
"Aku sudah memahami garis besarnya, tapi bisakah kau masuk duluan?"
"Aku takut para roh iblis itu menyambut kami dengan serangan jika bukan kau duluan yang kesana. Tak apa kan, Pangeran?" tanya Su Yan sambil tersenyum tipis.
"Haih, baiklah. Aku akan masuk duluan. Dan kalian semua ikuti aku," ucap Xiao Tian sambil melangkah masuk ke portal ruang hampa.
Xiao Tian melangkah lebih dulu menuju portal, diikuti oleh Su Yan, naga hitam, putri Jia Li, Huang Li, Liang Su, Kaibo, si Gendut, Huanran, lalu jenderal Huang Cheng dan pasukannya.
Dan yang terakhir ratu Xiao Hong dengan lima prajurit bayangannya.
Tepat ketika semua orang telah masuk, Xiao Tian langsung menutup portal ruang hampa.
#Ruang Hampa
"Yo," ucap Dewa petir sambil menyapa Xiao Tian.
"Kupikir sesuatu terjadi hingga portalnya terbuka begitu lama, kenapa kau bawa begitu banyak orang kemari?" tanya Sun Long sambil menatap Xiao Tian.
"Apakah kadal merah kecil itu roh iblis?" ucap si Gendut.
Ketika si gendut selesai berbicara, Sun Long melihat ke arah Huanran yang kebetulan tepat berada di samping kanannya. Tatapan Huanran seperti seorang yang terlihat sedang terlampau gemas ingin memeluk makhluk lucu secepatnya.
Ketika melirik ke arah lain, dia juga melihat tatapan yang sama. Selain Liang Su, semua wanita begitu tertarik ingin meremas Sun Long.
"Glek." Sun Long menelan ludah karena merasakan firasat buruk.
"Sepertinya aku harus kabur dari sini," pikir Sun Long.
Sun Long langsung berbalik arah dan berniat meninggalkan keramaian. Namun baru sempat dia membalikkan badannya, Huanran menarik ekornya hingga membuat Sun Long tak bisa berlari.
"Hayu , mau kemana. Jangan takut kadal kecil kami tak akan menggigit kok," ucap Huanran.
"Xiao Tian ... ," ucap Sun Long sambil meneteskan air mata.
"Kenapa kau menangis?"
"Bukankah enak dikelilingi gadis gadis?" tanya Xiao Tian.
"Aku ini tak tertarik pada manusia tahu!" bentak Sun Long melalui telepati.
"Wah wajah kesalnya imut sekali, sini peluk," ucap putri Jia Li sambil memeluk erat Sun Long setelah merebut paksa dia dari pelukan Huanran.
"Gemas sih gemas saja, tapi bisakah kau kendurkan pelukanmu!" bentak Sun Long.
"Hei gantian, aku juga ingin memeluknya!"
"Lagian kan aku duluan yang menangkapnya," ucap Huanran sambil menarik paksa ekor Sun Long.
"Sial, aku diabaikan," pikir Sun Long.
"Wah. Tak kusangka setelah kontrakmu terlepas, kau jadi populer di kalangan wanita ya," ucap Dewa petir sambil menutup mulutnya sendiri dengan tampang menyebalkannya.
"Dasar Dewa tak berperi kemanusiaan!" ucap Sun Long melalui telepati dengan tampang yang terlihat menahan rasa sakit.
"Lah, kamu kan bukan manusia. Harusnya berperi kekadalan," ucap Dewa petir sambil meledek Sun Long.
"Siapa yang kau panggil kadal!"
"Sudah kubilang aku itu naga!" bentak Sun Long melalui telepati.
"Kalian terlalu kasar, lihatlah naga kecil itu merintih kesakitan. Sini biar aku yang peluk," ucap ratu Xiao Hong.
"Akhirnya ada yang menger .... " ucapan Sun Long terhenti ketika ratu Xiao Hong mulai memeluknya dengan sekuat tenaga.
Krakkk
"Sial, dia lebih buruk dari pada yang lain," pikir Sun Long dengan tubuh yang gemetaran.
"Habis ini Jingmi dong," ucap Jingmi dengan wajah memelasnya.
"Wah imutnya, nih cepat pegang. Tapi jangan biarkan dia kabur," ucap ratu Xiao Hong.
"Oke," ucap Jingmi sambil memeluk Sun Long.
"Pelukannya lebih nyaman, lebih baik aku terus bersamanya dan menolak pelukan lain agar tak tersiksa. Demi kenyamanan aku harus bersikap manis," pikir Sun Long.
"Peluk ... , peluk .... , peluk," pikir Huang Li sambil menatap Sun Long dengan tampang gemas.
Sun Long bersikap imut dan berhenti memberontak karena Jingmi memeluknya tak begitu erat. Melihat Huang Li menatapnya dengan antusias seperti pemangsa yang siap menerkam korbannya, Sun Long langsung menatapnya dengan tajam sambil meraung untuk memperjelas kalau dia tak ingin dipeluk oleh wanita lain.
"Rrrrr!" ucap Sun Long.
"Ternyata kau seorang pedofil ya, kadal kerdil," ucap Dewa petir.
"Pedofil matamu!"
"Aku memilih Jingmi bukan karena tertarik padanya. Tapi demi kenyamananku sendiri agar selamat dari pelukan menyakitkan dari para wanita kampret," ucap Sun Long melalui telepati.
Ketika fokus semua orang masih teralihkan pada Sun Long, Xiao Tian berinisiatif mendekati Dewa petir lalu berkata," Hei bisakah kita bicara sebentar?"
"Oh maaf, aku sedang sibuk," ucap Dewa Petir sambil tersenyum tipis.
Pletakkk
Xiao Tian memukul kepala Dewa petir karena merasa kesal.
"Aku serius, kenapa disini hanya ada kalian berdua?"
"Kemana Dian Zheng dan yang lainnya?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Mereka sedang berlatih agak jauh dari sini," jawab Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.
"Oh iya, bisakah kau jelaskan alasan mengapa Sun Long bisa dilihat dan dipeluk oleh orang orang?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Roh iblis memang bisa dilihat oleh semua orang. Mereka tak bisa dilihat jika memiliki ikatan dengan seseorang. Sama halnya ketika kau dan Taiwu pertama kali bertrmu Sun Long di gunung iblis, kalian berdua bisa melihatnya dengan jelas bukan?"
"Tapi ketika dia menjadi roh bela dirimu, walau ku keluarkan dari alam pikiran sekalipun tak ada yang bisa melihatnya. Kecuali bangsa siluman dan iblis tingkat tinggi tentunya," jelas Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.
"Lalu alasan dia bisa disentuh apa?" tanya Xiao Tian.
"Karena tingkat kultivasinya jauh di bawah orang orang yang menyentuhnya," jelas Dewa petir.
"Memangnya berapa tingkat kultivasi dia sekarang?"
"Aku tak dapat mengukur kultivasinya sejak awal bertemu tadi," tanya Xiao Tian dengan dahi yang dikerutkan.
"Tepat sekali," jawab Dewa petir.
"Maksudmu?" tanya Xiao Tian dengan tampang wajah yang semakin bingung.
"Sunlong saat ini tak memiliki dasar kultivasi. Dia hanyalah roh iblis lemah yang mudah dilukai," jelas Dewa petir.
"Apakah ada cara untuk menaikkan kultivasinya?" tanya Xiao Tian.
"Sebenarnya ada, tapi tak bisa ku katakan sekarang," jawab Dewa petir.
"Kenapa?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Karena ini merupakan rahasia langit," jawab Dewa petir sambil tersenyum tipis.
"Oh iya, bukankah Dian Zheng sedang melatih para roh iblis?"
"Kenapa Sun Long tak ikut dengan mereka?" tanya Xiao Tian.
"Seperti yang kau ketahui, kadal tengik itu sangatlah keras kepala. Dia tahu kalau dia lemah, tapi tak mau ikut memohon kepada Dian Zheng," jawab Dewa petir.
"Oh iya kau kan pernah bilang kalau kultivasi teman temanku tak sepenuhnya di hilangkan. Bisakah kau beritahu aku cara mengembalikan kultivasi mereka?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Dewa petir.
"Polanya terlalu rumit, hanya keturunan dewa dan yang telah menjadi dewa saja yang bisa membuka segel tersebut," jelas Dewa petir.
"Jadi kita perlu bantuan Dian Zheng?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tidak, tubuh Dian Zheng tidaklah murni. Dia memang keturunanku dengan istriku. Namun, entah dari mana dia mendapatkan aura iblis."
"Aura iblis merupakan penghalang besar bagi teknik pembuka segel milik Dewa kera. Oleh karena itu mustahil bagi Dian Zheng membantumu dalam hal ini. Bahkan banyak yang curiga bahwa Dian Zheng bukanlah putraku, karena dia terlahir dengan aura iblis ... ," jelas Dewa petir sambil mengepalkan tangannya.
Ketika Dewa petir baru menyelesaikan kalimatnya, dia baru sadar bahwa Dian Zheng telah berada tepat di belakangnya.
Kata terakhir yang Dian Zheng dengar adalah,
"Dian Zheng bukanlah putraku, karena dia terlahir dengan aura iblis."
Mata tersebut terus terngiang di telinganya, hingga membuat Dian Zheng mengeluarkan air mata lalu menjatuhkan pedang petir kuning di tangan kanannya.
Klang ......
"Aku bukanlah putra ayah?"
"Jadi ini alasan kegelisahanku selama ini?"
"Ternyata ayah menyembunyikan hal sepenting ini dariku," pikir Dian Zheng.
Dewa petir dan Xiao Tian menoleh ke belakang karena mendengar suara pedang yang terjatuh dan fokus semua orang pun terfokus pada Dian Zheng.
"Dian Zheng?" ucap Dewa petir.
"Teganya kau menipuku selama ini. Pantas saja kau tak mengijinkanku keluar dari ruang hampa. Apakah semua kenangan itu hanyalah rekayasa!"
"Ibu, adik dan teman teman. Apakah semua itu hanyalah ingatan palsu!"
"Mungkinkah Wu Kong melakukan hal yang sama terhadap ingatanku?" tanya Dian Zheng dengan tangis di wajahnya. Rahang atas dan bawahnya dipertemukan begitu erat karena meresa begitu terpukul.
Tangan serta kakinya pun ikut gemetaran, diikuti suara napas yang sangat tidak teratur.
"Aku membencimu, ayah!" ucap Dian Zheng sambil berbalik arah kemudian berlari menjauh.
"Tunggu Dian Zheng, kau salah paham!" ucap Dewa petir sambil mencoba mengejar Dian Zheng.
"Siapa dia?"
"Kenapa dia memanggil Xiao Tian dengan sebutan ayah?" pikir Xiao Hong sambil menatap punggung Dian Zheng.
"Hei guru, sejak kapan kau memiliki putra sebesar itu?" tanya si Gendut sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Yan Yan apakah benar kalau dia putramu?" tanya putri Jia Li sambil menatap mata Xiao Tian.
"Terus siapa Wu Kong?"
"Kenapa kami merasa tak asing dengan nama itu?" tanya kaibo sambil menarik pakaian Xiao Tian.
"Apakah ayah Xiao Tian sudah tak ingin Jingmi lagi, hingga mengangkat anak lain?"
"Huaaaaa ... ," teriak Jingmi sambil menangis dengan penuh air mata.
"Kau bahkan belum menjelaskan soal Jingmi dan Kaibo, sekarang muncul lagi orang yang mengaku sebagai putramu. Bisakah kau jelaskan itu ... , Yan Yan?" tanya Putri Jia Li dengan tampang kesalnya.
Saat itu Sun Long sedang berada di pelukan putri Jia Li. Jingmi melemparnya ke pelukan putri Jia Li saat mendengar ucapan Dian Zheng.
Saking kesalnya terhadap hal yang dia dengar, putri Jia Li tak sengaja meremas Sun Long jauh lebih kencang dari sebelumnya.
"Sialan, kalau begini terus aku bisa bisa mati," ucap Sun Long sambil menahan rasa sakit.
"Sudahlah jangan memojokkan pangeran, sebagai seorang putra mahkota dia memang diperbolehkan memiliki anak dari berbagai macam wanita," ucap Huang Li sambil menatap Xiao Tian.
"Yan Yan adalah milikku, dia tak boleh dimiliki oleh wanita lain!" bentak putri Jia Li sambil memegang kerah Huang Li.
"Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa akan mengijinkanku menikah dengannya baru baru ini?"
"Atau kau sudah lupa akan janjimu itu?" ucap Huang Li dengan tampang menyebalkannya.
"A ... aku tarik ucapanku itu!" ucap putri Jia Li sambil mendorong mundur Huabg Li.
"Aku mengatakan itu dulu, karena dalam hitungan hari aku akan tiada. Tapi saat ini umurku bisa mencapai ribuan tahun. Untuk apa membagi priaku dengan wanita ini," pikir putri Jia Li sambil menatap Huang Li.
"Beraninya kau mendorongku!" bentak Huang Li.
"Siapa bilang aku takut!"
"Ayo maju!" bentak putri Jia Li sambil bersiap menjambak rambut Huang Li.
Melihat Huang Li dan putri Jia Li bertengkar tak kunjung henti, Xiao Hong dan Huanran membantu melerai mereka. Sedangkan Xiao Tian memanfaatkan momen tersebut untuk kabur dari pertanyaan.
####
"Huft, syukurlah akhirnya aku terbebas dari mereka."
"Syukurlah tak ada larangan menggunakan teknik teleportasi di ruang hampa, jika tidak aku tak tahu harus kabur ke mana," pikir Xiao Tian sambil menghela napas.
"Ngomong ngomong apakah karena aku yang terlalu fokus terhadap Dewa petir atau memang jenderal Huang Cheng dan seluruh prajurit menghilang ya?"
"Aku bahkan tak melihat Su Yan dan Liang Su ketika Dian Zheng muncul."
"Kemana sebenarnya mereka pergi?" pikir Xiao Tian sambil menggaruk garuk kepala.
######
Di suatu tempat di ruang hampa yang terletak sedikit jauh dari tempat Xiao Tian saat ini berada.
####
Su Yan dan Liang Su terikat erat oleh sebuah rantai perak pengikat roh. Mereka diikat oleh salah satu roh iblis yang telah dilatih oleh Dian Zheng.
Jenderal Huang Cheng dan yang lainnya pun ikut tertangkap dan terikat rantai pengikat roh di tangan serta kaki mereka.
Mereka melakukan hal tersebut bukan untuk tujuan jahat. Namun karena syarat yang Dian Zheng berikan untuk menjadi muridnya.
Dian Zheng memberi tugas kepada para roh iblis, agar bisa menyapa rombongan Xiao Tian tanpa membuat mereka pingsan ketakutan.
Syarat mutlaknya adalah tersenyum semanis mungkin. Namun karena sifat roh roh iblis tersebut yang agak kaku dan tak pernah senyum sebelumnya, membuat senyuman mereka terlihat lebih mengerikan hingga membuat jenderal Huang Cheng dan para prajurit pingsan ketakutan.
"Mereka masih pingsan saja, berapa kali mereka pingsan setelah melihat senyum kita?" tanya salah satu roh iblis kerbau berbadan manusia kepada roh iblis yang lain.
"Ini sudah ke yang lima puluh kali," sambung roh iblis ular dalam wujud ular raksasa.
"Padahal kita hanya sedang berlatih menyapa, kenapa mereka terus pingsan setiap kali kita tersenyum?"
"Apakah senyum kita masih terlihat mengerikan?" tanya roh iblis buaya yang memiliki bentuk tubuh seperti seorang manusia. Dengan kepala yang masih terlihat seperti seekor buaya dia mengerutkan dahinya.
"Semua orang memang takut, tapi ada dua orang yang masih tertidur nyenyak dan belum bangun sejak kita membawa mereka secara diam diam," sambung roh iblis ular sambil menatap Su Yan dan Liang Su.
"Itu semua kan karena kau menyuntikkan racun tidurmu kepada mereka, bukannya menusuk korbanmu dengan jarum pelumpuh milik guru Dian Zheng," jelas roh iblis buaya sambil menatap kesal mata roh iblis ular.
"Habisnya aku tak tahan dengan bau siluman mereka, aku sangat ingin memakan mereka. Namun aku sangat tahu balas budi, kalau tidak ... ,"
"Aku pasti sudah memakan habis mereka," ucap roh iblis ular sambil meneteskan air liurnya.
"Kau tak seperti biasanya medusa. Biasanya kau begitu tak tahu balas budi, dan hanya mementingkan diri sendiri," sambung roh iblis buaya sambil tersenyum tipis.
"Cih, aku kan tahu batasanku," ucap roh iblis ular sambil membuang muka.