Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 254 : Perbedaan kekuatan


Pagi telah tiba, Xiao Tian dan yang lainnya telah beristirahat cukup lama. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya panglima Tian Feng beserta pasukannya turun dari atas langit disaat matahari telah terbit.


Mereka berpakaian serba putih dengan kain warna emas yang melingkar di pinggang mereka.


Semuanya bersenjatakan pedang kecuali panglima Tian Feng yang memakai garpu rumput sebagai senjatanya.


Ketika masih berada di ketinggian seribu kaki dari daratan es, Panglima Tian Feng melompat turun dari atas awan meninggalkan ribuan pasukannya yang masih berdiri di atas awan.


"Halo kak Wukong, halo adik Wujing apa kalian tidur nyenyak malam ini?" tanya panglima Tian Feng sambil berjalan mendekati mereka.


"Apa saja yang kau lakukan kakak kedua?"


"Kami menunggumu begitu lama, gara gara kau kami terpaksa menunda penyerangan," jawab Sha Wujing sambil menatap panglima Tian Feng.


"Ah tak ada, aku sengaja datang lebih lambat agar semua orang cukup beristirahat," jawab panglima Tian Feng sambil memalingkan wajah.


"Jawab yang benar gendut!"


"Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu, setidaknya tatap mata kami saat sedang berbicara," sambung Wu Kong sambil memegang kerah pakaian panglima Tian Feng.


"A ... aku bersumpah aku tak melakukan hal apapun. Aku memang bersantai, tapi ini juga agar para manusia bisa beristirahat dengan tenang," jawab panglima Tian Feng dengan tubuh yang gemetar.


"Kenapa aku mencium aroma wanita dari tubuhmu?" tanya Wukong sambil menatap panglima Tian Feng.


"Ah mungkin hanya perasaanmu saja, lebih baik kita mulai saja peperangannya ya kak. Kita selesaikan urusan kita di alam semesta kedua ini, lalu kembali ke alam para Dewa," ucap panglima Tian Feng sambil menatap ke arah lain.


"Meski kutahu kau sedang menyembunyikan sesuatu, ucapanmu benar juga. Jangan sampai buronan surga dan neraka bisa lolos dari hukuman lagi," ucap Wu Kong sambil melepaskan kerah pakaian panhlima Tian Feng.


"Ah, selamat."


"Hampir saja aku ketahuan," pikir panglima Tian Feng sambil mengelus elus dada.


###


Sejak panglima Tian Feng berbincang dengan Wu Kong, Xiao Tian terfokus pada para pasukannya yang memiliki kultivasi diatas semua orang.


Kultivasi setiap pasukan langit berada pada tingkat pendekar alam Langit. Sedangkan sejak awal Wukong dan Dewa yang lainnya hanya menunjukkan kultivasi mereka hingga pendekar alam naga. Itupun sudah berada jauh diatas tingkatan kultivasi Xiao Tian dan kawan kawannya yang saat ini kebanyakan baru mencapai tingkat pendekar alam roh kebawah.


Secara berurutan, tingkatan kultivasi setelah Dewa Petarung adalah, pendekar alam ilusi, pendekar alam roh, pendekar alam Beast, pendekar alam mortal, pendekar alam naga, pendekar alam fana, pendekar alam angin, pendekar alam langit, pendekar alam peri, pendekar alam surga, pendekar alam immortal, hingga pendekar alam Dewa.


Melihat jarak kultivasi yang begitu tinggi dari para pasukan langit, Xiao Tian dan teman temannya merasa seperti sebuah butiran debu belaka. Perbedaan enam lapisan bukanlah satu satunya yang membuat mereka terkejut, tapi hal yang paling membuat mereka terkejut adalah status mereka yang merupakan bawahan seorang Dewa belaka.


"A ... apa apaan ini?"


"Inikah kekuatan dari para pasukan langit?" ucap Xiao Tian dengan tubuh yang gemetar.


"Perbedaan kekuatan yang terlampau jauh. jika para pasukan langit saja sekuat ini ...," "Maka kultivasi panglima Tian Feng dan Dewa yang lainnya pasti jauh lebih tinggi dari pasukan Langit, jadi selama ini kultivasi yang mereka tunjukkan bukanlah kultivasi penuh mereka?" pikir Taiwu dengan mata yang terbelalak.


"Menarik, jika surga sampai mengirim pasukan sebanyak dan sekuat ini. Sudah dipastikan musuh jauh lebih kuat dibandingkan dugaan kami," ucap jenderal Tailong sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kupikir Dewa obat Xiao Tian dan yang lainnya sudah cukup kuat hingga mendekati kultivasi para Dewa, tapi ternyata aku hanyalah katak dalam tempurung. Ternyata masih banyak pendekar dengan tingkat kekuatan yang diluar jangkauan kami," pikir salah satu siluman harimau.


"Lebih baik aku mundur saja dari perang ini. Satu dari pasukan langit saja sudah cukup membantai seisi klanku. Sedangkan saat ini aku melihat ribuan dari mereka, lebih baik aku mundur dari pada menjadi beban," ucap jenderal Huang cheng dengan tangan yang terkepal kencang.


"Sepertinya kita sudah terlalu tua untuk berperang, jika para Dewa saja memerlukan bantuan ribuan pasukan langit maka sudah bisa dipastikan musuh kita kali ini terlalu berbahaya," ucap jenderal Taizong sambil menepuk punggung Taifeng.


"Kau benar kak, ini sudah diluar dari jangkauan kita. Pangeran yang kultivasinya jauh diatas semua orang saja bisa pingsan tak berdaya saat masih berjarak ribuan kaki dari istana langit," sambung jenderal Taifeng sambil mengepalkan tangannya.


"Sepertinya tanpa campur tangan kami sekalipun, hasil perangnya sudah bisa dipastikan," ucap raja siluman rubah merah.


"Ya, kau benar," sambung raja siluman rusa.


"Perang ini akan dimenangkan ... ," ucap jenderal Tailong.


"Oleh kerajaan petir!" ucap semua jenderal beserta para raja siluman.


####


"Bisakah kau suruh bawahanmu untuk menyembunyikan kultivasi mereka!" bentak Wukong melalui telepati sambil menatap panglima Tian Feng dengan tatapan serius.


"Maaf kakak, mereka sangat sulit di atur. Aku sudah mengatakan semuanya kepada mereka tapi mereka tak mau mengerti dan terus menunjukkan kultivasi mereka," jawab panglima Tian Feng dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya.


"Kalau begitu, biar aku yang bicara pada bawahanmu. Akan kubuat mereka mengerti dengan caraku," ucap Wukong sambil melompat tinggi menuju para pasukan langit.


"Tu ... tunggu kak!"


"Kau tak boleh mendekati pasukanku!" ucap panglima Tian Feng sambil melompat tinggi mengejar Wukong.


"Aku sangat lelah bergelantungan semalaman," ucap Dewa Petir sambil mengeluarkan air mata.


"Maafkan aku Dewa Petir, tali di kakimu itu dilapisi oleh kekuatan qi milik kakak pertama."


"Aku mana mungkin bisa melepaskannya tanpa persetujuan darinya, untuk sementara nikmati saja hukumanmu ini," jawab Sha Wu Jing sambil menatap mata Dewa Petir.


"Nikmati matamu!"


"Aku bergelantungan semalaman di pohon bersalju yang dinginnnya tak terkira, sedangkan tali ini mencegahku menggunakan kekuatan qi."


"Sebelum tali ini terlepas dariku, aku akan terus merasa dingin tahu!"


"Pusing, dingin, mual ... ,"


"Bagian mana yang bisa kunikmati!"


"Huhuhu," bentak Dewa Petir sambil tergantung terbalik di atas pohon bersalju.


"Setidaknya kau masih dibiarkan hidup, lagipula ini kan akibat dari kejahilanmu yang tak tahu tempat," ucap Sha Wujing sambil menatap mata Dewa Petir.


#### Di atas awan


"Hei bisakah kalian sembunyikan kultivasi kalian!"


"Apa kalian tahu, gara gara kalian semua. Nyali para manusia langsung menciut hingga tak ingin ikut berperang lagi!" bentak Wu Kong sambil menodongkan tongkat emasnya.


"Cih, tanpa bantuan para manusia pun. Kita pasti bisa meringkus para iblis hina itu," ucap salah satu prajurit langit dengan tatapan angkuhmya.


"Benar, kami tak perlu membawa beban dalam pertarungan ini. Biarkan mereka diam dan menonton keberhasilan kita. Lagipula dengan kekuatan kita saja, sekte iblis beserta Dewa Dewa sesat itu pasti bisa dihancurkan."


"Meski Dewa iblis Yon Heng ada bersama mereka, kita pasti bisa mengalahkannya karena kultivasinya pasti tak akan semengerikan dulu," sambung salah satu pasukan langit yang lainnya.


"Kalian ini!" disaat Wu Kong ingin memukul kepala salah satu prajurit dengan tongkat saktinya, panglima Tian Feng muncul di depan pasukannya itu lalu langsung menahan tongkat tersebut dengan garpu rumputnya.


"Tu ... tunggu kak Wu Kong. Apa yang mereka katakan memang benar, lebih baik kita saja yang membereskan semua iblis itu. Tak perlu campur tangan manusia. Lagipula buku takdir telah lama berubah sejak kehadiran tiga dewa sesat itu," ucap panglima Tian Feng dengan keringat dingin di dahinya.


"Bagus panglima, buatlah Dewa kera mengerti!" ucap para pasukan langit sambil menatap panglima Tian Feng dengan tatapan tajam.


"Kak Wu Kong, tolong biarkan saja mereka. Toh kultivasi mereka sudah terlanjur ketahuan. Percuma saja menyembunyikannya sekarang. Benar kan?" tanya panglima Tian Feng sambil menahan tongkat Wukong.


Wukong menarik kembali tongkatnya, lalu mendorongnya ke arah perut panglima Tian Feng dengan kecepatan yang tak bisa dia hindari.


Bukkk


Panglima Tian Feng terpental begitu jauh hingga menabrak beberapa para pasukan langit. Dia terbaring di daratan awan yang bisa diinjak sambil memegang perutnya yang merasa sakit karena pukulan tongkat Wukong.


"Kenapa kau menyerangku kak?" tanya panglima Tian Feng sambil menatap Wukong.


"Tak biasanya kau menuruti ucapan bawahan bawahan sombongmu ini, apakah mereka memiliki rahasia tentangmu yang tidak ku ketahui?" tanya Wu Kong sambil berjalan mendekat.


"Ti ... tidak kak. Aku berani bersumpah!"


"Tak ada satupun rahasia yang mereka ketahui!"


"Eh ... ,"


"Maksudku, aku tak memiliki rahasia apapun," ucap panhlima Tian Feng sambil mengeluarkan keringat dingin.


"Katakan dengan sejujurnya, jika tak ada yang mau mengaku. Maka akan kusiksa kalian semua. Langitpun berani ku obrak abrik, jangan pikir kalau ucapanku ini hanyalah main main!"


"Katakan padaku, apa yang kalian sembunyikan dariku hingga membuat patkai membiarkan kalian bertindak sesukanya!" bentak Wu Kong sambil menyeret tongkatnya.


"Se ... sebenarnya, kami telah memergoki panglima Tian Feng sedang bermesraan dengan Dewi Chang e di kediamannya. Kami mengancap panglima akan memberitahukan semua itu jika dia tak mengijinkan kami memamerkan kekuatan kami kepada para manusia," jawab salah satu pasukan langit sambil gemetar ketakutan.


"Mati aku," pikir panglima Tian Feng dengan wajah yang membiru.


"Patkai ... ," ucap Wu Kong dengan tampang kesalnya.


"A ... ampun kak, aku berjanji tak akan mengulanginya lagi!" ucap panglima Tian Feng sambil berjalan mundur untuk mencoba lari dari Wukong.


"Mau kemana kau ha!" ucap kloning Wu Kong sambil menepuk pundak belakang panglima Tian Feng.


"Sialan, sejak kapan kak Wukong mengkloning dirinya," pikir panglima Tian Feng dengan wajah yang membiru.