
Setelah mengatakan banyak hal tentang janji yang tidak pernah di tepati sama sekali pada sahabatnya, dia masih terlihat memelas sampai sekarang dan tidak mengubah sama sekali sikapnya itu. “Ku mohon!” mintanya lagi dengan masih memelas meski sudah mendengar banyak keluhan dari No 2. No 2 tidak melihat lagi ke sahabatnya melainkan melihat ke gadis yang pernah menciumnya itu.
“Baiklah, tapi ku lakukan ini karena Arma, paham.” dengan santai dan juga merasa terpaksa melakukannya. “Selain itu aku juga penasaran apa dia masih hidup atau tidak.” tambahnya setelah cukup tenang. “Arma bisa setetes lagi dan kali ini gunakan untuk Ibumu.” dengan senyum mengatakan itu pada Arma. Tanpa merespon Arma langsung saja membuat luka di tangannya. No 2 kemudian mengambil setetes lalu membuat lagi cermin dengan darah tadi, tapi setelah jadi kali ini ada yang beda. Tiba-tiba awan berkumpul lalu banyak sekali di langit. “Apa yang terjadi?” Tanya No 2 dengan melihat ke langit.
“Aneh, kenapa ada ini Guntur ilahi di sini?” Tanya sahabatnya juga yang ingin tahu sambil melihat ke langir yang terlihat gelap sekali.
“Guntur ilahi? apa itu?” Tanya No 2 yang sedikit penasaran dengan ikut melihat langit yang gelap di sertai suara guntur yang kencang.
“Ini terjadi jika putriku yang memiliki tubuh alam menikah dengan seorang dan akan membuat Guntur ilahi muncul untuk meningkatkan fisiknya jadi fisik ilahi, tapi kenapa ini bisa muncul? seharusnya pernihakannya batalkan!” dengan sanati menjawab dan juga bingung. Bukannya langsung di respon malah No 2 diam saja mengingat dirinya yang di cium oleh Arma saat baru saja sampai di Dunia itu. “Arma kamu batal menikahkan?” Tanya Ayahnya yang di dekatnya sambil melihat padanya. Arma diam saja dan tidak merespon sama sekali.
“Dia memang batal menikah dengan kedatanganku, tapi dia menikah dengan Pria lain.” jawab No 2 yang melihat ke Arma yang sepertinya tidak berani menjawab.
“Siapa dia?” Tanya Ayahnya dengan tenang saja dan ingin tahu.
“Aku Ayah.” jawab No 2 memanggil sahabatnya dengan sebutan Ayah di depannya.
“Kamu ya. Heh!” timbal sahabatnya yang kaget lagi meski beberapa saat sebelumnya masih tenang saja. Sahabatnya terus melihat ke No 2 yang masih tenang saja dan tidak tahu harus berkata apa.
“Ayah kamu kenapa?” Tanya No 2 dengan senyum menggoda sahabatnya sendiri. Sahabatnya malah masih terlihat kaget sekali, lalu tiba-tiba memeluk No 2.
“Syukurlah…!” sahabatnya itu malah langsung meneteskan air mata sambil memeluk No 2. No 2 malah bingung dengan reaksi yang di tunjukan sahabatnya itu. Di saat itulah terdengar suara Guntur yang keras sekali yang siap menyambar. “Ku harap kamu juga segera menikahi adikku dengan begitu kita jadi keluarga besar.” dengan tenang mengatakan itu lagi. Sementara itu ketiga orang yang di libatkan merasa tidak tahu harus berkata apa pada Sabahat No 2 yang mengatakan itu dengan terang-terangan.
“Pokoknya jalani saja malaptaka ini, kami akan menjauh dulu.” Setelah itu sahabatnya teleportasi dengan membawa Ram dan Arma tanpa menjelaskan lebih banyak lagi maksudnya. Setelah itu tiba-tiba petir biru menyambar ke No 2 yang sudah sendiri, tapi bukannya menghindari petir itu dia malah menangkapnya dengan tangan kosong. No 2 lalu melihat ke langit dengan masih tanpak bingung dengan apa yang di lakukan sahabatnya tadi itu.
“Petir ini bahkan tidak sekuat serangannya, kenapa dia bertingkah seperti itu?" Tanya No 2 masih tenang saja sambil mengingat sahabatnya yang meninggalkannya sendiri dan di saat yang sama juga ada sesuatu di langit yang mengeluarkan sebuah naga langit yang sangat besar sekali. “Naga petir, ini bahkan bukan halilintar!” kata No 2 lagi, lalu suara gemuruh semakin besar aja. “Sepertinya kamu hidup ya.” dengan senyum mengatakn itu sambil melihat ke langit yang memhami apa yang di katakannya. “Tapi ini masih sangat kurang sekali kalau kamu ingin menghancurkanku.” Dengan tenang mengatakn itu semua.
Setelah itu sahabatnya datang lagi dengan teleportasi di dekatnya dengan membawa Ram dan Arma. “Masih belum selesai?” Tanya sahabatnya dengan tenang saja dengan membawa Ram dan Arma yang sedikit berbeda dari sebelumnya. No 2 tidak merespon malah dia melihat ke Arma dan Ram yang sedikit berbeda dari biasanya.
“Mereka kenapa?” Tanya No 2 pada sahabatnya yang terlihat tenang saja sambil melihat ke Arma dan Ram. sambil terus memegang pitir di tangannya yang masih belum menghilang.
Sahabtanya tidak merespon malah melihat ke tangan No 2 yang memegang petir dengan tenangnya. “Sebaiknya kamu lepaskan petir kecil itu!” minta sahabatnya dengan tenang saja.
No 2 melihat ke petir biru yang terlihat berusaha melepaskan diri itu. “Bentar, aku akan mengejarinya cara memebunuh seseorang dengan petir kecil ini.” jawabnya dengan santai sekali.
“TUNGGU!” minta sahabatnya dengan terik tiba-tiba. No 2 jadi kaget mendengar itu lalu tidak jadi mentranfer seusrau pada petir itu. “Jangan lakukan itu, nanti malah dunia ini semakin bahaya saja dan tidak ada lagi yang namanya Immortal!” dengan wajah serius sekali memperingatkan No 2. No 2 melihat ke langit yang Naga petirnya sudah semakin besar saja, setelah itu melihat lagi ke sahabatnya yang masih panik bersama Ram dan Arma yang terlihat berusaha tenang saja.
“Kalau gitu ambil ini!” No 2 langsung memberikan sahabatnya petir yang di pegangnya itu dengan tenang padanya tanpa takut sama sekali. “Urus itu juga kalau kamu tidak membiarkan aku mengajarinya.” minta dengan ngambek pada sahabatnya sendiri lalu dia teleportasi membawa Ram dan Arma ke tempat lain secara acak. No 2 sampai di sebuah tempat yang lapang dan luas yang tidak di ketahuinya sama sekali yang juga ada pepohonan yang banyak, layaknya sebuah tempat damai dan tidak terjama sama sekalinoleh mosnter ataupun manusia. “Nah sekarang sudah bebas darinya, sekarang saatnya ini!” No 2 memberikan lagi cermin yang di buatnya pada Arma. Arma mengambilnya, tapi Ram dan Arma masih belum terbiasa dengan perlakukan yang di terima mereka dari No 2 dan sahabatnya, hingga mereka hanya bisa diam saja. “Jangan seperti itu, dia dan yang sekarang itu beda. Mungkin di masa lalu dia berbeda sekali dengan yang kamu lihat. Tapi saat ini adalah merupakan sifat asli dari Ayahmu.” dengan tenang menjelaskan itu pada Arma.
Arma diam saja mendengar itu dan tidak merespon sama sekali sambil memegang cermin yang di berikan No 2 padanya. “Banyak hal beda yang ku jalani di masa ini. Bisa di kalau diriku yang ini punya masalah yang lebih serius di bandingkan diriku sendiri. Mungkin.” kata No 1 melihat semuanya yang masih diam saja.
“Ada apa?" Tanya No 2 pada Arma yang masih diam saja. “Panggil Ibumu sekarang.” dengn tenang mengingatkan Arma yang masih diam saja. Arma kemudian memfokuskan diri lalu cermin itu pecah untuk kedua kalinya. “Tunggu!” dengan tenang menghentikan Arma saat portalnya belum terbentuk sempurna. “Apa kamu pernah bertemu ibumu?” Tanya No 2 pada Arma dengan tenang. Arma malah menggeleng kepalanya lalu terlihat sedih sedih. “Kali ini gunakan dengan sepenuh hati dan panggilah dengan lembut sampai kamu merasa Ibumu mendengarkan dirimu. Kamu harus tenang dan tidak boleh memikirkan hal lain selain Ibumu dengan sepenuh hati.” dengan lembut meminta padanya. Arma tidak merespon malah langsung saja mempratikkannya. Di saat yang sama sahabatnya datang dengan terbang ke arah mereka bertiga, yang dengan cepat sekali sampai di sana.