Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 190 : Pagi yang membingungkan


Xiao Tian lanjut berjaga di atas atap rumah sambil diawasi oleh naga biru. Karena pengawasan naga biru yang begitu ketat tanpa berpaling ke tempat lain sedikitpun, Xiao Tian merasa risih dan ingin sekali mengusir pergi naga biru dari hadapannya.


Berbagai cara telah dia gunakan untuk mengalihkan perhatian naga biru, akan tetapi tak ada satupun yang berhasil mengalihkan perhatiannya.


Naga biru terus menatapnya tanpa henti dan tak berpaling kearah lain sedikitpun.


"Sial, naga ini benar benar menjengkelkan!"


"Hei Dewa Petir bantu aku mengusir naga ini dari sini!" bentak Xiao Tian melalui telepati.


"Lakukan saja sendiri," ucap Dewa Petir sambil membuang muka.


"Ada apa dengan Dewa sialan ini, benar benar menyebalkan. Aku sudah melempar ikan dan makanan matang untuk mengalihkan perhatian naga biru. Tapi naga sialan ini bahkan tak menoleh sedikitpun, sebenarnya apa yang bisa menarik perhatiannya. Ahhh menyebalkan," pikir Xiao Tian sambil menepuk dahinya.


"Kau pikir naga biru kucing sampai di pancing dengan ikan?" tanya Dewa Petir sambil menengok ke arah Xiao Tian.


"Aku kan tak tahu apa makanannya, lagipula naga ini bukan naga milikku," pikir Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir.


"Jika makanan tak bisa mengalihkan perhatiannya berarti kita harus ... ," belum sempat Xiao Tian menyelesaikan ucapannya, Dewa Petir meneruskan pikiran Xiao Tian dengan berkata, "Menghapus ingatannya tentang tugas yang Taiwu berikan."


Xiao Tian menatap Dewa Petir dengan senyum penuh maksud tersembunyi. Dewa Petir memahami maksud Xiao Tian hanya dengan menatap wajahnya saja.


Meski begitu, Dewa Petir menolak permintaan Xiao Tian mentah mentah karena tak ingin merasuki tubuh Xiao Tian hanya untuk hal yang tak mendesak.


"Ayolah, rasuki aku dan hapus ingatan naga biru. Jangan membuatku kecawa. Tolong aku ya, Dewa Petir yang agung nan bijaksana," ucap Xiao Tian melalui telepati sambil merayu Dewa Petir.


"Kau ini benar benar ya, memujiku hanya saat ada maunya. Tapi aku tak akan mengabulkan keinginanmu itu." Dewa Petir bersi keras menolak permintaan Xiao Tian. Namun Xiao Yian teringat sesuatu yang dia rasa cukup fatal.


"Oh iya apakah naga biru bisa mengerti bahasa manusia?"


"Dia kan melihatku sejak aku berbincang dengan Sunlong. Jika dia mengerti bahasaku maka dia bisa membocorkan rahasia tentang keberadaan Sunlong dan Dewa Petir."


"Jika dia memberi tahunya kepada Taiwu atau teman teman naganya yang lain, maka keberadaan kalian tak akan menjadi rahasia lagi. Mungkin aku akan menjadi incaran orang orang yang menginginkan bimbingan Dewa dan roh kaisar iblis. Jadi menghapus ingatannya saat ini merupakan hal yang penting, bukan?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir.


"Dia benar, itu sangat penting untuk kita. Naga biru memang memahami bahasa manusia, aku tahu karena aku juga seekor naga. Meskipun kami berasal dari jenis yang berbeda dimana dia dari kalangan Beast atau hewan buas. Sedangkan aku dari suku iblis yang memiliki kemampuan untuk berbicara layaknya manusia," jelas Sunlong sambil menganggukkan kepalanya.


"Haih, benar juga ucapan kalian. Baiklah aku akan membantu menghilangkan ingatan naga biru. Semoga saja malam ini tak akan ada musuh yang lain lagi. Bersiaplah aku akn merasuki tubuhmu. Jangan melakukan perlawanan agar cepat selesai." Dewa Petir merasuki tubuh Xiao Tian setelah memberi peringatan kepadanya. Dia terpaksa melakukan hal itu karena alasan Xiao Tian cukup masuk akal.


Setelah berhasil merasuki tubuh Xiao Tian, naga biru mendur beberapa langkah setiap kali Xiao Tian melangkah mendekat. Dia merasakan hawa Dewa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Tekanan Dewa yang begitu kuat membuatnya merasa sedikit takut menghadapi Xiao Tian.


"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu. Aku hanya ingin menyentuh kepalamu. Jika kau tak melawan semuanya akan cepat selesai. Jadi tenanglah, naga biru." Dewa Petir berusaha membujuk naga biru dengan berbicara lembut menggunakan mulut Xiao Tian yang sedang dia rasuki.


Awalnya naga biru sedikit merasa takut, dia sangat ingin pergi dari tempat itu. Tapi karena ingat perintah dari tuannya agar terus mengawasi Xiao Tian, dia pun memberanikan diri agar tak melangkah mundur dan membiarkan Xio Tian menyentuh kepalanya.


"Naga pintar." Dewa Petir menyelimuti kepala naga biru dengan qi putih yang sanggup menghilangkan ingatan - ingatannya.


Tepat setelah beberapa ingatan yang dia kira harus dihapus telah dia hapus semua. Dewa Petir langsung menarik kembali telapak tangannya dari dahi naga biru.


Tepat setelah itu naga biru langsung menatap Xiao Tian dengan tatapan bingungnya.


Dia menatap Xiao Tian dengan pandangan yang terlihat begitu bingung karena suatu alasan. Diantaranya yaitu, alasan mengaoa dia berdiri dihadapan Xiao Tian.


Melihat naga biru terlihat bingung, Dewa Petir pun bertanya, "Apakah kau merasa bingung?"


"Biar kujelaskan, kau menemuiku untuk bertanya tentang keberadaan Taiwu. Kau tak bisa mencium baunya karena saat ini dia berada di sekitar tebing yang telah menjadi kawah saat ini. Pergilah dan jemput tuanmu Taiwu, agar dia tak mengalami kecelakaan saat sedang memeriksa kawah tersebut." Setelah mendengar nasehat Dewa Petir yang sedang merasuki Xiao Tiab, naga biru langsung terbang menuju tebing yang Xiao Tian tunjuk. Dia pergi tanpa mengucapkan pamit kepada Xiao Tian karena terbutu buru ingin mengejar Taiwu.


Setelah naga biru pergi, Xiao Tian kembali mendapatkan kesadarannya karena Dewa petir keluar dari tubuhnya tepat disaat naga biru pergi.


Setelah terbang begitu lama, akhirnya naga biru berhasil menjemput Taiwu.


Dia langsung menawarkan pundaknya agar dinaiki oleh Taiwu secepat mungkin.


Awalnya Taiwu berkeliling dengan berjalan kaki di sekitar lembah tanpa dasar yang terbentuk akibat petir putih Dewa Petir. Awalnya dia pergi berkeliling dengan berjalan kaki, namun setelah naga biru berada dihadapannya dia pun menaiki naga tersebut lalu bertanya tentang tugas mengawasi Xiao Tian. Namun naga biru enggan menjawab pertanyaannya dan langsung membawa pergi Taiwu mengelilingi lembah tanpa dasar.


Dengan bantuan naga biru, Taiwu berhasil mengelilingi seisi tebing dengan begitu cepat. Namun tak ada petunjuk mengenai asal usul terciptanya lembah itu dan tak ada bangkai musuh yang bisa dia lihat dari dalam lembah.


Hanya satu hal yang bisa dia pahami dari semua penyelidikannya, asap panas yang keluar di bagian tepi lembah merupakan pertanda bahwa lembah itu belum lama terbentuk.


"Sebenarnya petir macam apa yang sanggup menghilangkan sebuah tebing yang begitu tinggi, tidak mungkin jika petir ini berasal dari petir alami. Ini pasti berasal dari teknik tingkat tinggi milik seseorang, tapi milik siapa?"


"Tidak mungkin kalau pangeran yang melakukan hal ini, sepertinya aku harus menyelidiki pangeran Xiao Tian secara diam-diam. Aku bisa menyimpulkan bahwa pangeran mengetahui teknik apa yang melenyapkan tebing tinggi ini. Semua itu bisa kulihat dengan jelas dari gerak geriknya yang mencurigakan. Dimana dia menganggap bahwa hal ini sebagai hal biasa," ucap Taiwu sambil terbang berkeliling lembah tanpa dasar.


###


Keesokan harinya, Matahari telah terbit menyinari lembah naga. Xiao Tian bisa melihat seluruh lembah naga dengan begitu jelas karena sinar mentari.


"Baiklah, saatnya kita melanjutkan perjalanan." Xiao Tian melompat dari atas atap.


"Teknik tanah, debu pemusnah!" ucap Xiao Tian sambil membelakangi rumah buatanya.


Dalam sekejap rumah buatannya berubah menjadi debu dan diterbangkan oleh angin yang berhembus di lembah naga.


Su Yan dan Kaibo masih tertidur pulas di samping si Gendut, namun mereka terbangun karena silaunya mentari. Sedangkan putri Jia Li masih dirasuki oleh Huanran dan mengobrol sekalaman bersama Jingmi.


Sadar bahwa Taiwu tak ada di dalam rumah Xiao Tian pun bertanya pada teman-temannya.


"Dimana Taiwu?"


"Bukankah dia pergi menemuimu sejak kemarin malam?" tanya Su Yan.


"Tidak, aku menyuruhnya istirahat dan melanjutkan tidurnya sejak kemarin malam."


"Kalau tak ada disini, lalu kemana dia?" tanya Xiao Tian.


"Lily apa kau tahu dimana Taiwu?" tanya Xiao Tian.


"Lily?"


"Oh maksudmu putri Jia Li ya?"


"Dia tak tahu apa apa, karena sejak tadi malam aku merasuki tubuhnya," Jawab Huanran dengan mulut putri Jia Li.


"Merasuki?"


"Apa kau Huanran?" tanya Su Yan.


"Ah senangnya, ternyata Su Yan masih mengingatku. Apa kau masih mengingat wajah versi seramku?" tanya Huanran.


"Te ... tentu saja aku masih ingat," ucap Su Yan sambil gemetar ketakutan.


Huanran masih menyimpan rasa kesal terhadap Su Yan yang pernah mencoba mengusirnya dari dekat si Gendut dengan segala cara. Su Yan masih merasa takut dengan Huanran karena mengingat dengan jelas wajah Huanran yang berbentuk seram.


Setelah di perhatikan dengan baik, ternyata kereta kuda itu dikendarai oleh Liang Su. Sadar bahwa istrinya datang untuk mengejarnya, Su Yan langsung mengerutkan dahinya. Wajahnya terlihat kesal, dia menjatuhkan pedang ditangannya. Lalu berdiri di depan semua orang.


Ketika Liang Su telah turun dari kereta kuda dan sampai dihadapannya. Su Yan pun berkata, "Kenapa kau kemari?"


"Bukankah sudah kubilang agar tetap di kerajaan Angin!"


"Perjalanan kali ini cukup berbahaya bagi seorang wanita, pergilah dari sini dan jangan tunjukkan wajahmu lagi!"


Setelah membentak Liang Su, sebuah tamparan mendarat ke pipi Su Yan.


Plakkk


"Apa maksudmu meninggalkanku sendirian di kerajaan Angin!"


"Kemana perginya janjimu yang katanya ingin terus bersamaku!"


"Ternyata benar kata semua orang, kalau kebanyalan pria dari golongan manusia selalu meninggalkan istrinya setelah merasa bosan."


"Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah membuatku kehilangan segalanya!" bentak Liang Su.


Ketika Su Yan ingin menjawab, kepribadiannya yang lain mulai menguasai Su Yan. Matanya berubah menguning lalu tubuhnya di selimuti oleh aura kepemimpinan yang mendominasi.


Su Yan berjalan mendekati Liang Yu lalu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Liang Su.


"Sstttt."


"Maafkan aku Liang Su, bukan maksudku meninggalkanmu."


"Tamparan istriku memang cukup keras, tapi aku masih tetap menyukaimu."


"Kalau kau memang menyukai tamparanku, maka terima lagi tamparan dariku!" Ketika Liang Su ingin menampar Su Yan, pergelangan tangannya di tangkap dengan mudah oleh Su Yan.


"Berhentilah bersikap keras terhadapku, tangan lembutmu tak cocok untuk dipakai menampar seseorang." Mendengar rayuan Su Yan mendadak wajah Liang Su memerah. Sedangkan bekas tamparan di pipi Su Yan perlahan menghilang karena tubuhnya yang memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa.


"Kenapa aku merasa kalau Su Yan berbeda dengan biasanya?" ucap Xiao Tian.


"Manusia serigala, sudah lama aku tak melihat bangsa mereka. Siapa sangka ternyata selama ini ada didekatku," ucap Sunlong sambil duduk di pundak kanan Xiao Tian.


"Manusia serigala?" tanya Xiao Tian.


Su Yan melirik ke arah Xiao Tian yang baru saja menyebut rasnya. Seketika Xiao Tian merasakan kekuatan luar biasa dari dalam tubuh Su Yan, bahkan gelang Dewa juga ikut bereaksi hingga mengeluarkan cahaya.


"Apa yang terjadi?" Dewa Petir terkejut dengan reaksi Gelang Dewa.


Su Yan tersenyum setelah menatap ke arah Sunlong dan gelang Dewa.


"Apa dia baru saja tersenyum padaku?" tanya Sunlong.


"Lepaskan tanganku, aku datang kemari bukan untuk dirayu atau mendapatkan perhatianmu. Aku hanya ingin pertanggung jawabanmu!" bentak Liang Su dengan wajah yang memerah.


"Tanggung jawab?"


"Aku sudah menikahimu, tanggung jawab macam apa lagi yang kau inginkan?"


"Apakah kau sudah mengandung putraku?" tanya Su Yan.


"Bu .. bukan itu!"


"Aku tak ingin melahirkan keturunanmu, dan aku tidak sedang hamil!"


"Aku ingin kamu mengembalikan semua yang telah kau ambil dariku!" bentak Liang Su.


"Apa aku juga harus mengembalikan keperawananmu?" tanya Su Yan.


"Berhenti mengalihkan pembicaraan, aku tahu kau memahami maksud dari ucapanku!" bentak Liang Su


Su Yan menarik paksa Liang Su kepelukannya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Liang Su. Sambil berbisik dia berkata,


"Sabarlah, aku akan mengembalikan kekuatan iblismu. Tapi tidak sekarang, aku memerlukannya agar tetap bisa bersamamu."


"Tapi aku tak mau bersamamu," balas Liang Su.


"Sayangnya aku tak mau melepasmu," balas Su Yan sambil berbisik.


"Kau ... " belum sempat Liang Su menyelesaikan kalimatnya, dia tiba-tiba saja tak sadarkan diri di pelukan Su Yan.


"Maafkan aku, aku memerlukan inti iblismu untuk membalas orang-orang yang telah menyegelku," pikir Su Yan sambil memeluk Liang Su.


"Keturunan murni serigala suci, tak kusangka aku bisa menemukannya di alam semesta kedua."


"Kupikir suku serigala telah lama punah."


"Dia bahkan bisa melihat Sunlong yang harusnya tak bisa dilihat oleh sembarang orang. Jika kekuatanya telah kembali, dia pasti bisa melihat rohku juga," pikir Dewa Petir dengan tampang seriusnya.


"sepertinya Liang Su kelelahan, dia bahkan pingsan setelah jatuh kepelukanku. Bisakah kita pakai kereta kudanya untuk mengangkut semua orang?" tanya Su Yan.


"Kita memang tidak sedang terburu-buru, kurasa itu tidak masalah. Lagipula dengan memakai kereta kuda, naga hitam bisa menghemat tenaganya," jawab Xiao Tian.


"Kalau begitu, aku akan meletakkan istriku ke dalam kereta kuda." Su Yan berjalan memasuki kereta kuda Liang Su.


Melihat perubahan drastis sikap Su Yan, semua orang begitu terkejut hingga kehilangan kata kata.


"Apa dia masih orang yang sama dengan orang yang kupanggil orang tak berguna?" pikir Kaibo dengan mulut menganga.


"Kapan mas Endut bersikap romantis seperti yang Su Yan lakukan tadi," pikir Huanran yang masih merasuki putri Jia Li.


"Dimana kak Taiwu?" ucap Jingmi sambil menggendong naga hitam versi kecil.


#####


Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.


Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.


Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.


Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.


Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁