Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 141 : Menuju kerajaan Es


Xiao Tian meninggalkan si Gendut dan menggantikannya untuk mengejar Kaibo.


Dia berlari dengan kecepatan tinggi dengan memanfaatkan kekuatan qi yang telah ditransfer Dewa Petir kepadanya.


Ditengah perjalanan Dewa Petir menyuruh Xiao Tian berhenti berlari. Mendengar ucapan Dewa Petir Xiao Tian menghentikan langkahnya dan berkata "Kenapa kau menyuruhku berhenti?"


"Lihatlah dan amati!" Dewa petir menunjuk ke atas langit disebelah barat. Dia menunjuk ke arah bintik putih kecil yang terlihat semakin membesar dari kejauhan.


Setelah diperhatikan dengan baik, bintik putih kecil tersebut ternyata bukanlah sebuah benda, melainkan seseorang yang sedang terbang dengan kecepatan yang begitu tinggi dari arah barat menuju arah timur.


Orang tersebut berpakaian serba putih, topeng merah yang berbentuk seperti iblis, memegang dua buah pedang berwarna merah dengan motif naga di pegangan pedangnya.


Orang tersebut terbang semakin dekat menuju ke arah Xiao Tian.


Sambil menatap keatas langit Xiao Tian berkata. " Bukankah itu ... "


"Ya, itu Topeng bencana." sambung Dewa Petir.


Topeng bencana turun dari atas langit untuk mendekati Xiao Tian. Setelah berada dihadapannya, Topeng bencana berkata.


"Kenapa kau ada disini?"


"Bagaimana dengan perangnya?"


"I ... itu." Xiao Tian kebingungan harus menjawab apa.


"Itu apa?" tanya Topeng bencana.


"Aku tak tahu rinciannya. Sepertinya perang telah lama berakhir dan para iblis telah berhasil di usir." jawab Xiao Tian.


Xiao Tian tak bisa menjawab pertanyaan dari Topeng bencana karena dia memang tak mengetahui rinciannya. Dia baru saja tersadar dari tidur panjang tanpa sempat menanyakan rincian perang. Semua itu terjadi karena dia mengejar si Gendut yang bersikap aneh.


Mendengar jawaban Xiao Tian yang terdengar agak kurang meyakinkan, Topeng bencana pun bertanya lagi.


"Sepertinya berhasil diusir?"


"Kenapa kau terdengar tidak yakin?"


"Ada apa denganmu?"


"Se ... , sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi di kerajaan Angin sejak aku tak sadarkan diri begitu lama. Yang pasti sejak aku tersadar, semuanya terlihat damai dan tak ada satupun iblis yang terlihat." jawab Xiao Tian.


"Tak sadarkan diri?"


"Lalu kenapa kau disini?"


"Kerajaan Angin kan sangat jauh dari sini."


"Apa kau mengurungkan niatmu berurusan dengan sekte iblis?"


"Lalu dimana Huang Li dan semua teman-temanmu?"


"Apa kau meninggalkan mereka dimedan perang?"


"Oh iya, kalau tak salah aku melihat bocah kecil yang biasanya selalu bersamamu waktu itu. Dia menuju ke kerajaan Es, apa kau sedang mengejarnya?" tanya Topeng bencana.


Awalnya Xiao Tian terdiam dan mengepalkan kedua tangannya karena tak bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Topeng bencana kepadanya. Dia mulai merespon pertanyaan Topeng bencana, ketika menyinggung soal Kaibo.


"Bocah kecil?"


"Apa ibu melihat Kaibo?"


"Kenapa ibu tak membawa paksa dia kemari!" sambung Xiao Tian.


"Xiao Tian anakku, tolong jelaskan sebenarnya apa yang sedang terjadi?"


"Ibu sangat bingung, sebenarnya perang dengan sekte iblis telah selesai atau belum?"


"Dan kenapa kau mengejar bocah itu?."


Xiao Tian menjelaskan kepada topeng bencana, tentang alasannya mengejar Kaibo. Dia juga menceritakan keadaan Kerajaan Angin sesuai dengan yang dia lihat. Tak lupa pula dia ceritakan soal Huang Li yang telah kehilangan kesadaran karena jiwanya disegel oleh seorang raja iblis.


"Jadi itu semua terjadi sejak aku pergi mengumpulkan bantuan ... , ucap Topeng bencana dengan nada kesal.


" Begitulah." sambung Xiao Tian.


Topeng bencana mengeluarkan sebuah lencana berbentuk segi enam yang memiliki motif naga merah di tengah lencana itu.


Dia memberikan lencana tersebut kepada Xiao Tian sambil berkata.


"Bawa ini untuk jaga-jaga, bilang saja kalau topeng bencana yang memberimu perintah untuk membawa bocah itu kembali."


"Kenapa ibu tak ikut saja denganku?"


"Ini kan berkaitan dengan keselamatan dunia." sambung Xiao Tian.


"Bukannya ibu tak mau ikut, tapi ibu tak terlalu percaya dengan rumor dibalik lembah kristal es, lagipula kerajaan Es sekarang bukanlah sebuah tempat berbahaya lagi." jawab Topeng bencana.


"Apa maksud ibu?" tanya Xiao Tian.


"Sebagian besar wilayah Kerajaan Es telah hancur menjadi reruntuhan, ibu sudah melihatnya dengan mata kepala ibu sendiri." jawab Topeng bencana.


Mendengar jawaban Topeng bencana, Xiao Tian terlihat begitu frustasi. Dia mengepalkan kedua tangannya sambil memasang wajah yang penuh rasa frustasi.


Melihat putranya terlihat begitu frustasi, Topeng bencana menjadi kebingungan.


"Apa yang membuatmu menjadi begitu frustasi?"


"Bukankah bagus kalau kerajaan Es hancur?" tanya Topeng bencana.


"Bagus apanya!"


"Jika kerajaan Es hancur, siapa yang akan menghalangi Kaibo untuk pergi ke lembah kristal Es." bentak Xiao Tian.


Mendengar jawaban Xiao Tian, Topeng bencana tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa karena menganggap Xiao Tian telah tertipu rumor bohong tentang lembah kristal Es.


Topeng bencana memang menghormati peraturan yang dibuat kerajaan Es agar tak mendekati lembah tersebut. Akan tetapi dia tak percaya tentang rumor yang tersebar mengenai bunga kristal es dan keganasan naga putih raksasa.


Tepat sebelum Topeng bencana pergi, Xiao Tian bertanya kepada ibunya tentang putri Jia Li.


"Apakah ibu berpapasan juga dengan putri Jia Li ketika perjalanan kemari?" tanya Xiao Tian.


"Ibu hanya berpapasan dengan kereta kuda yang membawa dia pergi, sisanya ibu tak tahu. Yang ibu lihat hanya mayat sang kusir kuda yang tergeletak di sekitar kereta kuda tersebut." jawab Topeng bencana.


"Jadi dia berhasil kabur?" tanya Xiao Tian.


"Semoga saja begitu." sambung Topeng bencana.


Setelah menjelaskan semuanya, Topeng bencana terbang meninggalkan Xiao Tian menuju ke kerajaan Angin untuk melihat keadaan kerajaan Angin.


Setelah Topeng bencana pergi meninggalkannya, Xiao Tian menanyakan kepada Dewa Petir tentang rumor lembah kristal es. Dewa Petir masih menjawab dengan jawaban yang sama. Dia mengatakan kalau rumor tentang keganasan naga putih dan bunga kristal es merupakan hal yang nyata.


Setelah membulatkan tekadnya, Xiao Tian melanjutkan perjalanannya menuju ke kerajaan Es. Di tengah-tengah perjalanan, Dewa Petir menyuruh Xiao Tian berhenti lagi.


"Ada apa?"


"Kenapa kau menyuruhku berhenti lagi!" bentak Xiao Tian kepada Dewa Petir.


"Jangan galak-galak dong, aku kan cuma ingin memberi tahu kenapa kau tak memanggil naga hitam raksasa milikmu. Bukankah kecepatan terbang naga hitam raksasa jauh lebih cepat dibandingkan berlari sekuat tenaga?" tanya Dewa Petir.


"Kenapa kau tak bilang dari tadi!" jawab Xiao Tian.


Xiao Tian membuka portal menuju ruang hampa untuk menjemput naga hitam raksasa yang telah lama menghilang. Sebelum dia memasuki portal tersebut, sesosok wanita dengan tubuh yang begitu kurus kering berjalan sempoyongan keluar dari dalam portal tersebut.


Setelah keluar dari portal itu, dia berjalan mendekati Xiao Tian lalu menarik kerah bajunya sambil berteriak. "Air ... berikan aku air!"


"Si ... , siapa kau?"


"Kenapa kau berada di dalam ruang hampaku?" tanya Xiao Tian.


"Ruang hampamu?" wajah wanita itu terlihat semakin kesal. Tanpa pikir panjang dia langsung menampar wajah Xiao Tian.


"Jadi kau dalang dibalik semua kemalangan yang menimpaku!"


"Jika aku tak memiliki pil penambah energi di cincin ruangku, aku mungkin sudah mati sejak lama!" teriak wanita itu.


"Siapa kau itu sebenarnya?"


"Kenapa kau menamparku begitu saja?"


tanya Xiao Tian.


Melihat Xiao Tian kebingungan, Dewa Petir mendekatinya lalu berkata.


"Hei bocah payah, apa kau lupa siapa dia?"


"Dia itu putri Feng Yin, lihatlah pakaiannya baik-baik."


"Meski terlihat kurus kering dia masih orang yang sama, semua itu terjadi karena dia tak memakan apapun selama satu bulan lebih.


"Jika bukan karena pil penambah energi yang dia bawa, mungkin dia sudah mati sejak dulu."


"Kau hampir saja membunuh seorang putri dari kerajaan besar." jelas Dewa petir.


"Pu ... pu ... putri!" teriak Xiao Tian.


"Akhirnya kau mengenaliku juga, sekarang berikan aku air!"


"Aku sangat haus, aku menahan lapar dan haus selama satu bulan lebih gara-gara kamu tahu!" teriak putri Feng Yin.


"Waduh, Gawat!"


"Aku harus melihat Huang Li, dan naga hitam!" teriak Xiao Tian.


"Kenapa kau lebih menghawatirkan orang mati!"


"Berikan aku air!" bentak putri Feng Yin.


Xiao Tian meninggalkan putri Feng Yin pergi, lalu masuk ke ruang Hampa untuk melihat kondisi Huang Li dan naga hitam.


Setelah memasuki portal tersebut dia bernapas lega karena kondisi tubuh Huang Li dan naga hitam tak mengalami perubahan sedikitpun.


"Aneh sekali, kenapa hanya mereka yang masih terlihat sama persis seperti pertama kali aku memasukkan mereka ke dalam ruang hampa." pikir Xiao Tian.


"Hei pria sialan, cepat berikan aku air!" teriak putri Feng Yin.


"Aku tak punya air minum, tahan saja dulu kau kan bisa menahannya selama satu bulan lebih." ucap Xiao Tian.


Feng Yin terlihat semakin marah, dia mendekati Xiao Tian dengan niat untuk menghajarnya habis-habisan. Karena merasa bersalah, Xiao Tian tak melawan ketika dipukuli oleh putri Feng Yin.


Setelah puas melihat Xiao Tian babak belur karena dipukuli putri Feng Yin, Dewa petir mendekati telinga kiri Xiao Tian dan membisikkan sesuatu.


"Hei bocah, ambil saja cincin ruang di tangan Huang Li, disana banyak persediaan air minum."


"Selain itu, kau juga bisa mengendalikan air dari dalam tanah untuk dijadikan air minum." bisik Dewa Petir.


"Kenapa kau tak memberi tahuku sejak awal!" bentak Xiao Tian lewat telepati."


"Aku hanya ingin melihatmu babak belur." jawab Dewa Petir."


"Dasar Dewa kampret." ucap Xiao Tian.


"Apa kau memanggilku kampret?" tanya Feng Yin sambil mengepalkan tangannya.


"A ... ampun, jangan pukuli aku lagi!" bentak Xiao Tian.


"Hahahah."


"Rasakan itu." ledek Dewa Petir.


"Awas Kau!" pikir Xiao Tian.