Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 143 : Sampai Dikerajaan Es


Untuk mencapai kerajaan Es dengan kecepatan naga hitam seharusnya memerlulan waktu berhari-hari. Namun Xiao Tian bisa mencapai kerajaan Es dengan begitu cepat karena campur tangan Dewa Petir.


Dewa Petir terpaksa campur tangan karena keadaan yang begitu mendesak. Kekuatannya memang telah banyak disegel, namun dia masih memiliki beberapa kekuatan dewa yang tak disegel secara penuh. Dia memiliki sembilan teknik tingkat Dewa yang bisa digunakan untuk keadaan darurat.


Teknik tingkat Dewa yang digunakan Dewa Petir adalah teknik penghenti waktu. Teknik itu dapat menghentikan gerakan semua makhluk hidup di dunia. Teknik tersebut hanya bisa dia pakai sekali dalam seribu tahun. Selama ini dia menyimpan teknik itu untuk keadaan yang mendesak. karena keadaan kali ini berkaitan dengan nasib dunia, Dewa Petir terpaksa menggunakan teknik tersebut.


Xiao Tian serta naga hitam mampu bergerak di waktu yang telah dihentikan oleh Dewa Petir karena Dewa Petir melapisi tubuh mereka dengan qi berwarna biru miliknya.


Setelah terbang begitu lama akhirnya mereka telah sampai dikerajaan Es. Xiao Tian terkejut melihat keadaan kerajaan Es. Seperti yang dikatakan Topeng bencana kepadanya, Kerajaan Es telah hancur berantakan. Tak ada satupun tanda-tanda kehidupan di dalam kerajaan tersebut.


Setelah terbang mengelilingi reruntuhan kerajaan Es akhirnya mereka telah sampai di wilayah istana kerajaan Es.


Istana tersebut sangat kosong dan sepi. Xiao Tian melanjutkan perjalanan dengan bimbingan Dewa Petir. Seperti yang dikatakan si Gendut kepadanya, dibagian belakang istana terdapat sebuah tembok yang menjulang tinggi hingga menembus awan.


Tembok tersebut berwarna hijau dan memiliki kekerasan 18 kali lipat dari kekerasan berlian.


Xiao Tian memutari tembok tersebut untukencari jalan masuk sambil mencari Kaibo atas perintah Dewa Petir.


Dia memutari tembok tersebut sambil terbang menaiki naga hitam raksasa. Detik demi detik, menit demi menit telah berlalu. Xiao Tian tak kunjung menemukan pertanda keberadaan Kaibo, namun Dewa Petir terus menyuruhnya berputar mengitari tembok tersebut. Karena berputar begitu lama, Xiao Tian pun mulai merasa bosan.


"Kita telah berputar-putar selama puluhan kali, tapi tak ada satupun pertanda keberadaan Kaibo."


"Apa kau yakin kalau Kaibo ada di sekitar sini?" tanya Xiao Tian dengan wajah kesal.


"Aku yakin dia ada disekitar sini, aku merasakan hawa keberadaannya." Jawab Dewa Petir.


Dewa Petir merasakan hawa iblis Kaibo dari segala arah disekitar tembok tersebut. Dia terus menyuruh Xiao Tian mencari disekitar tembok tersebut meski tak menemukan tubuh Kaibo dimanapun.


Karena merasa ada yang janggal dengan hawa iblis tersebut, Xiao Tian mengabaikan perintah Dewa Petir dengan terbang keatas tembok tersebut.


Detik demi detik, menit demi menit telah terlewati ujung dari tembok tersebut belum terlihat sama sekali. Xiao Tian terbang begitu tinggi hingga menembus awan akan tetapi tekbok tersebut belum juga mencapai puncaknya. Tekanan angin pun menjadi semakin tinggi karena mereka berada jauh diatas udara.


Meski terhalang oleh tekanan angin yang semakin kencang, Xiao Tian terus menyuruh naga hitam terbang melawan tekanan angin dengan terbang terus menuju bagian atas tembok itu.


Selain tekanan udara yang semakin kencang, oksigen pun semakin menipis seiring berjalannya waktu. Semakin tinggi Xiao Tian terbang, semakin tipis pula oksigen yang bisa dia hirup.


Karena oksigen yang semakin tipis, Konsentrasi Xiao Tian semakin buyar karena napas yang agak sesak. Setelah dia terbang begitu tinggi diatas awan, sebuah tekanan energi qi yang begitu dahsyat dirasakan Xiao Tian dan naga hitam raksasa sehingga mereka mengalami kesulitan untuk bernapas.


Karena kesulitan bernapas mereka pun terjatuh dari atas langit. Mereka jatuh ke bawah dengan kecepatan tinggi. Xiao Tian berusaha meminta tolong kepada Dewa Petir, namun Dewa petir tak menanggapinya.


"Apa Dewa sialan itu merasa kesal lagi karena kulanggar perintahnya?" pikir Xiao Tian.


Xiao Tian mencoba membuka portal menuju ruang hampa untuk menyelamatkan diri namun portal tersebut tak kunjung muncul.


Karena tak bisa membuka portal menuju ruang hampa, Xiao Tian hanya bisa berpegangan kencang kepada naga hitam raksasa. Sayangnya naga hitam tiba-tiba saja mengecil, dia berubah menjadi versi mini karena kehabisan energi qi.


"Sialan." pikir Xiao Tian.


Xiao Tian memeluk erat naga hitam raksasa yang telah berubah menjadi mode mini. Membalikkan badannya untuk melindungi naga hitam agar tak langsung jatuh menghantam daratan. Sambil menutup mata Xiao Tian pasrah akan nasibnya.


Brukk


Dalam keadaan mata tertutup Xiao Tian terjatuh tanpa merasakan sebuah luka sedikitpun. Ketika membuka matanya dia terkejut dengan apa yang dia lihat.


Awan-awan yang begitu tebal terlihat begitu banyak menghiasi daratan yang dia injak.


"Daratan awan?"


"Entah kenapa aku merasa kalau hal ini bukan pertama kalinya aku bsrada diatas daratan awan." Pikir Xiao Tian sambil meraba awan yang ada dibawahnya.


Setelah berpikir begitu lama, dia pun mengingat bahwa sebelumnya memang pernah mengalami kejadian yang serupa.


"Apakah aku mati lagi?" tanya Xiao Tian sambil menggendong naga hitam versi mini.


"Tidak, kau belum mati."


"Semua awan ini memang terlihat sama seperti awan yang berada di alam para Dewa. Tapi percayalah tempat ini bukanlah tempat penghakiman oramg mati." jawab Dewa Petir.


"Maaf karena tak mendengarmu tadi, apa kau masih merasakan hawa iblis milik Kaibo?" tanya Xiao Tian.


"Tidak, aku tak merasakan hawa iblisnya lagi."


"Aku malah merasakan hawa para siluman." jawab Dewa Petir.


"Siluman?"


"Sebenarnya makhluk apa itu?"


"Bagaimana bisa dia mengikuti kita sampai sini?"


"Kalau memang begitu, aku akan menghabisi siluman-siluman itu dan menanyakan dimana mereka sembunyikan tubuh pitri Jia Li dan putri Feng Yin." sambung Xiao Tian dengan wajah serius.


"Hawa siluman yang aku rasakan bukan milik siluman yang waktu itu, hawa keberadaanya jauh lebih lemah dari yang waktu itu." sambung Dewa Petir.


"Berapa jumlah mereka?" tanya Xiao Tian.


"Ratusan." jawab Dewa Petir.


"Apakah kekuatan mereka jauh diatasku?" tanya Xiao Tian.


"Tidak, mereka jauh lebih lemah darimu." jawab Dewa Petir.


"Kalau begitu baguslah, akan kubuat mereka mengaku dimana mereka menyembunyikan gadis-gadisku!" tegas Xiao Tian.


Setelah beberapa menit berlalu, suara para siluman mulai terdengar. Mereka tak menampakkan diri mereka namun bisikan mereka terdengar begitu berisik seakan ada disamping telinga.


"Pergilah dari sini manusia!"


"Jangan mencari gara-gara disini, taka ada yang namanya bunga kristal es, semua hanyalah kebohongan yang dibuat oleh kaum iblis."


"Pergilah jika kau ingin hidup." bisik para siluman.


"Aku datang kemari buka untuk mencari bunga itu, aku sedang mencari anak iblis yang bernama Kaibo." Xiao Tian berteriak sambil menutup telinganya.


"Jadi kau teman bocah iblis itu ya?" bisik para siluman.


"Ya benar, katakan padaku dimana dia?" tanya Xiao Tian.


"Dia sudah mati." bisik para siluman.


Mendengar jawaban para siluman, Xiao Tian menjadi kesal. Dia tahu kalau Kaibo masih hidup, semua itu dia ketahui dari hawa iblis Kaibo yang masih bisa ia rasakan walau hanya sedikit.


"Tunjukkanlah wujud kalian, dasar siluman penakut!" teriak Xiao Tian.


Setelah Xiao Tian berteriak, suara bisikan siluman ditelinganya telah menghilang.


"Dasar manusia sombong!" bentak salah siluman. Suara tersebut terdengar dari segala arah hingga memekakkan telinga.