
Setelah Huai Zhong membuka tudung yang menutupi wajahnya, Xiao Tian menjadi terkejut bukan main.
Karena ini pertama kali baginya melihat seorang manusia yang melewati tingkatan seorang Dewa petarung.
Gelombang kekuatan yang terpancar dari tubuh Huai Zhong begitu kuat sehingga membuat tubuh Xiao Tian gemetar. Tubuhnya gemetar dengan sendirinya karena ini merupakan kali pertamanya merasakan gelombang kekuatan yang melebihi Dewa Petarung dalam keadaan sadar.
"Dewa Pemalas apanya, mana mungkin seorang pemalas bisa mencapai lapisan puncak tahap alam ilusi," pikir Xiao Tian dengan kedua tangan yang gemetar.
Belum sempat Xiao Tian menenangkan diri,
Sunlong malah membuatnya semakin tak percaya diri dengan mengatakan hal yang bisa membuat nyali Xiao Tian semakin ciut. Melalui telepati dia berkata,
"Dia bukan lawan yang mudah, berhati hatilah."
"Kekuatan yang saat ini dia tunjukkan, bukan kekuatan yang sesungguhnya."
"Dia masih menyembunyikan sebagian besar kekuatannya, entah apa alasannya. Tapi mengetahuinya saja membuatku merinding."
Setelah mendengar ucapan Sunlong, Xiao Tian mengepalkan tangannya semakin kencang.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Xiao Tian.
"Tenanglah, aku sudah merencanakan sesuatu. Tapi semua rencanaku tergantung pada kemampuan bertarungmu."
"Tahanlah Huai Zhong selama mungkin. Asalkan kau bisa mengulur waktu, kita pasti bisa memenangkan pertarungan kali ini," jelas Sunlong melalui telepati.
"Selama mungkin?"
"Apakah 30 menit cukup?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Tentu saja, itu bahkan lebih dari kata cukup," jawab Sunlong melalui telepati.
"Kalau begitu ini akan menjadi pertarungan yang mudah." Xiao Tian tersenyum tipis karena mengetahui apa yang harus dia lakukan saat ini.
Xiao Tian menaruh kembali pedang hitam pagoda iblis ke belakang punggungnya, lalu menarik kedua pedang hitam bergerigi yang dia dapatkan dari Kaibo.
"Ingin ganti senjata ya?"
"Tak peduli senjata apapun yang kau gunakan, kau tak akan bisa mengalahkanku. Karena aku terlalu kuat bagimu."
Huai Zhong melangkah mendekat sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri. Dia berjalan dengan begitu santai sembari menyeret tombak hitamnya.
Aura hitam menyelimuti tubuh serta tombak yang dia pegang. Tatapan tajam serta senyum tipis di wajahnya membuatnya lebih terlihat seperti seorang pembunuh kelas kakap. Hawa membunuh yang dia keluarkan terasa begitu kuat hingga membuat bulu kuduk Sunlong dan Xiao Tian merinding.
Ketika sedang di dalam dilema besar, suara yang terdengar tak asing terngiang di telinganya. Suara tersebut merupakan bisikan dari sisi gelap Xiao Tian.
"Biarkan aku yang menghadapinya,"
"Kau tak akan bisa menangani Huai Zhong dengan kekuatanmu yang sekarang.
"Tidak, aku tak akan membiarkanmu menguasaiku lagi."
"Diamlah dengan tenang di alam pikiranku, aku tak akan menggunakan kekuatanmu sebelum kau bisa kukendalikan," balas Xiao Tian melalui pikiran.
"Mengendalikanku?"
"Cih, berhenti bermimpi," balas sisi gelap Xiao Tian melalui telepati.
"Kalau kau tak mau menurutiku, maka kalahkan aku lebih dulu!" bentak sisi gelap Xiao Tian melalui telepati.
Setelah membentak Xiao Tian, sisi gelap Xiao Tian langsung menarik roh Xiao Tian ke alam pikiran.
Karena tak mungkin untuk berdamai dengan sisi gelapnya, Xiao Tian terpaksa melanjutkan perdebatan dengan pertarungan di dalam alam pikiran.
Meski seharusnya sisi gelap Xiao Tian lebih unggul dalam tingkat kultivasi, tapi di dalam alam pikiran dia memiliki kekuatan yang setara dengan kultivasi Xiao Tian yang sekarang. Namun kekuatannya tak stabil terkadang ada dan tiada, datang dan pergi tanpa bisa dia kendalikan. Semua itu karena saat berada di alam pikiran, gelang Dewa mengekang kekuatan sisi gelap Xiao Tian begitu ketat.
Ketika Xiao Tian dan sisi gelapnya sedang berdebat, Huai Zhong bergerak semakin dekat.
Karena takut mati, Sunlong terus berteriak memperingatkan Xiao Tian.
Dengan nada panik dia berkata, "Hei bocah, kenapa kau malah melamun?"
"Cepat bergeraklah atau Huai Zhong akan menghabisi kita!"
Meski berteriak tepat di samping kanan telinganya, Sunlong tak mendapat respon sedikitpun dari Xiao Tian. Semua itu terjadi karena saat ini Xiao Tian dan sisi gelapnya sedang memperebutkan kendali tubuh. Semua panca indra tubuhnya tak berfungsi akibat pertarungan tersebut.
Akan tetapi suaranya masih bisa sampai ke alam pikiran Xiao Tian. Meski begitu dia tak bisa langsung kembali ke alam nyata, karena sisi gelapnya masih terus menghalanginya.
#Alam pikiran
Xiao Tian berhasil mengalahkan sisi gelapnya sehingga membuatnya terbaring lemas di daratan. Namun dia tak mau menyerah dan terus mencoba melawan kembali setiap kekuatannya kembali pulih.
Karena merasa kesal dengan tingkah sisi gelapnya, Xiao Tian menghajarnya habis habisan saat kekuatannya kembali menghilang.
"Minggirlah, kekuatanmu tak sebanding denganku. Gelang Dewa membantuku melemahkanmu. Berhenti bersikap keras kepala dan biarkan aku saja yang menghadapi Huai Zhong," ucap Xiao Tian sambil menatap sisi gelapnya.
"Sialan, beraninya kau bermain curang. Mundur ketika kekuatanku kembali, dan menyerang balik ketika kekuatanku menghilang. Kalau berani, lakukan pertarungan yang adil denganku!" ucap sisi gelap Xiao Tian sambil mencoba berdiri.
"Maaf, aku tak punya waktu untuk meladenimu." Xiao Tian menghilang dari alam ilusi, lalu kembali ke alam nyata.
#Alam nyata
Sunlong melihat Huai Zhong menatapnya dengan tatapan sadis. Dia begitu panik karena tahu Huai Zhong semakin berjalan mendekat. Dia begitu panik dan tak sanggup berlari karena terikat oleh dua pikiran. Disisi lain dia ingin melarikan diri, namun disisi uang lainnya lagi dia ingin membawa Xiao Tian pergi. Karena jika dia memaksa pergi lebih dulu dan membiarkan Huai Zhong menyerang Xiao Tian terlebih dulu, maka nyawanya juga akan ikut terancam.
Nyawa Sunlong terikat oleh ikatan kontrak roh beladiri. Jika Xiao Tian kehilangan nyawanya, maka dia juga akan ikut tewas. Dia juga tak bisa lari menjauh karena rantai perak akan muncul mengikat lehernya setiap kali dia bergerak menjauhi Xiao Tian.
Dengan wajah yang begitu lelah dan panik, Sunlong berpikir,
"Sial, kalau begini terus aku akan mati."
Huai Zhong terus berjalan semakin dekat, namun Xiao Tian belum sadar juga. Sunlong pun kembali berteriak,
"Cepat bangun, bocah sialan!"
Ketika Sunlong berteriak untuk yang terakhir kali, tiba tiba saja Huai Zhong bergerak cepat dan muncul tepat dihadapan tubuh Xiao Tian.
Dia mengangkat tombaknya ke atas langit, lalu menurunkan tombaknya tersebut ke atas kepala Sunlong, dengan kecepatan tinggi.
"Mati aku," ucap Sunlong di dalam hati. Dia menutup matanya karena tak bisa melakukan hal lain.
Ketika sudah pasrah akan keadaan, suara benturan pedang terdengar di telinga Sunlong.
Setelah membuka matanya, dia melihat Xiao Tian sedang menahan tombak hitam Huai Zhong dengan menggunakan pedang di tangan kanannya.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Sunlong."
Huai Zhong yang awalnya menggunakan satu tangan untuk menyerang dengan tombak hitamnya, langsung menarik kembali tombaknya lalu menusukkan tombaknya ke arah perut Xiao Tian dengan memakai kedua tangannya.
Kecepatan serang Huai Zhong begitu tinggi, dan dampak yang dia akibatkan daei serangan tersebut sanggup melumpuhkan kultivasi Xiao Tian. Meski begitu, Xiao Tian masih sanggup menghindarinya. Karena dia mengaktifkan teknik seribu langkah cahaya tepat sebelum tombak hitam mengenai perutnya.
Sejak teknik seribu langkah cahaya aktif, kecepatan Xiao Tian melonjak tajam melebihi perkiraan Huai Zhong. Saking cepatnya, Huai Zhong sampai kesulitan membaca gerakan Xiao Tian.
Setiap kali dia menyerang, Xiao Tian selalu muncul di belakang punggungnya. Dan menghilang ketika dia menoleh ke belakang. Satu satunya yang bisa dia dengar hanyalah suara Xiao Tian yang meledeknya setiap kali muncul tepat dibelakangnya.
"Kearah mana kau menyerang?"
"Aku ada dibelakangmu."
Huai Zhong menoleh ke belakang punggungnya, namun tak ada fisik Xiao Tian yang dapat dia lihat.
"Lihat kemana kau?"
"Aku ada disini," ucap Xiao Tian dari titik buta Huai Zhong.
"Sial, berhenti bersembunyi dan lawanlah aku seperti seorang pria!" Huai Zhong semakin kesal hingga mengeluarkan aura kuat yang sanggup menerbangkan ratusan tengkorak manusia di sekitar tubuhnya. Dia kesal karena Xiao Tian tak bisa dilacak, bahkan tak mengeluarkan suara langkah kaki sedikitpun.
"Aku jadi penasaran, kenapa kau bisa dipanggil sebagai seorang Dewa Pemalas. Bisakah kau ceritakan padaku?"
tanya Xiao Tian yang muncul tepat di belakang Huai Zhong.
Huai Zhong tak menoleh ke belakang, karena sudah muak melakukan kejar kejaran. Melihat Huai Zhong berdiam diri, Xiao Tian pun kembali meledeknya dengan berkata, "Sudah menyerah ya?"
"Atau penyakit malasmu mulai kambuh?"
"Bocah sialan, beraninya mempermainkanku."
"Kau sendiri yang meminta ini, akan kuremukkan tubuhmu dan menyiksamu hingga mati. Masa bodo dengan tugas menangkapmu hidup hidup, aku sudah malas meladenimu lebih lama." Mata Huai Xhong memerah, aura hitam di sekujur tubuhnya pun ikut berubah warna menjadi merah. Tekanan qi yang dia pancarkan semakin meningkat tajam. kultivasinya saat ini melewati tingkatan alam ilusi. Dia mencapai ranah alam roh lapisan puncak.
"Sial, aku tak tahu kalau dia bisa mencapai ranah alam roh lapisan puncak. Kalau begini ceritanya, aku bisa kalah sebelum tiga puluh menit terlewati," pikir Xiao Tian sambil menggenggam erat pedangnya.
"Kita lihat, apakah seorang Dewa Petarung lapisan puncak sepertimu ...,"
"Sanggup mengalahkanku yang memiliki perbedaan kultivasi hingga dua tingkatan denganku," ucap Huai Zhong dengan wajah kesalnya.
"Hiya!" Huai Zhong menusukkan tombaknya ke arah Xiao Tian yang saat itu berada di belakangnya. Xiao Tian kembali menghilang dari pandangan, namun gerakannya terbaca hingga Huai Zhong tiba tiba muncul tepat di sampingkannya ketika Xiao Tian masih dalam keadaan berlari kencang.
Karena saat ini kecepatan lari Huai Zhong sedikit unggul, dia pun bisa menendang pinggang kanan Xiao Tian dengan kaki kirinya. Tendangannya begitu keras hingga membuat Xiao Tian terpental menghantam jeruji besi yang mengurung Dewa Petir.
"Xiao Tian?" ucap Dewa Petir yang saat itu baru mendapatkan kembali kesadarannya.
"De ... Dewa petir?"
"Jadi selama ini kau berada di dalam ruangan ini. Tapi kenapa aku tak bisa melihatmu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir.
"Kupikir kau sudah mati, Dewa Konyol," ucap Sunlong sambil menatap Dewa Petir. Sunlong bertingkah seakan tak tahu apa apa, padahal dia mengetahui lokasi Dewa Petir sejak runtuhnya dinding tengkorak yang memisahkan dua buah ruangan.
"Diam kau kadal tengik," balas Dewa Petir sambil mencoba menghajar Sunlong yang berada di luar jeruji. Karena tak sengaja menyentuh jeruji besi yang mengurungnya, dia pun kembali tersengat listrik dan terpental kembali ke tengah kurungan.
"Kenapa kau tak kembali saja ke alam Dewa?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir.
"Kalau bisa, sudah kulakukan sejak dulu."
"Tapi mereka menyegel semua kekuatanku. Lihatlah tanda kutukan di dahiku," ucap Dewa Petir sembari memperlihatkan simbol tengkorak merah di dahinya yang sempat tertutup oleh rambut panjangnya.
"Reuni yang mengharukan, tapi sayangnya pertemuan kalian tak akan berlangsung lama. Karena aku akan menghabisi salah satu dari kalian terlebih dulu." Huai Zhong berjalan sambil menyeret tombak hitamnya.
"Dasar pengecut, keluarkan aku dan bertarunglah secara jantan. Jangan libatkan para manusia di alam semesta kedua dengan rencana jahat kalian!" bentak Dewa Petir.
"Kalian?"
"Tidak, kali ini tak ada hubungannya dengan yang lain. Aku ingin menghabisi Xiao Tian bukan untuk kelompokku. Tapi untuk melampiaskan kekesalanku."
"Kau pun akan ikut mati bersamanya,"
"Dewa Petir," ucap Huai Zhong dengan tatapan dinginnya.
"Apa kau berniat menghianati kelompok Dewa sesatmu itu?" tanya Dewa Petir.
"Aku sudah tak peduli lagi dengan kelompok tujuh dewa pendosa."
"Aku sudah malas melakukan tugas merepotkan dari kelompok itu, biar mereka tahu kalau Huai Zhong si Dewa Pemalas juga masih memiliki batasan kesabaran," ucap Huai Zhong sembari melapisi tombak hitamnya dengan kekuatan qi yang luar biasa.
Aura merah yang melapisi tombak tersebut semakin menyala sehingga hampir membuat silau mata semua orang.
"Apa yang akan dia lakukan?" ucap Xiao Tian.
"Mundurlah, tinggalkan aku!" ucap Dewa petir.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Xiao Tian.
"Dengarkan Dewa konyol itu, cepat menjauh dari jeruji besi!" bentak Sunlong.
"Kenapa kalian tiba-tiba terlihat panik?" tanya Xiao Tian.
"Sudah kubilang cepat pergi!" bentak Dewa Petir.
"Benar kata mereka, menyingkirlah dan biarkan Dewa Petir mati. Tombak ini telah kumantrai dan kuperkuat dengan kekuatan qi milikku. Jika ujung tombak hitamku ini menyentuh roh Dewa Petir sedikit saja, maka rohnya akan hancur dan tak akan pernah bisa kembali ke raganya di alam Dewa. Dengan kata lain, dia akan tiada," jelas Huai Zhong.
Huai Zhong melemparkan tombak hitamnya ke arah Xiao Tian dengan kecepatan tinggi. Xiao Tian tak bisa menghindari tombak tersebut karena jika dia melakukan itu, maka Dewa Petir yang akan terkena tusukan tombak hitam.
"Cepat menyingkir!" bentak Dewa Petir sambil menatap punggung Xiao Tian.
"Tidak aku tidak mau!" teriak Xiao Tian.
"Karena aku tak mungkin meninggalkan guruku, meskipun nyawaku sebagai taruhannya," ucap Xiao Tian sambil memegang pedang hitam bergerigi di kedua tangannya. Dia memasang kuda kuda sambil bersiap menghadang tombak hitam di depannya.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁