Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 247 : Kembali ke istana


Wukong dan Wu Jing telah kembali dari istana langit. Saat sampai di alam kekosongan mereka melihat pemandangan yang tidak biasa dimana Kaibo Jingmi dan Su Yan dan sedang berlatih mengorek hidung dengan begitu serius sambil melihat Dewa Petir yang terlihat gosong akibat dijadikan target sebelumnya.


"Apa apaan ini?" ucap Wu Jing dengan tampang bingungnya.


"Bisakah kau berhenti mengajarkan teknik aneh yang menjijikan!" bentak Wukong sambil memukul kepala Dewa Petir. Wajahnya terlihat begitu kesal hingga ingin menghajar Dewa Petir tanpa


"Ini bukanlah hal yang menjijikan, ini merupakan teknik tingkat tinggi yang bisa membuat gunung tinggi menjadi rata," ucap Kaibo dengan serius.


"Lihatlah gunung butiran kenikmatan yang tercipta dari hasil jerih payahku," ucap Kaibo dengan bangga sambil menunjukkan setumpuk kotoran hidung yang menggunung melewati mata kaki.


"Bu ... butiran kenikmatan?"


"Katakan padaku, apa saja yang dia ajarkan pada kalian selama aku pergi."


"Dan bisakah kalian jelaskan dimana Xiao Tian dan yang lainnya berada saat ini?" tanya Wukong sambil mencoba tersenyum


"Dewa Petir berkata bahwa mengontrol energi qi saat memasukkan ujung jari ke lubang hidung sangatlah perlu, karena jika terlalu banyak memusatkan qi hidung akan mengeluarkan banyak darah. Meski yang keluar hanyalah darah kotor, darah tersebut tetap diperlukan oleh tubuh sehingga tak boleh dihabiskan dalam sekali tusuk."


"Demi mengontrol kekuatan qi yang keluar, kami harus berlatih begitu banyak sambil menghirup kotoran yang baunya tak terkira demi menciptakan tumpukan kotoran hidung ini," jelas Kaibo dengan santainya.


Ketika Kaibo menunjukkan kotoran beast yang dia maksud. Wukong langsung menutup hidungnya sambil berkata, "Bagaimana bisa mereka tetap sadar setelah mencium bau kotoran yang menyengat ini," pikir Wu Kong sambil menutup hidungnya.


"Lalu dimana Xiao Tian dan yang lainnya?" tanya Wukong sambil mencoba tersenyum


"Me ... mereka berlatih agak jauh dari sini. Aku tak tahu dimana persisnya karena terlalu fokus berlatih teknik tingkat tinggi bersama Dewa Petir," ucap Kaibo dengan penuh semangat.


"Jingmi, Kaibo ... , tolong jujurlah padaku."


"Apakah kalian sudah lupa cara merubah wujud ke bentuk dewasa?" tanya Wukong sambil mencoba menahan amarah.


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Tentu saja kami ingat," jawab Jingmi dan Kiaibo secara bersamaan.


"Bisakah kalian tunjukkan mode dewasa kalian sekarang juga?" tanya Wukong sambil mencoba tersenyum.


"Oh, tentu," ucap Kaibo dan Jingmi sambil merapalkan mantra di dalam hati.


Tak perlu waktu lama, mereka kembali ke wujud Dewasa dengan pikiran yang telah dewasa pula. Sadar dengan apa yang telah mereka lakukan ketika menggunakan versi anak anak, Kaibo dan Jingmi langsung berjongkok berjauhan sambil menggambar lingkaran di atas daratan awan yang lembut.


Dalam hati mereka berkata, "Menjijikan menjijikan, apa yang telah aku lakukan. Benar benar menjijikan."


Setelah membuat Jingmi dan Kaibo sadar dengan apa yang telah mereka lakukan, Wukong hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya ketika melihat Su Yan masih fokus mengorek hidungnya yang sudah tak memiliki kotoran hidung sedikitpun.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Wukong.


"Aku sedang berlatih," jawab Su Yan dengan polosnya.


"Jingmi dan Kaibo bertingkah seperti anak anak karena terpengaruh oleh fisik mereka yang terlihat seperti anak anak. Jika belum menemukan segel yang menyegel kekuatan murni mereka, mereka akan seperti itu terus saat kembali ke wujud anak anak. Bahkan bisa berpikiran seperti bayi jika dibiarkan terlalu lama. Sedangkan kau yang sudah culup dewasa, bahkan merupakan seorang calon ayah. Kenapa bisa mengikuti kekonyolan Dewa Petir ha?" tanya Wukong dengan tampang kesal.


"Maksudmu teknik yang Dewa Petir ajarkan saat ini adalah omong kosong belaka dan tidaklah berguna?" tanya Su Yan dengan tampang bingungnya.


"Tentu saja tidak, teknik ini memang sangat berguna. Tapi bukan kotoran hidung yang harus dijadikan amunisi."


"Kau bisa melontarkan apapun dengan memusatkan kekuatan qi di ujung kukumu."


"Baik pasir, debu, batu atau kapas sekalipun. Jika kau melontarkannya dengan teknik ini, kalian pasti bisa meledakkan apapun yang berada dihadapanmu," jelas Wu Kong dengan tampang serius.


"Metode latihanku memang terlihat menjijikan, tapi metode ini cukup manjur untuk melatih jari telunjukmu agar bisa lurus secara sempurna. Teknik ini bahkan lebih fleksibel jika dibandingkan dengan teknik aslinya. Jika tak ada benda yang bisa dijadikan amunisi, dan kau terpojok dikepung oleh musuh. Satu satunya amunisi yang bisa kau manfaatkan saat itu adalah kotoran hidung yang bisa kau gali kapanpun. Jadi pesanku, untuk berjaga jaga jangan pernah membersihkan hidung kalian hingga waktu yang tepat dan diperlukan telah tiba."


"Ingat tahanlah napsu mengupil yang memiliki tingkat kenikmatan tiada tara, sebelum kamu menemui musuh yang membuatmu terpojok," jelas Dewa Petir dengan santainya.


"Baik guru," ucap Su Yan sambil memberi hormat.


"De ... wa ... Pe ... tir!" Wukong kehabisan kesabarannya hingga memukul Dewa petir dengan sekuat tenaga. Saking kuatnya pukulan Wukong, Dewa Petir sampai tak sadarkan diri.


"Gu ... guru," ucap Su Yan sambil mencoba membangunkan Dewa Petir.


"Jangan bangunkan dia, cepat kumpulkan yang lain agar menemuiku sekarang juga!" bentak Wu Kong sambil memancarkan hawa membunuh.


"Ba ... baik," ucap Su Yan sambil gemetar ketakutan.


Setelah semua berkumpul di tempat Dewa Petir pingsan tak berdaya, Wukong membuka portal ke alam nyata sambil menyeret keluar Dewa Petir dengan tampang yang agak kesal.


"Apa dia benar benar Dewa Ya?"


"Semoga saja pangeranmu itu tak tertular kekonyolannya," bisik Huanran sambil mendekat ke telinga putri Jia Li.


"Jika Yan Yan berubah konyol seperti Dewa Petir, aku tak akan pernah menganggapnya sebagai tunanganku lagi," bisik putri Jia Li sambil berjalan keluar dari portal.


"Kalau kau tak mau menganggapnya sebagai tunanganmu lagi, lebih baik berikan saja padaku. Hehe," ucap Huang Li yang muncul tepat di belakang portal saat portal telah kembali tertutup rapat.


"Enak saja, siapa juga yang akan memberikan Yan Yan kepadamu!" bentak putri Jia Li sambil menoleh ke belakang.


"Kau sendiri yang mengatakan hal itu, kan?" tanya Huang Li sambil meledek putri Jia Li.


"Aku bilang Jika, apa kau tak mengerti apa arti kata jika!" bentak putri Jia Li dengan tampang kesal.


"Oh ... , tentu saja aku tahu artinya. Jika aku menjadi kamu aku pasti berkata lain. Aku akan menerima pangeran Xiao Tian, apa adanya meski dia berubah sifat sekalipun," ucap Huang Li dengan tampang meledek.


Awalnya Xiao Tian dan yang lainnya tak menengok kebelakang karena belum mempercayai apa yang mereka dengar di telinga mereka.


Mereka berpikir bahwa suara Huang Li hanyalah ilusi atau salah dengar belaka. Tapi ketika mendengar suaranya kembali terdengar karena sedang berdebat dengan putri Jia Li, mereka pun langsung menoleh ke belakang sambil berkata, "Huang ... Li ... ?"


"Hai semuanya?"


"Apakah latihan kalian lancar?" ucap Huang Li dengan senyum di wajahnya.