
Xiao Tian meniru teknik pengendali cahaya, yang Su Yan tunjukkan tepat di hadapannya dengan begitu mudah.
Su Yan terkejut akan apa yang baru saja dia lihat. Namun kejutan yang dia terima bukan hanya itu, dia kehabisan kata kata tepat setelah mendengar ucapan Xiao Tian bahwa dia memiliki kecocokan terhadap segala jenis elemen.
"Kau pasti bercanda, tak pernah ada manusia yang memiliki kecocokan terhadap aegala jenis elemen. Tidak, bukan hanya manusia. Bahkan ras lain seperti vampir, iblis dan siluman pun hanya bisa mengendalikan tiga buah elemen, itupun terkadang didorong oleh kekuatan relik."
"Sedangkan kau ... ,"
"Kau melebihi kemampuan semua ras, jika orang lain mengetahui rahasia ini maka kau akan ... " belum sempat menyelesaikan ucapannya, Xiao Tian memotong ucapan Su Yan dengan berkata, "Diburu?"
"Diperebutkan?"
"Atau dijadikan sebagai piala bergilir?"
"Jadi kau sudah mengetahui maksud ucapanku, lalu kenapa kau menceritakan hal sebesar ini kepadaku?" tanya Su Yan dengan tatapan heran.
"Karena aku mempercayaimu, Su Yan." Mendengar balasan Xiao Tian, Su Yan pun tersenyum tipis. Matanya berkaca kaca karena merasa terharu dengan jawaban Xiao Tian. Dengan air mata bahagia yang menetes keluar dari matanya, dia pun berkata, "Terimakasih, Ketua."
"Untuk apa?" tanya Xiao Tian.
"Karena telah memberikan kepercayaan penuh terhadapku, tapi aku tak layak menerima kepercayaanmu ini. Aku sangat tak layak menerima perlakuan ini," ucap Su Yan dengan tatapan sedihnya. Dia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, sedangkan kedua tangannya dia kepalkan begitu kencang seperti sedang menahan rasa sedih yang teramat dalam.
"Ada apa denganmu?" tanya Xiao Tian.
"Ngomong-ngomong dimana Liang Su?"
"Apakah pria berjubah hitam membawanya kabur lagi?" tanya Xiao Tian dengan dahi yang dikerutkan.
Melihat reaksi Su Yan, Xiao Tian pun mengerti bahwa dia tak berhasil membawa istrinya pulang. Sambil melangkah mendekati Su Yan, dia pun berkata, "Tenanglah, kita pasti akan mendapatkan Liang Su kembali."
"Sebelum itu, kita harus menghajar musuh yang berada di puncak pagoda ini."
"Kau benar, tak ada gunanya meratapi masa lalu. Kita harus fokus terhadap masa depan. Sudah saatnya kita meruntuhkan pagoda ini," ucap Su Yan dengan tampang serius.
Setelah sepakat, mereka pun menatap seluruh isi ruangan. Mereka begitu terkejut setelah sadar bahwa tak ada makhluk lain selain mereka di dalam ruangan tersebut. Tak ada hawa kehidupan sama sekali, bahkan Xiao Tian tak dapat merasakan aura Dewa petir yang seharusnya terhubung dengannya.
Karena merasa ada yang janggal, Xiao Tian pun mulai mencabut keluar pedang hitam yang menempel di belakang punggungnya.
"Apa kau membawa senjata?" tanya Xiao Tian sembari melirik ke arah Su Yan.
"Senjata ya?"
"Aku tak memerlukan hal seperti itu," jawab Su Yan sembari melirik ke arah lain.
"Haih, berhentilah bertingkah sok kuat." Xiao Tian mengeluarkan tombak perak dari telapak tangan kirinya, lalu melemparkannya ke Su Yan untuk digunakan.
Tap
Su Yan menangkap tombak perak yang Xiao Tian lemparkan. Sambil mengerutkan dahinya dia pun berkata, "Tombak perak?"
"Kenapa kau memberikan ini padaku, Ketua?"
"Tentu saja untuk berjaga jaga, lebih baik memakai senjata dari pada tidak sama sekali," jawab Xiao Tian dengan nada rendah.
"Bukan itu maksudku, Ketua."
"Kenapa kau tak meminjamkan dua buah pedang bergerigi di punggungmu?" tanya Su Yan sambil melirik pedang hitam bergerigi di punggung Xiao Tian.
"Haih, pedang di punggungku merupakan pedang para kaum iblis. Jika kau menggunakannya, aku takut kau akan kehilangan kendali," jawab Xiao Tian sambil menepuk dahinya.
"Pe ... pedang iblis?"
"Pantas saja aku merasakan hawa iblis keluar di sekujur tubuhmu, ternyata hawa iblis itu keluar dari pedang pedang itu. Jika itu memang pedang iblis, kenapa pedang hitam bisa kau kendalikan?" tanya Su Yan dengan penuh penasaran.
"Karena roh beladiriku merupakan salah satu dari 100 Kaisar iblis," jawab Xiao Tian.
"Begitu ya, kalau begitu aku juga akan menangkap roh iblis untuk dijadikan sebagai roh beladiriku," ucap Su Yan sambil mengangkat tombak perak ke atas dengan penuh semangat.
Saat Su Yan baru mengangkat tombaknya hingga melebihi tinggi kepalanya, sebuah tombak hitam melesat dengan kecepatan tinggi tepat ke arah punggung Su Yan.
Ketika sadar bahwa ada sesuatu yang melesat ke punggungnya, mata Su Yan tiba tiba saja menghijau. Aura hijau pun menyelimuti tombak tersebut dalam sekejap mata. Lalu ketika tombak hitam berjarak begitu dekat dengannya secara reflek tangan kanannya menurunkan tombak perak tepat di belakang punggungnya.
Tombak hitam langsung retak dan hancur tanpa sisa setelah membentur tombak perak berlapis aura hijau. Saking kuat dan tajamnya tombak tersebut, tombak itu pun menancap hingga menembus salah satu tengkorak manusia yang menghiasi lantai pagoda.
Setelah tombak hitam hancur, Su Yan pun kembali tersadar. Dia mengerutkan dahinya sembari mencoba mengingat mengapa tiba tombak perak bisa menancap di salah satu tengkorak yang berada di belakangnya.
Tak hanya Su Yan yang merasa bingung, Xiao Tian dan Sunlong pun terkejut dengan gerakan Su Yan yang tiba-tiba, namun yang membuat mereka semakin bingung adalah mata hijau serta aura hijau yang muncul ketika Su Yan melakukan gerakan untuk melindungi diri.
"Apa aura hijau barusan merupakan jurus barumu?"
"Atau jurus yang dipinjamkan oleh sisi lainmu?" tanya Xiao Tian.
"Aura hijau?" Su Yan mulai mengingat kejadian di alam pikirannya, dimana dia melihat sisi lainnya begitu terkejut dan bertanya tentang aura hijau yang menyelimuti tubuhnya. Namun dia tak mengingat sama sekali kejadian saat matanya menghijau. Yang dia ingat hanyalah kejadian sebelum dan sesudah matanya menghijau.
"Kenapa kau malah melamun?"
"Tak apa kalau kau tak ingin menceritakannya kepada kami. berhentilah bengong dan fokus saja terhadap," ketika Xiao Tian belum selesai berbicara, tombak tombak hitam yang lain pun muncul dari segala arah. Setelah diperhatikan dengan baik, tombak tombak itu keluar dari lubang mata tengkorak manusia yang menempel di setiap dinding ruangan.
Dengan cekatan Xiao Tian melompat maju menebas tombak tombak hitam yang mengarah ke punggung Su Yan. Sedangkan Su Yan langsung melesat maju sambil mencabut tombak peraknya keluar, lalu memutarnya hingga membentuk sebuah lingkaran dengan kecepatan yang begitu tinggi. Angin hijau dari tombak perak tersebut menyayat semua tombak hitam di hadapan Su Yan sehingga terbelah menjadi kepingan kepingan kecil.
Sama seperti tadi, ketika keadaan mulai membaik, Su Yan pun baru tersadar dan tak mengingat soal gerakan heroiknya saat matamya berubah menghijau.
"Terjadi lagi, sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku?" pikir Su Yan sambil mengerutkan dahinya.
Ketika sedang Su Yan sedang berpikir begitu keras, semua bola cahaya di atas atap mulai meredup. Semua bola bola itu mulai menghilang seperti ditelan oleh gelapnya ruangan yang berlapis hawa kematian.
Ketika Xiao Tian dan Su Yan baru menciptakan bola cahaya secara bersamaan,
Sebuah lingkaran sihir muncul tepat di hawah kaki mereka.
Sejak munculnya lingkaran sihir tersebut, cahaya di telapak tangan mereka pun langsung meredup dan lenyap begitu saja.
Dan di dahi mereka tiba tiba muncul sebuah simbol tengkorak yang membuat mereka tak bisa menggunakan elemen cahaya lagi.
Selain tak bisa menggunakan elemen cahaya, mereka pun tak bisa keluar dari kurungan pembatas lingkaran sihir itu. Karena merasa ada yang aneh, mereka pun menempelkan bahu mereka masing masing. Tak lama setelah itu semua obor mulai menyala kembali. Meski masih agak gelap namun mereka masih bisa melihat berkat cahaya yang muncul dari lingkaran sihir.
Dari dalam tumpukan tengkorak di atas langit-langit muncul seorang pria misterius berjubah serba hitam. Dia melompat turun dari atas atap lalu mendarat tepat dihadapan Xiao Tian yang terkurung dalam lingkaran sihir.
"Selamat datang di ruang pribadiku Xiao Tian," ucap Huai Zhong.
"Suara ini?"
"Kau kan?"
"Pria misterius bernomor punggung empat," ucap Xiao Tian.
"Panggil aku Huai Zhong, karena itulah nama asliku," sambung Huai Zhong.
"Bersamaan dengan terkurungnya kalian di dalam lingkaran sihir, kalian tak akan bisa menggunakan jurus apapun. Hahahaha," ucap Huai Zhong sambil tertawa jahat.
Tak lama setelah itu, Xiao Tian menancapkan pedang hitam ke pusat lingkaran sihir. Seketika lingkaran sihir serta simbol di dahi Su Yan dan Xiao Tian pun menghilang.
"Ba ... bagaimana caramu melenyapkan jebakan yang kupersiapkan khusus untukmu!" Huai Zhong terkejut melihat Xiao Tian dan Su Yan berhasil lolos dari jebakannya.
"Sejak awal kami memang tak terjebak, tapi berpura pura terjebak agar kau segera muncul," ucap Xiao Tian dengan tatapan dingin.
"Bersiaplah menemui ajalmu, Huai Zhong!" ucap Su Yan sambil menghentakkan tombaknya ke lantai pagoda.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁