Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 268


Ibu itu kemudian melihat ke Ika yang melonggarkan tarikan tangannya dari telinga No 2 dengan membiarkan eskrim itu masih di mulutnya. Setelah itu Ika mengambil lagi di cetakan eskrim yang baru. Ibu itu  terus melepas tarikan telinga dari No 2 lalu memegang stik eskrimnya. “Ada apa? kenapa kalian berisik sekali?” Tanya seorang pria dewasa yang terlihat tua masuk ke dalam ruang makan itu. Tidak ada yang menjawab malah mereka diam saja termasuk No 2 yang memegang telinganya yang sakit. Karena tidak yang masuk, pria itu mendekat ke meja makan lalu melihat ke eskrim di meja. Pria itu melihat ke No 2 yang lainnya kemudian mengambil eskrim itu setelahnya melihatinya. Saat menjilatinya Pria itu jadi terdiam saja dan tidak ada yang bicara.


“Kalian di sini… dari luar ku panggil tidak ada… kenapa ngumpul di sini?” Tanya suara yang sama persis dengan No 2 hingga kedua orang tua di dekatnya melihat ke sumber suaranya. Kedua orang tua yang berbalik melihat ke suara itu terdiam lalu melihat lagi ke No 2 yang di dekat mereka dan juga melihat Ika yang berada di samping No 2. Remaja yang datang itu membawa Fuka, lalu kedua orang tua itu melihat bolak balik pada dua arah dengan kebingungan. “Ada apa Ayah Ibu?” Tanya Remaja itu yang tidak mengerti sama sekali. “Ika, mari masuk.” Ajak Remaja itu dengan senyum pada Fuka hingga mendekat ke orang tuanya. Saat sampai di dekat meja, remaja tadi langsung terdiam melihat No 2 dan gadis yang mirip dengan yang di bawanya itu.


Semua jadi canggung tidak tahu apa yang terjadi sama sekali. Fuka pun tetap tenang sekali. Remaja yang baru datang itu melihat satu persatu ke semua orang termasuk orang tuanya. “Adeh… telingaku sakit…!” ucap No 2 dengan sedikit meringis. “Ibumu sangat kuat sekali hingga membuat telingaku sakit. Maaf… tapi aku berusaha menjelaskannya sejak di pasar, tapi Bibi tidak mau dengar sama sekali dan malah menyeretku sampai sini.” dengan sopan dan senyum No 2 pada semua orang. Tidak ada yang bicara sama sekali, lalu Ibu itu manjatuhkan eskrimnya.


Semuanya hanya bisa terdiam saja dan tidak ada yang berkata apa-apa lagi. “Aku juga minta maaf padamu, aku bukannya ingin menipumu tapi kamu terus menarik tanganku dan tidak mebiarkan aku bicara sama sekali.” dengan sopan Fuka meminta maaf pada remaja di sampingnya itu. “Sebenarnya aku melihatmu di pasar mengejar mobil ini, tapi aku mengabaikannya. Saat ku lihat Kakak ku tidak ada makanya aku mengikutimu lalu berpura-pura mau minta bantuan. Tapi tidak di sangka kamu malah langsung memegang tanganku dan tidak bisa bicara karena kamu terus bicara sendiri.” dengan sopan meminta maaf pada remaja itu. Semua orang yang hanya bisa terdiam juga dengan perkataan itu.


“Karena semua masalahnya sudah selesai, kami berdua ingin pergi dulu.” dengan sopan No 2 jalan duluan meninggalkan ruang makan itu. Tidak ada yang bicara sama sekali saat No 2 pamit seperti itu. Anto menarik tangan Fuka lalu jalan keluar setelah menjelaskan semuanya. No 2 dan Fuka pun jalan keluar lalu dengan pelan.


Anto dan Fuka yang masih di dekat ruang makan masih tidak bicara sama sekali. “Maaf Kak tidak memberi tahu sebelumnya.” minta maaf Fuka saat sudah hampir di belokan keluar dengan sedikit merasa bersalah. No 2 diam sebentar dan tidak langsung jawab.


“jangan pikirkan itu. Hanya saja kenapa aku yang kena marah dari Ibu itu.” timbal No 2 yang tidak mengerti sama sekali dengan kejadian yang di terimanya dan tdak marah dengan Fuka sama sekali. “Untungnya saja tidak terlalu sakit.” sambil memegang telinganya yang masih merah.


Fuka yang mendengar itu malah tersenyum sendiri mendengar semua perkataan No 2 tadi. “Kak, apa yang kita lakukan setelah ini?” Tanya Fuka padanya dengan sedikit senang. No 2 terdiam dan tidak langsung jawab dengan terus masih merasakan sakit di telinganya.


“Untuk sekarang kita akan cari pekerjaan dan uang lalu mencari tempat menginap atau semacamnya. Kita tunggu dulu robot yang ku kirim pulang karena membawa informasi yang di butuhkan.” jawab No 2 saat mereka hampir sampai di depan pintu rumah itu. Fuka hanya mengangguk saja dan tidak merepson No 2. Saat sampai di pintunya No 2 langsung membukanya lalu mereka berdua keluar, setelah itu No 2 menutup pintunya. No 2 dan Fuka jalan keluar dari halaman menuju gerbang rumah itu.


No 2 dan Fuka melihat ke Paman itu yang terlihat tidak tahu mau bicara apa setelah mengehentikan mereka berdua. “Paman, ada apa?” Tanya No 2 dengan sopan padanya yang terlihat sedikit gelisah sambil senyum padanya.


“Masuk dulu. Ada yang paman mau bicarakan.” dengan serius merespon pada No 2. No 2 dan Fuka saling lihat sebentar lalu melihat lagi ke paman yang masih di depan pintu. No 2 jalan duluan mendekat ke pintu dengan tenang lalu di susul Fuka. Saat sampai di depan Paman itu, mereka langsung di persilahkan masuk ke dalam. Tanpa berkata apa pun, No 2 dan Fuka masuk meski sedikit bingung mau apa mereka memanggilnya lagi. setelah masuk, Andan Fuka menunggu Paman itu memimpin jalan masuk. Paman itu jalan duluan lalu di ikuti mereka berdua. No 2 di ajak ke sebuah ruangan terbuka yang di sana sudah ada kembaran Fuka dan No 2 termasuk Ibu yang menarik telinga No 2. Paman itu duduk dulu sedangkan No 2dan Fuka berdiri sedikit jauh menunggu di persilahkan.


Setelah beberapa saat berdiri, Paman itu menyuruh No 2 dan Fuka duduk di dekat kembaran mereka berdua. Tidak ada yang bicara sama sekali saat No 2 dan Fuka sudah di sana. “Ehm… Sebelumnya ada keperluan apa sama kami Paman?” Tanya No 2 memulai percakapan. Paman itu malah diam saja tidak langsung merespon sama sekali.


“Kalau gitu langsung saja ke intinya. Kalian siapa dan dari mana?” Tanya Paman itu dengan serius sekali. No 2 melihat ke paman itu yang teralu serius sekali padanya.


“kalau gitu, pertama namaku Anto dan dia Fuka adikku sekaligus yang ingin ku nikahi. Kami berdua datang dari masa depan yang jauh di era ini. Karena sebab akibat, kami terseret ke rumah ini tanpa tahu apa pun sama sekali.” jawab No 2 dengan singkat dan jelas. Semua orang terdiam saja mendengar penjelasan No 2 yang seperti itu. “Mata kalian memberi tahu kalau kurang peraya… Baiklah, coba lihat ini!” Anto langsung mengeluarkan api dari tangannya, lau di susul dengan air, cahaya, kegelapan, benda melayang di sekitar mereka.


“Sudah cukup Kak!” minta Fuka pada No 2 yang terlalu berlebihan menunjukkan kekuatannya. No 2 pun segera menghilangkan semua elemen lalu menaruh kembali semua barang yang di layangkannya tadi. Setelah itu semua keluarga itu tidak bisa berkata apa-apa sama sekali dengan pertunjukan yang di berikan No 2. Keluarga yang terdiam itu masih ingin penjelasan lebih lagi yang dapat di lihat dari raut eajah mereka yang terlihat penasaran.


“Akan ku katakan sesuatu yang penting, jika kalian menduga masa depan itu hebat, kalian salah. Di masa depan itu banyak sekali monster dan manusia tidak sebanyak sekarang ini. Kalian tahu, saat kami tiba di sini kami sangat takjub melihat banyak manusia yang hidup tanpa di kelilingi rasa takut sama sekali. Jika kalian berpikir iri, justru kami lebih iri dengan kehidupan di masa lalu yang damai ini.” dengn tenang No 2 mengatakan itu. Fuka hanya terdiam saja mengerti maksud No 2.