Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 32


Anto yang sudah di dalam, langsung ke dapur untuk memasak buat kedua orang Gadis yang akan segera bangun. Tapi saat hendak ke sana, dia melihat Nina dan Lia keluar yang sudah kelauar dari kamar mereka. Anto terdiam dengan Nina yang melihat ke arahya dengan begitu teajam seolah-olah penasaran dengan sesuatu, sedang Lia tersenyum pada Anto dengan lembut. “Kalian sudah bangun?” Tanya Anto sambil terus melihat Lia dan Nina yang berdiri di dekat pintu.


Mereka berdua melihat ke Anto yang sudah memakai pakaian serba hitamnya tanpa topeng. Anto melihat ke Lia dan Nina yang terus memperhatikannya. “Mana sarapannya?” Tanya Lia yang sangat ingin segera makan dengan sedikit malu dan juga sambil melirik ke Anto dengan beberapa kali.


“Aku baru saja mau buat. Kalian tunggu sebentar.” Anto berjalan ke arah dapur, meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri.


"Tunggu!" Lia menghentikan Anto yang baru saja melewati mereka. Anto berbelik kerena Lia memanggilnya. "Apa yang baru saja kamu lakukan?" Tanya Lia sambil melihat ke pakaian Anto. Anto melihat ke dirinya sendiri yang bari ia sadari


“Tadi aku habis melihat Dunia ini.” Jawab Anto sambil tersenyum. Anto berjalan lagi sambil melepas pakaian serba hitamnya yang tidak ia tahu kapan di pakainya


“Melihat dunia?” Nina menjadi bingung dengan perkataan Anto. Lia yang mendengar itu langsung terlihat kaget.


“Apa maksudmu?” Tanya Lia yang masih kaget dengan perkataan Anto. Anto yang tadi jalan berhenti lagi.


“Hm...” Anto memeggang dagunya. “Itu sama seperti saat kamu melihat bumi. Aku cuma mempraktikkan teori yang kamu katakan itu, dan membuatnya dalam versiku sendiri.” Anto lanjut jalan lagi ke dapur meninggalkan merek berdua


“Itu mustahil, dengan kekuatanmu saat ini.” Lia yang tidak percaya dengan perkataan Anto. Anto berhenti lagi dan melihat ke Lia yang sangat penasaran sekalin dengannya.


"Aku sendiri juga tidak percaya. Kekuatan sebesar ini seharusnya, saat banyak aku punya kontraktor yang sudah mati." Anto sendiri yang masih belum menyadari sumber kekuatannya yang begitu besar. “Lia, kenapa kamu bersikap seperti itu?” Anto tersenyum pada Lia. “Apa menurutmu, seorang Anak berumur 7 tahun bisa berpetualang di alam semseta tanpa perlindungan diri?” Tanya Anto dengan penuh percaya diri dengan


perkataannya. Lia terdiam saat Anto berkata begitu yang dapat di lihat dari wajahnya yang juga tidak tahu mengapa dirinya bisa sedkuat itu.


“Aku masih tidak percaya.” Bantah Lia yang masih tidak percaya dengan kekuatan Anto.


“Lia, kamu sendiri tau kekuatanku kan!” Anto yang mengingatkan Lia saat bertarung dengannya. “Selama 2 tahun terakhir, aku bertambah kuat. Entah dengan apa aku bertambah kuat, aku sendiri tidak tahu penyebabnya." Respon Anto menjelaskan dengan jujur karena tidak tahu apa yang menyebabkan dirinya menjadi tambah kuat. "Sejak awal, aku punya tujuan melakukan ini, yaitu untuk belajar dan untuk mencari Gadis haremku, apa kamu lupa?” Anto mengingtakan Lia yang sedang sangat penasaran sekali dengan semua keingin tahuannya


Lia tidak bisa bertanya lagi, karena bisa tahu Anto yang jujur. “Maaf.” Lia tersenyum  senang dengan perkataan Anto. Anto lanjut lagi ke dapur untuk membuat sarapana untuk merek berdua. Nina yang di sana, bingung dengan percakapan mereka berdua.


“Aku tidak paham sama sekali.” Nina menundukkan kepala karena kurang mngerti dengan arah pembicaraan Lia dan Anto.


“Oh ya, ada sesutau yang ingin ku kasi pada kalian. Tapi nanti setelah kita sarpan. Kita berkumpul ruang keluarga dan akan ku beri tahu apa maksudku.” Anto yang meninggalkan Nina dan Lia. "kalian tunggu di ruang makan saja." Anto yang sudah jauh meninggalkan Lia dan Nina amsuk ke dapur. Lia dan Nina masih diam di tempat mereka dan tidak beranjak pergi. Lia memegang tangan Nina yang di sampingnya.


“Baiklah, kita ke ruang makan.” Ajak Lia sambil menarik tangan Nina yang yang di pegangnya. Sesampainya mereka berdua di sana, mereka langsung duduk ke kursi masing-masing dan menunggu sarapan dari Anto. “Nina!” panggil Lia. “Nina, Nina!” Lia yang memanggil Nina tidak merespon Lia sama sekali. Lia pindah ke kursi di samping Nina, lalu Lia memegang pundak Nia


“Wahh…!" Nina berteriak kaget saat Lia memegang pundakanya. Lia merasa aneh saat mleihat Nina yang berteriak seperti itu. Nina yang kaget melihat ke Lia yang melihatnya dengan tatapan penuh penasaran. “Maaf, kamu mengagetkanku.” Nina langusng menenagkan diri sambil memalingkan wajahnya dari Lia.


Lia tidak merespon sama sekali, malah tersenyum pada Nina yang semakin lama, dia semakin terbuka padanya. “Apa kamu tidak penasaran apa yang akan di berikan olehnya?" Tanya Lia memulai pembicaraan santai pada Nina. Nina masih diam dan tidak merespon Lia yang di dekatnya.


“Aku tidak tau, aku belum pernah di kasi hadiah apa pun sebelumnya.” Jawab Nina meski memalingkan wajahnya dari Lia.


“Jika dia memebri hadiah, pasti hadiahnya sangat menarik. Menurutmu apa?” Tanya Lia mengambil buah di atas meja yang selelau tersedia.


“Apa yang akan dia berikan?” Nina diam memikirkan perkataan Lia yang sudah di mengertinya dan juga pingin tahu apa yang akan di berikan Anto.


“Sepertinya semakin akrab.” Kata Anto yang baru datang dengan melayangkan banyak sekali makanan di udara. Anto menetikkan jarinya, lalu semua meja dan kusinya jadi semkain bsar dan lebar dan ruang makannya jadi semakin luas. "Maaf membuat sedikit lama." Anto langsung menaruh semua makanan itu di atas meja, lalu duduk di kurinya sendiri.


“Ini sarapan buat dia.” Jawab Anto sambil meilirk ke arah Lia yang berbinar-binar saat ada banyak makanan di atas meja. Nina melihat ke Lia yang sudah duuan makan tanpa peduli yang lain.


"...!" Nina kaget saat melihat Lia yang sangat terlihat buas sekali makannya. “Apa yang terjadi?” Tanya Nina dengan sangat terheran sekali sambil melihat ke Lia yang makannya lebih banyak darinya


“Hm...! Begini, kemarin kalau tidak salah dia meminta banyak makanan, jadi aku membuatkannya” Jawab  Anto sambil mengambil makanannya juga dan merasan senang dengan Nina yang bertanya padanya.


“Kenapa kamu membuatkannya?” Tanya Nina yang melihat Lia dengan tatapan aneh


“Kenapa? Tentu saja karena dia memintanya. Jadi aku membuatnya." Jawab Anto siingkat sambil melihat ke Nina yang melihat ke Lia. Nina melihat ke Anto yang terlihat santai saat bicara padanya. "Dengarkan ini. Siapa sajan yang mau jadi Gadis Haremku, akan ku kabulkan apa pun permintaan mereka. Selama aku bisa mengabulkannya.” Anto tersenyum pada Nina yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang tidak di mengertinya. Nina kaget lalu memalingkan wajahnya dari Anto yang melihatnya terus.


“Apa ini tidak papa?” Tanya Nina yang masih memalingkan wajahnya dari Anto. Anto terdiam tidak mengerti maksud Nina. "Maksudku!" Nina menunjuk ke Lia yang sedang mkan sudah lebih dai ratusan piring sudah habis. Anto melihat ke Lia yang makannya sudah sangat banyak.


“Tenang saja." Anto yang mulai makan juga. "Setiap mkanan yang kubuat selalu ada manfaatnya, sebaiknya kamu juga segera makan.” Suruh Anto sambil melayang sebuah piring ke depan Nina yang memalingkan wajahnya.


“Eh!” Nina baru sadar saat Anto menaruh makanan di depan mejanya. Nina melihat ke Anto yang sedang makan dan juga tidak melihat ke arahnya. Nina menatap ke Anto yang dia tidak sadari tersenyum pada Anto.


“Ada apa?” Tanya Anto pada Nina yang tersenyum padanya. Nina tidak merespon mlah langusng mengambil makanan yang ada di depannya. Anto tersenyum dengan tingkah Nina yang baru pertama kali di lihatnya. “Sebaiknya cepat makan, kalau tidak nanti kamu tidak akan kebagian.” Kata Anto yang masih terus makan dan mengingatkan Nina yang pelan makannya. Nina tidak merespon malah tetap lanjut makan dan juga dengan sedikit lebih cepat.


***


Beberapa menit berlalu, mereka bertiga selesai makan dan masih berkumpul di ruang makan. “Bisakah kita mulai sekarang?” Tanya Anto pada Nina dan Lia yang sudah selesai makannya


“Aku masih ingin makan.” Kata Lia pada Anto sambil menatapnya tajam. Lia lebih mementingkan makanan yang di buat Anto dari pada hal yang aan di berikan Anto pada mereka berdua.


“Lia, coba lihat berapa piring yang sudah kamu habiskan.” Anto menunjuk ke arah piring kotor yang sangat numpuk sekali di sampingnya yang dia sama sekli tidak perhatikan. Lia melihat ke sampingnya dan lagusng terdiam dengan banyak piring yang sudah dian makan. Lia melihat ke Anto yang makan seratus lebih dan Nina yang juga hampir 100 lebih, sedangkan dirinya itu sudah sangat banyak sekali.


Nina tiba-tiba terseyum saat mleihat lia yang terlihat dpresi karena lebih banyak makan dan sudah melebihi batas. "Ini sungguh menyenangkan." Nina yang melihat Lia tidak makan lagi saat tinggal 10 porsi makanan yang tersisa di atas meja.


Anto langusng mengilkangkan semua makanan yang tersisa dan duluan bangun dari kursinya. “Ayo.” Ajak Anto  yang berjalan duluan ke ruang keluarga sambil menjentikkan jarinya. Setelah jarinya di jentikkan, semua bekas makana itu hilang seperti debu dan ruang makan kembali seperti semula yang bersih dan rapi.


Lia yang masih sedikit kecewam terus menatap Anto dengan tajakm dari belakang sambil mengikutinya ke ruang keluarga. "Sepertinya aku melakukan hal yang membuatnya marah. Lain kali ku tunggu saja." Anto yang tidak enak saat di tatap dengan tajam seperti itu. Meski begitu, Anto tetap memimpin jalan ke ruang keluarga dan tidak berkata apa-apa pada mereka. Sesampainya di ruang keluaga, Anto diam di tempatnya. “Bisakah kalian duduk di san dan berdekatan.” Minta Anto saat melihat Lia dan Nina yang masih berdiri.


Lia langsung menarik Nina yang di dekatnya, lalu duduk ke sofa tempat Anto memintanya. “Sudah.” Lia terus memgang tangan Nina dengan erat.


“Lepaskan!” Nina yang memberontak berusaha melepaskan tangannya dari Lia. Anto yang pertengakaran itu, seperti melihat pertengkaran antar Anak Anjing kecil.


“Tidak.” Respon Lia dengan tatapan tajam pada Nina. Nina tidak berkutik dengan tatapan Lia yang begitu tajam padanya.


“Apa yang mereka lakukannya?” Anto yang melihat mereka bertengkar karena hal kecil seperti itu. “Apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Anto pada Lia yang terang tersngan membuly nina di depannya. Lia langusng melepaskan tangannya dari Nina setelah Anto berkata begitu padanya. "Sudahlah." Ucap Anto sambil tersenyum pada mereka berdua. Anto mendekat ke sofa tempat mereka bedua duduk. Anto berdiri di depan Nina dan Lia, lalu menaruh telunjuknya di kening Nina dan Lia. “Transfer!” Ucapnya dengan sangat jelas di depan mereka berdua. setelah Anto berkata itu, mereka berdua langsung tertidur si sofa. “Semua pengetahuan di Bumi telah ku berikan pada kalian. Sekarang tinggal kalian memnfaakan sebaik mungkin.” Anto tersenum pada Nina dan Lia lalu berjalan ke sofa lainnya dan duduk di sana. “Nina, meski kamu sudah di berikan oleh NAVI sedikit pengetahuan tentang Bumi, semoga saja kamu bisa memahami lebih lagi. Dan Lia, semoga kamu memahami dan menggunakannya dengan tepat pengetahuan yang ku berikan itu.” Anto mulai berbaing di sofanya dan mulai memejamkan matanya untuk tidur sambil menunggu Lia dan Nina bangun.


***


Next Chapter