


"Sssssss," Liang Su mendesis bagaikan ular dengan lidah ular yang terus menjulur keluar setiap detiknya."


"Maaf karena aku tak becus menjadi seorang suami, hingga membuatmu jatuh ke tangan musuh dan tak bisa mengendalikan dirimu lagi,"


Tanpa menghiraukan ucapan Su Yan, Liang Su langsung menyerang Su Yan dengan tangan kanannya yang bisa memanjang dan berubah bentuk menjadi puluhan ular kecil yang saling melilit.


"Sadarlah dan kembali ke pelukanku, Liang Su!" Su Yan mengacungkan jari telunjuknya lalu berusaha menotok punggung Liang Su dengan ujung jari telunjuknya tersebut, tapi Liang Su menghindari totokan Su Yan dengan melompat ke atas udara.


Si Gendut berhadapan dengan orang berjubah merah yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya sorotan mata merah menyala yang dapat dilihat jelas oleh semua orang.


Sambil menatap orang tersebut diapun berkata, "Aku akan menjadi lawanmu,"


Sambil membuka tudung kepalanya orang tersebut berkata, "Lama tak bertemu, mas Endut,"


"Huanran?" tanya si Gendut sambil menatap orang misterius yang berwajah persis seperti Huanran.


"Ya, ini adalah aku. Tapi kenapa kau memanggilku dengan sebutan Huanran?"


"Bukankah kau selalu memanggilku dengan sebutan Huan er?" tanya wanita itu.


"Berhenti meniru sikap istriku!"


"Kembalikan tubuh istriku, iblis sialan!" ucap si Gendut sambil mengeluarkan rantai emas dari telapak tangan kanannya.


Rantai tersebut memanjang keluar hingga melilit tubuh Huanran yang dirasuki oleh roh iblis.


"Ra ... rantai emas?"


"Bukankah itu jurus milik ... ," belum sempat iblis itu menyelesaikan ucapannya, Huanran merasuki tubuh si Gendut lalu berkata, "Ya, ini adalah jurus khasku yang tak bisa ditiru oleh sembarang orang."


"Kudengar kau telah menjadi vampir, dan tewas di tangan Tainam Chun. Apakah benar kalau rohmu benar benar tak ada di dalam tubuhmu saat ini, Ayah?" tanya Taiwu sambil menatap jenderal Tailong.


"Krrrrrr," jemderal Tailong melesat maju ke hadapan Taiwu lalu mencoba mengampak tubuhnya, tapi Taiwu menahan kampak tersebut hanya dengan menggunakan salah satu pedangnya. Sambil menahan kampak tersebut Taiwu menendang mundur jenderal Tailong dengan kaki kanannya hingga menghantam tembok istana.


Bukkk


"Maafkan aku ayah, kau tak memberiku banyak pilihan," ucap Taiwu dengan tangis di wajahnya.


Ketika yang lain sedang sibuk bertarung, putri Jia Li dan Xiao Tian melanjutkan langkah mereka menuju gerbang istana untuk menghampiri raja iblis Dian Zheng.


Sambil memberi jalan untuk Xiao Tian, putri Jia Li mensummon ribuan golem es berpedang putih. Golem golem es tersebut memiliki ukuran tubuh sebesar manusia dewasa dan memiliki gerakan yang begitu cepat melebihi kecepatan para Dewa Petarung.


Berkat bantuan ribuan golem es tersebut para leviant yang mencoba menghadang jalan mereka menuju gerbang tak dapat menghambat perjalanan Xiao Tian menuju istana raja iblis Dian Zheng.


Ketika berada tepat dihadapan gerbang istana yang tertutup rapat, Xiao Tian pun berteriak, "Keluarlah kau, Dian Zheng!"


"Jangan bersembunyi layaknya seorang pengecut!"


Setelah Xiao Tian berteriak cukup kencang, tak perlu waktu lama gerbang istana mulai terbuka. Dian Zheng yang selama ini tak pernah menampakkan wujudnya di hadapan manusia dan selalu bermain di balik layar, saat ini memberanikan diri untuk muncul karena merasakan hawa keberadaan ayahnya.


Pria tampan bermata dan berambut kuning muncul dari dalam gerbang. Tubuhnya terlihat begitu gagah dengan jirah emas yang berlapis aura iblis.


Dia muncul sambil memegang pedang kuning yang menyala begitu terang dengan petir hitam yang menyelimuti pedang tersebut.


"Apa yang kau lakukan di dalam cincin seorang manusia, Ayah?" ucap Dian Zheng dengan tampang seriusnya.


"A ... ayah?" Xiao Tian terkejut bukan main setelah mendengar Dian Zheng memanggil Dewa Petir dengan sebutan ayah.


Dia begitu terkejut karena Wukong tak menceritakan bahwa Dian Zheng merupakan putra dari Dewa Petir yang telah lama dianggap tiada karena tewas terbunuh saat menjalani hukuman di gua kesunyian.


"Bisa kau jelaskan maksud semua ini?"


"Dewa Petir?" tanya Xiao Tian melalui telepati.


"Apakah benar kalau dia adalah putramu?" tanya Xiao Tian melalui telepati.


Dewa Petir tak berani menjawab pertanyaan Xiao Tian, dia masih belum berani memastikan apakah Dian Zheng yang berada di hadapannya saat ini merupakan Dian Zheng yang sama yang merupakan putra pertamanya. Karena Dewa Petir mengabaikan pertanyaanya, Xiao Tian pun berkata, "Kalau dia bukan putramu dan hanya mengaku ngaku saja, maka akan kubasmi dia saat ini juga,"


"Ja ... jangan, meski sulit dipercaya karena namanya telah menghilang dari buku takdir. Aku masih berharap kalau dia memang putra pertamaku, tolong jangan bunuh dia. Biarkan dia hidup. Lukai dia sesukamu, lumpuhkan kultivasinya jika perlu. Asal jangan kau renggut nyawanya, setidaknya biarkan aku memastikan kalau dia benar benar putraku," jawab Dewa Petir melalui telepati.