Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 438 : Konsekuensi Dewi petir


Setelah menjelaskan semua hal kepada suaminya, Dewi petir terpergok oleh Wu Kong asli.


Awalnya dia ingin marah, namun kloning Wu Kong mencegah amarahnya dengan berkata, "Jangan marah diriku, dia menjelaskan semuanya saat aku ada disini. Jadi dia tak punya niat untuk menutupi semuanya," Kloning Wu Kong menghadang dirinya yang asli hingga Dewi petir berada tepat di belakangnya.


Tepat disaat ketegangan tersebut terjadi, tiba tiba saja aura Dewa serta kultivasi dari Dewi petir menurun drastis. Xiao Tian yang sadar akan kejadian tersebut pun berkata, "Apa yang terjadi dengan tubuhmu Dewi?"


"Tak apa, aku hanya akan menjadi manusia biasa. Ini adalah konsekuensi dari apa yang kujelaskan tadi," ucap Dewi petir dengan tubuh yang memudar.


"Kenapa tubuhmu juga memudar istriku?"


"Bukankah konsekuensinya hanya dipaksa turun ke alam manusia?" sambung Dewa petir dengan tampang panik.


"Aku bingung, sebelumnya kaisar langit menandai jiwamu jadi kau tak berani berkata apapun. Tapi Kaisar langit telah menarik kembali tanda jiwanya kan?"


"Kenapa kau masih terkena dampak buruk saat menceritakan hal tadi?" tanya Tainam Chun dengan tampang heran.


"Yang memberiku tanda jiwa bukanlah Kaisar langit saja, namun budha Rulay juga. Alasan aku tak berani bercerita karena tanda jiwa yang diberikan Kaisar langit mengancam nyawaku, sedangkan tanda jiwa yang diberikan budha Rulay hanya menurunkan kultivasiku hingga ke tahap manusia biasa. Oh iya selain itu aku juga akan dipaksa untuk bereinkarnasi. Katanya sih aku akan terlahir menjadi bayi lagi, jadi ... ," belum sempat Dewi petir menyelesaikan kalimatnya, Dewa petir memotong ucapannya dengan berkata, "Apakah ingatanmu tak akan direnggut?"


"Semoga saja tidak, sampai jumpa suamiku ... ," Dewi petir lenyap dari pandangan semua orang.


"Maaf karena meragukanmu sebelumnya, istriku," Dewa petir meneteskan air mata. Dia mencoba meraih tubuh istrinya, namun tak bisa karena terlanjur lenyap begitu saja.


Melihat temannya terlihat sedih, kemarahan Wu Kong seketika mereda. Sambil menepuk pundak Dewa petir dia pun berkata, "Jangan bersedih, aku akan membantu mencari istrimu nanti."


"Aku juga akan membantumu, Dewa petir," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.


"Dewa kera ... , Xiao Tian ... terima kasih," ucap Dewa petir sambil menghapus air matanya.


Disaat semua orang masih terlihat agak sedih, Taizheng berjalan dari tempat Dewi petir datang sebelumnya. Saat itu dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu, dan yang pertama kali menyadari kehadirannya adalah Tainam Chun. Karena yang lain masih sibuk berpelukan dengan Dewa petir.


"Ayah, kau disini?" tanya Tainam Chun dengan reflek.


"Bagaimana kau ... ," Taizheng menatap Tainam Chun dengan heran.


"Kultivasinya menjadi semakin tinggi dibandingkan terakhir kali bertemu, apakah dia benar benar ayahku?"


"Entah mengapa rasanya dia jauh lebih berwibawa dari pada sebelumnya," pikir Tainam Chun dengan bingung.


Disaat Tainam Chun berkata ayah, Dewi petir langsung melepas pelukannya. Dan semua orang pun menatap ke arah Taizheng dengan tatapan serius.


Ketika semua menatapnya dengan serius, Taizheng tak bergeming sedikitpun. Satu satunya kata yang keluar dari mulutnya adalah, "Apakah kalian melihat dimana guruku?"


"Kenapa kalian terlihat murung?"


"Jangan bilang kalau ... ," disaat melihat semua orang terlihat semakin murung, Taizheng menghentikan kalimatnya sejenak lalu berkata,


"Sepertinya guru telah mengatakan segalanya pada kalian ya?"


"Yah begitulah," kata Wu Kong sambil menghela napas.


Setelah mendengar jawaban Wu Kong, Taizheng berjalan mendekati Tainam Chun lalu berkata, "Pegang tanganku,"


"Untuk apa?" tanya Tainam Chun.


"Kembali ke alam fana. Dan melindungi ibumu," ucap Taizheng sambil mengulurkan tangannya.


"Tunggu dulu, ibu yang mana?" tanya Tainam Chun.


"Siapa lagi kalau bukan ibu yang melahirkanmu," ucap Taizheng dengan tampang serius.


"Tunggu dulu, jangan bilang kalau ... ," belum sempat Xiao Tian menyelesaikan kalimatnya, Taizheng memotong ucapannya dengan berkata, "Ya, aku tahu dimana guruku akan bereinkarnasi,"


"Dimana?" tanya Dewa petir dengan heran.


"Diperut ibunya muridmu," jawab Taizheng dengan tampang serius.


"Oi oi oi, jangan bilang kalau Dewi petir akan terlahir menjadi adikku," ucap Xiao Tian sambil memasang tampang tak percaya.


"Yah, begitulah," ucap Taizheng sambil memegang tangan Tainam Chun.


"Bagaimana kau tahu kalau ... ," belum sempat Wu Kong menyelesaikan kalimatnya, Taizheng memotong ucapan dengan berkata, "Karena dia adalah guruku,"


Tak lama setelah Taizheng menyelesaikan kalimatnya, dia pun menghilang dari alam Dewa bersama Tainam Chun.


Ketika Taizheng menghilang, Dewa petir menatap ke kiri dan berkata, "Kakak ipar,"


"Kakak ipar matamu!"


"Tadi kan masih belum pasti!" bentak Xiao Tian dengan kesal.