Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 99


Ketiga OrangTua mereka melihat ke arah Anto yang terlihat menikmati waktu yang sedang di habiskannya dan terpancarkan dari wajahnya yang terlihat bahagia  dan juga sangat senang sekali. “Ma, bisa kami pergi?” Tanya Anto dengan sopan pada Mama nya yang terlihat bahagia namun tidak menunjukkannya pada Anto. Mama nya tidak langusng menjawab, hanya diam saja sambil melirik sesekali ke arah semua Anak-Anak termasuk para Maid pribadi Anto yang terlihat menikmati saat bersama Anto.


Mama nya terseyum kecil sambil beraling memandang Anto lalu mengangguk pelan ke arah Anto yang tersenyum padanya. “Tapi, janji kamu akan pulang ke rumah ini.” Kata Mama nya sambil tersenyum senang saat melihat ke arah Anto. Anto mengangguk dan melihat ke arah Marya yang ada di belakang Mama nya yang terlihat senang saat Mama nya memberikan izin padanya.


“Makasi Ma.” Kata Marya sambil memeluk Mamanya yang dari bekalang kursi yang di duduki Mama nya. Mama Marya hanya tersenyum pada Marya yang terlihat sangat senang sekali saat melihat ke arahnya sedikit.


“Mama sebenarmya, sangat enggan memberikan kami izin kamu pergi kan.” Sambil melihat ke arah Mama nya yang terlihat biasa saja. “Tapi, aku tau Mama sangat tidak ingin kami pergi. Jadi Mama hanya bisa memberi izin dan jika tidak, Mama tau kalau mereka akan ikut kabur bersamaku. Hah… Sungguh tidak rugi aku memiliki Mama seperti ini.” Anto yang terus tersenyum pada Mama nya yang sedang menikmati waktu bersama mereka meski dari tadi hanya bisa bicara sedikit demi sedikit dan juga berbagai hal sudah di bicarakannya mereka. “Ma, tenang saja. Aku juga akan menambkan Mama dalam Haremku sutu saat nanti di kehidupan berikutnya termasuk Mama ku yang satunya.” Sambil melihat ke arah Mama Siska dan sedikit tersenyum padanya. “SAKIT!!!” Anto tiba-tiba di tarik telingan oleh Siska yang sudah ada di deatnya. “Kenapa?” Tanya Anto pada Siska yang tiba-tiba menarik telinganya.


Siska tidak langunhg menjawab, malah melototinya dengan sangat tajam sekali dan juga terlihat sangat marah padanya. “Matamu.” Kata Siska yang kesal padanya sambil menunjuk. “ Jika Mama ku dengan pandangan itu lagi, akan ku tusuk biar kamu tidak melihat Mama ku dengan mata itu.” Dengan sangat tajam memperingati Anto yang terlihat takut padanya.


“Apa? Ketahuan ya.” Anto yang tidak bisa mengelak saat di ketuhui melihat kedua Mama nya dengan sangat menginginkan mereka berdua. Anto hanya bisa diam saja melihat ke arah Siska yang terus melototinya begitu tajam. “Apa segitu  jelasnya.” Anto yang tidak tau harus mengatakan apa, saat di tatap begitu tajam oleh Siska.


“Sangat jelas sekali.” Kata Lala secara tiba-tiba yang membuat Anto melihat ke arahnya. Anto yang tidak mengerti kenapa Lala bisa tau apa yang di pikirannya sedikt canggung pada Lala. “Aku tidak keberatan juga meski ada Mama di sisimu. ‘UHUK!!!' Anto kaget saat mendengar ucapan Lala yang bisa di dengar oleh semua orang di ruangan itu dengan sangat jelas sekali. Bukan hanya Anto yang kaget, semua orang di ruangan itu kaget dengan perkaataan Lala yang bisa di mengerti maksud dari perkataannya kecuali kedua OrangTuanya dan Mama Marya yang terlihat bingung dan tidak mengerti. “Mama aku san…!” Anto tiba-tiba menutup mulut Lala saat hendak bicara sesuatu pada Mama nya.


“Jangan bicara lebih jauh lagi.” Dengan telepati bicara pada Lala yang di tutup mulutnya. Anto tidak melepas tangannya dari mulut Lala yang melihat ke arahnya dan juga matanya yang terlihat senang.


“Hehe… Kenapa mengehntikan ku?” Tanya Lala dengan biasa saja pada Anto yang terlihat gugup di dekatnya. Anto tidak menjawab, dia memperhatika ke arah Mama nya yang terlihat bingung padanya yang tiba-tiba membungkam Lala dengan sengaja.


“Dia mau menambahkan Ma...!” Siska yang hendak bicara, juga di hentikan oleh Anto di saat yang bersamaan. Siska tiba-tiba di dekat Anto sedikit gemetar. 'HEMPH!' Anto melihat Siska yang sedang menatapnya dengan sangat tajam meski sudah do sumpal mulutnya.


“Anto, ada ini?” Tanya Papa Siska yang menatap ke arah nya dengan sangat tajam dan jga terlihat galak padanya.


“Tidak ada apa-apa. Hanya saja ini akan jadi lebih rumit jika di katakan sekarang dan nanti juga. Makanya aku menghentikan mereka berdua mengatakannya.” Jawab Anto dengan spontan dan lancar sekali tanpa ada jeda mengatakannya saat melihat Papa Lala yang begitu menyerakan saat melihat ke arahnya. Papa Lala tidak langsung mempercayai Anto yang tiba-tiba berkata begitu padanya. “ADEH!” Anto  berteriak ketika Siska menginjak kakinya dengan sangat kerasa sekali. “Kenapa sikapanya berubah lagi?” Anto yang tidak bisa menebak apa yang sudah terjadi pada Siska yang selalu berubah-ubah emosinya tergantung situasi yang di alaminya, setelah melihat ke arah Siska yang terlihat sangat marah sekali padanya.


“Kenapa juga Papa harus marah padanya?” Tanya Papanya dengan begitu seriys sekali.


“Mudah saja itu karena Ma…!” Anto langung menyumpal Lala yang hendak keceplosan bicara pada papanya. “Papa, maaf.” Lala langung minta maaf pada Papa nya, saat tadi hendak mendapa jawaban darinya. “Hampir saja lolos.” Denga tetap senyum pada di balik tangan Anto yang sedang menyumpal mulutnya dan sambil telepatian sama Anto di dekatnya.


“Untung tepat waktu.” Anto yang merasa lega. tapi itu belum berakhir dengan baik meski sudah  lolos dari sebelumnya. Papa nya melototi Anto yang menghentikan Lala bicara di saat bagian pentingnya. “Papa!” Anto yang dengan jelas memanggil Pamannya dengan sebutan Papa.


“Apa?” Jawab Papa Lala dengan tajam pada Anto yang terlihat biasa saja dan juga terlihat tidak baik-baik saja.


“Anu… Mungkin… Itu.. Aku.. Hm!!” Anto yang tidak tau harus bicara apa dan hanya bisa mengulang kata yang berbeda dan tidak bisa di mengerti oleh semua orang.


“Papa!” Panggil Siska yang sudah berubah sikapnya dengan sedikit lembut pada Papa nya. “Apa Papa menyayangi Mama?” Tanya Siska pada Papanya dengan nada bicara yang terdengar serius meski wajahnya tidak menunjukkan itu. Papanya melihat ke arah Siska yang terlihat senang dan juga seperti memikirkan sesuatu


“Ya tenatu saja. Papa sangat menyayangi Mama.” Jawab Papa nya dengan sangat serius sekali dan lebih serius dari Siska yang bertanya. Siska langusng tersenyum dan juga terlihat sangat lembut di setiap senyuman yang


terpancar di wajahnya.


“Kala gitu, jika Papa menyayangi Mama, apa Papa bisa melakukan apapun untuknya, meski harus pergi jauh meninggalkannya?” Tanya Lala dengan suara yang halus pada Papa nya. Papa nya tidak langusng menjawab malah bingung dengan pertanyaan Anaknya sendiri yang terdengar serius sekali.


Next Chapter


Maaf agak lama UPnya. Author lagi sakit, jadi sedikit lama. Untuk & hari kedepan, akan sedikit lama UPnya karena Author patah pergelangan tangan jadi akan ada jeda 3 atau sampai 4 hari, baru Author bisa UP lagi.