Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 416 : Ketakutan para kaisar iblis


#Lantai kelima kastil vampir


Para Spider mendapat kabar dari seorang penjaga bahwa ada penyusup yang sedang mengobrak abrik kastil vampir.


Bersama dengan penjaga tersebut, kesepuluh kaisar iblis dengan tato laba laba ditangan mereka berjalan menuruni tangga untuk melihat situasi. Mereka berniat meninggalkan Disan yang terluka di lantai lima karena sedang memulihkan luka.


Akan tetapi, suara Kaisar iblis Haifeng terbesit di pikiran para Kaisar iblis tepat sebelum mereka melangkah lebih jauh.


Dan suara tersebut berbunyi, "Pergilah, hindari musuh yang menyusup ke kastil. Kalian bukanlah tandingan dari seorang Dewa sejati,"


"De ... Dewa sejati?" ucap para Kaisar iblis dengan tampang tegang. Mereka menghentikan langkahnya, lalu berbalik menaiki tangga dengan tampang yang sangat panik.


"Hosh hosh hosh"


"Apakah para Dewa ingin menyegel kami kembali?"


"Kenapa bisa ada Dewa sejati disini?" pikir para Kaisar iblis sambil merangkak ketakutan.


Melihat para Spiders terlihat begitu panik, Disan pun bertanya, "Ada apa dengan kalian?"


"Kenapa malah balik lagi?" tanya Disan dengan tampang heran.


Belum sempat para Spiders menjawab pertanyaan Disan, suara Kaisar iblis Haifeng kembali terngiang di telinga semua orang. Sebelumnya Disan tak dapat mendengar karena terlalu fokus memulihkan diri.


"Pergilah, hindari musuh yang menyusup ke kastil. Kalian bukanlah tandingan dari seorang Dewa sejati,"


"De ... Dewa sejati?"


"Mungkinkah kera pemegang tongkat emas yang waktu itu ...," ucap Disan sambil mengepal erat kedua tangannya. Disan membayangkan Wu Kong yang sempat bertemu dengannya.


Karena tak asing dengan hal tersebut, para Kaisar iblis yang menjabat sebagai Spiders menatap Disan dan berkata,


"Kera pemegang tongkat emas?"


"Apakah tongkatnya bisa memanjang, memendek, membesar dan mengecil?" tanya salah satu Kaisar iblis dengan tampang panik.


"Iya," jawab Disan.


"Apakah dia memakai jirah emas dan memakai antena aneh di kepalanya?" tanya para kaisar iblis dengan panik.


"Iya,"


"Ba ... bagaimana kalian tahu itu?" tanya Disan dengan tampang heran.


Setelah Disan mengkonfirmasi semua pertanyaan mereka, para kaisar iblis yang mengenal Wu Kong dengan baik langsung terkejut bukan main. Mereka langsung kehilangan semangat bertarung, hingga memundurkan diri dari jabatan mereka.


"Bencana, ini benar benar benacana. Dia adalah musuh yang tak boleh kita singgung," ucap salah satu Kaisar iblis dengan tampang frustasi.


"Dia bahkan pernah mengacak ngacak istana langit seorang diri. Kita bukanlah tandingannya," sambung kaisar iblis yang lain dengan tampang frustasi.


Melihat para Kaisar iblis terlihat seperti seorang pengecut, Disan pun mulai bertanya tanya.


"Hei kenapa kalian mengabaikanku?" tanya Disan dengan tampang bingung.


Diluar dugaan pertanyaan Disan malah berujung keluarnya ke sepuluh kaisar iblis dari sekte tersebut. Mereka bahkan bersumpah tak akan pernah kembali dan ingin terlibat dengan sekte pelindung iblis lagi.


"Hubungan kita sudah sampai disini saja, panglima," para kaisar iblis berteleportasi meninggalkan Disan dan penjaga.


"Siapa sebenarnya kera itu?"


"Kenapa para kaisar iblis begitu takut terhadapnya?"


"Lupakan soal itu, yang mulia Hai Feng telah menyuruhku untuk kabur. aku tanyakan saja itu nanti kepadanya," pikir Disan sambil mengaktifkan teknik teleportasi.


Ketika semua orang pergi, sang penjaga hanya terdiam bingung karena tak bisa menggunakan teknik teleportasi.


"Lah ... , kok malah pada pergi sih?"


#Lantai ketiga kastil vampir


Setelah menyerahkan relik tongkat kepada Xiao Tian, para vampir diijinkan ikut dan disuruh berpegangan kepada kloning kloningnya.


"Berpeganganlah, ucap Wu Kong dan semua kloning kloningnya.


"Baiklah," Xiao Tian dan para vampir berpegangan pada punggung Wu Kong segera setelah dia memintanya. Dan ketika semuanya sudah menyentuh punggung Wu Kong dan kloning kloningnya, mereka pun menghilang bersamaan dengan aktifnya teknik teleportasi.


Xiao Tian dan rombongan kembali ke tempat para naga. Su Yan, Liang Su, para naga, siluman kelinci, dan siluman angsa menyambut kedatangan mereka dengan keluar dari semak semak dimana mereka bersembunyi.


Karena masih menghawatirkan si Gendut dan Huanran yang belum terlihat, Xiao Tian pun mulai bertanya pada mereka.


"Dimana si Gendut?" tanya Xiao Tian sambil menatap Liang Su dan yang lainnya.


"Dia ada di balik semak semak, Huanran sedang mengobati luka di tubuhnya," jawab Liang Su sambil menyilangkan kedua tangannya.


Setelah mendengar jawaban Liang Su, Xiao Tian pun berjalan mendekati semak yang ditunjuk oleh Liang Su.


Ketika sudah masuk melewati semak yang dimaksud, Xiao Tian melihat Huanran sedang menyembuhkan luka si Gendut. Kalau dilihat dari kondisi mereka, Huanran hanya mengalami sedikit lecet, sedangkan si Gendut terluka cukup parah. Perutnya terlihat seperti habis tertebas pedang.


"Apakah kalian baik baik saja?" tanya Xiao Tian dengan tampang panik.


"Ehm," angguk Huanran.


"Syukurlah," sambung Xiao Tian dengan lega.


######


Setelah semua berkumpul, Wu Kong yang asli berjalan menjauhi semua orang dengan tampang yang cukup kesal.


Ketika sudah ada di tempat yang dia inginkan, Wu Kong bertelepati kepada Dewa petir dan Dewa bumi untuk memarahi mereka. Melalui telepati dia pun berkata, "Kemarilah!"


Dewa petir datang pertama kali dengan tampang yang cukup lesu. Sambil memainkan jari jarinya dia pun berkata, "Bukankah aku sudah meminta maaf?"


"Terus?" tanya Wu Kong dengan kesal.


Dewa petir hanya terdiam sambil menundukkan kepala untuk menghindari amarah Wu Kong.


Tak lama kemudian, Dewa bumi keluar dari tanah dengan kepala yang tertunduk.


Melihat Dewa Bumi muncul dengan tampang yang lesu, Dewa petir pun kebingungan.


"Kenapa Dewa Bumi ada disini?" pikir Dewa petir sambil mengerutkan dahinya.


Karena mereka berdua hanya tertunduk diam, Wu Kong pun mulai kesal sehingg mengeluarkan hawa membunuh.


"Aku menunggu ... ," ucap Wu Kong sambil mengeluarkan hawa membunuh.


"A ... ampuni aku Dewa kera, aku tak bermaksud menghianatimu. Hanya saja aku terlalu takut dengan Dewa iblis," jawab Dewa Bumi dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


"Jadi Dewa bumi juga dapat tugas yang sulit ya?" pikir Dewa petir sambil menatap Dewa Bumi.


"Aku masih menunggu ...," ucap Wu Kong sambil memancarkan hawa membunuh.


"To ... tolong ampuni kami Dewa kera, asalkan musuh kami tak sekuat Dewa iblis kami tak akan pernah meninggalkan sebuah tugas," ucap Dewa Bumi dan Dewa petir sambil membungkukkan badan mereka.


Melihat mental lemah kedua Dewa yang ada di hadapannya, Wu Kong hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.


"Haih, kalian ini benar benar tak berguna ya?"


"Sepertinya aku harus melatih kalian lagi dengan pelatihan penyiksa jiwa," sambung Wu Kong dengan tampang kesal.


"Ti ... tidak... !" teriak Dewa petir dan Dewa Bumi sambil berpelukan.


Karena Dewa petir dan Dewa Bumi tak melakukan tugas mereka dengan benar, Wu Kong pun memukuli mereka hingga dia puas.