
Xiao Tian mengalami sakit kepala yang teramat dahsyat setelah mendengar Sunlong mengucapkan kata Lily.
Bersamaan dengan rasa sakit itu sebuah ingatan masa lalu terlintas dalam pikirannya.
***********
Xiao Tian mengingat dirinya ketika masih berumur 5 tahun. Dia sering kabur dari istana setiap ayahnya memberi pelajaran tatakrama istana.
Xiao Zhaoye selalu merasa kesal dengan tingkah nakal anaknya itu, namun karena Xiao Hong yang terus memanjakannya dia tak leluasa memarahinya.
Xiao Tian sering bertindak sesukanya karena tak pernah dimarahi sejak kecil, dan ayahnya tahu akan hal itu. Oleh karena itu ketika Xiao Hong sedang tidak ada di istana, Xiao Zhaoye sering mencuri kesempatan untuk memarahi Xiao Tian agar dia mematuhi perintahnya dan berhenti menjadi anak yang nakal.
Sayangnya Xiao Tian tak pernah mendengar omelan serta nasehat ayahnya, dia selalu kabur saat pelajaran tata krama istana.
Meski masih berumur lima tahun, Xiao Tian sangat ahli dalam melarikan diri. Dia selalu keluar istana sambil menggunakan penyamaran yang sempurna. Saking sempurnanya penyamaran tersebut, raja Xiao Zhaoye tak dapat mengenalinya ketika dia sedang menyamar.
Xiao Tian memiliki sebuah topeng pengubah wajah yang diberikan Xiao Hong kepadanya.
Dia juga memiliki cincin ruang yang menyimpan banyak pakaian rakyat jelata serta beberapa koin emas. Semua peralatan untuk kabur dan menyamar itu adalah pemberian dari ibu kandungnya sendiri tanpa sepengetahuan ayahnya.
"Ibu memang luar biasa, aku pergi kemanapun dengan topeng dan pakaian-pakaian ini. Dengan baju dan wajah berbeda, ayah tak bisa mengenaliku sama sekali." ucap Xiao Tian.
Ketika keluar istana, Xiao Tian selalu pergi menuju taman bermain atau tempat rakyat jelata untuk bergaul dengan teman yang seumuran dengannya.
Suatu hari, ketika dia sedang mengunjungi kota Shandian, dia tak sengaja menabrak seorang gadis kecil yang sebaya dengannya.
Gadis itu menangis karena pakaian bersih yang dia bawa diatas keranjang kecilnya, tak sengaja terjatuh ke sebuah genangan air yang berlumpur.
"Ma ... maafkan aku, aku tak sengaja menjatuhkan pakaianmu."
"Tolong berhentilah menangis." ucap Xiao Tian sambil memunguti pakaiannya yang telah terjatuh ke genangan lumpur.
"Tak apa, ini semua salahku yang tidak hati-hati ketika berjalan." gadis itu mengambil pakaiannya lalu bergegas pergi meninggalkan Xiao Tian sambil mencoba mengusap air matanya.
"Tu ... tunggu siapa namamu!" tanya Xiao Tian.
Gadis itu meninggalkan Xiao Tian tanpa menghiraukan panggilan Xiao Tian.
Karena merasa bersalah Xiao Tian terus mengikuti gadis itu hingga berhenti di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu. Dia melihat gadis kecil itu gemetar ketakutan ketika ingin mengetuk pintu rumah itu.
Sebelum dia mengetuk pintu tersebut, pintu itu terbuka sendiri dan seorang wanita berwajah ketus dan bertubuh agak gemuk terlihat dari balik pintu rumah itu.
"Kenapa kau begitu lama?"
"Bukankah aku sudah bilang untuk datang lebih cepat!" ucap wanita itu dengan jutek.
"Ma ... maafkan aku nyonya." jawab gadis kecil itu.
"Maaf?"
"Gampang sekali kau minta maaf."
"Berikan pakaianku, aku ingin memakainya untuk pesta malam ini." ucap wanita itu sambil merebut keranjang kecil yang dibawa gadis kecil itu.
Gadis itu terlihat gemetar ketakutan ketika keranjangnya direbut paksa oleh wanita itu. Wanita itu terlihat semakin marah saat menyadari bahwa pakaian di keranjang itu telah kotor dihiasi lumpur.
"Apa-apaan ini!"
"Aku kan hanya menyuruhmu untuk mengambil pakaianku dari tempat pencucian pakaian, kenapa pakaian-pakaianku menjadi sekotor ini!"
"Akan aku adukan kelakuan nakalmu ini kepada ayahmu!" bentak wanita itu.
"Tolong jangan katakan pada ayahku, aku berjanji akan menjadi gadis baik."
"Hukum saja aku, aku tak ingin ayah marah lagi padaku sehingga memperpanjang hukumanku untuk hidup dibawah pengawasanmu." jawab gadis itu.
"Kalau kau tak ingin ayahmu tahu soal ini, pergilah dari sini dan bawa pakaian kotorku ini!"
"Jangan pernah kembali sebelum pakaianku kembali bersih seperti semula!"
"Dan satu lagi, tak ada makan malam untukmu hari ini." ucap wanita itu sambil melempar keranjang pakaiannya kepada gadis kecil itu.
Setelah puas mengomeli gadis kecil itu, wanita itu menutup pintu rumahnya dengan begitu keras.
"Ayah, aku ingin pulang."
"Kapan kau akan kembali dan membawaku pergi dari tempat ini, aku merindukan kerajaan Awan dan kasih sayangmu."
"Tolong jemputlah aku, ayah." ucap gadis itu sambil menangis.
Gadis itu pergi ke sebuah sumur tua untuk menimba air, namun karena jari jari kecilnya belum sanggup menahan beratnya air dia hampir terpeleset jatuh. Melihat gadis kecil itu hampir jatuh Xiao Tian bergegas berlari mendekat lalu memegang tubuh gadis kecil itu agar tak terjatuh ke dalam sumur.
"Kau tidak apa-apa?" ucap Xiao Tian.
"Kau?"
"Kenapa kau ada disini?" tanya gadis kecil itu.
"Apa itu caramu berterimakasih kepada seseorang yang telah menolongmu?" tanya Xiao Tian.
"Aku tak meminta bantuanmu." balas gadis itu.
"Tapi aku mau membantumu, lagi pula aku yang membuatmu seperti ini, jadi ini juga tanggung jawabku." balas Xiao Tian.
Xiao Tian membantu gadis itu menimba air dan membersihkan pakaian wanita itu hingga malam hari. Setelah pekerjaanya selesai, gadis itu berkata. "Terima kasih, maafkan aku karena berkata kasar padamu dan tak menghiraukan ucapanmu sejak di pasar tadi."
"Tak apa, lagi pula aku yang salah waktu itu. Seharusnya aku yang meminta maaf karena berjalan dengan tidak hati-hati dan tak memperhatikan sekitarku." sambung Xiao Tian.
"Lily?" tanya Xiao Tian.
"Katakan namamu." balas gadis itu.
"Oh ... jadi Lily itu namamu, namaku Yanyan."
"Salam kenal." sambung Xiao Tian sambil bersalaman dengan gadis itu.
Sejak saat itu mereka menjadi sangat akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.
Meski sudah akrab, mereka berdua tetap menggunakan nama samaran untuk menjaga identitas masing-masing.
Akan tetapi, meski Lily menyembunyikan identitasnya debgan baik, Xiao Tian tak sengaja berhasil mengetahui identitas asli Lily.
Meski tahu akan hal itu, Xiao Tian berpura-pura tak mengenal identitas asli gadis itu dengan bersikap seperti biasanya.
"Lily apa kau merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Xiao Tian.
"Untuk apa aku merahasiakan sesuatu darimu, kita kan sudah lama berteman." balas gadis itu.
Xiao Tian mengetahui bahwa Lily adalah seorang putri dari kerajaan awan, dan memiliki nama asli putry Jia Li. Dia sedang dihukum ayahnya karena melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan ayahnya. Dimana dia mempertanyakan perubahan sikap sang ayah terhadap dirinya sejak adiknya terlahir ke dunia.
Lima tahun telah berlalu, tiba saat dimana hukuman putri Jia Li berakhir. Dia berpamitan dengan Xiao Tian karena harus kembali ke kerajaan Awan. Namun tetap merahasiakan identitas aslinya sebagai putri, karena dia tak ingin Xiao Tian mengetahui rahasia kecilnya itu. Padahal sebenarnya Xiao Tian sudah mengenali identitas Lily sejak dulu.
"Yan yan ... jaga dirimu baik-baik, aku harus pergi ke tempat asalku. Aku tak bisa menjelaskannya padamu, tapi perlu aku ingatkan padamu bahwa aku tak akan pernah melupakanmu, sampai jumpa Yan yan." putri Jia Li berjalan meninggalkan Xiao Tian dengan wajah yang dipenuhi air mata.
"Sampai jumpa, Lily."
"Aku juga tak akan pernah melupakanmu, meski jarak memisahkan kita." Xiao Tian menatap terus kearah putri Jia Li dengan air mata yang berlinang.
Xiao Tian berpura-pura tak mengetahui identitas asli Lily hingga jarak memisahkan mereka. Dia ingin Lily menceritakan kebenarannya sendiri suatu hari nanti.
Ketika Lily telah lama meninggalkan kerajaan Petir, Xiao Tian terus menjalani aktifitasnya seperti biasa. Dia selalu kabur dari pelajaran tata krama di istana, untuk bersenang-senang.
Hingga tiba saat dimana semua kesenangannya telah berakhir, dimana dia harus kehilangan topeng penyamaran serta semua koin emasnya karena melanggar perintah Xiao Hong untuk tak pergi keluar istana untuk sementara.
Xiao Hong melarang putranya itu pergi keluar istana karena sekte kegelapan serta sekte iblis mulai sering muncul dan membuat kekacauan di banyak wilayah kerajaan petir.
Demi menjaga keamanan putranya, Xiao Hong memperkenalkan Taiwu dengan Xiao Tian. Itu adalah pertama kali mereka saling bertemu dan berkenalan.
Ketika sudah cukup akrab kejadian naas terjadi kepada Taiwu. Dimana dia kehilangan satu-satunya ibu yang dia sayangi karena diculik oleh sekte kegelapan, dan ayahnya yang menggila karena tak bisa melindungi ibunya ketika sekte kegelapan melakukan penyerangan dadakan.
Serangan sekte kegelapan waktu itu tak hanya membuat Taiwu merasa sedih. Xiao Tian juga merasa sedih karena raja Xiao Zhaoye juga mengalami luka parah akibat melindunginya yang sedang kabur keluar istana. Luka yang di derita ayahnya waktu itu sangatlah parah hingga para alkemis dan tabib istana dibuat kewalahan karna tak bisa mengobati luka raja mereka.
Sampai suatu hari muncul seorang alkemis tingkat tinggi yang datang entah dari mana, dia menyembuhkan raja Xiao Zhaoye hanya dalam hitungan detik. Melihat keajaiban itu semua orang memanggilnya dengan sebutan Dewa Obat.
Xiao Tian sangat terobsesi dengan alkemis itu, karena melihat keajaiban yang dia buat dengan mata kepalanya sendiri.
Sejak saat itu dia tertarik dengan ilmu alkemis dan memanggil dirinya sebagai Dewa Obat, sayangnya dia tak memiliki bakat dalam beladiri ataupun alkemis.
Dia selalu gagal ketika mencoba berkultivasi atau melakukan beladiri. Meski sudah mencoba berbagai cara, dia tak bisa menguasai satu teknik beladiri sedikitpun.
Karena terlalu memaksakan diri akhirnya dia mengalami cidera parah yang mengakibatnya tak boleh berlatih beladiri lagi. Meski tak bisa berlatih beladiri lagi, Xiao Tian tak menyerah dalam mempelajari ilmu alkemis.
Selain guru pribadinya, tak ada yang mengetahui cidera parah yang Xiao Tian alami. Hal ini terjadi karena Xiao Tian mempelajari teknik beladiri dan ilmu alkemis tanpa sepengetahuan ayahnya. Dia belajar hal-hal itu di luar istana kerajaan dengan ijin Xiao Hong.
Karena selalu kabur saat pelajaran di istana, banyak rumor buruk yang menyebar soal Xiao Tian. Dari sikapnya yang pemalas dan berbagai macam hal, namun dia tak menghiraukan rumor itu dan terus belajar alkemis dan tetap mengklaim dirinya sebagai Dewa obat.
Xiao Tian memiliki tubuh yang begitu lemah karena cidera yang dia alami, dia tak sanggup mandi sendiri dan selalu merintih kesakitan ketika malam hari. Xiao Hong memberi perintah kepada para pelayan untuk membantunya mandi dan menemaninya ketika tidur untuk memijitnya ketika merasa kesakitan. Namun karena hal itu pula, rumor miring tentang Xiao Tian menyebar kembali.
Sumber penyebar rumor itu bukanlah dari orang luar akan tetapi dari orang dalam. Yang menyebarkan rumor miring tentang Xiao Tian merupakan pamannya sendiri yaitu Jenderal Xiao Fei ji yang memiliki dendam pribadi dengan ayahnya.
Rumor itu memang tidak terlalu Xiao Tian hiraukan karena dia merasa bahwa rumor itu tidak begitu penting baginya.
Sikap cueknya itu, membuat ajal hampir menjemputnya, dimana putri Jia Li termakan rumor buruk tentangnya hingga memberi perintah kepada pembunuh bayaran agar mengirim harimau liar ke hutan obat untuk membunuh Xiao Tian yang telah melamarnya.
Setelah mengingat semua hal itu, sakit kepala Xiao Tian menghilang seketika.
"Jadi Lily adalah nama lain putri Jia Li."
"Itulah alasan mengapa aku masih menyukainya meski hampir mati karena perbuatannya."
"Jadi pemilik tubuh ini ternyata memang pernah sangat akrab dengan putri Jia Li jauh sebelum dia melamarnya." ucap Xiao Tian.
Ketika sudah merasa cukup tenang, Xiao Tian berhenti berpikir lalu memperhatikan sekitarnya. Dia terkejut melihat dirinya sendiri dalam mode kegelapan dipenuhi aura hitam berdiri tepat dihadapannya.
"Siapa kau, kenapa kau memiliki rupa sepertiku!" bentak Xiao Tian.
"Aku adalah kau, dan kau adalah aku."
"Kita adalah satu, dan tak akan pernah berubah." jawab tubuh tiruan Xiao Tian.
Ketika Xiao Tian masih bingung dengan apa yang terjadi, suara misterius terdengar kembali.
"Setelah mengalahkan teman dan cintamu, sekarang giliranmu untuk mengalahkan sisi gelapmu."
"Kalahkan dia dan buat dia menyatu denganmu, kau diijinkan menggunakan kekuatan qi serta kekuatan roh untuk rintangan kali ini."
"Kau harus menang jika ingin keluar dari sini, jika kau kalah maka sisi gelapmu akan menguasai tubuhmu, sedangkan rohmu akan tersegel di labirin es hingga ada yang mengeluarkanmu."
"Ini adalah rintangan terakhir sebelum kau berhadapan langsung denganku." ucap suara misterius.
"Begitu ya, ayo kita mulai pertarungannya, sisi gelapku!" sambung Xiao Tian.
"Dengan senang hati." jawab sisi gelap Xiao Tian.