
Tainam Chun pergi meninggalkan ruangan untuk memanggil ayahnya.
Dewa petir menunggunya di aula pertemuan dengan tampang frustasi.
Di aula pertemuan terdapat tiga buah kursi yang terletak menghadap ke pintu ruangan. Sedangkan dihadapan kursi kursi tersebut terdapat ruang kosong yang terbagi oleh dua kursi yang berbaris kesamping secara bersebrangan.
Saat itu, Dewa petir duduk di sebelah kiri dan Xiao Tian duduk ditengah seperti biasa. Dan Dewa petir disebelah kanannya. Sedang Wu Kong duduk tenang di sebelah kirinya. Sementara itu, Dewa Bumi yang dalam wujud roh berdiri di samping kanan Dewa petir.
"Hancur sudah, istriku menikungku tanpa sepengetahuanku," gumam Dewa petir dengan tangis di wajahnya.
"Tenanglah Dewa petir, aku yakin Dewi petir bukan tipe wanita yang seperti itu," Dewa Bumi mencoba menenangkan emosi Dewa petir.
"Haih, padahal beberapa jam lagi aku harus berangkat ke alam dewa Kenapa malah jadi seperti ini?" gumam Wu Kong sambil menepuk dahinya.
Ketika Xiao Tian dan Dewa Bumi sedang mencoba menghibur Dewa petir, Taizheng datang memasuki ruangan.
Sementara itu, Tainam Chun menunggu di luar ruangan karena merasa bahwa hanya ayahnya lah yang disuruh datang menghadap.
"Taizheng memberi hormat, kepada yang mulia dan para Dewa," ucap Taizheng sambil menundukkan kepalanya.
"Bangunlah," ucap Xiao Tian dan para Dewa sambil mengangkat tangan mereka.
"Ampun yang mulia, maafkan hamba jika agak sedikit lancang. Tapi ... , bisakah anda beri tahu apa tujuan hamba dipanggil kemari?" tanya Taizheng sambil menundukkan kepalanya.
"Kau ambil alih pertanyaannya disini, Dewa petir," ucap Xiao Tian dengan serius.
Setelah mendengar ucapan Xiao Tian, Dewa petir pun menganggukkan kepalanya. Lalu berkata, "Apakah Tainam Chun itu putramu?"
"Benar Dewa petir," ucap Taizheng tanpa ragu.
Ketika Taizheng menjawab pertanyaan Dewa petir, Wu Kong mencoba membaca pikirannya dan tiba tiba saja dia merasa sakit kepala karena terdapat sebuah kekuatan besar yang menghalangi tekniknya.
"Ada apa dengan pikirannya itu?"
"Tak hanya memblokir pembaca pikiran serta ingatan layaknya teknik kaisar iblis Jian, teknik pemblokirnya bahkan sanggup melukai diriku,"
"Satu satunya yang bisa melakukan hal ini hanyalah para budha. Apa hubungan orang ini dengan para budha," pikir Wu Kong sambil terbatuk batuk hingga mengeluarkan darah.
"Kau tak apa apa, Dewa kera?" tanya Xiao Tian sambil menoleh ke kiri karena mendengar suara batuknya.
Setelah mendengar Xiao Tian menghawatirkan Wu Kong, Dewa Bumi dan Dewa petir pun langsung menoleh ke arahnya karena penasaran.
"Kenapa tiba tiba kau muntah darah, Dewa kera?"
"Apakah kondisi fisikmu sedang memburuk?" tanya Dewa Bumi sambil menatap ke arah Wu Kong.
Ketika Dewa petir ingin menanyakan hal yang sama, Wu Kong mengangkat tangannya lalu berkata melalui telepati, "Tak perlu pedulikan aku. Lanjutkan saja pertanyaannya, tapi jangan pernah mencoba untuk membaca pikirannya. Karena pikirannya dilindungi oleh teknik seorang Budha,"
"Te ... teknik seorang budha?" Dewa petir, Dewa Bumi dan Xiao Tian terkejut mendengar pernyataan Wu Kong.
Setelah mengetahui bahwa Taizheng tak dapat dibaca pikirannya, Dewa petir pun mengganti topik pembicaraan dengan berkata, "Siapakah istrimu,"
"Tidak ada," jawab Taizheng dengan sekejap.
"Lalu siapa ibu Tainam Chun?" tanya Dewa petir dengan serius.
"Wanita cantik dengan nama Qing Xu," jawab Taizheng dengan lancar.
"Apakah kau punya gambar dirinya?" tanya Dewa petir dengan serius.
Ketika mendengar pertanyaan Dewa petir, Taizheng seketika menyipitkan matanya dan berkata, "Maafkan aku Dewa petir, aku tak memiliki lukisan wajahnya,"
Setelah mendengar jawaban Taizheng, dewa petir menjentikkan jarinya. Lalu seketika sebuah ilusi yang membentuk wajah Dewi petir muncul di atas kepalanya.
Sambil menunjukkan ilusi tersebut, dia pun berkata, "Apakah Qing Xu yang kau maksud, adalah dia?"
Ketika melihat wajah Dewi petir, Taizheng langsung mengepalkan kedua tangannya seakan marah akan sesuatu. Dia menatap tajam mata Dewa petir seakan ingin menghabisinya. Entah mengapa Dewa petir pun gemetar dibuatnya.
Dengan aura membunuh yang cukup kuat, Taizheng pun berkata, "Bagaimana kau bisa mengenal masterku?"
"Master?" ucap para Dewa dengan tampang terkejut.
"Jadi benar kata Tainam Chun, kalau ayahnya memanggil Dewi petir dengan sebutan master?" pikir Xiao Tian dengan serius.
"Jika hanya itu yang kau tanyakan, maka aku akan menjawab iya," jawab Taizheng sambil memberi hormat.
"Lalu, apakah kau ayah dari Tainam Chun?" tanya Dewa petir dengan tampang serius.
"Iya," jawab Taizheng tanpa rasa ragu.
Setelah mendengar jawaban Taizheng, seketika emosi Dewa petir meluap luap hingga keluar niatan membunuh yang cukup tajam. Dia bangun dari kursinya, lalu berkata,
"Jika itu adalah jawabannya ... ,"
"Maka, kau harus mati disini!"
Wooshhh
Dewa petir melesat cepat ke arah Taizheng dengan kilatan biru di tangannya. Dia berniat untuk meninju wajah Taizheng hingga tewas karena rasa cemburu. Namun sebelum pukulan itu sempat mengenainya, Dewi oetir tiba tiba saja muncul dan memblokir serangan tersebut.
Tap, Dewi petir menahan serangan Dewa petir dan langsung menyerap petir yang keluar dari lengannya.
Kreattt kreattt, percikan petir.
"Seorang Dewa tak boleh melukai seorang mortal. Apakah kau lupa akan aturan ini, Suamiku?" tanya Dewi petir dengan senyum di wajahnya.
"Terimakasih karena telah melindungiku guru ... ," Taizheng memberi hormat seperti biasa sebelum sadar akan kata suami.
Ketika baru sadar dengan apa yang dikatakan Dewi petir, dia pun berkata,
"Su ... suami!" teriak Taizheng dengan tampang terkejut.
Setelah mendengar ucapan Dewi petir, Dewa petir yang masih dalam keadaan cemburu berat pun berkata, "Aku hanya ingin membunuh orang dibelakangmu saja. Bukankah kau yang biasanya tidak tahu aturan hingga membunuh banyak manusia, Qing Xu?" Dewa petir begitu marah hingga tak mau memanggilnya dengan sebutan gelar ataupun dengan sebutan istri.
Mendengar kata Qing Xu, Tainam Chun pun terkejut bukan main. Sejak awal dia menguping pembicaraan ayahnya, namun dia tak dapat melihat ilusi yang dibuat oleh Dewa petir karena ilusi tersebut hanya ditunjukkan kepada Taizheng seorang. Karena itu dia belum sadar kalau wanita yang Dewa oetir bahas adalah Dewi petir.
Setelah tahu bahwa Dewi petir adalah ibunya, Tainam Chun pun berjalan masuk dan berkata, "Apakah benar, kalau kau adalah ibuku?"
Dengan santainya Dewi petir pun berkata, "Iya,"
"Lalu, apakah ayahku adalah simpananmu?" tanya Tainam Chun dengan tampang frustasi.
"Tidak, kau sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan Taizheng. Kau adalah putra kandungku, dan Taizheng hanyalah pengasuhmu saja," jawab Dewi petir dengan tampang serius.
"Ayah, ini ... ," Tainam Chun melihat Taizheng dengan tampang bingung.
"Itu benar putraku," angguk Taizheng sambil mengedipkan matanya.
Setelah mendengar bahwa Taizheng bukanlah ayah kandung dari Tainam Chun, Dewa petir pun terdiam. Amarahnya melesat turun dan berkata, "Kalau dia bukan ayah kandungnya, lalu siapa?"
"Yang pasti bukan kau," jawab Dewi petir dengan santainya.
"Qing Xu, ini tidaklah lucu lagi. Tolong katakan dengan sejujurnya, putra siapa dia itu?" tanya Dewa petir dengan tampang frustasi.
"Haih, aku tak punya wewenang akan hal itu. Jiwaku telah ditandai, kalau aku jawab sekarang maka aku akan tiada," jawab Dewi petir sambil tersenyum.
"Siapa yang telah menandaimu?" tanya Dewa petir dengan tamoang serius.
"Tanyakan saja pada Kaisar langit," ucap Dewi petir sambil melepaskan pegangannya dari kepalan tangan Dewa petir.
"Ka ... kaisar langit?"
"Jangan bilang kalau dia adalah ayah dari ... ," ucap Dewa petir dengan tampang frustasi.
"Siapa yang tahu, tanyakan saja jika masih penasaran," tubuh Dewi petir mulai memudar karena telah mengaktifkan teknik teleportasi.
"Tunggu dulu kau mau kemana?" ucqp Dewa petir sambil memegang tangan Dewi petir.
Ketika Dewa petir mau memegang tangannya, Dewi petir menangkisnya lalu berkata, "Kutunggu kau di istana langit nanti. Sampai jumpa, suamiku,"
Ketika hampir menghilang, Taizheng memegang pundak Dewi petir karena diajak olehnya melalui telepati.
Tepat ketika dia mengucapkan kata terakhirnya, Dewi petir dan Taizheng pun lenyap dari pandangan.